Menyayangi Produk Lokal

18 05 2009

lokalAyamSeorang mahasiswa tiba-tiba ditanya oleh dosennya ketika sedang dalam acara workshop di ruangan kelas. “Menurutmu, lebih enak mana, ayam goreng di KFC dibandingkan dengan ayam goreng lokal; Suharti?”, lalu mahasiswa tersebut lantang menjawab, “Wah, bapak ini ada-ada saja. Pertanyaan yang gampang itu. Ya jelas lebih ‘nendang’ citarasa Ayam Suharti.” Dosen tersebut hanya tersenyum saja.

Kalau dicermati memang sampai saat ini (terlepas dari masalah strategi sampai teknis operasional), image di benak warga pribumi akan produk lokal bukanlah menjadi top of mind. Artinya secara umum, produk lokal bukanlah produk unggulan nomor satu di benak konsumen. Ini bukan masalah benar atau salah kalau dilihat dari segi kemanfaatan produk. Tetapi kalau mau diteliti dan dicermati lebih detail, rupanya bisa sedikit disimpulkan bahwa secara umum; salah satu alasan yang kuat mengapa produk lokal cenderung disepelakan karena seolah sudah membudaya dan mengakar bahwa bangsa Indonesia tidak bisa dan tidak berdaya mengembangkan potensi dan produk sendiri. Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah yang saat ini bisa dibilang tidak 100%, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa produktivitas atau kinerja pegawai pemerintahan secara umum (apalagi anggota dewan yang terhormat yang sedang ramai dibicarakan saat ini) kurang baik. Tengoklah salah satu parameter, pegawai pemerintahan ada yang bisa berleha-leha santai di sore hari sambil minum kopi di depan rumah. Berbeda dengan pegawai swasta yang konon katanya harus membanting tulang bekerja lembur, pulang lebih awal akan digerutui rekan kerja lainnya. Seolah tidak produktif dalam bekerja.

Alasan lain adalah ketidakpercayaan diri dan ketakutan untuk mengambil resiko mengembangkan potensi kecerdasan anak bangsa. Kalau mau jujur, pelajar di Indonesia tidak kalah pintar dengan pelajar-pelajar di negara maju. Banyak kejuaraan yang telah dimenangkan anak negri. Mulai dari fisika sampai matematika. Sampai terakhir adalah yang terhangat mengenai kasus meninggalnya David, mahasiswa Indonesia yang meninggal di tangan orang-orang asing yang menginginkan membajak kepintaran David. Artinya potensi dan bibit kepintaran anak negri itu banyak. Lalu mengapa membuat perusahaan pengeboran tambang minyak saja tidak mau dan mampu? Sebenarnya itu lebih dikarenakan takut dengan asing dan takut gagal dengan resiko besar.

lokalTambangSampai saat ini, pengeboran minyak lepas pantai dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing dengan sistem PSC (Production Sharing Contract). Artinya berbagi hasil minyak dengan perusahaan minyak milik negara. Dan hasilnya jelas, bahwa asing akan menguasai aset-aset tambang milik pribumi. Tambang emas, nikel, dan masih banyak lagi. Anak-anak negri yang pintar dan berbakat, lulusan universitas dari fakultas teknologi industri, pertambangan dan sebagainya; kurang lebih akan menjadi karyawan untuk bekerja di perusahaan asing yang mengeruk kekayaan alam pribumi. Seolah menjadi pekerja di rumah sendiri. Bukan tuan rumah. Ketergantungan dengan asing memang tidak bisa lepas. Tetapi alangkah sangat baik jika dipikirkan ulang. Contoh lain mengenai pembuatan undang-udang atau aturan kepemilikan perkebunan kepala sawit. Berpuluh atau ratusan tahun kebun kelapa sawit nasional akhirnya bisa dimiliki oleh asing dengan adanya produk undang-undang yang baru itu. Lalu, cerita lain datang belum lama ini. Karena pemerintahan saat ini ‘takut’ kehilangan PMA, maka ada beberapa BUMN yang diberikan kepemilikannya dengan porsi lebih besar ke asing. Ada Krakatau Steel, Bank Tabungan Negara, PTPN III, dan sampai-sampai seorang tokoh reformasi menulis dalam sebuah buku ‘reformasi’ bahwa total ada 33 perusahaan milik negara yang ‘dijual’ ke asing.

Ada LSM yang pernah menghitung berapa hutang negara sampai tahun 2009 ini. Disebutkan angka sebesar 700-an triliun. Angka itu lebih besar daripada APBN. Sungguh ironi. Lalu, per kepala orang sampai saat ini kurang lebih berhutang luar negri atas nama pemerintahan sebesar 7 juta. Artinya kalau setiap orang, baik kaya-miskin, tua-muda; jika mau membayar hutang dengan lunas dan serempak, hutang beratus triluin itu segera lunas. Tidak dititipkan lagi ke anak cucu. Terkadang ada juga pemberitaan yang kurang etis dari media atau entah sumbernya dari pemerintahan. Terkadang disebutkan bahwa “Indonesia baru saja mendapatkan ‘bantuan’ luar negri untuk pembangunan infrastruktur jalan raya dari pemerintahan asing”. Ah, sayang sekali kejujuran dalam menyampaikan beria kurang digenggam sebagai amanah berat. Itu bukan bantuan, tetapi hutang yang berbunga. Bunganya bukan hanya dalam bentuk nominal uang, bahkan reputasi kedaulatan politik internasional terkadang dipertaruhkan menjadi jaminan. Demi hutang uang. Lalu, pembahasan dan pemberitaan mengenai berapa bungannya juga tak kunjung muncul. Tenggelam.

lokalBaliCerita lain mengenai bagaimana dahsyatnya ‘pembunuhan’ produk lokal datang dari Bali. Si pembunuh karakter itu bernama hak cipta. Di sebuah dusun yang terkenal dengan produk ukirannya, dahulu sangat terkenal akan keindahan produk lokal ukirannya. Seluruh dusun itu adalah pengrajin yang handal. Berbagai wisatawan dalam dan luar negri gemar berkunjung. Sampai suatu saat, datanglah utusan atas nama hak cipta (padalah yang menciptakan segala sesuatu adalah Tuhan, manusia hanya ‘menemukan’. Pemberian nama yang arogan). Utusan tersebut lalu memberikan pengumuman ke warga dusun yang memang asli warga pribumi dan berpendidikan biasa-biasa saja. Pengumuman itu kurang lebih berbunyi “Seluruh model ukiran ini telah dibuat hak paten. Sehingga bagi siapa saja yang membuat produk ini, harus membayar ke pihak kami.” Lalu diketahuilah bahwa pihak tersebut adalah orang asing yang semena-mena. Dan hancurlah usaha serta mata pencaharian seluruh warga dusun itu. Ambruk. Pemerintah pun tak bisa banyak bertindak.

Produk lain yang menjadi sorotan adalah sepatu kulit. Kalau mau jujur, bahan dan kekuatan produk sepatu di Manding Jogjakarta (sebuah sentra industri kulit di Bantul Jogjakarta) dan Cibaduyut tidaklah kalah dengan merk-merk sepatu mahal buatan luar seperti Bucheri dan Edward Forrer. Padahal ada beberapa sepatu produk asing yang bahan dasarnya dari lokal. Lalu dimana salahnya sehingga produk lokal ini seolah kalah? Memang jawabannya sangat komplek. Dari masalah strategi kebijakan sampai teknis pemasaran yang kurang digarap. Tapi terlepas dari itu semua, kalau kesadaran ditumbuhkan dari individu-individu dengan sungguh-sungguh untuk mencintai produk sepatu lokal tidaklah salah. Itu adalah cara termudah untuk menyayangi produk lokal. Belilah sepatu kulit buatan dalam negri saja, di Manding, Cibaduyut, Jawa Timur atau daerah lainnya.

lokalBedcoverAda sebuah kisah yang menggambarkan betapa sebenarnya produk lokal itu tidak kalah menarik. Cerita dari luar negri. Seorang diplomat yang berkunjung ke Itali baru saja menginap di Hotel ternama. Lalu ia memita bantuan kepada ajudannya untuk membeli oleh-oleh mahal dan ternama khas negara tersebut. Lalu dicarikanlah sebuah bedcover. Diplomat setuju saja. Dan akhirnya ditemukan sebuah produk. Dan dibukalah oleh sang diplomat Indonesia untuk mengecek merk. Tertulis “Made in Pekalongan Indonesia”.





Jogja Dipenuhi Gudeg

18 05 2009

gudeg1Bukan salah ketika orang menyebut bahwa Jogjakarta adalah wilayah teritorial pedagang gudeg untuk menjajakan makananya. Sejumlah gudeg terkenal sampai gudeg sederhana di pinggiran jalan selalu tersajikan hampir setiap saat. Gudeg memang bukan hanya monopoli makanan yang akan ditemukan di kota pelajar saja. Tetapi di banyak tempat seantero Indonesia sudah banyak. Tetapi kalau menengok lika-liku makanan yang terbuat dari buah nangka ini di Jogjakarta sungguh menarik. Melirik satu sisi saja dari kisah gudeg sangat bagus disajikan dalam bentuk cerita. Tak lengkap membicarakan gudeg di Jogjakarta tanpa menyebut tempat jualan gudeg dini hari di jalan kapas. Banyak artis dan eksekutif tertarik singgah tiap malam. Atau gudeg wijilan di komplek dekat kraton, yang tersaji apik dengan nuansa kraton yang memang lokasinya dekat dengan alun-alun utara kraton Jogja. Ada juga nama gudeg yang diberi branding dengan nama lokasi atau pemilik, seperti Gudeg Barek (baca : Mbarek) dan gudeg Hj. Ahmed.

Tetapi tetap tak lengkap kalau tanpa menyebut ‘gudeg jalanan’. Yakni Simbok-Simbok (baca : Ibu-ibu) yang berjualan gudeg di sepanjang trotoar (seperti pedagang kaki lima), umumnya pagi hari. Waktu jualan hanya sampai pukul 10 saja kira-kira, sejak habis seubuh pukul setengah enam sudah bersiap jualan. Jika singgah di daerah jalan kaliurang (kira-kira kilometer 2-8), maka pemandangan orang sarapan di pinggir jalan makan gudeg adalah lumrah. Apalagi harga murah meriah. Cukup kisaran 5 – 10 ribu saja. Bisa dipesan sesuai selera dengan lauk pilihan pemesan. Sarapan pagi di tempat seperti akan kental dengan nuansa jogja yang tak lekang oleh waktu sebagai kota gudeg.

gudeg2

Nah, ada juga tempat bersejarah lain di Jogjakarta yang dipenuhi oleh penjual gudeg di pinggiran jalan. Tetapi bukan hanya jualan ala kaki lima. Tetapi benar-benar di bangunan permanen. Dengan pangsa pasar langganan, maka sepanjang jalan gedong kuning di Kotagede selalu ramai orang berjajar membeli gudeg di tempat langganan. Tengoklah gambar “Gudeg Bu Djoyo” berikut ini. Dengan harga yang rata-rata, gudeg ini sudah eksis sejak lama. Ibu Djoyo yang sudah berumur tetap setia berjualan. Walaupun tempat jualannya pernah mengalami renovasi karena dihajar gempa tahun 2006 silam, tetapi usaha harus tetap berjalan untuk berjuang mencari nafkah.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.