Rintisan Sekolah untuk Rakyat

9 11 2009

rintisanBuku-buku pelajaran itu tak mampu terbeli oleh Ujang. Anak kelas lima sekolah dasar, yang setiap usai sekolah harus mengais rejeki untuk membiayai uang spp sekolah sendiri. Bekerja di industri sepatu kulit, di sebuah wilayah di jawa bagian barat. Karena orang tua hanya mampu membiaya makan setiap hari. Maka untuk urusan sekolah dia harus bisa memperoleh biaya sendiri.

Kisah serupa dialami Budi, anak kolong di ibukota. Yang sehari-hari seusai bersekolah di bangku smp kelas satu, harus memainkan gitar kecilnya di perempatan jalan. Mengamen untuk mendapat biaya membeli buku dan uang spp di sekolahnya.

Baca Lagi Ah!





ISBN dan PNRI

17 10 2009

Di halaman sampul sebuah buku, kini sudah jamak tercantum bar code ISBN. ISBN adalah singkatan dari International Standard Book Number (Nomor Buku Standar Internasional) yang terdiri dari deretan angka 10 digit, sebagai pemberi identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit. Kata beberapa sumber, awalnya pemberian kode semacam itu adalah inisiatif Jerman. Dan kini berbagai negara telah mengikutinya. Sebenarnya informasi mengenai ISBN banyak sekali bisa ditemukan di dunia maya. Lewat search engine saja sudah banyak sekali informasi yang bisa diperoleh. Atau bisa segera dicek di sini atau di sini. Baca Lagi Ah





Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pembangunan Bangsa

4 08 2009

Sebenarnya ini buku lama. Terbitan tahun 1995 oleh CIDES (Center for Information and Development Studies) dengan pengarang B. J. Habibie. Sudah bisa ditebak bahwa dari judul dan pengarangnya, buku ini akan membahas mengenai teknologi dan seputarnya. Tetapi bukan pada takaran teknis, melainkan lebih banyak membahasa strategi. Terlepas dari semua permasalahan politik dan kenegaraan yang membelit beliau, serta umur terbitan buku ini yang sudah lebih dari 10 tahun lalu, sebenarnya masih banyak pemikiran-pemikiran beliau yang layak disimak. Dan sampai sekarang masih layak disimak dan dijadikan kajian bersama untuk pembangunan bangsa (sesuai judul bukunya). Buku ini ditulis beliau pada waktu menjabat menristek dan beberapa jabatan penting kenegaraan lain. Dan secara tersirat bisa terlihat bahwa masih banyak ide-ide pemikiran beliau yang mungkin belum terlaksana sesuai keinginan beliau pada waktu itu hingga sekarang. Ide mengenai masalah teknologi, ekonomi dan pendidikan bangsa.

iptek habiebieYang disoroti pada bagian pertama adalah mengenai pembangunan bangsa. Menurut beliau, pembangunan harus dilakukan dengan orientasi nilai tambah dan menggunakan basis teknologi serta sumber daya manusia. Ini ditekankan di awal buku mungkin karena beliau mempunyai pemikiran bahwa perlu ditekankan terhadap penghargaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Bahwa peningkatan kekayaan dan kemakmuran berakar pada peningkatan produktivitas, dan bahwa kunci bagi produktivitas adalah ilmu pengetahuan dan rekayasa. Berikut adalah beberapa kutipan :

Bila kita bericara tentang teknologi canggih, bukan teknologi canggih yang kita kejar. Salah kalau dikira bahwa saya seorang insinyur kebetulan ahli konstruksi pesawat terbang hanya cinta teknologi canggih. Karena itu, apakah lantas hanya teknologi canggih yang ingin dikembangkan, dan hanya itu yang didasari untuk pembangunan bangsa? Itu tidak benar, yang saya sasari adalah proses nilai tambah, proses nilai tambah dari materi yang harganya rendah, dengan segala ketrampilan dengan usaha dari manusia, bisa dijadikan produk yang nilainya lebih tinggi, itu proses nilai tambah.

Atau dengan perkataan lain memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang tepat dan berguna tanpa memilih apakah itu canggih atau tidak canggih yang lebih penting bahwa teknologi yang tepat dan berguna itu dapat dimanfaatkan untuk proses nilai tambah, dapat mengubah materi itu dengan cepat untuk mendapatkan nilai yang setinggi-tingginya dengan mengontrol kualitas, biaya, dan jadwal secara terus-menerus agar produksi lancar jalannya.

Itulah pentingnya nilai tambah. Begini diilustrasikan sederhana oleh beliau mengenai bagaimana memahami arti sebuah nilai tambah (added value). Jika sebuah produksi celana jeans dilakukan, maka teknologi dan nilai yang dihasilkan cukup rendah jika dinilai dalam kerangka sebuah bangsa. Dan persaingan di pasar pun sudah banyak. Sehingga mudah tergusur. Berbeda dengan produksi pesawat terbagng atau satelit. Tidak banyak yang membuat dan teknologinya canggih. Nilai tambah yang dihasilkan tentu lebih baik. Mengenai contoh teknologi, beliau mencontohkan IPTN pada waktu itu.

Sebenarnya bukan hanya iptek saja, tetapi ada unsur lain yakni sumber daya manusia (SDM) yang perlu dibangun. Beliau sempat mengutarakan dalam buku bahwa membangun teknologi canggih dan SDM yang baik bukanlah upaa yang tidak mungkin di Indonesia, terbukti dengan IPTN waktu itu. Masyarakat membutuhkan dua hal, yakni sekolah sebagai proses penciptaan nilai tambah untuk SDM, dan industri atau perusahaan sebagai tempat melaksanakan proses tambah dan biaya tambah. Penekakan beliau bahwa jika seseorang telah sekolah tinggi dan bekerja di sebuah instansi, maka dia tidak boleh hanya mengendalkan gelarnya lantas tidak berbuat banyak untuk kepentingan bangsa. Tetapi harus memberikan andil terhadap nilai tambah kemakmuran bangsa.

Ada sebuah cerita yang dipaparkan. Berpijak pada kebijakan negara maju seperti Jepang. Pada awalnya mereka benar-benar mandiri dan sampai sekarag. Segala kebutuhan domestik di-supply semua oleh industri domestik. Tidak diperkenankan produk-produk domestik digusur oleh produk dari luar. Ketika produk-produk domestik telah mencapai kapasitas produksi yang bisa diekspor, maka dilakukan ekspansi ke luar. Sebagai contoh ketika produk Jepang baik Toyota atau Honda atau Nissan dibuat untuk pasaran dalam negri sendiri, pasar Jepang ditutup, semua tidak boleh masuk. Lalau kenapa kenapa pasar kita masih mau direbut orang lain? Dengan dalih lapangan kerja untuk anak cucku kelak, mengepa pasar itu masih diserahkan dengan mudahnya oleh asing?

Falsafah kerja ilmuwan. Di negara ini sudah menjadi rahasia umum bahwa profesi peneliti masih bisa dikatakan jarang. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa apresiasi terhadap hasil penelitian kurang, terbukti dengan banyak yang mengatakan sebagian peneliti Indonesia memliih kerja di luar karena masalah gaji. Penulis juga menyinggung masalah ilmuwan ini. Beliau mengetakan sesungguhnya peneliti atau ilmuwan memepunyai posisi penting dalam sosial budaya kemasyarakatan, walaupun kadang tidak secara langsung. Perannya adalah sebagai agent of social change. Lihat saja ketika ada penemuan teknologi baru misalnya, maka budaya konsumsi masyarakat terhadap teknologi tersebut akan mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat secara lambat laun.

Peranan pendidikan dipandang penulis sangat besar. Universitas adalah tempat yang paling cocok untuk mendidik sarjana baru agar mudah diserap pasar. Sampai saat ini pun, masalah penyerapan tenaga kerja di lapangan masih sering dipertanyakan. Mungkin seringnya negara ini mungkin terlalu berpijak pada negara barat. Dengan dalih mengikuti standar internasional atau apapun itu, kepentingan internal pendidikan yang termarjinalkan kadang terabaikan. Semntara banyak anak putus sekolah da menjadi gelandangan, sekolah yang katanya ingin bertarafi internaisonal atau semacamnya mulai dirintis. Ini pembangunan tidak merata atau sekadar gengsi?

Terakhir, yang ingin dikutip dari buku ini adalah pernyataan beliau mengenai pembangunan teknologi tepat guna dan pembangunan teknologi pedesaan.

Dalam keadaan mendesaknya masalah-masalah kehidupan konkrit yang dihadapi bagian dunia yang masih terbelakang, tidak banyak gunanya menggolong-golongkan teknologi ke dalam ”teknologi sederhana” dan ”teknologi tinggi”. Jauh lebih berguna mempertanyakan teknologi manakah yang dapat memecahkan suatu masalah yang konkrit, tanpa memperdulikan apakah teknologi yang tepat itu adalah teknologi primitif, menengah atau canggih, dan tanpa mempersoalkan dimana teknologi tersebut pertama kali dikembangkan.





