Creative and Green

18 11 2009

Kreatif dan inovatif adalah dua kata yang sering diartikan hampir sama. Tetapi bisa juga terdefinisi berbeda. Kreatif bisa diartikan memiliki daya cipta. Seseorang yang dikatakan kreatif dalam membuat sebuah produk bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda dari orang lain pada umumnya. Sedangkan seseorang yang inovatif artinya ia bisa mendayagunakan kemampuan kreatifnya sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat atau added value-nya lebih. Khususnya nilai tambah secara finansial.

Beberapa tahun terakhir ini apalagi memasuki era tahun dua ribu, gembar-gembor isu hangat yang mengandung unsur kreativitas mulai banyak diperbincangkan. Khususnya dalam sektor ekonomi. Walaupun pada akhirnya akan mempengaruhi aspek lainnya seperti budaya dan lifestyle. Ada wacana mengenai industri kreatif dan banyak pula seminar, lomba dan workshop mengenai ekonomi kreatif. Sebetulnya tidak hanya sebatas ide dan wacana, industri yang bersifat kreatif dan inovatif telah ada. Jika dicontohkan seperti industri kerajinan tangan khas daerah yang bersifat hand-made dan industri clothing yang mempunyai segmen anak-anak muda yakni distro. Dan bukan pula kreativitas itu mengenai produk atau komoditas, tetapi dalam hal lain seperti masalah pengelolaan, ide dan manajemen. Seperti maraknya wirausaha muda yang mempunyai terobosan baru dalam menjalankan bisnis seperti dengan jaringan online atau komunitas-komunitas penggemar hobi tertentu dan pemanfaatan waste (barang-barang yang tidak terpakai).

Mengapa mulai marak diperbincangkan lagi? Bisa jadi karena kebuntuan dan kejenuhan dalam perkembangan ekonomi yang ada, sehingga perlu terobosan baru. Atau memang butuh cara yang lebih efektif dan efisien untuk mendobrak kondisi ekonomi yang dirasa perkembangannya belum berkembang cerah. Dari bertahun-tahun lalu menyandang gelar negera berkembang. Entah kapan suatu saat apakah akan berpindah kuadran menjadi negara maju.

Terlepas dari itu semua, seperti telah sedikit disinggung di atas kalau kreativitas penciptaan sendi ekonomi yang baru itu salah satunya dapat melalui pemberdayaan waste atau sampah. Atau lebih spesifik lagi adalah limbah dari berbagai hal seperti limbah pabrik, rumah tangga, dan limbah sesuai jenisnya seperti limbah padat, cair dan gas. Kreativitas penciptaan pemberdayaan limbah tersebut kini juga sedang marak diperbincangkan. Yakni isu hangat mengenai green atau penyelamatan lingkungan. Limbah-limbah tersebut diminimalisir untuk mencegah kerusakan yang lebih parah terhadap lingkungan. Beberapa contoh usaha penyelamatan lingkungan dengan pengelolaan limbah menjadi sesuatu yang bernilai lebih adalah pemanfaatan sampah plastik seperti kantong plastik wadah deterjen dan sabun yang didaur ulang menjadi bahan tas serta hiasan dinding, dan pemanfaatan kain perca yang didaur ulang menjadi barang kebutuhan rumah tangga seperti keset dan gorden.

Di negera maju seperti di negara matahari, kini salah satu wujud kepedulian untuk lingkungan dilakukan dengan dilarangnya bahan styrofoam untuk dipakai sebagai tempat / bungkus makanan. Pengurangan tas palstik di tempat belanja dikurangi, diganti menjadi tas berbahan kain yang setiap orang bisa membawanya masing-masing dari rumah. Di negara ini juga tak kalah mencuat isu tersebut berkembang. Komunitas sepeda bike to work bisa dibilang adalah satu wujud gerakan kepedulian untuk tidak memperbanyak pencemaran udara. Seperti halnya dengan perilaku tidak membakar sampah plastik. Karena akan lebih baik plastik didaur ulang, tidak dibakar sebab akan menimbulkan emisi. Pemisahan sampah dengan membedakan antara sampah organik dan nonorganik juga mulai dirintis di kampus-kampus tertentu dan kawasan tertentu yang dapat dijadikan contoh. Fasilitas sepeda gratis di kampus juga merupakan gerakan baru, meskipun sepertinya antusiasme dan kefektifan gerakan itu kurang menggema. Lembaga swadaya atau konsultan swasta di bidang penyelamatan lingkungan juga kini kian marak. Karena jika berbicara lingkungan bisa mencakup banyak aspek. Seperti hutan, lautan, sektor pariwisata sampai emisi kendaraan bermotor dan emisi gas dari industri.

Sesungguhnya isu green itu akan memicu dan menciptakan peluang yang bagus dalam hal perkonomian jika bisa melihat peluang dengan jeli. Tetapi tak salah juga kalau melihat lebih detail mengapa gembar-gembor isu green kadang terasa hanya muncul ke permukaan secara berkala. Dan tindakan nyata untuk mencegah dan merawatnya belum menjadi budaya yang santun sampai ke masyarakat tingkat bawah. Kesadaran green memang seolah muncul setelah sadar akan besarnya dampak pemanasan global bagi masyarakat dunia. Memang ada unsur ironinya karena bisa diartikan kalau lingkungan sudah rusak baru timbul kesadaran terhadap lingkungan. Padahal sebetulnya sudah banyak bukti-bukti kecil kerusakan alam akibat keserakahan manusia. Dan sudah banyak teori tentang lingkungan hidup mengenai hal itu. Apakah perlu bukti yang lebih besar lagi bagi semua pihak untuk meningkatkan kesadaran berlingkungan! Seperti dianalogikan untuk membuktikan (maaf) kalau kotoran ayam itu rasanya tidak enak. Orang sudah percaya itu. Tidak perlu membuktikan dengan mencicipi rasanya. Atau perlu ada yg membuktikannya sehingga percaya terhadap hal itu!

Kembali lagi ke isu hangat tentang green, semua pasti sepakat jika kesadaran pencegahan memang lebih baik. Seperti halnya kesadaran untuk menerapkan instalasi pengolahan limbah (IPAL) dan analisa dampak lingkungan bagi industri. Khususnya bagi pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah secara spesifik. Pihak pemerintah mendukung, khususnya badan-badan layaknya badan pengendalian dampak lingkungan daerah (Bapedalda). Dan isu green itu juga salah satu buntutnya mencuatkan kembali istilah dalam industri khususnya manufacturing, yakni tentang green manufacturing. Istilah tersebut memang bukan sesuatu yang betul-betul baru. Karena sudah lama para pakar mengungkapkannya. Mungkin karena pembahasan mengenai global warming dan penyelamatan lingkungan sedang hangat diperbincangkan, sehingga istilah green manufacturing kini bisa dibilang menjadi sesuatu yang trend lagi.

Sudah banyak literatur, buku maupun tulisan di dunia maya yang membicarakan green manufacturing. Yang kurang lebih mengedepankan bahwa hasil akhir atau limbah industri bisa dikelola dengan labih bijaksana agar tidak mencemari lingkungan. Menggunakan bahan yang ramah lingkungan, efisien dalam penggunaan material, penciptaan lingkungan kerja yang ergonomis dan pemanfaatan kembali sampah industri. Itu juga sebetulnya hampir mirip dengan konsep besar yang ditawarkan pada istilah green SCM. 3 P yang ingin diperoleh adalah profit, people dan planet.

Salah satu buku yang bisa dijadikan bahan bacaan tentang hal itu berjudul “Strategies for The Green Economy, Opportunities & Challenges in The New World of Business” karangan Joel Makower, penerbit Mc-Graw Hill tahun 2009. Penulis mencoba memaparkan mengenai perusahaan yang ramah lingkungan dan isu keberlanjutan (sustainability). Walaupun memang seperti halnya dalam kajian lain, pendefinisian “green” bisa sangat subjektif dan bergantung pada konteksnya yang sedang dibahas.

Perusahaan atau industri yang ramah lingkungan tersebut juga akan memberikan dampak atau pengaruh yang lebih luas bagi negara. Ya, negara dimana industri itu berada dan mempunyai jaringan. Sebagai contoh mengenai emisi gas industri. Industri-industri akan mempengaruhi citra bagaimana sebuah negara memperhatikan lingkungan. Dan salah satu wacana yang berkaitan yakni mengenai batasan emisi industri di sebuah negara. Indonesia sebagai salah satu paru-paru dunia menjadi salah satu sorotan bagi dunia. Dan dituntut untuk mematuhi aturan dunia mengenai ambang batas emisi. Entah itu langkah yang patut diapresiasi seperti apa, tetapi sebagai gambaran bahwa negara maju seperti negara adidaya dari benua amerika atau negeri tirai bambu tak mau menuruti aturan itu. Karena secara logika sederhana, susah sekali untuk melakukan itu. Sebab untuk menggenjot roda pertumbuhan ekonomi tak mungkin itu dilakukan. Padahal langit berputar dengan kikisan lapisan ozon akibat emisi dari semua negara. Dan malangnya yang terimbas paling panas cuacanya adalah negara-negara di khatulistiwa.

***

Mengutip dari salah satu jargon di stasiun TV swasta yakni penyelamatan lingkungan dapat dilakukan dengan 3 R; Reduce, Reuse, Recycle. Dan mulai sekarang, rethink of your lifestyle for save our earth.

About these ads

Aksi

Information

17 responses

18 11 2009
the riza de kasela

Izin nyimak dulu gan
______________________________________________
Tidak menolak kunjungan Anda ke blog saia yang lain di http://rizaherbal.wordpress.com/

18 11 2009
asepsaiba

Nah, negara2 berkembang seperti Indonesia (yang memiliki nilai lebih: hamparan hutan yang luas), menjadi target negara2 penghasil emisis itu (aka negara maju). Negara2 berkembang akan mendapat kompensasi jika mampu mengurangi emisis, bahkan mengeliminirnya. Dan lewat CDM-lah, itu dilakukan. Memang dilema sih, di satu sisi kita seolah menyetujui ketidakpatuhan negara maju untuk mengurangi emisi, di sisi lain kita pun tidak menolak jika pemberdayaan hutan (dan proyek yang ramah lingkungan) itu dapat memberikan keuntungan secara ekonomi…

19 11 2009
wibisono

menyimak acara di metro kemarin,, seharusnya pemerintah mendorong meningkatnya industri kreatif di indonesia.. karena industri kreatif masih kecil bila dibandingkan dengan negara-negara lain..

dan jika berbicara mengenai lingkungan global ini harusnya menjadi milik bersama (global) karena kita menggunakan air, udara yang sama.. tanpa memandang batas negara..

19 11 2009
kawanlama95

Kreatif dan inovatif bisa ditumbuhkan dan bila di gerakan secara masif oleh semua pihak maka ini akan merekayasa dengan sendirinya. Sehingga negri ini akan memproduksi bahan2 yang telah tidak dipakai. dan memanfaatkan alam untuk memperbaiki ekosistem yang ada dan membuat antisipasi terjadinya kerusakan lingkungan akan bahaya limbah. dengan membuat usaha sehat lingkungan. Sebaiknya bahan2 yang mengandung zat berbahaya memang sebaiknya di hilangkan atau tidak diproduksi.

Selamat siang

19 11 2009
Farizy Kahfi

sip dah….
kebetulan aku juga cari perbedaan tu kata…. :-)

19 11 2009
Farizy Kahfi

keren om…..

19 11 2009
Alwi

Manstabbbbbb …. tulisan yang keren ….. semoga dengan tulisan ini para stakeholder akan meningkatkan kesadarn untuk berkreatifitas, dan melakukan inovasi-inovasi yang ramah lingkungan … . Bahkan dari segi agama ummat Islam sebenarnya punya potensi yang luar biasa untuk menyelamatkan bumi ini dari dampak global warming, karena nilai-nilai Al Qur’an sesungguhnya sangat-sangat mendukung menganjurkan agar kita sayang dengan lingkungan kita.

19 11 2009
Alwi

Permisi dulu Mas Arief mo lanjut ke tetangga sebelah ……. sukses yaaaaa

19 11 2009
olvy

setuju banget..let’s go green n be ceative ^^

19 11 2009
omiyan

Kemauan dari Pemerintah seharusnya benar benar 100% tapi rasanya sulit sebelum ada niat yang benar dari Pemimpin, dan ktia sebagai rakyatnya

19 11 2009
dc

be a creative and innovative for a better live; GO GREEN!!

19 11 2009
haciiiiiiii

jadi org yg kreatif&inovatif…aku bangeeeeeeeeeettttttttttt….

*Pd nyesel hehehehehe…

25 11 2009
mucfriend.com

bagus euy!

18 12 2009
Jalur Sepeda « nurrahman

[...] yang ramah lingkungan memang semakin meningkat. Mungkin karena kesadaran akan lingkungan yang hijau juga bertambah. Dan hal itulah yang bisa menjadi salah satu alasan mengapa di Jogja dibuat jalur [...]

21 01 2011
Go Green Yang Inovatif « nurrahman's blog

[...] kedualah yang sepatutnya digalakkan dengan serentak. Yakni melakukan perbaikan lingkungan alias go green yang dimulai dari diri sendiri, dimulai dari sekarang, dan dimulai dari hal kecil yang bisa [...]

7 04 2011
Environmental Bicycle Sign « SALAM GOWES

[...] yang ramah lingkungan memang semakin meningkat. Mungkin karena kesadaran akan lingkungan yang hijau juga bertambah. Dan hal itulah yang bisa menjadi salah satu alasan mengapa di Jogja dibuat jalur [...]

24 10 2011
Sepeda Kampus « nurrahman's blog

[...] tahun terakhir ini isu global warming masih mengemuka. Entah akan sampai tahun berapa. Salah satu imbasnya adalah masalah isu [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: