Memang dilema. Maju kena, mundur kena. Dilegalkan cukup susah prosesnya dan kemudian bisa menjadi aneh secara umum bagi mata dunia. Dan juga mengapa ahmadiyah tidak segera dibubarkan? Karena kalau opsi itu yang dipilih, maka Bapak Presiden yang kita hormati dan pemerintah akan berhadapan dengan pengadilan internasional, para aktivis HAM dunia, dan semacamnya; lalu menjadi segan, tidak berani, atau pakewuh?. Karena kasus ini adalah kasus internasional. Bukan lokal. Seperti (maaf bukan bermaksud SARA) kasus lokal macam Lia Eden atau Nabi palsu Ahmad Musadek yang dijerat dengan penodaaan agama, yang segera cukup cepat disidangkan. Padahal kan sudah jelas kasus penodaan agama juga. Dialog berupa wacana yang sering ditayangkan di televisi perihal masalah itu seperti dejavu bertahun-tahun lalu. Karena sudah bertahun-tahun, atau bahkan sudah berpuluh-puluh tahun lalu terus terulang. Lagi, dan lagi. Sekarang, sudah tidak bisa menyelesaikan persoalan itu dengan tujuan semua senang (seperti gaya pencitraan Bapak Presiden kita kini). Yang mayoritas senang, maka minoritas akan tidak senang. Atau pilih minoritas senang, tapi mayoritas tidak senang. Atau opsi gila lainnya, yakni ditunda penyelesaian tegasnya dengan harapan masyarakat lupa dengan sendirinya, atau untuk “mainan” pihak ketiga sebagai isu pengalihan atau semacamnya.



salam sobat..
lama tidak ke sini
harap sobat sihat selalu.Amin
makin bingung he he
ayo rame2 pindah negara
hehehhe
pengadilan yng paling adil hanya di akhirat nanti
Kasus penistaan agama ini memang ga pernah beres2 Um ya…
Tapi ada baiknya kalau pengadilan international bisa dijalankan karena pengadilan di kita terlalu bulat belit hehehe…
klo itu dilakukan, bisa habis, jadi bulan2an digdaya kapitalis dunia..CMIIW
Kalau memang sesat, lebih baik dibubarkan saja. Kalau tidak mau dikatakan sesat, sebaiknya bikin brand new agama. Haha
mau pengadilan internasional kek..tetep aja manusia sebagai jaksa dan hakimnya..tp yg paling pas adalah penghakiman terakhir…yaitu akhirat sob..
jangan sampai pengadilan internasional campur tanganlah,,
nasional aja udah puyeng ngedengar beritanya,, apalagi tambah lagi
kebenaran hanya milik Dia,, jadi manusia jangan merasa yang paling benar,,
kalo standar baku A adalah 1 dan 25, B punya standar 1 dan 25 +1,, ya B dengan berbesar hati jangan keukeuh tetap A lah, mengalah A+ gitu.,, dari standarnya aja udah beda, tapi tetap bertahan tetap A,,, yaa ga bakal selesai-selesai,, diam, ribut lagi kalo ada yang menggosok
Wah, ngrjain OrAng nich. . . .,
Gua jdi Bingung…!!
sebetulnya sama sekali ga berniat ngerjain orang; barangkali karna laris di mesin pencari istilah itu, banyak tafsiran dan pemaknaan saja..