Bom Sosial

12 05 2009

Pak Sofyan baru saja keluar dari Hotel Rahman, tempat dia sehari-hari bekerja sebagai manajer. Lalu dia memasuki mobil. Bersama beberapa rekannya. Mobil itu bermerk Mercy keluaran terbaru, sedan mengkilap berwarna silver. Tanpa basa-basi karena terburu-buru, Pak Sofyan segera masuk ke mobil mengajak semua rekannya. Hari sudah beranjak senja. Maghrib segera menyapa. Harus disegerakan sampai di tempat tujuan.

bomsosial

Di komplek hotel dan kantor itu, tidak hanya berdiri hotel-hotel megah. Tetapi juga perusahaan asing ternama dan supermarket megah. Komplek itu dimiliki oleh konsorsium yang berisi para jutawan. Pak sofyan mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari kantong untuk diberikan kepada Kang Aboy, tukang parkir langganan yang menjadi penjaga kendaraan di hotel Rahman. Hotel milik Pak Sofyan bekerja memang sebenarnya cukup bagus dan berkelas. Tetapi manajemen menetapkan untuk tidak memakai jasa pelayanan parkir yang modern. Berbeda dengan komplek sebelah, supermarket.

“Kenapa ngasih uang ke tukang parkir banyak sekali Pak Sofyan?”, tanya salah satu rekannya. “Bukankah kalau menurut aturan itu mobil parkir cukup 2 ribu saja. Lagian kan hanya sebentar, kenapa tidak meminta kembalian?”, rekan lainnya menimpali. Senyum menyungging dari bibir Pak Sofyan. “Kang Aboy itu warga penduduk asli komplek sini. Dia memang dari kalangan kurang berpendidikan karena dahulu keluarganya tak mampu. Dia memang terkenal rajin sebagai tukang parkir di sini. Sudah akrab dengan pegawai-pegawai di sini. Dan uang parkir tadi bukan lantaran tidak ada kembalian atau apapun. Tadi hanya sempat terpikirkan mengenai semakin banyak sekali warga penduduk asli di sekitar sini yang semakin hari semakin kekurangan pekerjaan. Apalagi katanya krisis keuangan dunia akan semakin menggila.” Pak Sofyan bercerita sambil menyetir mobil, segera meluncur meninggalkan komplek hotel. Cerita dilanjutkan.

“Warga penduduk asli semacam itu bukan tidak berkurang. Tapi justru bertambah. Jika mau diberdayakan dan sedikit usaha, justru akan menjadikan modal tersendiri. Modal pemberdayaan menjadikan mereka tukang parkir atau pengelola keamanan. Daripada membayar jasa parkir seperti supermarker sebelah, yang notabene jasa pengelolaan parkir itu produk impor. Lebih baik memberdayakan masyarakat sekitar. Bayangkan ada banyak sekali sekarang warga penduduk asli yang kekurangan tenaga di tengah komplek megah dan elit hasil karya atas nama kapitalisme. Mereka hanya melihat dan melihat. Kalau dibiarkan akan menjadi bom sosial. Kesenjangan sosial yang sengaja terpelihara dan suatu saat akan meledak. Misalnya saja terjadi perampokan dan pengelola komplek mewah terpaksa membayar uang preman atau bahasa kasarya dipalak. Jika mau membuka mata, maka justru akan menguntungkan. Misalnya jasa keamanan melibatkan penuh warga penduduk asli. Tindakan kriminal seperti perampokan dan lain sebagainya akan menyusut. Kalau mengatasnamakan efisiensi biaya dan jaminan keamanan, konglomerat-konglomerat pengelola komplek hotel mewah tidak akan melirik sedikit pun masalah tadi. Karena kepekaan sosialnya kurang. Sekali atas nama bisnis. Padahal bisnis dibangun dan dijalani kehidupan sosial. Tetapi terkadang atas nama bisnis pula mematikan kehidupan sosial dan menciptakan kesenjangan sosial.”





Teori Organisasi

12 05 2009

Organisasi bukan sekadar kumpulan orang dalam kelompok atau jamaah tertentu. Tetapi organisasi mempunyai dua atribut inti yakni sekumpulan orang dan sistem. Sistem adalah kesatuan nilai integral yang dianut dan dipatuhi untuk dijalani bersama agar mencapai tujuan bersama (bukan sekadar tujuan yang sama).

Sebenarnya texxt book mengenai bahasan apa itu organisasi dan seluk beluknya amatlah banyak. Baik terbitan luar negri maupun karangan lokal sudah sedemikian banyaknya. Ilmu yang spesifik menyebut ‘organisasi’ memang baru hangat dituangkan dalam bentuk tulisan dan diperbincangkan semenjak satu hingga dua abad lalu. Walaupun sebenarnya ketika penciptaan manusia telah menuntut kehidupan sosial, organisasi telah ada. Mungkin pada abad pertengahan, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain yang seolah sengaja ditenggelamkan oleh pihak barat, ilmu ‘organisasi’ telah eksis.

tOrganisasi

Belajar mengenai organisasi secara utuh bagi mahasiswa atau kalangan terpelajar laiannya; mulai dari hakikat dasar organisasi, struktur, desain hingga aplikasinya; rasanya kurang lengkap tanpa menyebut text book yang satu ini. Buku karangan ahli manajemen dan organisasi; Stephen P. Robbins. Staf pengajar di San Diego University ini sebenarnya telah menerbitkan buku dengan judul asli “Organizaion Theory; Structure, Design & Application” semenjak tahun 1983. Pertama kali terbitan Prentice Hall. Akan tetapi baru tahun 1994 oleh penerbit Arcan Jakarta diterjemahkan oleh Jusuf Udaya, dengan judul dalam bahasa Indonesia; Teori Organisasi; Struktur, Desain dan Aplikasi.

Disajikan dalam 4 bab utama. Bab pertama menyajikan cerita di balik pengertian organisasi. Selanjutnya membahas apa penyebab struktur atau kata lainnya adalah skema. Di bab 3 dipaparkan mengenai konsep desain atau bagaimana merancang organisasi. Dan yang terakhir diceriterakan masalah kontemporer seputar organisasi dan permasalahannya. Misalnya komunikasi sampai konflik organisasi.

Organsasi menurut penulis lebih banyak dikaji secara ilmu administratif. Itulah awal mula pembahasan organisasi menurut penulis. Walaupun saat ini, apalagi memasuki era globalisasi dan teknologi informasi, organisasi bukan hanya dikaji dalam takaran ilmu administratif tetapi telah menjangkau semua lini pembelajaran dan lintas ilmu. Stephen memulai penggambaran organisasi dengan sebuah cerita. Yang diberi judul “Celestical Seasoning”. Ia bercerita mengenai sepasang suami istri yang pada tahun 1971 di Amerika Serikat memulai berjualan obat-obatan dari tanaman. Diracik sendiri. Sepasang suami istri tersebut bernama Mio Siegel dan John. Dari mulai bisnis yang ditangani sendiri, hingga ternyata berkembang pesat. Tak pelak membutuhkan bukan beberapa orang tambahan pekerja, tetapi struktur yang jelas mengenai pembagian kerja. Dari situlah dikenalkan bagaimana organisasi terbentuk dan apa hakikat organisasi.

Seperti telah dipaparkan tadi bahwa organisasi terbentuk atas dua komponen utama, yakni orang dan sistem. Dua hal yang saling terikat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Penulis menyebut teori organisasi berbeda dengan ‘Perilaku Organisasi’ (PO). PO lebih menekankan pada bahasan perilaku dan interaksi orang-orang di dalamnya secara mikro. Stephen tak lupa merangkum teori awal organisasi dan perkembangannya. Mulai dari ‘sistem tertutup’ yang dianut organisasi pada abad 18-19, manajemen audit, cerita mengenai F. Taylor hingga Miles & Soagan. Stephen bukan hanya memaparkan teori struktur organisasi yang dikemukakan oleh Mintzberg (Sederhana, Birokrasi Profesional, Mesin Birokrasi, Divisi dan Adokrasi), tetapi juga mengemukakan bahasan baru. Ada 3 jenis struktur yang utama, yakni sentralisasi, formalitas dan kompleksitas. 3 variabel tersebut yang menjadi pembeda. Dikatakan pula bahwa penyebab terjadinya struktur dalam perspektif industrialisasi bermula dari proses industri, kemudian menjadi strategi dan berakhir pada pembuatan struktur organisasi. Jika dikaitkan dengan perkembangan ilmu yang lebih relevan saat ini, maka istilah yang cukup mendekati untuk mewakili ‘strategi’ adalah ‘proses bisnis’.

Organisasi terus berkembang. Baik menuju perubahan maupun malah terpuruk. Terlepas dari itu semua, penulis membadi model perubahan organisasi menjadi dua jenis. Yakni model yang direncanakan dan yang terjadi begitu saja. Dalam perubahan itu pula; lebih tepat diistilahkan dengan perkembangan; ada konflik-konflik yang terjadi. Ada dua perspektif yang berbeda dalam memandang konflik. Yakni sebagai sebuah proses yang jelek, atau justru mengubahnya menjadi tantangan tersendiri yang harus diselesaikan. Berikut adalah bagan yang mencoba mewakili perkembangan organisasi menuju proses tumbuh. Dapat dianalogikan menjadi sebuah life cycle dari organisasi.

tOrganisasi2Secara umum, ada 5 tahap krisisyang dialamai organisasi. Dan semuanya bukan merupakan proses yang secara utuh harus ada dan berurutan. Tetapi bisa berulang dan berkurang. Teori perkembangan dalam bagan di atas sampai saat ini masih cukup relevan.





Soto Betawi

12 05 2009

betawi2Berbeda dengan soto ‘umum’ yang tersaji di pinggiran jalan dan warung makan. Soto betawi mempunyai ‘wajah’ lain. Yang membuat unik dan penasaran terutama yang belum pernah mencicipi sama sekali. Umumnya tersaji dalam sebuah mangkon yang terpisah dari nasinya. Nasi disajikan terpisah dalam piring berbeda.

betawi

Warna kuning adalah santan. Di atasnya ditaburi emping, kentang dan irisan tomat, serta terkadang disajikan dengan kikil di dalamnya. Citarasanya yang legit membuat penikmat soto akan terkesima untuk sekadar mencicipinya. Soto yang identik dengan makanan yang membuat kenyang bukan karena ‘isi’ makananya, tetapi karena airnya, tetap nampak di soto betawi. Harga tetap rata-rata, apalagi di jual di jogja. Tak lebih dari sepuluh ribu rupiah.





Terlena

12 05 2009

Kata orang, ada tiga hal yang sering membuat manusia berubah pikiran. Menjadi manusia yang mudah terlena dan akan membuat hina diri sendiri. Tiga hal itu adalah harta, tahta dan yang terakhir khusus disebut-sebut membuat terlena pria; yakni wanita. Apakah benar seperti itu? Apa yang menjadi riwayat dan perihal cerita di balik ungkapan itu semua, adakah yang bisa memaparkannya?

hartatahtawan

Harta

Di sebuah kabupaten penghasil batu bata dan genteng di Jawa Tengah, terdapat sebuah keluarga yang tengah dirundung musibah. Di sebuah desa wilayah itu, sedang terjadi pemakaman salah seorang anggota sanak saudara. Perbincangan dimulai oleh tetangga yang menanyakan, “Kenapa kok setelah diukur liang lahatnya pas, tetapi setelah mau dikubur tidak bisa. Ukuran berubah.” Tetangga lainnya hanya diam sebentar, lalu berceritalah bahwa yang dikubur terlibat sebuah lilitan masalah. “Dulu, dia adalah seorang kakak dari 5 bersaudara. Yang diberi amanah harta warisan banyak sekali ketika dua orang tuanya meninggal. Tetapi dia sama sekali tidak mau membaginya secara adil kepada saudaranya yang lain.”

Tahta

Tahta mempunyai kata lain kekuasaan atau istilah bekennya adalah power. Kekuasaan karena jabatan, wewenang atau popularitas. Bisa juga kekuasaan dengan atas nama budak, ketidaksamarataan hak menjadi seorang manusia yang pada dasarnya mempunyai fitrah sama. Bertindak sewenang-wenang atau menindas manusia lain adalah juga termasuk ‘sok kuasa’. Alkisah di negeri impian sedang dilakukan sebuah pemungutan bersama dalam balutan pesta rakyat. Pesta yang bukan bermaksud untuk bersenang-senang dan bersyukur, tetapi lebih diartikan pesta bahwa akan terjadi banyak masalah. Dan itu betul. Pesta yang mengagungkan atas nama demokrasi.

Ada dua partai besar peserta pemungutan suara yang menang pada akhirnya. Satu partai dianggap di atas angin. Salah satu anggota dewan pembina adalah calon tunggal yang sampai saat ini bisa dibilang tak terkalahkan. Terlalu hiperbolis. Bahkan salah satu anggota partainya berkata, “Dia dipasangkan dengan sandal jepit saja pasti menang kok.” Sombong dan arogan adalah pasangan ketika sebuah kekuasaan itu dipahami hanya sebagai sebuah profesi yang mengatasnamakan profesionalisme. Bukan masalah tidak boleh atau boleh, tetapi yang sering terlupakan adalah amanah di dalamnya. Demi atas nama ‘sudah lumrah’, lalu sisi pemahaman menjalankan amanah sebagai yang utama tersisihkan. Kekuasaan membutakan hati untuk sadar bahwa menjalankan amanah tidak sama saja mendapatkan uang dari tahta.

Di sisi partai lainnya. Sang pemimpin partai yang sudah gerah dan memutuskan untuk menjadi orang nomor satu negri impian, berapi-api memaparkan dan memperkenalkan calon pendamping menuju kursi tahta nomor satu. Lalu di kesempatan lain, sang pemimpin partai yang mempunyai jabatan dobel, entah apakah dobel hatinya karena di satu sisi hatinya untuk rakyat dan di sisi lain hatinya untuk partai; berpidato dan curhat pada kadernya. “Seharusnya rakyat berterimakasih pada partai kami. Kami yang telah menyelesaikan konflik-konflik itu dengan tepat dan cepat.” Pemimpin adalah tonggak tahta, kalau salah saja sedikit kata yang terucap maka intepreteainya bisa rusak secara keseluruhan. Mengapa terkadang demi memperoleh tahta saling umbar pesona golongan. Akui saja kerja bersama, bukan mengakui kelebihan diri untuk mendapatan tahta itu lagi.

Wanita

Ada seorang pemuda yang dicintai wanita idamannya. Hal itu sungguh sangat memotivasi dirinya. Sangat. Lalu tanpa mengimbangi diri dengan amunisi pengendalian diri yang kuat, hal tersebut berjalan seiring waktu. Kuat tetapi pondasi rapuh di bawah, karena pemuda hanya terkesima tanpa mau berbenah diri menuju perbaikan yang apik. Lalu suatu saat bangunan itu roboh. Terlalu banyak goncangan badai di luar sana. Terkadang yang disesali bukan karena cinta, tapi mengapa ada nafsu yang secara tersirat tumbuh. Tdak disadari, karena terlena cinta.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.