Seseorang di sebuah kampung yang cukup sepi tengah kehilangann jam tangannya. Terjatuh saat naik sepeda di sepanjang jalan dekat persawahaan ketika malam hari, saat ia baru saja pulang dari menengok saudaranya di kampung sebelah. Sialnya, jam tangan itu terjatuh di sekitar rerumputan dan semak-semak. Hanya ada satu-dua rumah pula di sekitarjalan itu. Tiga orang yang tengah meronda kemudian membantunya. Seorang peronda mencoba menyorot semak-semak itu dengan lampu senter. Tapi setelah beberapa menit, bahkan jam tangan itu tak kunjung ditemukan. Malahan suasana menjadi cukup gaduh karena kemudian terjadi obrolan ringan sana sini dan suara kaki dari orang-orang yang mencari jam tangan itu, serta beberapa lalu lalang orang lewat naik sepeda. Jam tangan itu cukup berharga karena merupakan pemberiaan seseorang. Sehingga bagaimanapun diusahakan ketemu. Akhirnya si pemilik jam tangan itu lama-lama kecapekan dan ngantuk. Lega karena banyak dibantu beberapa orang untuk mencari jam tangan yang hilang di semak-semak dan rerumputan di pinggir sawah saat malam hari ternyata tak cukup membuahkan hasil.
Ia lalu menguap, kelelahan ngantuk. Teringat enaknya tidur di kasur rumahnya sendiri. Dan teringat pula ketika hal itu terjadi, suasana sangat hening dan sepi. Tidak ada aktivitas apapun, sehingga suasana detak jam dinding pun terdengar. Berbeda sekali dengan kondisi siang hari dimana sudah banyak aktivitas dan tak mungkinlah suara detak jam terdengar. Nah lalu tercetuslah ide. Ia dan beberapa orang yang mencari jam tangan yang hilang itu lalu memutuskan untuk berhenti sejenak. Duduk diam sebentar agar suasana benar-benar hening dan sepi. Tidak ada obrolan. Lambat laun, sayup-sayup suara detak jam tangan itu terdengar lirih. Lalu dibantu sorot cahaya senter, dicarilah lebih detail tanpa gerakan badan yang menimbulkan suara berisik. Akhirnya ketemu juga.
Barangkali ketika seseorang sedang mencapai suatu titik jenuh tertentu, ia perlu merenung dan berada di tempat yang sepi jauh dari keramaian orang-orang dan padatnya aktivitas untuk bisa berdialog dengan dirinya sendiri. Mengkoreksi kesalahan diri sendiri, merenung. Sepertiyang dilakukan orang ketika sepertiga malam akhir di malam hari, lalu memohon kepadaNya agar dibukakan jalan yang lebih mudah. Atau, terkadang membutuhkan untuk keluar dan pergi dari rutinitas sementara yang cukup padat. Lalu rekreasi sejenak ke tempat yang lebih sepi. Seperti di pinggir pantai yang sunyi atau kawasan pegunungan. Supaya lebih bisa menghirup udara segar, dan lalu pikiran lebih jernih kembali. Menemukan apa sebenarnya masalah hidup yang tengah ia hadapi, lalu perlahan-lahan ditemukanlah akar masalah itu dan opsi solusi agar tidak terlalu menjadi masalah kembali.



Sepertinya saya juga sudah mengalami titik jenuh, huft,,
bener juga ya mas…
kesendirian yang positif..
MUHASABAH…
Saya sudah merasakannya sekarang mas. Dan benar, rasanya jauh lebih nyaman.
Tapi gak boleh kelamaan juga menyendirinya…
nice, klo kelamaan tambah stress, hehehe
dengan banyak mendekatkan diri insya alloh kita bisa melewati titik jenuh dalam hidup
Mendekatkan diri dan bertafakur kepadaNya juga salah satu cara untuk meninggalkan rutinitas yang ada… Memang nikmat rasanya mas….
bagus masukannya…
saya juga sedang jenuh nih…
Wah tulisan yg inspiratif ….
Bisa untuk belajar, untuk sunyi bersama Allah dalam keramaian dunia
secara fisik kita tidak mengasingkan diri dari keramaian, secara fisik kita selalu hadir dalam aktivitas dunia kita dan akal pikiran kita …tetap bekerja dalam aktivitas kesehariannya sebagaimana biasa, namun hati kita harus tetap sunyi dari itu semua.
Hati kita harus tetap sunyi, yang ada hanya Allah. Jadi uzlah kita dalam keramaian dunia adalah dengan mengosongkan hati dari keramaian dunia itu sendiri sehingga menjadi sunyi dan hanya Allah yang hadir di dalamnya, sehingga sunyinya adalah bersama Allah.
Semestinya, seharusnya dan idealnya uzlah yang seperti itu berjalan terus
menerus tanpa jeda waktu sebagaimana para Raosul dan Ambiya yang telah mencapai kekekalan dalam penyaksian mereka kepada Allah.
Kalau kita2 ini…???? kyaknya masih jauh banget dari
yang seharusnya atau yang semestinya atau yang ideal itu. Kita kadang masih terikat
dengan hukum sebab akibat, pamrih, kepentingan dll sehingga seringkali kita masih berpikir tentang tanggung jawab, pekerjaan atau yang lainnya, yang pada intinya diri kita selalu hadir dalam keramaian dunia namun keramaian itu sangat-sangat sering masuk juga ke dalam hati kita. Karena itu mudah2an kita masih bisa untuk terus berjuang, masih terus belajar dan berlatih uzlah walau hanyaa sesaat semenit sejam 2 jam dst …
wah makasih banyak pak alwi wejangannya, ga nyangka ampe panjang banget
, salam…
saya baru aja ikut seminar emak2, tentang wukuf aka berhenti sejenak untuk berdamai dengan diri sendiri aka bermuhasabah..
tulisannya bagus, menginspirasi
saya juga pernah kehilangan jam tangan di rumah.