Keiretsu di Indonesia

27 10 2008

Zaibatsu, Keiretsu, dan Chaebol

Ketiganya merupakan sebuah filosofi Jepang dan Korea dalam menjalankan bisnis. Lebih tepatnya pada sistem rantai pasok, atau di kalangan ahli pemikiran barat disebut dengan Supply Chain Management. Dalam sebuah sumber di www.lehrmach.com, ada beberapa pengertian yang bisa diambil, yakni

1.Zaibatsu

2.  Keiretsu

3.  Chaebol

Zaibatsu merupakan persekongkolan perekonomian Jepang, dimana negara mempunyai peraturan bahwa perusahan-perusahaan domestik harus menyupplai komponen-komponen yang dibutuhkan industri besar. Zaibatsu menghasilkan keiretsu, dimana beberapa perusahaan saling berhubungan dan menghasilkan kerjasama atau group. Hubungan perusahaan dapat berupa bentuk kepemilikan saham yang saling berkaitan. Atau dengan sistem perjanjian yang memungkinkan perusahaan saling terkait, misalnya antara supplier dengan perusahaan yang memproduksi barang. Dapat juga dalam hal aliran atau jaringan disteibusi. Kerjasama tersebut tidak hanya bersifat sementara atau incidental. Akan tetapi ada kesepakatan tertentu yang mengikat dan ditaati bersama. Chaebol hampir sama dengan keretsu, dimana konsep ini diterapkan di Korea.

Ada tiga unsur utama dalam keiretsu, yakni hierarki, kelompok, dan jangka panjang. Ketiga unsur ini diterapkan dalam berbagai nilai-nilai budaya korporasi seperti pengelolaan sumber daya manusia dengan shushin kayo (bekerja sampai dengan pensiun) dan nenko joretsu sei (sistem senoritas), maupun pengelolaan keuangan (sistem ‘bank utama’), pemasaran (penguasaan pangsa pasar) dan produksi (kanban system, kaizen).

Keiretsu merupakan pengelompokan beberapa industri di Jepang yang sama bidang usahanya. Secara garis besar, ada 3 macam keiretsu, yakni industrial, produksi dan distribusi. Sebagian besar perusahaan di Jepang mempunyai minimal 6 keiretsu. Suatu keiretsu beranggotakan ratusan perusahaan yang diorganisasikan oleh suatu bank besar atau perusahaan dagang tertentu (trading company). Setiap anggota keiretsu memberikan prioritas utama kepada perusahaan lain dalam kelompoknya sebagai konsumen ataupun pemasok. Seringkali, bank dan trading company menguasai sepertiga saham dari tiap-tiap perusahaan anggota, dan biasanya perusahaan-perusahaan tersebut membiayai aktivitasnya dengan pinjaman (40%) dari bank yang bersangkutan. Perusahaan anggota biasanya mempunyai saham di perusahaan anggota lainnya dan memiliki hubungan manajerial yang bersifat interlocking diantara mereka.

Secara umum hubungan dalam suatu keiretsu terjadi diantara keiretsu parent company dan keiretsu subsidiary. Dalam pengembangan produk dan pembaruan teknologi keiretsu parent company melakukan kerjasama dengan keiretsu subsidiary. Kerjasama ini memungkinkan munculnya produk yang memiliki tingkat kecacatan yang rendah sehingga kompetitif dalam pasaran internasional. Karyawan keiretsu subsidiary biasanya juga memiliki tingkat gaji yang lebih rendah sehingga lebih murah bagi keiretsu parent company untuk membuat komponen pada keiretsu subsidiary daripada memproduksi sendiri secara in-house. Bagi keiretsu subsidiary pola kemitraan ini juga memberikan kepada mereka suatu pasar yang sudah mapan bagi produk-produk yang mereka hasilkan.

Dengan sistem seperti itu, maka sebuah keiretsu mempunyai stratgi manajemen yang matang dan bersifat luas. Sehingga arah dan tujuan perusahaan tidak berjalan sendiri-sendiri tetapi menjadi satu kesatuan. Secara berkala, biasanya dalam satu bulan sekali, pemimpin-pemimpin perusahaan dalam keiretsu megadakan pertemuan.

Fungsi lain dari keiretsu adalah menyelamatkan salah satu perusahaan yang mengalami kesulitan. Khususnya ekonomi. Seperti halnya yang terjadi pada tahun 1970-an, Sumitomo membantu Mazda yang kesulitan finansial. Perusahaan dalam satu kelompok tersebut memberikan syarat lunak dalam pengadaan barang. Selanjutnya, para pekerja yang menjadi imbas gagalnya Mazda, diserap perusahaan dalam satu keiretsu tersebut. Kampanye terhadap produk Mazda juga dilakukan secara gencar oleh perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam satu keiretsu.

