Social Entrepreneurship

24 02 2009

Sejarah dan Pengertian

Seiring dengan berbagai kejadian yang merupakan indikasi terpuruknya perekonomian Indonesia saat ini, seperti imbas krisis di Amerika Serikat, harga minyak tanah yang melambung tinggi, dan PHK besar-besaran, maka pembahasan pemulihan ekonomi dengan cara yang tidak bergantung sepenuhnya kepada pemerintah menjadi aktual. Dikemukakan berbagai konsep alternatif seperti pemberdayaan ekonomi mikro (misalnya UKM; usaha kecil menengah), pengembangan sumber energi alternatif, penerapan konsep ekonomi kreatif (creative economy) sampai entrepreneurship atau kewirausahaan. Hal terakhir, yakni kewirausahaan menjadi topik hangat bila diperbincangkan di kampus.

Jika ditinjau secara ilmiah, sudah sejak ratusan abad yang lalu, istilah entrepreneurship dibahas. Antara lain Richard Cantillon pada tahun 1755 dan J.B. Say pada tahun 1803 (Santosa, 2007). Cantillon menyatakan entrepreneur sebagai seseorang yang mengelola perusahaan atau usaha dengan mendasarkan pada akuntabilitas dalam menghadapi resiko yang terkait ( a person who undertakes and operates a new enterprise or venture and assumes some accountability for inherent risks). Di dalam konsep sebuah entrepreneurship, terdapat unsur pemberdayaan atau empowerment di dalamnya. Menurut Webster dan Oxford English Dictionary, empowerment bisa diartikan sebagai to give power to atau authority to, atau memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain. Bisa juga diterjemahkan sebagai to give ability to or enable atau usaha memberi kemampuan. Salah satu unsur yang termaktub dalam kewirausahaan memang bermakna sebagai sebuah usaha untuk memberikan kemampuan dan mengalihkan kekuatan seseorang atau beberapa orang menuju sebuah kemandirian. Kemandirian secara finansial misalnya.

Sedangkan Social Entrepreneurship merupakan sebuah istilah turunan dari kewirausahaan. Gabungan dari dua kata, social yang artinya kemasyarakatan, dan entrepreneurship yang artinya kewirausahaan. Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare) (Santosa, 2007). Sesungguhnya Social Entrepreneurship sudah dikenal ratusan tahun yang lalu diawali antara lain oleh Florence Nightingale (pendiri sekolah perawat pertama)dan Robert Owen (pendiri koperasi). Pengertian Social Entrepreneurship sendiri berkembang sejak tahun 1980 –an yang diawali oleh para tokoh-tokoh seperti Rosabeth Moss Kanter, Bill Drayton, Charles Leadbeater dan Profesor Daniel Bell dari Universitas Harvard yang sukses dalam kegiatan Social Entrepreneurship karena sejak tahun 1980 berhasil membentuk 60 organisasi yang tersebar di seluruh dunia. SE mencoba melayani pasar yang belum digarap, menghilangkan kesenjangan dalam kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, demografis dan peluang bekerja (Elkington, 2008).

Konsep secara umum dari Social Entrepreneurship, sebenarnya berarti bukan merupakan sebuah lembaga atau organisasi bentukan atau turunan dari perusahaan swasta (misalnya hasil dari CSR, Corporate Social Responsibility) dan lembaga pemerintahan (dalam hal ini yang terkait dengan Dinas Kesejahteraan Sosial). Akan tetapi murni merupakan sebuah usaha entrepreneurship yang bergerak di bidang sosial. Pada awalnya, Social Entrepreneurship mempunyai inti pemberdayaan dalam bidang kemasyarakatan yang bersifat voluntary atau charity (kedermawanan dan sukarela). Dalam hal ini membentuk sebuah lembaga-lembaga sosial seperti panti asuhan, anak asuh atau donasi untuk beasiswa di bidang pendidikan. Konsep awal mula Social Entrepreneurship tidak menekankan pada usaha untuk menghasilkan profit (non-profit). Jikalau ada profit, bukan menjadi tujuan utama dan nilainya bisa dibilang kecil. Karena inti utama dalah pemberdayaan untuk kemaslahatan bersama. Social Entrepreneurship akhir-akhir ini menjadi makin populer terutama setelah salah satu tokohnya Dr. Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang mendapatkan hadiah Nobel untuk perdamaian tahun 2006 (Santosa, 2003). Yang dikembangkan oleh Yunus, dengan pemberdayaan masyarakat di segmen kurang mampu secara finansial, tidak hanya menghasilkan kesejahteraan sosial masyarakat tetapi ternyata juga mendatangkan sebuah keuntungan secara finansial. Bisa dilihat dengan banyaknya tenaga kerja yang terserap (6 juta wanita), seperti phone-lady, ribuan pengemis, dan tumbuhnya UKM (Usaha Kecil Menengah) yang terbentuk dari usaha peminjaman uang atau kredit uang dengan bunga murah.

sosen

Gambar di atas adalah sebuah ilustrasi yang menggambarkan bahwa Social Entrepreneurship tersusun atas dasar 3 aspek. Voluntary Sector bersifat suka rela. Public Sector menyangkut kepentingan publik bersama. Private Sector adalah unsur pribadi atau individual yang bersangkutan, bisa termasuk unsur kepentingan profit.

Kisah Nyata

Sebenarnya contoh kesuksesan Social Entrepreneurship telah ada sejak dari dulu. Misalnya Dr. Maria Montessori (Italy) yang mengembangkan lembaga pendidikam untuk anak-anak dan John Muir (U.S.) yang membuat lembaga perlindungan dan konservasi kebun binatang serta membuat lembaga bernama Sierra Club (http://wikipedia.org/). Beberapa contoh lain adalah organisasi – organisasi atau lembaga independen hasil bentukan konsepsi Social Entrepreneurship, yakni The George Foundation’s Women’s Empowerment (mengurusi pemberdayaan perempuan di India), Ashoka: Innovators for the Public, the Skoll Foundation, the Omidyar Network, the Schwab Foundation for Social Entrepreneurship, the Canadian Social Entrepreneurship Foundation, EthiCorp Pte Ltd New Profit Inc. dan Echoing Green among others (http://ashoka.org)

Di negara kita Indonesia sebenarnya contoh sukses Social Entrepreneurship sudah ada beberapa. Misalnya lembaga amil dan zakat seperti Dompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Kedua lembaga tersebut adalah contoh lembaga yang awalnya merupakan inisiatif beberapa orang untuk mengadakan donasi dan voluntary untuk mengurusi masalah zakat, infak dan shodaqoh. Tapi dalam perkembangannya sangat pesat. Bisa menyerap beribu tenaga kerja. Rumah sakit bersalin gratis, mobil jenazah keliling dan berobat gratis di berbagai pos kesehatan yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia adalah contoh hasil nyatanya. Sehingga kemanfaatannya tentu saja bukan hanya dampak untuk kemaslahatan umat, tetapi juga keuntungan atau profit secara finansial.

Realita di Indonesia dan Sebuah Solusi dengan Mengubah Paradigma

Angka pengangguran di Indonesia tidak dipungkiri masih terlihat tinggi. Walaupun survey-survey statistik menunjukkan angka yang beragam (pro-kontra), tetapi jika dilihat realita di lapangan, masih banyak pengangguran yang susah mencari kerja dan angka PHK cenderung meningkat. Tak sulit menjumpai para pengemis, gelandangan dan preman-preman di perempatan jalan kota-kota besar. Dan semuanya sebenarnya masih bisa digolongkan dalam fakir dan miskin. Sebagaimana disebutkan dalam ayat suci Al Qur’an, surat Ar Rum ayat 38, ”Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung”. Sudah jelas termaktub di situ bahwa menjadi kewajiban setiap orang yang mampu untuk membantu yang lemah.

Sebuah solusi riil untuk membantu meringankan beban orang-orang yang kurang mampu dapat diselesaikan salah satunya dengan mempraktekan Social Entrepreneurship. Bukan semata mengandalkan lembaga pemerintahan atas nama departemen kesejahteraan sosial. Masayarakat secara pribadi bisa bergerak sendiri. Akan menghasilkan efek ganda, sesuai dengan pemaparan di atas, yakni kesejahteraan orang lain meningkat dan menjadi nilai kewirausahaan untuk mencari profit. Sebenarnya ada yang paling mendasar untuk dimengerti dan dipahami oleh masyarakat pada umumnya. Dan hal ini sesungguhnya bisa dilakukan dengan mengubah paradigma masyarakat Indonesia pada umumnya. Jika selama ini lembaga-lembaga sosial tersebut hanya dipandang sebuah ajang aktualisasi diri untuk saling membantu sesama, maka sebenarnya dengan membangun sendiri sebuah Social Entrepreneurship juga akan mendatangkan profit secara finansial. Hal ini bisa diterapkan semenjak dini untuk memupuk rasa kemanusiaan dan pemahaman apa itu Social Entrepreneurship.

Contoh riilnya jika di kampus adalah diterapkan di kegiatan-kegiatan semacam KKN (kuliah Kerja Nyata). Paradigma Social Entrepreneurship bisa dimasukkan dan diaplikasikan di situ. Dengan pemberdayaan masayarakat secara komprehensif sehingga misalnya dapat menciptakan lapangan kerja. Mata kuliah kewirausahaan didesain agar mahasiswa dapat langsung mengaplikasikan Entrepreneurship, khususnya Social Entrepreneurship. Mahasiswa diberi pinjaman modal untuk membuka usaha sendiri selama mata kuliah KWU berlangsung. Selain itu, konsep Social Entrepreneurship bisa lebih diperdalam dan dikembangkan di lembaga-lembaga sosial agar lebih mantap dan matang. Seperti di Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh, serta lembaga sosial lain seperti untuk pemberantasan buta huruf dan penanggulangan HIV/AIDS.


Referensi :

Elkington John, Pamela H. 2008. “The Power of Unresonable People : How Social Entrepreneur creates markets that changes the world”. Havard Business Press.

Santosa, Setyanto. 2007. ”Peran Social Entrepreneurship dalam Pembangunan”.

http://ashoka.org

http://wikipedia.org

se

^^Buletin LIPO edisi februari 09^^

About these ads

Aksi

Information

28 responses

25 02 2009
feeds.bloggerpurworejo.com » Social Entrepreneurship

[...] Social Entrepreneurship Filed under: Uncategorized — @ 8:13 am [...]

25 02 2009
ry0n

hwedew.. ga paham mas.. ketinggian bahasanya… hehe

25 02 2009
nurrahman18

@ ryOn : pake tangga aja biar nyampe, katanya terlalu tinggi :-P

26 02 2009
vitri

hmm .. bagus artikelnya, tapi Social Entrepreneurship lebih di fokuskan pada orang2 yang berani menanggung segala resiko, tapi situ sebenarnya solusi untuk saat ini .. karena makin banyaknya pengangguran yang tiada jelas mau di kemanakan nasib2 mereka,

26 02 2009
iwanmalik

Sekedar tambahan dari artikelnya, mas

http://iwanmalik.wordpress.com

Info Pendidikan & Wirausaha
Salam

26 02 2009
INDAH REPHI

lalu, sudah mampukah jiwa kewirausahaan disosialisasikan (diterapkan) di indonesia sedangkan bagi orang2 yang tidak berani mengambil segala resikonya itu berteriak2 “dana dari mana? pinjaman darimana? modalnya gimana?”, Bank KPUD/koprasi dan dana bantuan UMKM sudah dikucurkan tp tetap saja masyarakat minor masih kesulitan untuk mengembangkan diri (SDM) :) *ko kayaknya komentar saya mbulet2 ya? whekekekek..maaaf ^^v *

26 02 2009
nurrahman18

@ vitri :betul…D
@ iwanmalik : salam kenal
@ indah :bukan mbulet…tapi looping ..D

22 12 2009
A. Budisusila

mantab bung. harus terjadi

2 07 2010
ross t nugroho

Nice blog. Useful.
Maju terus…. Kerja terus… (Tapi kalau laper… makan,dong. he-he-he).

Salam entrepreneurial

14 08 2010
DH.ISMAIL, M.SI

Penjelasannya, cukup komprehensif. Kami setuju bahwa sosial enterpreneurship adalah mengelola bid permasalahan sosial dng pendekatan etos bisnis seperti penerapan Good Governance, manajemen nilai tambah dan kreativatas serta produktivitas. Selama ini ada stigma bahwa organisasi sosial itu tatakelolanya tidak professional, administrasinya tidak rapi dan tidak punya indikator produktivitas atas keberhasilan. Dng mindset SE, maka kebiasaan buruk tersebut dihilangkan dan atau direzuvenasi sehingga muncul organisasi sosial modern, yang akuntabel, transparan dan mandiri. Indonesia mutlak memerlukan pendekatan ini utk mengatasi akumulatif nya problem sosial. Jujur kita akui pesantren modern seperti Gontor sebenarnya tramsuk dalam kategori ini, Pusko di Jatim dan bahkan contoh lainnya. tks dan salam sukses selalu ( penulis buku rahasia sukses para juara dan etos bisnis tiada merugi )

21 09 2010
ahmad nuryani

social entrepreunership itu penting sekali karena sanngat bayak manfaatnya. social entrepreunership dengan entrepreunership konvensional merupakan hal serupa namum tak sama

21 09 2010
sugiarto

masalahnya adalah masyrakat kita,terutama masyarakat kecil lebih suka disuapi ketimbang diberdayakan…beberapa tahun yang lalu di kampung saya ada bantuan sapi untuk dikembangkan secara bergilir untuk mendapatkan anaknya.
begitu beranak dan induknya berpindah ke orang lain,anak sapi hasil peliharaannya itu langsung dijual dan yang bersangkutan kembali ga punya sapi…

28 03 2011
eko susilo

konsep sosial enterpreneurship sangatlah bagus untuk kehidupan masyarakat dan bangsa kita..konsep itu tertuang untuk meningkatkan kesejahteraan yang tinggi bagi masyarakat…sekarang bisa kita lihat dengan mahalnya biaya pendidikan, harga kebutuhan pokok yang terus naik adalah fakta yang harus disikapi dan dicarikan solusi untuk menanggulangi problem sosial masyarakat kita…saya sangat setuju untuk menumbuhkan jiwa sosial enterpreneurship bagi para bisnisman yang telah sukses, untuk bisa berbagi dengan masyarakat luas..itu adalah jalan yang cepat untuk kemajuan bangsa kita ini.

28 03 2011
nurrahman18

benar, semacam CSR dan program sejenisnya lebih baik diperbanyak penggalakannya dan disinergikan biar tidak sporadis …

29 04 2011
awandragon

Saya gag paham soal ini, alias belum taw bahasa inggris

19 07 2011
aufa

dari: nj.ahmed@yahoo.com

salam entrepreneur…
saya sangat setuju. social entrepreneurship bisa menjadi salah satu solusi meningkatkan taraf hidup masyarakat indonesia. yang perlu diperhatikan menurut saya, adalah menumbuhkan keyakinan yang benar atas pengertian dan dampaknya serta penyusunan kurikulum yang komprehensif sehingga social entrepreneurship ini bisa benar-benar terasa manfaatnya…….

14 09 2011
shiva

mohon dikoreksi apakah CSR perusahaan merupakan salah satu tindakan social entrepreurship?
Bukankah seringkali di dalamnya ada unsur pencitraan perusahaan dan lagi-lagi akan berorientasi pada profit?
Contoh kasus pada perusahaan tambang asing yg mendapatkan izin pemerintah untuk mengolah SDA di negara kita. Banyak kerusakan lingkungan yg merugikan masyarakat di sekitar perusahaan. Dalam waktu yg sama mereka melakukan program CSR misal pemberian beasiswa,dll. Padahal tindakan destruktif merusak lingkungan masih mereka lakukan.
Apakah CSR masih menjadi salah satu tindakan sosial? atau dalam hal ini malah menjadi strategi untuk menutupi kesalahan.
trims

14 09 2011
nurrahman

sepertinya itu bisa debateble bergantung sudut pandangnya, karna sepertinya utk mslh CRS dlm hal regulasi dan pelaksanaan di Indonesia “masih belajar”. mengenai data lain yg lbh valid, silakan mgkn bertanya kepada mereka yg lbh ahli :)…CMIIW

21 09 2011
Indonesia Setara (@indonesiasetara)

Dari semua artikel mengenai Social Entrepreneur, artikel anda adalah artikel yang paling lengkap dalam bahasa Indonesia. Mungkin kami bisa bantu untuk beberapa contoh di Indonesia. Ada lembaga bernama AKSI (Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia). Beberapa pendirinya diantaranya ibu Tri Mumpuni yang membangun pembangkit listrik mikro hidro di desa-desa. Beberapa yang kami langsung kerjakan ada di website kami : http://sandiaga-uno.com

21 09 2011
nurrahman

trimakasih atas bantuanya. semoga bermanfaat dan berkenan :)

5 11 2011
Piramida Sosial « nurrahman's blog

[...] kesenjangan yang terlalu tinggi di piramida sosial masyarakat Indonesia saat ini. Misal berupa social entrepreneurship dan kepedulian terhadap pendidikan. Karena pendidikan adalah kebutuhan pokok. Kebutuhan pokok [...]

22 12 2011
Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI | Arif's Blog | Kumpulan Hobi

[...] saya menjadi anggota DPD RI, maka akan memfokuskan program kerja di bidang Social Entrepreneurship dengan tetap berpegang pada fungsi, tugas, dan wewenang sebagai anggota DPD (Dewan Perwakilan [...]

13 02 2012
shoguner

seharusnya rumah sakit itu social enterprise ya? tapi sekarang malah profit oriented kayaknya…
terimakasih ulasannya, bisa menjadi bahan saya mengerjakan tugas social enterprise :)

11 03 2012
Lomba Bisnis Plan 2012 « nurrahman's blog

[...] ide bisnis mengenai Social Entrepreneurship. Diselenggarakan oleh AIESEC UI (Universitas Indonesia). Batas pendaftaran 27 Desember 2011 – 17 [...]

22 04 2012
Aditya Fajar

Kalau saya melihat Rumah Zakat bukan sebagai social enteprise. Ini lebih pada social organization. Karena Rumah Zakat tidak melakukan aktivitas bisnis perniagaan dan lebih pada pengelolaan dana yang diberikan donor melalui penyaluran dan pembinaan penerima zakat.

22 04 2012
Aditya Fajar

Kalau saya melihat Rumah Zakat bukan sebagai social enteprise, tapi lebih sebagai social entity (organization). Karena Rumah Zakat tidak melakukan aktivitas perniagaan dan lebih fokus pada pengelolaan dana yang diberikan donor/pembayar zakat.

16 11 2012
ananda.teguh

Thanks Bang soal Social Entrepreneurship ini…saat ini saya coba pelajari dan dari sini awal saya membaca dan mengetahui lebih soal social entrepreneurship.
Saya coba analisis lingkunga dan kemudian menerapkannya..
sekali lagi thanks..
kalau bisa di tambah lagi bahasan soal ini..hehehehhe

8 02 2013
hendrati dwi

luar biasa, matursuwun mas nurrahman..kebetulan disertasi saya tentang social entrepreneurship, saya setuju sekali mengenai pentingnya mensosialisasikan social entrepreneurship ini dimana selalu ada 2 motif dalam setiap kegiatannya yaitu profit motif dan sosial motif, nah porsinya bergantung pada leadershipnya..Indonesia butuh banyak sekali social entrepreneurs utk menumbukan miliadermawan..yang ngga egois dan serakah tetapi seorg entrepreneur yg memahami bahwa sebagian harta yg diperoleh adalah hak orang lain dan memahami perannya sebagai mahluk sosial yang harus memberikan manfaat bagi sesamanya..
bravo mas nurrahman…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: