Manajemen Ikhlas

24 09 2008

Pernah terlihat tayangan di televisi seorang ibu tega membunuh kedua anaknya yang masih kecil. Setelah proses penyelidikan oleh pihak yang berwajib diketahui bahwa ternyata sang Ibu menderita stress berat sehingga tega membunuh kedua darah dagingnya sendiri. Alangkah ironisnya ketika diselidiki sang ibu mengatakan bahwa ia menanggung beban ekonomi yang sangat berat sehingga ia mengambil jalan pintas dengan melampiaskan kepada buah hatinya. Banyak sudah kejadian seperti itu. Mulai dari orang yang ingin bunuh diri sampai menyakiti orang terdekat seperti cerita di atas tadi. Pemicunya terbagi menjadi dua yakni dari diri sendiri dan pengaru kondisi ekstern seperti lingkungan rumah tangga. Pemicu atau faktor intern yang dominan yakni melihat kenyataan tidak seperti yang dibayangkan. Itulah inti permasalahannya. Setiap orang pasti telah mempunyai rencana tertentu dan menyiapkan seluruh bekalnya untuk meraihnya. Baik itu rencana harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Namun apa daya, manusia sering tidak memperhatikan faktor penentu seluruh kehidupan alam semesta, yaitu Sang Khalik, Allah SWT. Ia adalah penentu semua usaha manusia.

Lalu apa kunci utama ketika usaha manusia tidak memunculkan kenyataan yang diekpektasikan? Alkisah, seperti telah diceritaklan sebelumnya di beberapa buku, ada seorang ibu yang dengan berani dan ketulusan hatinya akan menyelamatkan sang buah hati. Sebuah papan menghubungkan dua genung bertingkat. Di gedung sebelahnya, tempat sang buah hatinya yang masih balita, ia terjebak dalam kebakaran. Lalu, sang ibu tanpa berpikir panjang ingin menyelamatkan. Ia tak peduli dengan tingginnya gedung. Berawal dengan niat tulus dan ia ikhlas menerima kenyataan yang akan terjadi nanti. Apakah ia akan berhasil selamat, atau malah menjemput maut. Ia sudah tau resiko dan menaruh sepenuhnya hasil akhir kepada Sang Khalik. Ia ikhlas dengan kejadian yang akan terjadi. Walaupun tentu saja sang ibu berharap keduanya selamat.

Ikhlas, itulah intinya. Setiap manusia wajib meyerahkan segala hasil dari rencana duniawinya kepada Sang Khalik. Ikhlas bahwa manusia sejauh mana berusaha, tetap keputusan akhir ada di tangan-Nya. Ikhlas tidak berarti pasrah, justru sebaliknya. Ketika manusia merencanakan dan berusaha, manusia selalu memandang optimis bahwa apa yang sudah direncanakan berhasil. Tentu saja dengan perhitungan yang matang. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa “Dan mereka (jin dan manusia) tidak disuruh beribadah kepada Allah, melainkan dengan penuh keihkhlasan karena-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (QS.98:5). Sudah jelas di situ bahwa setiap manusia dalam hal aktivitas sekecil apapun harus didahului dengan penuh ikhlas. Membaca bismillahhirrahmannirrahim, merupakan salah satu upaya, bahwa kita berkeyakinan nantinya segala sesuatu yang dikerjakan akan ada penentu akhir, yaitu Allah SWT. Dengan membaca basmalah itu pula, telah mengindikasikan bahwa niat yang lurus telah ditancapkan dalam hati. Setiap aktivitas apapun sejatinya adalah ibadah manusia, yang akan dihisab di hari perhitungan. Oleh karena itu niat yang lurus dan selalu menanamkan ikhlas sangat utama. Harus ikhlas, menerima kenyataan seperti apa adanya setelah berusaha dengan optimal.

Pelampiasan ketika rencana (planning) manusia tidak berjalan sebagaimana mestinya bermacam-macam. Seperti contoh di atas tadi, sang Ibu menganggap bahwa orang terdekatnyalah yang dikambing hitamkan. Menganggap bahwa sang buah hati dapat dikorbankan untuk lari dari permasalahan. Contoh lain, alkisah seorang majikan yang akan berangkat ke kantor dipagi hari. Ia naik mobil pribadi dengan seorang sopir. Ketika sudah sampai di kantor, sang majikan kebingungan karena tas yang biasa dibawa tidak ada. “Sopir, mana tas saya, kamu taruh di mana?”, sang majikan bertanya. “Maaf Pak, Bapak dari tadi tidak membawa tas”, sang sopir menjawab. “ah, kamu ini gimana sih, kenapa kamu tidak bilang dari tadi”, seketika sang majikan memarahi sopir dengan terus menyalahkannya. Itu adalah salah satu contoh sederhana di kehidupan sehari-hari. Betapa seringnya kerangka berpikir manusia menanamkan pemikiran bahwa jangan-jangan orang terdekat kita yang selalu membuat kita kurang berhasil. Alangkah baiknya dalam contoh kasus di atas, jikalau sang majikan selalu mengatakan kepad sopir, untuk selalu mengingatkannya sebelum pergi tentang apa yang biasa dipersiapkan.

Dalam surat Al Hudzurot ayat 12 disebutkan bahwa “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang diantara mu memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai, maka tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha menerima taubat lagi maha penyayang.” Alangkah naifnya kita ketika mengkambing hitamkan orang di sekitar kita tanpa melihat kondisi kita sebelumnya.

Manusia selalu merencanakan segala sesuatunya sebelum bertindak. Baik dalam hal kecil maupun besar. Ilmu untuk mengelola mulai dari perencanaan sampai pengawasan sering diistilahkan dengan manajemen. Pendekatan seperti ini juga digunakan di lingkungan organisasi. Manusia memang wajib berusaha menggapai cita-citanya di dunia dan akhirat. Seperti dalam surat Al Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain. Sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Oleh karena itu sangatlah perlu dilakukan manajemen oleh manusia. Ini juga berkaitan dengan penempatan niat dan ikhlas yang akan selau tertanam di lubuk hati manusia.

Stephen Robbins (1999) dalam bukunya Managementmenyebutkan bahwa pola pengelolaan atau manajemen terbagi menjadi 4 tahap yang sering distilahkan dengan POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling). Pola seperti ini tidak hanya untuk sebuah organisasi, melainkan setiap individu dapat menerapkan di setiap sendi kehidupan. Mulai dari menentukan renaca, proses pengelolaan yang dibutuhklan, implementasi rencana, dan pengawasan agar selalu fokus pada tujuan yang akan kita capai. Lalu dimanakah letak niat dan ikhlas? Niat tentu saja harus terukir di lubuk hati kita sebelum semua rencana dibuat. Iklhas harus menjadi nafas dalam setiap tahap. Ketika kita berniatkan ikhlas di awal, tidak akan menjamin kita akan ikhlas seterusnya. Seorang yang berniat ikhlas apapun yang terjadi pada saat ia menghadiri seminar di luar kota di musim hujan, belum tentu pada akhirnya benar-benar ikhlas. Bisa jadi dalam perjalanan ia terjebak banjir. Sehingga tujuannya tidak tercapai. Dan ketika terjebak banjir, cenderung akan berkata dalam hatinya, bahwa seandainya saja tidak jadi berangkat, atau kalau tau seperti ini tidak jadi berangkat. Itulah esensi ikhlas, bukan hanya dalam niatan di awal rencana kita. Akan tetapi, harus selalu masuk di setiap sendi manajemen kita.

Lalu apa yang terjadi ketika kita membiarkan hal sepele seperti di atas. Iman kita akan tergerus karena selalu melihat bahwa kegagalan selalu ada walaupun sudah dilakukan perencanaan matang. Cara berpikir seperti ini dikarenakan tidak melihat esensi ikhlas secara keseluruhan. Ikhlas adalah nafas dalam setiap aktivitas sekecil apapun. Dengan ikhlas, maka iman terbangu. Kosep bahwa Allah AWT selalu punya rencana terhadap kekurang berhasilan manusia. Iman adalah penting, karena merupakan pondasi manusia. Pantaslah bila Imam Ibnu Athoillah pernah berujar, “Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa habis tandas tidak tersisa”. Demikianlah yang terjadi bagi orang yang tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Contoh nyata seperti kasus seorang ibu yang tega membakar anaknya. Setelah ikhlas tidak tertanam dalam kalbunya, secara perlahan-lahan imannya tergerogoti. Dan pada akhirnya melakukan perbuatan yang bertentangan dengan iman.

Latihan dari pengalaman seluruh aktivitas. Itu merupakan salah satu yang harus dilakukan untuk memetik ilmu ikhlas. Mengingat-ingat tentang perencanaan yang kita buat, dan bagaimana implementasinya. Ilmu bisa didapatkan dari situ. Setelah itu, kita akan menjadi tegar karena proses yang telah mengajari kita. Menjadi kuat dan tegar menjalani segala aktivitas dengan penuh ikhlas adalah utama. Seperti disebutkan dalam hadist, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari orang mukmin yang lemah.” Semakin kita belajar dari pengalaman hidup kita tentang ikhlas, semakin kita tau bagaimana penerapan ikhlas dalam pengelolaan seluruh rencana aktivitas kita.

*pernah dimuat di buletin jumat Al Rasikh UII*

About these ads

Aksi

Information

2 tanggapan

28 04 2010
ysalma

ikhlas dengan selalu memanajemen hati setiap hari :)
tidak akan mudah juga tidak terlalu sulit, yg pasti godaannya lebih banyak..

17 11 2011
Melunasi Utang « nurrahman's blog

[...] tak terhitung sampai lupa. Oleh karena itu, ini ada sedikit yang bisa saya berikan, mohon di-ikhlaskan semuanya [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: