Diambil dari sebuah kisah nyata. Dikutip dari berbagai sumber dengan berbagai pengolahan kata tanpa bermaksud menghilangkan kisah nyata sebenarnya.
*********
Alkisah ada seorang guru besar di sebuah universitas terkemuka di Yogyakarta, budayawan, sastrawan dan sekaligus sejarawan ternama. Beliau aktif di berbagai organisasi dan telah banyak menulis buku serta menerima penghargaan. Pendidikan di luar negri juga pernah dijalaninya.
Kehidupan berumah tangga dan aktivitas bersosial masyarakat tetap dijalani. Seiring waktu berlalu, banyak sekali aktivitas beliau hingga kadang menyita waktu untuk sekadar beristirahat dan melepas lelah. Walaupun begitu, beliau tetap menjalaninya dengan penuh semangat dan dedikasi. Karya-karyanya sudah banyak dinikmati kalangan akademisi dan masyarakat umum dalam bentuk buku, novel dan masih banyak lagi. Dan mendapat apresiasi yang cukup baik, karena dinilai memang konsisten di bidangnya.
Suatu ketika karena begitu padatnya aktivitas beliau, datanglah penyakit yang bertubi-tubi hingga mengakibatkan kondisi beliau yang agak mengkhawatirkan. Ketika itu, beliau sampai harus dirawat di rumah sakit karena koma. Pihak dokter rumah sakit tetap memandang bahwa ada harapan untuk hidup. Walaupun itu sangat kecil sekali. Tetapi dengan konsekuensi bahwa beliau harus dipasangi alat medis guna menopang kehidupan untuk sementara waktu. Dan biaya untuk perawatan itu sangatlah mahal
Waktu bergulir sekali lagi, pihak keluarga pun mengalami dilema karena beberapa hal. Yang jelas, biaya alat tersebut tidaklah murah. Dan itu cukup menyedot pundi-pundi keuangan tumah tangga. Dan jika alat itu dilepas, tidaklah mungkin karena berdasarkan keilmuan dokter sebenarnya masih ada harapan hidup walapun kecil sekali. Otak masih bisa merespon walaupun kecil sekali. Kecuali jika sebenarnya otak sudah tidak bisa merespon; maka berdasarkan ijtihad ulama karena berbagai pertimbangan yang matang dan lama, alat tersebut boleh dilepas. Jika kemudian meninggal atau akan tetap hidup, maka itu sepenuhnya di tanganNya.
Rupanya karena berdasarkan diagnosa medis bahwa otak masih merespon, maka dipertahankanlah. Dan ditunggulah beberapa hari, bahkan bulan. Respon otak yang kecil tersebut jikalau akan sembuh, maka diperkirakan dokter beliau akan kehilangan memorinya dan kemampuan motorik. Sehingga diibaratkan seperti bayi yang baru lahir. Kosong semua. Akhirnya, hanya waktu yang bisa menjawab. Dan selama 70 hari beliau harus koma di rumah sakit. Sungguh luar biasa karena benar-benar di luar dugaan. Kondisi memori otak sepenuhnya masih tetap sama. Hanya kemampuan motorik seperti gerak tangan dan kaki saja yang tidak bisa kembali seperti semula.
Akhirnya kehidupan beliau pun juga harus tetap berjalan. Walaupun sekarang dengan berbagai keterbatasan. Semua orang disekitar beliau sudah was-was karena khawatir akan kondisinya sekarang yang tidak seperti lagi. Tapi sungguh luar biasa, hal itu berbalik. Memang secara motorik, beliau mengalami banyak keterbatsan. Tetapi secara pemikiran otak, itu tidaklah demikian. Dengan hanya satu jari, beliau mengetik dan menulis buku. Bayangkan, satu jari saja. Dan itu pun proses memencet tombol di keyboard lama sekali. Tidak seperti orang normal. Tapi hasilnya luar biasa. Puluhan buku telah diterbitkan dengan kondisi beliau yang terbatas. Kondisi dimana beliau sebelumnya sempat koma 70 hari di rumah sakit. Salah satu kutipan beliau, pernah bilang bahwa beliau rindu melihat pidato pak Habibie. Karena pak Habibie lincah sekali tanggannya ketika berpidato. Mulutnya pak Habibie juga lincah berbicara.
Dan bukan hanya menulis buku, tapi beliau masih diundang untuk mengisi seminar dan semacamnya. Karena keterbatasan kemampuan motorik beliau hingga tak mampu berbicara, terkadang istrinya yang membacakan makalah beliau ketika presentasi.
Beliau, dengan keterbatasan fisiknya yang pernah koma 70 hari telah menerima apa adanya. Bahkan memanfaatkan dengan segenap upaya dan daya. Gerak tangan saja susah sekali. Tapi sudah puluhan buku dan pemikiran tercipta. Lalu apakah yang mempunyai dua tangan dan fisik lainnya normal masih akan menggerutu dan menyalahkan nasib?

Beliau adalah Prof. Dr. Kuntowijoyo. Seorang guru besar. Salah satu karya novel yang terkenal adalah “Wasripin dan Satinah”; bercerita tentang dua orang yang jatuh cinta dalam balutan konflik jaman Orba. Sumber terkait dapat dilihat di:
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/k/kuntowijoyo/index.shtml
http://id.shvoong.com/social-sciences/1687076-kuntowijoyo/

Atau dengan kata lain, manajemen teknologi merupakan sebuah kajian atau bahasan yang menghubungkan disiplin ilmu rekayasa / teknik, ilmu pengetahuan dan manajemen dalam menempatkan perencanaan, pengembangan dan implementasi kemampuan untuk membentuk dan menyelesaikan tujuan operasional dan strategis perusahaan. Jadi sebenarnya bukan semata berkaitan dengan kajian teknis, misalnya di lantai produksi. Tetapi juga mengenai bagaimana menciptakan atau membuat teknologi (sciences) dan pengelolaannya (manajemen) di sebuah organisasi. Maksud dari pengelolaan juga bukan berarti hanya pad atakaran dimana bagaimana agar proses pembuatan teknologi itu berhasil, tetapi juga bagaimana implementasi kemanfaatannya terasa di perusahaan. Seperti dijelaskan dalam pengertian di atas, ada dua tujuan dari kajian atau ilmu manajemen teknologi. Yakni dipandang secara strategis dan operasional. Strategis maksudnya berada pada posisi manajemen menengah ke atas dalam perusahaan. Operasional berkaitan dengan teknis keilmuan teknologi.

Mainan yang satu ini tergolong unik dan menarik. Karena bisa untuk mengasah kecerdasan otak. Bagaimana bisa? Coba saja jika tidak percaya. Tersusun atas kubus-kubus kecil yang bisa diputar dan ditata ulang sesuai kehendak sehingga membentuk kubus besar yang mempunyai 6 sisi warna. Merah, putih, orange, hijau kuning dan biru. Namanya adalah rubik’s cube. Untuk melihat tips dan cara menyusun lihat

Dia tidak sanggup mengatakan kepada anaknya bahwa sebenarnya cara berpikir yang berbeda setiap manusia dipengaruhi oleh perjalanan waktunya, karena lingkungan pengalaman dan mungkin masih sejuta faktor lagi. Dia juga tidak sanggup mengatakan bahwa akal dan naluri itu berbeda. Bahwa akal anak-anak itu belum tumbuh sempurna seperti orang dewasa karena masih lebih banyak dipenuhi naluri di saat kecil. Otak manusia tumbuh sel syarafnya seiring kemampuan berpikir atau akalnya. Dan seperti telah dipaparkan bahwa pertumbuhan akal atau cara berpikir setiap manusia berbeda. Diibaratkan seperti pepohonan, ada yang tumbuh menjulang ke atas, ada yang menjalar dan bahkan ada yang mati termakan pertumbuhan yang tidak sehat. Naluri masa kecil perlahan-lahan akan bergeser sempurna menjadi akal yang sering diistilahkan dengan baligh ketika jika, bagi perempuan akan mengalami siklus bulanan dan bagi laki-laki akan mengalami mimpi tidak kering.




Jika sudah terinstal semua, maka tinggal klik connect pada aplikasi seperti pada gambar di samping. Alnect komputer merupakan salah satu toko komputer di jogja yang menyediakan kartu perdana IM2 dengan harga bersaing.
AHP atau Analytical Hierarchy Process adalah sebuah metode ilmiah yang dikemukakan oleh Thomas L.Saaty. Merupakan metode kuantitatif untuk meranking berbagai alternatif dan memilih satu terbaik berdasarkan kriteria yang ditentukan. Metode ini menggunakan perbandingan dari beberapa pilihan dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Panduan ini semoga bermanfaat bagi calon pemilih untuk pemilihan pemimpin kelak. Dan tutorial ini tidak bermaksud mengarahkan untuk memilih calon pemimpin mana pun. Hanya sebuah metode ilmiah yang biasa diajarkan di bangku kuliah, dan semoga bisa bermanfaatkan dan diterapkan untuk membantu memecahkan permasalahan-permasalahan sederhana di masyarakat. Perhitungan ini bersifat subjektif untuk setiap orang. Caranya adalah sebagai berikut :

Next….(step 2)
Next….(step 3)
Next….(step 4) menghasilkan matriks kriteria untup setiap calon.
Ulangi step 1-4. Hasilnya sebagai berikut :
Rata-rata baris = Nilai preference pada kriteria (preference vector) :





yang berkomentar