Pendidikan dan Partai Politik

7 06 2009

pendidikanpolitikTahun ini adalah tahun di mana kehidupan politik bangsa menjadi salah satu sorotan hampir seluruh masyarakat Indonesia. Karena berhubungan dengan pesta demokrasi. Kehidupan berpolitik kata para elite adalah pondasi kehidupan bangsa yang berdaulat. Tapi kenyataanya para elite seolah masih sering sibuk sendiri dengan kepentingan praktis daripada mendidik masyarakat untuk peduli politik. Dan para aktivis politik itu sebenarnya juga bukan hanya dari kalangan yang punya pendidikan khusus, atau katakanlah orang dengan background pendidikan sosial politik. Simaklah orang-orang hebat terdahulu yang terjun di dunia politik dan pergerakan dengan dasar pendidikan yang beraneka ragam. Bung Karno adalah seorang insinyur. Dan dr. Wahidin adalah seorang sarjana kedokteran. Bahkan sekarang ini, para elite partai politik memiliki background pengusaha sampai orang-orang dengan latar belakang pendidikan eksak. Sebaiknya jika memang diyakini bersama bahwa politik adalah pondasi bangsa, mungkin sejak dini masyarakat dikenalkan dengan aktivitas politik melalu jalur pendidikan. Bisa mulai dari sekolah menengah atas atau bangku kuliah misalnya. Sehingga sikap apriori bahwa berpolitik itu kotor semakin lama terkikis dengan sendirinya. Begini kalau kurang percaya, tengoklah atau coba disurvey ke mahasiswa-mahasiswa saat ini mengenai kepedulian politik mereka. Maka kemungkinan besar akan bersikap apriori. Bahkan tidak peduli karena kehidupan sekarang sudah begitu pragmatis, ada yang menyebut semakin mengarah ke hedonis yang fashionable. Mereka bisa dikatakan kurang suka karena melihat kenyataan kebobrokan sistem dan kekurangpedulian untuk memperbaiki jalur pendidikan politik.

Jika dikatakan berpolitik itu adalah memberikan andil kepada sistem negara secara makro, maka seharusnya bukan kepentingan praktis saja yang diinginkan. Kepentingan praktis bisa dianalogikan sebagai 3 kebutuhan pokok, pangan, dandang dan papan. Terlihat sekali kepentingan praktis dari rangkap-rangkap jabatan yang dipegang oleh para elite partai. Ada yang merangkap pejabat resmi pemerintah, dan bahkan yang kadang seolah lucu adalah sistem kenegaraan yang dibuat masih tumpang tindih. Sebagai ilustrasi begini, jika seseorang memang telah memutuskan berjuang untuk rakyat dengan masuk menjadi anggota pemerintahan dengan masa jabatan tertentu tetapi masih pula berjuang untuk kepentingan praktis segelintir kelompok orang bernama partai politik.

Lalu, di sebuah dialog interaktif seputar dunia politik yang disiarkan langsung oleh sebuah stasiun swasta, seorang mahasiswa bernama Andi bertanya. Dialog yang dibalut dengan rangkaian acara komedi ini terdapat salah satu narasumber seorang pakar politik muda bergelar doktor. ”Saya mahasiswa teknik. Saya belum pernah mendapatkan ilmu politik secara khusus di bangku kuliah. Bisa dikatakan otodidak. Jadi mungkin minta maaf kalau nanti ada salah ucap atau kata yang kurang tepat. Ada dua pertanyaan yang ingin saya ajukan. Pertama begini Pak. Saya melihat sistem secara holistik. Jika dikatakan politik adalah sebuah sistem menyeluruh yang merupakan pondasi bangsa, maka sudah sepatutnya sistem itu dibuat oleh orang-orang kompeten yang menghasilkan sistem yang baik. Jika melihat kenyataan sekarang ini, sistem kenegaraan yang dibuat seolah mulai terpuruk. Sebenarnya para elite pembuat sistem itu memang kurang kompeten sehingga menghasilkan sistem yang bodoh, atau seperti apa. Atau jangan-jangan para pembuat sistem adalah orang-orang yang kompeten tetapi ada hambatan ketika membuat sistem. Misalnya sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing dan dikejar waktu deadline sehingga sistem yang dibuat kurang sempurna. Menurut Bapak seperti apa? Mengapa ini terjadi? Dan pertanyaan kedua mungkin lebih sederhana. Jika melihat kenyataan saat ini, pejabat banyak sekali merangkap jabatan di sebuah partai politik. Menurut saya itu menjadi sesuatu yag tumpang tindih. Seolah pejabat itu mempunyai muka dua. Di saat tertentu berperan membela masyarakat secara keseluruhan, tetapi ada kalanya membela kepentingan praktis sekelompok orang. Lalu, bisa tidak dibuat sistem yang lebih baik misalnya dengan memisahkan sebuah jabatan pemerintahan dari aktivitas politik praktis? Misalnya dibuat ketentuan bahwa orang-orang yang sudah masuk di ranah pemerintah adalah murni pembela rakyat. Tidak punya partai politik lagi selama menjadi pihak pemerintah. Menurut Bapak bisa tidak dibuat sistem atau aturan seperti itu? Karena menurut filosofis dasar saya bahwa politik adalah bagi-bagi pertanggungjawaban dunia akhirat, bukan semata bagi-bagi kekuasaan dan uang”.

About these ads

Aksi

Information

5 tanggapan

7 06 2009
feeds.bloggerpurworejo.com » Pendidikan dan Partai Politik

[...] Pendidikan dan Partai Politik Filed under: Uncategorized — @ 5:46 am [...]

9 06 2009
Kelurahan Gembirakata

pertanyaan pertama dan kedua punya jawaban sama : itulah yang dinamakan dunia politik…jadi kita tidak bisa mempertanyakan itu, yang bisa kita lakukan hanya menertawakannya saja…

kami segenap staf kelurahan gembirakata, kelurahan paling tertinggal se-kabupaten blogspot, mengucapkan salam perkenalan…

15 06 2009
wawansri

” pejabat banyak sekali merangkap jabatan di sebuah partai politik ” masih menjadi tren saat ini, masih banyak tokoh politik dan pelaku politik yang rangkap jabatan bahkan mereka seakan menomor duakan tugas negara, klu sudah begini siapkah mereka memikirkan rakyat yang kadang berseberangan dengan kepentingan partai ???

15 06 2009
nurrahman18

@wawansari : benar…..hidup rakyat(haeah)….:D

19 06 2009
sbyoke

masyarakat sudah bosan dengan banyaknya partai-partai yang menyulitkan pemilu dan membengkakkan anggaran. toh isinya lebih kurang sama, menjual agama dan rakyat. SBY terbukti telah berhasil mengurangi partai menjadi 9 partai. Kalau dilanjutkan, mudah-mudahan tinggal 3 (demokrat, hanura/golkar, pdip/gerindra).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: