Helicopter View

11 12 2008

Kalau saja pas naik helikopter, pasti akan terlihat dengan jelas bagaimana kondisi di daratan (bawah helikopter) dengan jelas. Utuh hampir menyeluruh (waulaupun pasti ada batasnya), tapi lebih detail dan lugas. Daripada ketika naik ke atas gedung bertingkat, lalu memandang pemandangan daratan hanya satu arah saja (bila pandangan ke depan maka pandangannya memang satu arah saja; kiri, kanan dan belakang tak terlihat), dan itupun tak semua daratan luas di bawahnya terlihat detail, tanah merah di bawah dan aliran air di bawah tak terlihat.

Ya, itulah gambaran sederhana sebuah cara pandang, helicopter view. Salah satunya dapat ditemukan di literatur sebuah buku “The Nature of Leadership: Reptiles, Mammals, and the Challenge of Becoming a Great Leader”, by B. Joseph White (Author), Yaron Prywes (Author). Dapat di-search di amazon dot com harga 14,29 dolar AS. Sudut pandang ini (helicopter view) bisa dikatakan sebuah jargon yang sangat jadul, tapi sampai sekarang masih dipakai dan diakui.Sebuah cara pandang mengenai sebuah hal atau organisasi secara utuh dan menyeluruh, sehingga jika terjadi permasalahan dapat memutuskan secara komprehensif.

Katakanlah sebagai contoh dalam organisasi perusahaan perakitan motor. Sebuah keputusan manajemen pemasaran tidak semata menimbang keputusan dari satu pihak manajemen tersebut. Tetapi adalah kesemuanya dipertimbangkan. Menjadi satu kesatuan pertimbangan dengan tetap mengacu pada visi, misi dan tujuan perusahaan yang dicapai. Bukan semata tujuan dari manajemen pemasaran. Jadi tidak hanya waktu dirapatkan di lini manajemen atas-yang melibatkan semua lini manajemen-baru melibatkan semua manajemen (keuangan, operasi, pemasaran dan SDM). Tapi ketika dirumuskan di satu pihak, maka pertimbangan sudah harus mengacu pada seluruh lini manajemen.

Pemahaman sebuah helicopter view bisa dianalogikan sama dengan pemodelan secara visual dari metode mind map. Sebuah metode sederhana, tapi kemanfaatannya tidak sederhana, yang dikemukakan oleh Tony Buzan pada tahun 1970. Mind map adalah penggambaran secara visual. Bisa dilihat dari contoh sebagai berikut :

mind-map-lipo2Mind map sekarang justru sudah banyak diajarkan di TK (taman kanak-kanak). Metode ini memang hanya untuk menggambarkan sudut pandang dan hal-hal apa saja yang terlibat secara menyeluruh pada sebuah masalah. Sebagai contoh dalam sebuah perancangan organanisasi di samping. Sebuah perancangan Laboratorium tepatnya. LIPO atau laboratorium inovasi dan pengembangan organisasi (sebuah lab pengembangan organisasi di kampus teknik industri) adalah sebuah lab yang tersusun dari beberapa elemen. Yakni administrasi, aktivitas, asisten, skema organisasi, modul sampai asisten. Dengan penggambaran menyeluruh itu, maka akan mempermudah proses perancangan organisasi lab. Apa saja yang harus dilakukan agar perancangan lab berhasil. Dari gambar mind map di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa cabang yang digambar dengan warna yang berbeda, merah, biru, hitam, dll. Hal itu hanya menggambarkan untuk membedakan saja, mempermudah membaca. Sedangkan tebal tipis garis menggambarkan prioritas pengerjaan. Jika semakin tebal, maka merupakan hal yang harus diutamakan terlebih dahulu daripada garis yang tipis. Pembuatan simbol atau logo juga memudahkan untuk pembacaan mind map.

Cara pandang helicopter view dan metode mind map memang bukan solusi akhir sebuah masalah secara sempurna. Hanya sebuah cara pandang yang komprehensif. Masih diperlukan penyelesaiaan akhir dengan tindakan operasional di lapangan.

Jika pemodelan secara visual sudah dilakukan dengan mind map, maka ada sebuah solusi lain yang dapat diaplikasikan. Yakni dengan Brainstroming. Hampir mirip dengan diskusi, tapi ada beberapa hal yang sedikit membedakan. Dikemukakan pada awal tahun 1953 oleh Alex Faickney Osborn. Hal yang membedakan dengan diskusi biasa adalah pelaksanaanya. Dalam brainstrorming, setiap anggota diskusi diberikan kebebasan mengungkapkan pendapat dan tidak ada pendapat yang ditolak. Semua ditampung sebanyak-banyaknya dalam sebuah catatan. Dan akhirnya didiskusikan secara berurutan untuk memudahkan penyelesaiaan masalah.

Cara pandang seperti helicopter view, metode mind map dan cara diskusi dengan brainstorming sudah sepatutnya dibiasakan dalam sebuah organisasi. Karena dengan pembiasaan seperti itu akan menjadi sebuah budaya organisai, sebagai tata cara dan nilai yang diakui bersama dan diterapkan. Budaya organisasi seperti disebutkan oleh Taylor (1871), berasal dari kata budaya; adalah sekumpulan pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, dan kapabilitas serta kebiasaan yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota sebuah perkumpulan atau komunitas. Jika budaya organisasi dalam perusahaan atau organisasi saja sudah bagus, maka organisasi akan melenggang dengan mantap dalam kondisi apapun.

About these ads

Aksi

Information

12 responses

13 12 2008
annosmile

tak kirain kamu naek helikopter beneran bro :D

13 12 2008
nurrahman18

@anno: belum pernah naik helikopter bro….wakakaka

13 12 2008
randualamsyah

Salam kenal, mau dong naik helikopternya…

13 12 2008
randualamsyah

Salam kenal, mau dong naik helikopternya..

13 12 2008
labib

haa, kalau belum mending menjenguknya di museum dirgantara jogja saja rif, kan iso….hee piss..
salut bro. kunjungi blogku dan komen ya. saling mengisi.

14 12 2008
nurrahman18

@randu: thx atas mampirnya…
@labib: menjenguk?kyk org sakit aja. .he2!

12 04 2009
Fadjar

Cara pandang helicopter view dan metode mind map memang bukan solusi akhir sebuah masalah secara sempurna.

” Hanya sebuah cara pandang yang komprehensif.”

Masih diperlukan penyelesaiaan akhir dengan tindakan operasional di lapangan.

(Mungkin ini inti dari helicopter view ya mas…)

http://www.allaboutparadigm.blogspot.com

21 12 2009
Diagram Tulang Ikan « nurrahman

[...] Sebab lebih dari satu. Sehingga jangan berhenti untuk bertanya mengapa? Penentuan sebab-sebab juga bisa dengan branstorming. [...]

14 09 2011
Tony Buzan ke Indonesia « nurrahman's blog

[...] pendidikan, tapi juga untuk kalangan bisnis. Sebelumnya, pernah diulas sedikit mengenai Mind Map di sini. Dan pernah dipergunakan analisis Mind Map untuk sebuah artikel di sini, yang kemudian berhasil [...]

15 11 2011
Diagram Tulang Ikan Bagian Dari TQM « simiesievenfold

[...] Sebab lebih dari satu. Sehingga jangan berhenti untuk bertanya mengapa? Penentuan sebab-sebab juga bisa dengan branstorming. [...]

30 11 2011
Diagram Tulang Ikan « Amanahtp Weblog's

[...] Sebab lebih dari satu. Sehingga jangan berhenti untuk bertanya mengapa? Penentuan sebab-sebab juga bisa dengan branstorming. [...]

28 09 2013
tugas 1 PTI | rennyds

[…] Sebab lebih dari satu. Sehingga jangan berhenti untuk bertanya mengapa? Penentuan sebab-sebab juga bisa dengan branstorming. […]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: