Pak Sofyan baru saja keluar dari Hotel Rahman, tempat dia sehari-hari bekerja sebagai manajer. Lalu dia memasuki mobil. Bersama beberapa rekannya. Mobil itu bermerk Mercy keluaran terbaru, sedan mengkilap berwarna silver. Tanpa basa-basi karena terburu-buru, Pak Sofyan segera masuk ke mobil mengajak semua rekannya. Hari sudah beranjak senja. Maghrib segera menyapa. Harus disegerakan sampai di tempat tujuan.

Di komplek hotel dan kantor itu, tidak hanya berdiri hotel-hotel megah. Tetapi juga perusahaan asing ternama dan supermarket megah. Komplek itu dimiliki oleh konsorsium yang berisi para jutawan. Pak sofyan mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari kantong untuk diberikan kepada Kang Aboy, tukang parkir langganan yang menjadi penjaga kendaraan di hotel Rahman. Hotel milik Pak Sofyan bekerja memang sebenarnya cukup bagus dan berkelas. Tetapi manajemen menetapkan untuk tidak memakai jasa pelayanan parkir yang modern. Berbeda dengan komplek sebelah, supermarket.
“Kenapa ngasih uang ke tukang parkir banyak sekali Pak Sofyan?”, tanya salah satu rekannya. “Bukankah kalau menurut aturan itu mobil parkir cukup 2 ribu saja. Lagian kan hanya sebentar, kenapa tidak meminta kembalian?”, rekan lainnya menimpali. Senyum menyungging dari bibir Pak Sofyan. “Kang Aboy itu warga penduduk asli komplek sini. Dia memang dari kalangan kurang berpendidikan karena dahulu keluarganya tak mampu. Dia memang terkenal rajin sebagai tukang parkir di sini. Sudah akrab dengan pegawai-pegawai di sini. Dan uang parkir tadi bukan lantaran tidak ada kembalian atau apapun. Tadi hanya sempat terpikirkan mengenai semakin banyak sekali warga penduduk asli di sekitar sini yang semakin hari semakin kekurangan pekerjaan. Apalagi katanya krisis keuangan dunia akan semakin menggila.” Pak Sofyan bercerita sambil menyetir mobil, segera meluncur meninggalkan komplek hotel. Cerita dilanjutkan.
“Warga penduduk asli semacam itu bukan tidak berkurang. Tapi justru bertambah. Jika mau diberdayakan dan sedikit usaha, justru akan menjadikan modal tersendiri. Modal pemberdayaan menjadikan mereka tukang parkir atau pengelola keamanan. Daripada membayar jasa parkir seperti supermarker sebelah, yang notabene jasa pengelolaan parkir itu produk impor. Lebih baik memberdayakan masyarakat sekitar. Bayangkan ada banyak sekali sekarang warga penduduk asli yang kekurangan tenaga di tengah komplek megah dan elit hasil karya atas nama kapitalisme. Mereka hanya melihat dan melihat. Kalau dibiarkan akan menjadi bom sosial. Kesenjangan sosial yang sengaja terpelihara dan suatu saat akan meledak. Misalnya saja terjadi perampokan dan pengelola komplek mewah terpaksa membayar uang preman atau bahasa kasarya dipalak. Jika mau membuka mata, maka justru akan menguntungkan. Misalnya jasa keamanan melibatkan penuh warga penduduk asli. Tindakan kriminal seperti perampokan dan lain sebagainya akan menyusut. Kalau mengatasnamakan efisiensi biaya dan jaminan keamanan, konglomerat-konglomerat pengelola komplek hotel mewah tidak akan melirik sedikit pun masalah tadi. Karena kepekaan sosialnya kurang. Sekali atas nama bisnis. Padahal bisnis dibangun dan dijalani kehidupan sosial. Tetapi terkadang atas nama bisnis pula mematikan kehidupan sosial dan menciptakan kesenjangan sosial.”

Secara umum, ada 5 tahap krisisyang dialamai organisasi. Dan semuanya bukan merupakan proses yang secara utuh harus ada dan berurutan. Tetapi bisa berulang dan berkurang. Teori perkembangan dalam bagan di atas sampai saat ini masih cukup relevan.
Berbeda dengan soto ‘umum’ yang tersaji di pinggiran jalan dan warung makan. Soto betawi mempunyai ‘wajah’ lain. Yang membuat unik dan penasaran terutama yang belum pernah mencicipi sama sekali. Umumnya tersaji dalam sebuah mangkon yang terpisah dari nasinya. Nasi disajikan terpisah dalam piring berbeda.


yang berkomentar