Normatif

14 01 2009

Di sebuah ruangan wawancara atau konferensi pers sebuah media, seorang pejabat baru saja keluar tergopoh-gopoh. Rupanya baru saja diwawancara, dicerca beribu pertanyaan mungkin. Pejabat itu adalah orang yang punya kekuasaan untuk menanganai masalah cash direct helping. Dia adalah orang kepercayaan Raja di negeri Fantasi. Begini kurang lebih petikan wawancaranya……..

“Bagaimana menurut Bapak mengenai kondisi masyarakat setelah program ini berlangsung?”, kata salah seorang wartawan.

“Semoga dengan adanya program ini, maka akan memberikan ‘ikan’ kepada msyarakat. Sehingga setelah program ini berlangsung, maka akan diberikan lagi ’kail’-nya. Kita tidak akan tinggal diam dengan kondisi masyarakat yang terpuruk secara ekonomi setelah krisis global”, jawab pejabat dengan tegas.

”Lalu bagaimana dengan kondisi penyalurannya kok malah banyak sekali permasalahan di lapangan? Ada yang sampai pingsan, seorang ibu tua renta. Ada pula yang tidak kebagian padahal memenuhi syarat. Seorang Bapak bahkan harus rela mengantri berjam-jam, dan ketika antriannya selesai dia tidak kebagian”, seloroh seorang wartawan dengan antusias. ”Ah itu kan hanya permasalahan di lapangan saja. Intinya kita telah melaksanakan prosedur yang telah ditentukan Raja. Bahwa setelah dana cair dari pusat, maka akan diteruskan ke daerah. Prosedur sudah kita lakukan. Data mengenai masyarakat yang berhak menerima juga telah kita data secara penuh”, tangkis pejabat dengan memperlihatkan guratan capek di wajahnya.

Seorang reporter wanita dengan sigap memberi pertanyaan lagi, ”Tapi Pak, itu kan justru memperlihatkan bahwa pihak Kerajaan tidak siap untuk menyelenggarakan program itu. Bearti apakahprogram itu efektif Pak? Dan justru menimbulkan banyak korban. Kasihan masyarakat yang justru terjebak di antrian dan sampai pingsan”. ”Begini, pada intinya permasalahan utama yang ingin kita kedepankan. Raja melihat bahwa masyarakat kita sangat perlu bantuan. Itu saja yang perlu di-blow up di media. Nanti malah menimbulkan opini publik yang kurang baik”, tegas pejabat yang memang sudah berumur.

”Tapi Pak, apakah pihak Kerajaan juga akan tinggal diam dengan ketidaklancaran program ini. Terlihat di lapangan banyak sekali permasalahn teknis yang ganjil. Bahkan demo mahasiswa lantang menentang progam itu. Sama saja dengan menyuapi rakyat, tapi tidak memberi lapangan pekerjaan”, tanya seorang wartawan muda dengan api membara ingin mendengar dengan detail jawaban pejabat. Ia berharap barangkali pejabat akan mengemukakan angka-angka statistik untuk membuktikan bahwa pihak Kerajaan selalu benar.

normatif1******************

Pejabat segera berlari menerobos kerumunan orang-orang yang ingin mendengar jawabannya lagi dengan lugas. Pejabat dalam posisi dilema. Ia hanya orang di bawah Raja, pejabat yang mengintruksikan. Permasalahan teknis bisa dibilang tidak tersentuh langsung olehnya. Harus diakui sendiri memang banyak cacat teknis di lapangan. Tetapi mungkin dengan sedikit ’keakuan’ seorang pejabat, tak mau kalah dengan argumen lain. Kritik dan saran dinomerduakan sementara. Yang dijelaskan hanya yang sesuai dengan SOP (standard operation procedure) saja. Karena itulah penjelasan normatif. Sesuai dengan kaidah atau ketentuan yang berlaku. Kenyataan lain di lapangan, yang justru menimbulkan banyak masalah tidak diakui, diungkapkan dan ditengarai dengan permintaan maaf.

Terkadang masyarakat membutuhkan jawaban apa adanya dari seorang pemimpin untuk membuktikan seberapa jauh pemimpin itu sukses. Apakah program-program yang dijalankan sukses atau tidak, bergantung pendapat masyarakat secara utuh. Bukan pengakuan pemimpin semata yang dengan semua argumennya, mengatakan bahwa ”saya sudah melaksanakan sesuai prosedur”, bukan memaparkan permasalahan teknis di lapangan. Yang kenyataanya justru bertabrakan dengan tujuan sebuah program dilakukan. Dibutuhkan sikap santun dan bijak dari seorang pemimpin untuk jujur, terbuka, mengakui kekhilafan, menerima kritik saran dan mengayomi masyarakat.


Tindakan

Information

8 tanggapan

14 01 2009
yakhanu

pertamax…

14 01 2009
yakhanu

keduax

14 01 2009
yakhanu

heheheh gak koment malah ngaco :mrgreen:

15 01 2009
nurrahman

@ yakhanu : no matter…ur welcome….:D

15 01 2009
feeds.bloggerpurworejo.com » Normatif

[...] Normatif Filed under: Uncategorized — @ 8:18 am [...]

15 01 2009
omiyan

justru saya melihat yang brengsek adalah mereka yang berada dibawah, intinya untuk apa mereka digaji kalo emang ga profesional dan ga becus……

saya jadi inget obrolan sama seorang pegawai kecamatan…dan asli saya ngegundel banget karena dengan entengnya bahkan terkesan bangga bahwa barusan dia membuat SPJ Asli dan AsPal………..

15 01 2009
mel

assalamu’alaikum……….
routine visit to spread peace and read your post of course…

15 01 2009
nurrahman18

@ omiyan : setuju Omiyan :D

Tinggalkan komentar