Tempat Pembuangan Sampah di daerah Banyakan, Piyungan, Bantul DIY merupakan lokasi pembuangan akhir sampah untuk kawasan Jogja. Sebetulnya TPS tersebut milik pemkab Bantul. Tetapi pihak lain juga dipersilakan untuk memanfaatkannya. Bahkan pihak swasta yang akan membuang sampah di area tersebut dipersilakan. Berbagai macam jenis sampah. Untuk pihak swasta dikenai biaya per kendaraan, untuk jenis truck pick-up kecil senilai 5 ribu rupiah. Sedangkan untuk pihak pemerintah dikenai biaya per ton sampah seharga satu rupiah. Ada seorang penjaga yang bertugas di pos penjaga timbangan beban. Bekerja dalam shift (6 jam).
Sekitar tahun 1997 TPS tersebut berdiri. Dengan sistem kontrak, pada tahun 2012 akan habis masa kontraknya. Sehingga ada kemungkinan penambahan masa kontrak lahan, perluasan lahan karena dianggap kapasitas beberapa tahun mendatang akan sangat meningkat, hingga wacana pemindahan untuk mencari lokasi baru sebagai TPS. Sekilas memang sebetulnya kapasitas sampah masih cukup banyak. Kabarnya kapasitas terpakai saat ini baru hanya sekitar 20 persen.
Di TPS tersebut, warga sekitar sudah terbiasa menggembalakan hewan ternaknya. Yakni sapi. Terutama persis di tumpukan-tumpukan sampah yang masih baru. Jumlah sapi puluhan, bahkan bisa ratusan. Ada warga yang mempunyai 3 sapi, hingga 30 sapi. Sapi-sapi tersebut sekilas terlihat gemuk dan sehat, tapi kulitnya nampak kotor. Pihak pengelola TPS memang sengaja membiarkan warga sekitar menggembala ternaknya di kawasan itu. Dengan kesepakatan bahwa pihak pengelola tidak bertanggung jawab jikalau terjadi sesuatu hal dengan ternaknya. Misalnya sakit atau tertabrak traktor pembawa sampah. Dan hal itu katanya sudah lumrah terjadi, misalnya ketika traktor sampah membuang sampah menabrak sapi yang melintas hingga mati. Beberapa sapi juga ada yang ditinggal, tidak dibawa pulang ke kandang ketika hujan atau malam.
Kenyataan di atas memang sekilas nampak ironi. Tapi masalah ironi lain juga seringkali menjadi masalah klise bagi kawasan tempat pembuangan sampah. Misalnya muncul gubug-gubug kecil milik warga yang masih ingin mengais sisa sampah plastik untuk dijual lagi. Dan seperti kasus ternak di atas, memang sekilas bermanfaat bagi kedua belah pihak. Maksudnya, si pemilik ternak bisa memperolah makanan ternak gratis, dengan demikian sampah akan makin berkurang. Masalah klise lain antara lain adalah pengaruh sampah-sampah tersebut bagi struktur tanah maupun berbagai macam polusi.
Jadi, sebetulnya berbagai hal klise yang bisa dianggap masalah di atas mempunyai akar permasalahan dimana pengelolaan sampah terpadu untuk daur ulang belum secara signifikan diperhatikan dan digalakkan. Dengan alasan biaya mahal, rumit, susah, sampai anggapan bahwa budaya membuang sampah sembarangan masih tinggi. Dan itulah sebuah kenyataan yang masih menjadi fenomena wajar di tanah air. Masihkah mau membuang sampah sembarangan?

wah ckckckc..
sampah sebener bisa bermanfaat kalau kita bisa mendaur ulangnya..
sampah sebenernya bukan sampah yang di buang begitu saja seharusnya..
sayangnya di sana hampir tak ada fasilitas daur ulang yg efisien
kalo membuang sampah sembarangan di TPS termasuk membuang sampah sembarangan juga mas…. halah OOT….
saya malah belum pernah berkunjung ke TPA (tempat pembuangan akhir) itu..
nasib penduduk sekitar hampir sama dengan lokasi TPA yang lain..
di sana banyak peluang penelitian ttg peternakan bro
wahhh banyak banget yaw
sampahnya
lama2 bumi isa tertimbun sampah nuy klo seprti itu terus
sy kira perlu ditelisik lebih lanjut deh…
di Solo, ada TPS serupa di kawasan Mojosngo.
namun, meskipun mereka mengais sampah, kehidupan mereka boleh dibilang lebih dari cukup lho…
serius..
mungkin ini krn manajemen keuangan juga sih…
di TPS Solo itu, profesi mereka memang pemulung,
namun mereka juga menjadi penggembala (meskipun ga pernah secara riil menggembalkan sapi. Mereka kerjasa bagi hsil dg pemilik sapi. Hingga setelah beberapa tahun, pemulung itu memiliki sapi sendiri sebanyak puluhan (total ada ratusan sapi di sana).
dari sapi2 dan pendapatan mulung itulah, mereka bs hidup, beli rumah di perumahan cukup luas, sudah berlntai keramik, sebagian punya mobil, tpi mayoritas minimalnya punya motor.
*sy yain di TPS itu jg ada yg spt itu atau mungkin br tahap belajar menuju seperti TPS Solo
saran yg sangat komplit..makasih
salam kawan..
sampah harus di lupusakan..takut nayamuknya gigit nanti..
ada tong sampah organik dad non-organik, sudah dipilah sampahnya. ada truk pemisah sampah. tapi ujung2nya juga dibuang di satu tempat… itu yg bikin maless..
anda benar
semoga bisa dimanfaatkan lebih , pemberdayaan gitu
[...] sistem daur ulang yang baik. Karena kenyataannya memang masih sedikit TPA seperti itu, contohnya di TPS Banyakan Bantul Jogja yang masih belum menerapkan sistem daur ulang [...]
[...] Jogja, sepertinya belum ada yang mengelolanya secara baik. Di tempat pembuangan akhir sampah di Banyakan Bantul Jogja pun; sampah masih menggunung disatukan tanpa pemisahan. Padahal kata UU no 18 tahun 2008, produsen [...]
[...] jarangnya tindak lanjut dari pemisahan sampah itu. Pada akhirnya, lebih banyak sampah disatukan di tempat pembuangan akhir. Instansi atau sekolah yang kemudian mengolah dan mendaur ulang pemisahan sampah itu juga jika [...]