Shodaqoh di Bulan Ramadhan

24 09 2008

“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung” (Ar Ruum 38)

Belum lama hilang di ingatan masyarakat kita pada umumnya, peristiwa yang sangat memilukan ketika sejumlah media cetak dan elektronik memberikan headline ”pembagian zakat maut di Pasuruan”. Tanggal 15 september 2008, hari Senin tepatnya, saudara-saudara kita yang kurang mampu mendapat musibah. Sejumlah 21 orang dipanggil oleh-Nya, ketika pembagian zakat senilai Rp. 30.000,00 kepada sekitar 100 orang dhuafa. Pada tanggal itu pula Lazis UII Yogyakarta memberikan ”1001 parcel untuk dhuafa” di lingkungan kota Yogyakarta. Alhamdulillah di Yogyakarta tidak mengalami tragedi yang sama.

Belum berhenti sampai di situ, beberapa media memberitakan lagi bahwa pada hari Rabu, 17 september 2008, sejumlah lansia jatuh pingsan ketika sepuluh ribu warga kurang mampu di Probolinggo mendapat pembagian zakat dari salah satu pondok pesantren. Zakat yang dibagi berwujud 5 kg beras. Alangkah ironis memang dua contoh peristiwa yang kurang berkenan di hati umat muslim pada umumnya. Di tengah suasana sejuk dan suci Ramadhan 1429 H, peristiwa-peristiwa tersebut sontak mengagetkan umat muslim, terutama yang disoroti adalah zakat, infak dan shodaqoh. Jika kita tengok kembali setelah Indonesia merdeka (63 tahun), umat muslim Indonesia sudah mengalami 63 Ramadhan di suasana kemerdekaan. Dan sudah hampir 9 tahun mekanisme pembagian zakat, infak dan shodaqoh diterapkan di Indonesia melalui UU no.38 tahun 1999, dengan harapan tercipta kesinambungan antara dana zakat, infak dan shodaqoh, dengan kebutuhan masyarakat kurang mampu yang berhak menerima zakat. Setelah sekian lama umat muslim belajar berulang-ulang, mari kita review kembali, jangan-jangan ada yang kurang tepat dari semua yang pernah umat muslim Indonesia lakukan? Jawabannya tentu iya.
Wacana dan pembahasan mengenai sistem distribusi zakat dan seluk beluknya sudah sangat banyak kita dengar dan liat dengan seksama. MUI dan pemerintah tidak henti-hentinya mencoba memperbaiki agar peristiwa memilukan dari dua contoh di atas tidak terulang lagi. Bahkan ada fatwa MUI provinsi Jatim yang menyatakan bahwa haram menyalurkan zakat secara langsung kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat), tetapi harus melalui lembaga penyalur zakat. Draft usulan perubahan mekanisme distribusi zakat melalui UU No.38 tahun 1999 juga telah diketengahkan oleh DPR, salah satu poin penting adalah dengan pengaturan mekanisme yang bersifat sentralistik oleh pemerintah daerah setempat.
Saling tuding dan menyalahkan sekiranya bukan langkah bijak untuk memperoleh solusi permasalahan. Mari sejenak kita tengok kembali esensi, pengertian dan sasaran zakat, infak dan shodaqoh itu sendiri. Dengan harapan mengkoreksi umat muslim pada umumnya. Penyaluran zakat, infak dan shodaqoh bukan semata problem pemerintah sebagai ulil ’amri, tapi sejauh mana setiap umat muslim memahami dan ikut andil untuk bersama-sama membenahi sistem penyaluran di negri kita tercinta ini, yang rupanya btuh perbaikan bersama.
Zakat adalah kewajiban yang harus diberikan dengan nilai tertentu yang telah ditentukan atas rezeki yang diperoleh. Infak merupakan amal yang dilakukan oleh seorang muslim dengan nilai sesuai kemampuannya. Infak lebih difokuskan pada ”kelebihan harta” yang dilmiliki oleh seorang muslim. Jika nilai zakat yang harus dibayarkan telah ditentukan dalam Al Qur’an maupun Hadist, maka nilai infak tidak ditentukan. Yang lebih mempunyai arti luas lagi adalah shodaqoh. Shodaqoh tidak hanya mencakup amal harta yang harus disisihkan untuk orang yang berhak mendapatkannnya. Akan tetapi dapat juga berupa amal yang bersifat nonmateriil. Misalnya ketika kita membantu saudara muslim kita yang sedang punya hajat. Apapun yang kita berikan baik dalam bentuk zakat, infak maupun shodaqoh, pada dasarnya adalah kebutuhan dan sangat bermanfaat buat diri pribadi seorang muslim yang melakukannya. Mensucikan diri dari perbuatan buruk dan semua dosa yang telah dilakukan adalah esensi utama umat muslim beramal. Sebagaimana firman Allah SWT “Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”. (QS : At-Taubah : 103). Dosa dan kesalahan tidak akan pernah luput dari manusia. Oleh karena itu, Allah memberikan solusi dari kebutuhan kita untuk mengurangi dosa-dosa dengan bershodaqoh.
Sasaran zakat sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an meliputi 8 golongan, atau asnaf. Yakni fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilliah, dan ibnu sabil. Golongan fakir dan miskin adalah dua golongan pertama dan utama yang disebutkan. Jika kita menelaah lebih lanjut di kehidupan bangsa kita saat ini, maka sebenarnya sangatlah sinkron dan cocok, ketika “kemiskinan” selalui mengahantui kehidupan nasional bangsa kita. Zakat, infak dan shodaqoh sejatinya adalah solusi yang memang sudah menjadi petunjuk-Nya untuk membantu mengurangi dan mengentaskan kemiskinan. Sebagaimana pada zaman Khalifah sesudah Nabi Muhammad SAW, Baitul Mal sebagai lembaga pemerintahaan yang mengatur perekonomian umat, telah mencontohkan untuk pemberdayaan dana zakat, infak dan shodaqoh untuk memerangi kemiskinan umat. Bahkan pernah suatu kali, dana dari Baitul Mal untuk orang fakir dan miskin tidak tersalurkan karena ternyata semua umat yang kekurangan, telah terbantu dari jurang kemiskinan. Alangkah indahnya jika kondisi tersebut ada di bangsa kita tercinta, Indonesia.
Kemiskinan tidak terlepas begitu saja dari peran umat muslim secara keseluruhan. Kemiskinan adalah permasalahan komplek di bangsa kita yang melibatkan seluruh komponen bangsa, baik pemerintah, swasta dan masyarakat pada umumnya. Pemerintah sebagai pengatur roda perekonomian bangsa, menetapkan beberapa parameter kemiskinan yang bisa dijadikan dasar untuk mengurangi angka kemiskinan. Misalnya di kota Yogyakarta, melalui Peraturan Walikota No 70 tahun 2006, menyatakan bahwa ada 4 parameter utama kemiskinan, yakni pangan, kesehatan, pendidikan dan papan atau tempat tinggal. Namun yang terjadi di kenyataan sekarang, sangatlah komplek. Pemerintah yang notabene terdiri dari beberapa lembaga dan dinas pemerintahan, ternyata mempunyai data kemiskinan yang berbeda-beda. Misalnya di BPS, Dinas Kependudukan dan Pemerintah Daerah setempat. Memang terlihat hanya permasalahan sepele. Namun, jika dikaji lebih dalam, alngkah baiknya jika tejadi sinkronisasi antar semua lembaga yang terlibat sehingga memudahkan mengurangi dan memerangi kemiskinan dengan pemberdayaan dana zakat, infak dan shodaqoh.
Di bulan ramadhan 1429 yang suci ini, sejatinya kondisi kemiskinan bangsa kita masih relatif sama. Jika kita mau sejenak melihat secara langsung di lingkungan sekitar kita, maka fenomena kemiskinan tidaklah sulit dicari. Fenomena PGOT (pengemis, gelandangan dan orang terlantar) semakin meningkat terutama di bulan ramadhan. Misalnya kita lihat di Yogyakarta, apabila melewati perempatan lampu merah di Janti, UIN, Gramedia dan Galleria, maka masih tetap saja ada PGOT, dan mungkin malah bertambah di bulan ramadhan. Di bulan ramadhan memang sangat dianjurkan untuk beramal, dan ketika bulan ramdhan pula, lembaga amil zakat, infak dan shodaqoh (LAZ) akan sangat gencar menyalurkan dana. Namun, apakah dengan dalih itu pula, fenomena bertambahnya PGOT sebagai salah satu indikator kemiskinan dapat dimaklumi begitu saja di bangsa kita selama bertahun-tahun?? Memang bukan perkara mudah untuk ikut andil dalam memerangi kemiskinan. Atau jangan-jangan kita kurang beramal dan salah menyalurkan bantuan?? Atau bisa jadi salah dalam memerangi kemiskinan, sebagai contoh razia PGOT oleh dinas yang berwajib dengan cara yang kurang solutif. Karena hanya “memindah lokasi” PGOT. Oleh karena itu, marilah kita sejenak melakukan refleksi terhadap shodaqoh yang telah kita lakukan, terutama di bulan ramdhan 1429 H yang suci ini. Memang penelitian-penelitian mengenai fenomena kemiskinan, terutama di kota-kota besar belum mengerucut pada kesimpulan data tertentu mengenai kemiskinan. Dan saran solusi apa yang patut dilakukan. Namun alangkah lebih baiknya kita mengkoreksi diri kita masing-masing terlebih dahulu. Sudahkah kita memeriksa semua harta yang kita miliki, yang wajib dizakati?? Sudah sesuaikah hitungan zakat tersebut?? Dan shodaqoh apa saja yang mampu kita berikan kepada orang yang membutuhkan, terutama dibulan ramadhan??
Melalui bulan ramadhan ini, sangatlah baik ketika kita mampu membenahi shodaqoh kita. Shodaqoh seperti telah disebutkan di atas adalah salah satu upaya untuk mensucikan diri. Hal ini sangat sejalan dan selaras dengan makna bulan ramadhan yang bermanfaat bagai umat muslim untuk kembali menjadi pribadi yang suci, seperti layaknya bayi yang baru lahir. Karena kita telah digembleng melalui puasa selama kurang lebih 30 hari lamanya. Contoh sederhana yang bisa kita mulai adalah dengan melihat kondisi lingkungan keluarga dan tetangga kita, jangan-jangan ada salah seorang dari sanak saudara kita yang sebenarnya sangat membutuhkan uluran tangan kita. Atau mungkin tetangga kita ada yang tidak mampu untuk membeli belanja untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Saling tuding dan saling menyalahkan bukan merupakan tindakan solutif untuk membenahi amal shodaqoh kita. Merasa sudah benar dan layak dalam bershodaqoh, serta menuding pihak tertentu yang salah membut aturan, juga bukan tindakan arif dan bijaksana dalam menyikapi fenomena kemiskinan di bangsa kita. Apalagi di tengah kondisi bangsa kita yang tengah bangkit sejak 10 tahun era reformasi. Akan tetapi justru tindakan konkrit apa yang bisa kita sumbangkan kepada bangsa ini untuk memerangi kemiskinan. Dan sejatinya, setiap muslim pasti mempunyai kemampuan untuk membantu saudaranya, bukan hanya melihat harta yang dimilikinya, tetapi dengan cinta kasih dan kepedulian yang dimilikinya untuk bershodaqoh.

About these ads

Aksi

Information

2 tanggapan

21 10 2008
andi

wah ente memang punya bakat kok disimpen.keluarkan bos. aku aja kalah. udh jarang nulis lagi. non fiksi mu apik bos.semangat

5 02 2012
Maulid Nabi Muhammad | Arif's Blog | Kumpulan Hobi

[...] dan Nakir dengan membaca Al Qur’an. Kemudahan melintasi Siratal Mustaqim dengan puasa dan shodaqoh. Mendapat perlindungan Arsy Ilahi pada hari Hisab dengan [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: