Henry, salah seorang mahasiswa D3 sebuah universitas negri ternama di Jogja. Baru saja pulang kuliah. Hari sudah sore. Sehingga perutnya kelaparan. Mampirlah ia di sebuah warung mahasiswa. Lebih tepatnya warung penjaja mie rebus, atau dikenal dengan PIR (pedagang indomie rebus). Yang tidak hanya menjual menu makanan berupa mie, tapi juga menu lainnya. Seperti gorengan, burjo dan nasi. Para pedagang tersebut umumnya adalah orang Kuningan. ”Pesan nasi satu a’. Nasi telur tanpa telur, dibungkus”, kata Henry. Sejenak ruangan hening. Karena si penjual sedang mencoba mencerna kata-kata yang jarang terdengar itu. ”O, nasi ajah gitu?”, masih bertanya dengan sedikit nada heran. ”Iya”, suara Henry terdengar lirih sambil nyengir. Spontan senyum kecil dan tawa cekikikan para pengunjung warung pun mulai sedikit bergema. Ada-ada saja!
***












yang berkomentar