Indonesia perlu belajar

Konsep utama keiretsu sebenarnya seperti kongsi dagang dan group. Sebenarnya di Indonesia sudah ada, tapi hanya skala kecil dan belum seperti prinsip keiretsu Jepang. Contohnya adalah Orang Tua Group, Kompas-Gramedia Group, MNC Group, dan masih banyak lagi.

Di Indonesia konsep mengenai rantai pasok masih sangat sedikit pengembangannya. Masih banyak diterapkan di beberapa perusahaan besar saja. Isu hangat yang susah untuk pengaplikasiannya adalah trust (kepercayaan). Hal itu sangat penting, mengingat bahwa kondisi perekonomian saat ini masih sangat labil. Dengan kondisi seperti itu, perlu waktu banyak untuk mengadopsi sistem keiretsu. Perlu belajar banyak, sehingga nilai-nilai yang penting yang dapat diambil, dapat diterapkan di Indonesia. Beberapa perusahaan PMA yang sudah menerapkan keiretsu secara utuh antara lain Toyota, Astra dan Daihatsu.

Apa yang harus dilakukan ?

Memang secara perlahan-lahan, Jepang sebenarnya menggerogoti negara lain dengan menyerap sumber daya yang ada, seperti SDM, SDA dan dengan menyiasati biaya produksi yang rendah. Yang harus disadari adalah perlunya peraturan yang mengatur mengeai perusahaan-perusahaan asing yang menerapkan PMA, dengan lebih teliti dan transparan. Artinya jangan sampai hal itu merugikan negara kita. Di beberapa negara maju dalam industri seperti Jepang, sangat mendukung industri lokal berkembang. UU mengenai perindustrian lebih berpihak. Sehingga industri maju. Oleh karena itu, Indonesia harus lebih mengedepankan kepentingan industri lokal. Dalam hal masalah SDM dan SDA, sebenarnya bukan menjadi kendala utama.

Peraturan yang dibuat harus bersifat jangka panjang dan jangan melihat dengan keuntungan sesaat. Kalau memang terlihat ada indikasi penguasaan aset negara oleh Jepang, baru diperlukan aturan yang lebih ketat. Contoh yang bisa dilihat adalah di Malaysia. Di mana Proton merupakan salah satu jaringan keiretsu Jepang. Namun, rupanya pemerintah Malaysia tidak gegabah dan lebih cenderung berpihak dengan pengusaha-pengusaha lokal. Konsep alih teknologi diterapkan di Malaysia. Dengan tujuan, negara Malaysia bukan hanya menjadi bagian keiretsu tetapi juga mempunyai keahlian teknologi yang sama dengan Jepang. Setelah beberapa lama dan cukup kuat, akhirnya Malaysia memilih jalan sendiri dan membuat Proton menjadi maju saat ini. pemerintah lebih berpihak pada perusahaan-perusahaan lokal.

Lalu, apakah di Indonesia harus seperti itu? Jawabannya adalah mari kita lihat seperti apa kondisi bangsa kita saat ini. Perusahaan-perusahaan besar Jepang dengan keiretsu-nya telah mampu menyerap banyak sekali tenaga kerja. Kalau diputus dengan peratusan sesaat, bukan perkara yang mudah. Artinya seperti yang telah disebutkan di atas, kita harus lebih melek terlebih dahulu. Bukan bersifat ikut-ikutan. Karena untung ruginya akan mengena di bangsa kita.

Sebenarnya konsep keiretsu tidak selamanya merajai konsep manajemen rantai pasok. Pernah terjadi di Renault-Nissan, dimana perusahaan tersebut justru memangkas keiretsu karena kerugian yang diderita. Mereka mengambil konsep 3-3-3. Artinya mempunyai tiga partner (Supplier, purchasing dan engineering). Adalah seorang barat bernama Carlos Ghosn. Dia adalah CEO yang mengubah keterpurukan dari Renault-Nissan dengan memotong keiretsu-nya. Dan beralih denga konsep lain.


Referensi :

About these ads

Aksi

Information

4 responses

23 02 2009
The Honda Way « nurrahmanarif berbagi kisah

[...] banyak mengungkapkan bagaimana sebuah cikal bakal keiretsu dan zaibatsu Honda dibangun. Seperti diketahui bahwa salah satu pilar untuk menjadikan sebuah perusahaan [...]

5 05 2009
wiwi

makasih ya, aku jadi punya bahan tuk ujian manajemen bisnis jepang.

5 06 2009
catur

tengkyu yach…………
I need this…….

24 05 2010
ArcasiaTaus

Just want to say what a great blog you got here!
I’ve been around for quite a lot of time, but finally decided to show my appreciation of your work!

Thumbs up, and keep it going!

Cheers
Christian, iwspo.net

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: