Ketika seseorang membaca, terkadang pikirannya bisa terbawa ke angan-angan atau imajinasi seperti apa yang tertulis di dalam buku. Serasa mengalaminya sendiri. Dan akan bertambah beruntung jika yang dibaca adalah buku cerita atau novel yang banyak berisi petuah untuk penyemangat hidup. Dan buku negeri lima menara adalah salah satu buku yang masuk kategori tersebut. Penulis adalah Ahmad Fuadi, anak Minang yang mencoba berbagi cerita hidupnya di masa sekolah di Pondok Modern Gontor Ponorogo (yang kemudian disebutkan di novel sebagai Pondok Madani-PM). Novel setebal lebih dari 400 halaman ini telah diterbitkan di tahun 2009 oleh Gramedia, dan telah berulang kali cetak ulang. Penulis adalah lulusan Hubungan Internasional Unpad, dan lalu melanjutkan studinya di Washington University.
Novel yang menceritakan bagaimana lika-liku kehidupan penulis (diceritakan sebagai seseorang bernama Alif Fikri) dimulai semenjak lulus smp. Pergolakan setangah hati dengan Amak-nya (Ibu) akhirnya berujung pada sebuah keputusan untuk merantau ke tanah jawa, dengan masuk ke pondok. Dan di situlah semuanya dimulai. Penulis mencoba menceritakan dengan alur bolak-balik. Beberapa pesan yang ingin diangkat adalah bahwa kehidupan di pondok pesantren yang mungkin selama ini adalah pendidikan untuk kelas ”dua”, untuk anak yang kurang pintar dan seterusnya adalah tidak benar. Kehidupan pondok yang diceritakan penulis bukanlah seperti itu. Namun adalah kehidupan pondok yang disiplin, diwajibkan mahir dua bahasa yakni Arab dan Inggris, persahabatan dengan anak-anak dari se-anteroIndonesia, serta hal-hal lain yang memang diceritakan dengan kocak dan lucu. Sehingga tidak membuat pembaca bosan.
Hal lain yang patut disimak di novel ini adalah penulis berhasil membuat suasana batin pembaca naik turun. Di sebuah bab, bisa menggambarkan semangat yang membara. Tetapi di lain bab bisa berbalik gundah gulana. Tapi itulah mungkin pesan atau kritik sosial bahwa kehidupan ini berulang seperti roda yang berputar. Seperti halnya peradaban manusia di dunia.
Penulis tak lupa menyelipkan pesan untuk menjunjung tinggi apa itu makna keikhlasan. Satu kata yang sebetulnya sangat dalam maknanya. Dicontohkan dengan banyak hal di novel ini. Mulai dari ikhlas menjalani hukuman kedisiplinan di PM, keikhlasan menuruti apa kata orang tua, sampai keikhlasan ustad atau guru di PM yang katanya tidak digaji dalam bentuk rupiah seperti halnya guru pada umumnya.
5 menara. Mengapa diberi judul 5 menara? Itu mungkin juga berkaitan dengan persahabatan penulis dengan 5 sahabatnya. Said, Raja, Dulmajid, Baso dan Atang. Sewaktu di PM, 6 anak tersebut suka sekali berteduh dan bercengkrama di bawah menara masjid. Dan berangan-angan tentang mimpi-mimpi mereka kelak. Sehingga mendapat julukan Sahibul Menara, atau pemilik menara. Itu mungkin juga bisa diartikan selaras dengan penulis yang menggemari menara. Beberapa menara itu antara lain menara masjid di kampungnya sewaktu kecil, menara Gadang, Monas dan menara di Trafalgar Square.
Memang jika ada yang berkesan seolah novel ini mengekor ketenaran Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata karena ada satu alur kisah yang mirip, yakni cerita anak kampung yang bisa sampai kuliah di luar negri. Itu adalah sah-sah saja. Tapi kali ini dengan suasana cerita yang jauh berbeda. Dan tentunya tidak kalah menariknya
Tapi ada satu hal yang mungkin agak membuat kecewa pembaca. Yakni mengenai bagaimana kehidupan Alif Fikri selanjutnya. Selepas lulus PM, bagaimana dia bisa menyelesaikan ujian persamaaan SMA-nya, dan bagaimana dia bisa menjutkan kuliah di luar negri. Itu semua nampaknya akan terjawab di novel berikutnya. Karena novel ini adalah novel pertama dari sebuah trilogi. Dan konon kabarnya akan segera naik ke layar lebar.
Beberapa ”mantra” yang selalu menjadi penyemangat Alif Fikri dan kawan-kawannya, patut disimak ;
- Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan.
- Ballighul anni walau aayah. Sampaikanlah sesuatu, walau hanya sepotong ayat.
- Kullukum ra’in wakullukum masulun an raiyatihi. Setiap orang adalah pemimpin, tidak peduli siapapun, paling tidak untuk diri sendiri.
- Saajtahidu fauqa mustawa al akhar. Berjuanglah dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukn orang lain.
- Man jaddwa wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.
Yang terakhir adalah kata ajaib yang menjadi alur utama cerita di novel ini.



Pertamaxxx…….
Memang kreatifitas anak negeri sudah mulai terasah dengan banyaknya novel-novel yang isinya berbobot, memberikan suguhan kepada masyarakat tentang semangat hidup. Khususnya terkait dengan modernisasi para santri dalam berpola pikir tidak hanya sekedar kekolotan dalam pola pikir mereka, namun santri yang memiliki wawasan luas dalam memandang suatu kondisi kehidupan dan masa depannya. mantabs….PERTAMAX…
mampir ke blog kami, link sudah kami pasang, link balik kami tunggu
Penulis tak lupa menyelipkan pesan untuk menjunjung tinggi apa itu makna keikhlasan. Satu kata yang sebetulnya sangat dalam maknanya. stuju banget dengan potongan kalimat ini
berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasih
Top!!!
jadi pengin baca, beli dimana ya…?
Bagus kayaknya nih buku….he..he..
Dari resensi ini saya jadi pengen baca juga.. hmmm
bagus kayaknya kang..
Saya juga sangat terkesan dengan cerita Novel Negeri Lima Menara ini, sangat inspiratif dan motivatif, terutama bagi para sahabat yang sedang menuntut ilmu…
Mantra2 nya juga keren dan mujarab, ya iyalah lahwong itu janji ALLAH di dalam AQ.
Mantra yang kedua mungkin maksudnya: “Ballighuu anni walau aayah” ya Rif…
Terima kasih reviewnya Rif, sangat bermanfaat.
makash atas koreksinya yah mbak rita. . segera dperbaiki
kebetulan saya sedang baca,. *jadi artikel ini lewat dulu, ah* komennya entar pas udah selesai baca aja
mmmm… review nya bikin aku pengen cepetan beli bukunya… tks ya
sambang konco, semoga baik baik selalu, keep posting nice info dah sukses selalu
Kunjungan… dah lama ga’ walking… sibuk nyiapain PKL… (PSG)… dan TA…
buku baru ya ????
terbitan tahun kemaren, tp masih seger
dah selesai bacanya kan bro? brarti skrg bisa dipinjem nih, hehehehe…:D
boleh, sehari sekitar 10 ribu ongkos sewa utk temen, wekekekeke
weww,, kayaknya keren nih.. hampir mirip kah dengan laskar pelangi atw sang pemimpi?
jd penasaran nih..
langsung beli di toko buku terdekat aajah bro
yang terakhir bukan “man jadda wa jadaa” ya??
^_^ kereenn!!
mm, yg ditulis itu seperti apa kata buku seeh, cuma ngutip ajah
Subhanallah…. semoga bermanfaat ya ^^
wah, hobby novel juga ya rif ? SUKSES SELALU
lumayan Om
kalo saya ikut dalam cerita itu, mungkin jadi 6 menara mas, menara kudus…
apiikk ..
Enak juga bacanya. Di pinjemin ke temen2 sekedar memberikan gambaran bahwa lulusan pondok bisa menjadi yang terbaik. Contohnya ya sang penulis itu.
sangat tertarik…. pengen koleksi bacaan lagi nih… thanks Infonya ^_^
wah …. memang buku ini sangat menarik …. tiap lembar bukunya selalu membuat penasaran …. dan ini cerita yang benar terjadi … subhanallah ya..
Bukunya mank keren abiz mas…
Jadi mengingatkanku waktu mengalami masa-masa itu…:(
[...] tentang kisah seorang santri seperti ini (dan dalam novel karangan penulis lainnya, atau novel negeri lima menara) patut diapresiasi. Karena dikotomi ilmu agama dan ilmu umum selama ini tak dipungkiri telah cukup [...]
Subhanallah………kisah dlm novel ini, sangat menarik & berkesan. Bahkan bisa menjadi motivasi. Seakan-akan kita pun ikut terlibat dlm peristiwa itu. wih…….keren………
[...] novel kedua kelanjutan dari novel Negeri 5 Menara karya lulusan pondok Gontor Ponorogo yang bernama A. Fuadi. Rilis 23 Januari 2011, pernebit [...]
[...] Mensyukuri apapun yang kita miliki sekarang, yang baik dan buruk, adalah cara yang tepat untuk jujur bahwasanya kita tidak akan selalu mendapatkan semua yang kita inginkan. Padahal yang kita butuhkan dan inginkan itu sumber kesuksesan kita yang kemudian akan membuat bahagia. Oleh karena itu, bersyukur adalah kunci kebahagiaan. Bersyukur bukan diam hanya berdoa saja. Tapi seperti apa yang tertuang dalam buku Ranah 3 Warna sebagai satu “mantra” yang dijadikan sebagai sebuah tema, kelanjutan dari Man Jadda Wa Jadda (novel pertama : Negeri 5 Menara). [...]