Di sebuah desa yang merupakan penghasil buah durian, nampak 2 orang yang sedang hendak memborong durian. Seorang adalah salah satu pengajar di universitas di kota sebelah. Sedangkan satunya lagi adalah salah seorang anggota dewan atau wakil rakyat di wilayah yang bersangkutan. Mampirlah mereka di sebuah kedai penjual durian di pinggir jalan yang dimiliki oleh seorang ibu yang sudah separuh baya. Terjadilah proses tawar menawar yang cukup unik. Karena saking antusiasnnya pembeli, maka si penjual sebenarnya menawarkan harga gratis jikalau pembeli makan di tempat semua durian sampai habis. Tapi sayang sekali, karena saking banyaknya durian maka hal itu tak mungkin terjadi. “Harga pas nya berapa bu? Saya beli saja deh semuanya”, tanya pembeli yang merupakan seorang pengajar. “Lha bapak punya uangnya berapa?”, si penjual balik bertanya. Sebenarnya hal ini sudah membuat si pembeli yang merupakan seorang pengajar tadi heran. Tapi tidak bagi si pembeli yang merupakan anggota dewan, justru merupakan sebuah keuntungan gumamnya. Akhirnya si penjual berkata, “Ya sudah pak, kalau Bapak punyanya seratus ribu atau lima puluh ribu ya tidak apa-apa. Silakan dibawa semua durian ini”. “Wah, harus semuanya ya bu. Mana muat di mobil bu!”, si pembeli yang merupakan staf pengajar tadi berkilah. ”Ya sudah bu, begini saja. Saya bayar seratus ribu. Tapi saya tidak bawa semuanya. Hanya setengahnya saja karena tidak muat di mobil. Nah sisanya anggap saja pemberian saya buat Ibu. Gimana?”. Lalu dijawablah oleh si penjual, “Nggih pun Pak. Tidak apa-apa, yang penting sama-sama ikhlas”.
Si pembeli yang merupakan anggota dewan tadi hanya senyum-senyum saja. Tapi setelah itu, si pembeli yang merupakan pengajar tadi bertanya. ”Wah gimana menurut Bapak tadi tentang di penjual durian?”. Dijawablah, “Wah beruntung sekali kita hari ini Pak. Dapat durian banyak harganya murah lagi, he he he”. Tersenyumlah si pembeli yang merupakan pengajar tadi. Lalu berkata, “Pak, kalau bolehlah saya bilang sebenarnya ada makna lain dari proses tawar-menawar tadi. Sebetulnya si penjual tadi tidak mempunyai daya saing secara ekonomi. Sehingga tidak bisa menentukan harga. Nah, mumpung sampean masih duduk di anggota dewan, mungkin bisa lebih memperhatikan. Barangkali memang penduduk di daerah ini masih cukup kekurangan alias miskin. Memang sih Pak, harga jual itu ditentukan oleh biaya produksi plus presentase keuntungan. Dimana saja itu sama. Tapi seberapa jauh presentase keuntungan itu sangat banyak dipengaruhi berbagai faktor. Biasanya ditentukan oleh harga pasar atau harga barang sejenis yang dijual oleh pesaing. Nah kalau menentukan harga supaya tidak berbeda jauh dengan harga pesaing saja tidak berani padahal kualitas tak jauh berbeda, berarti si penjual tadi tidak percaya diri alias kurang mampu bersaing secara ekonomi. Pastinya ada hal-hal mendasar yang justru lebih berpengaruh”.



Pengen duren, hoho
sorry,actually ane kagak doyan duren
huwaaa…dureennn, mauu..mau..mauu banget!! =)
maaf ya,kita bukan penjual durian (haha)
Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.TahitianNoniAsia.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx
Duren emang okeh…kembangnya aja dimasak aku doyan, apalagi yg udah jadi buah..mangtab…
(doh) malah pada cerita durian semua….
yang jual tadi itu mungkin mempertimbangkan asas kecukupan dari pada mementingkan hukum ekonomi. yang penting cukup untuk mencukupi kebutuhannya. padahal karo dipandang si penjual durian di sekitarnya tanpa pesaing. kenapa gak jual semahal mahalnya..
nah itulah mengapa pak dosen tadi bilang klo si penjual seperti tidak “pede”
durian ngabul enak tu….
yang bagong mantap bro…
sorry bro, ga doyan durian bro