Dicari dan sangat dibutuhkan, pengelola sampah elektronik! Bingung juga, mau dibuang kemana ini barang-barang bekas elektronik. Semacam telepon genggam, komputer, kipas angin, printer, dan monitor bekas. Katakanlah misalnya di kota besar macam Jogja, sepertinya belum ada yang mengelolanya secara baik. Di tempat pembuangan akhir sampah di Banyakan Bantul Jogja pun; sampah masih menggunung disatukan tanpa pemisahan. Padahal kata UU no 18 tahun 2008 (tentang pengelolaan sampah), produsen dan pemerintah seharusnya punya andil. Artinya seharusnya produsen ikut aktif dalam pengelolaan sampah elektronik. Mungkin seperti menampung barang-barang bekas lalu didaur ulang dengan baik. Dilakukan pemisahan logam berat macam Pb, Hg, Cd, Cr, PBB, dan PBDE; karena itu bisa memicu kanker dan semacamnya.
Sudah terlalu banyak wacana dan penelitian dampak sampah elektronik. Tentang bakal meningkatnya jumlah sampah itu, dampak pencemaran lingkungan dan penurunan IQ dan seterusnya. Termasuk tulisan ini juga hanya bisa menggugah perhatian. Karena yang lebih dibutuhkan adalah usaha riil untuk mengatasi sampah elektronik itu. Jika dibilang pasokannya atau supply-nya besar, memang iya. Bahkan beberapa negara sudah terkenal sebagai penampung sampah elektronik macam Ghana dan India. Teknologi informasi meningkat secara umum di semua belahan dunia. Dan artinya sebetulnya pasokan yang besar itu juga bisa dijadikan ladang usaha daur ulang; tapi dengan konsekuensi teknologi tinggi dan tentu biaya tinggi.
Lalu bagaimana kita bisa sebagai individu dan orang rumahan berkontribusi? Ya paling tidak, membeli barang elektronik sesuai kebutuhan dan bisa menjaga agar cukup awet sehingga umurnya cukup panjang. Tidak boros, sesuai kebutuhan bukan keinginan. Syukur-syukur bisa mendaur ulang komponen-komponennya menjadi semacam hasil kerajinan tangan dan seterusnya. Bagaimana dengan membakarnya? Ah sangat tidak disarankan sebetulnya. Karena bisa menghasilkan gas rumah kaca, dan hasil yang terbakar itu akan juga tetap sulit terdekomposisi sempurna di tanah. Jadi, kita tetap menunggu ada pihak yang mau menjadi pengelola sampah elektronik (menampung sampah elektronik dan mendaur ulang sehingga hasil akhir sampah tidak menimbulkan banyak polusi) dan mendorong para peneliti agar menghasilkan metode daur ulang sampah elektronik yang murah dan efektif, serta mendorong pihak produsen elektronik menggunakan bahan ramah lingkungan.



nitip info gan…
tq
Keren bro!!! salam ya!!!!
Kenapa tidak di tampung aja mas untuk kemudian di jual lagi, bisnis seperti BarBeKu,
justru tulisan di atas bertanya, siapa yg mau menampung dan mengolahnya? ada?
bagus artikelnya tentang sampah
mungkin ada yang bisa, pengusaha rongsokan mungkin ya
nha ini yg kurang barangkali; pengusaha rongsokan bisa lbh “hijau”…maybe…
saya ada lah pemain rongsokan munkin saya mampu untuk mendaur ulang sampah elektronik
hmmm, jd dimana alamatnya?
, daur ulang apa saja yg bs dilakukan…
daur ulang yg kamilakukan adala terhadap elektronik hanya sebagian saja tida semua kami mampu contoh sperti kesing nya yg terbuat dari plastik,logambesi,dan logamtembaga itu bisa di lebur,sedangkan untuk komponen lain nya akan kami pilah pilah masi bisa di gunakan kembali atau tida
nha mungkin bisa di-share lokasinya dimari, barangkali banyak yg tertarik dan silakan promosi gratis disini
numpang lewat
[...] semua memahami jika beberapa jenis plastik, botol, dan beberapa bahan anorganik lainnya seperti sampah elektronik itu butuh bertahun-tahun untuk terurai sempurna dengan tanah. Sehingga menghasilkan pencemaran [...]
mau tanya dong, uda perna ada kasus kaya misalnya org di sekitar sana yang kena dampak ga yah dari penumpukkan sampah e-waste disana? trus apa ada yang pernah melakukan phytoremediation (pemanfaatan tanaman ataupun tumbuhan untuk meremediasi tanah ataupun air tanah yang tercemar)?
wah pertanyaan sulit, maaf kurang punya pengetahuan masalah itu
uhmm, hhehe.. tp, kamu punya data tentang TPA itu ga? misalnya foto” di daerah sana atau apa mungkin. hhehe
hanya pernah ke TPA banyakan, nanya2 singkat nganterin temen yang mau penelitian disana : http://bit.ly/bBkqME
waktu itu temennya penelitian apa yah, disana? boleh ga kita minta imel nya? soalnya juga kita sedang ingin mengangkat kasus pengendapan logam berat yang mungkin terjadi di TPA Banyakan sana akibat banyaknya sampah e-waste.
ohiya, satu lagi, waktu kesana, kamu tahu ga, sampah elektronik jenis apa yang paling banyak disana?
wah maaf saya tidak punya informasi sampai sejauh itu, mungkin bisa langsung ke lokasi untuk observasi pada jam kerja