Pemasaran Riset

27 07 2009

Riset atau penelitian merupakan sebuah hasil kajian ilmiah yang memang di tanah air lebih banyak terpusat di tingkat Perguruan Tinggi atau Universitas. Walaupun sebenarnya riset dapat dilakukan di mana saja dan oleh siapapun. Akan tetapi, wacana yang berkembang di masyarakat lebih kentara bahwa mahasiswa dan Perguruan Tinggi adalah pusat penelitian ilmu pengetahuan. Sebenarnya jika dilihat dari kemanfaatanya, maka penelitian bisa dikategorikan dalam 2 jenis. Bersifat hulu (umunya bersifat pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, misalnya pada jurusan matematika untuk merumuskan model matematis) dan hilir (bersifat aplikatif yang kemanfatannya bisa diterapkan untuk kebutuhan industri atau semacamnya, misalnya pembuatan alat bantu yang bersifat ergonomis pada jurusan teknik industri). Salah satu hal yang sering salah kaprah adalah pemahaman batasan riset dan hasilnya. Sebuah skripsi atau tugas akhir dan semacamnya adalah penelitian atau riset. Tetapi yang sering berkembang bahwa penelitian atau riset harus selalu bersifat fisik atau teknologi aplikatif (hilir). Padahal tidak selau seperti itu. Selain itu, kata riset atau penelitian masih sering diasumsikan sesuatu yang rumit dan ”wah”. Padahal bukan kerumitannya yang dipentingkan, tetapi kemanfaatannya dalam penyelesaian masalah. Karena penelitian berawal dari sebuah masalah. Bisa saja menggunakan cara atau metode sederhana tetapi kemanfaatannya berlipat ganda.

Kata teknologi juga sering berkembang pada artian fisik atau alat dan produk. Padahal teknologi juga bisa diartikan sebuah metode atau cara tertulis. Tidak selamanya bersifat fisik. Sebuah bangsa yang besar sudah sepatutnya menguasai teknologi, khususnya hasil riset yang bersifat hilir. Tetapi bukan berarti bahwa penelitian yang bersifat hulu tidak bermanfaat sama sekali, karena hal tersebut akan saling melengkapi.

Di negara maju, pusat riset atau penelitian dikembangkan oleh laboratorium baik yang dimiliki oleh pemerintah (universitas atau departemen / dinas pemerintahan dan semacamnya) maupun swasta. Di negara kita tercinta, iklim penelitian di lab rupanya kurang terbangun dengan baik. Yang lebih berkembang di laboratorium universitas mungkin bisa dikatakan baru sebatas sebagai pusat pelatihan, secara umum belum banyak menghasilkan penelitian yang riil bermanfaat bagi masyarakat luas. Dan laboratorium sejatinya bukan hanya untuk keilmuan yang bersifat eksak (ilmu alam, teknik, kedokteran, komputer dll) melainkan juga keilmuan sosial ekonomi. Pusat penelitian di laboratorium yang dimiliki pihak swasta di negara kita memang belum banyak. Perlu dikembangkan dengan dukungan penuh pemerintah. Penelitian di laboratorium milik perguruan tinggi juga perlu ditinjau ualng kebijakan pemanfaatannya. Di negara yang memiliki teknologi maju seperti Jepang, semua penelitian terpusat. Artinya negara atau pemerintah memegang peranan penting dalam hal mengelola dan memberikan bantuan penelitian baik oleh pihak perguruan tinggi maupun swasta. Dan semua keilmuan hasil penelitian harus diketahui oleh negara. Negara memberikan ruang yang cukup lebar dan terbuka untuk itu.

riset

Sudah banyak tulisan atau pendapat yang menyatakan bahwa hasil riset atau penelitian mahasiswa di universitas-universitas negara Indonesia cukup banyak dan mempunyai nilai kemanfaatan yang baik. Dengan asumsi seperti itu, maka yang perlu diperbaiki memang dalam hal pemasaran. Sudah banyak pula pakar atau praktisi yang menyoroti perlunya pembenahan dalam hal pemasaran hasil riset atau penelitian di universitas. Penelitian tersebut bukan hanya hasil dari upaya seorang mahasiswa, tetapi juga bisa berasal dari dosen atau karyawan dan bersifat kolektif. Banyaknya riset yang hanya menjadi bahan bacaan di perpustakaan dan belum terserap atau terasa kemanfaatanyya bagi masyarakat (baik untuk masyarakat umum maupun dunia industri) merupakan salah satu bukti bahwa memang perlu pembenahan agar hasil riset atau penelitian itu terserap dan betul-betul memberikan kemanfaatan. Dengan asumsi dasar bahwa mutu atau kualitas penelitian di tingkat universitas sudah baik, maka yang perlu dibenahi adalah jaringan [emasaran dan sumber daya manusia (SDM) pengelola. Harapan dari terserapnya hasil riset ini untuk kemajuan teknologi di negara Indonesia.

Sebuah solusi strategi, maka perlu tim khusus independen (terdiri dari pemerintah, swasta dan instansi pendidikan) yang bertugas menangani pemasaran riset. Beberapa hal operasional setelah itu yag bisa dilakukan adalah pemberdayaan sistem informasi melalui jaringan perpustakaan nasional. Selain itu, perlu dibuat pelatihan teknologi untuk industri. Tim pemasaran bisa membat sebuah web interaktif yang menampilkan semua hasil penelitian di universitas mulai dari jenjang diploma hingga doktoral bisa ditampilkan. Dengan harapan akan menjembatani antara dunia akademisi dan praktisi.





Longlife Learning

27 04 2009

Novita baru saja membuka sebuah acara di laboratorium kampus. Mahasiswi teknik industri yang aktif sebagai asisten laboratorium inovasi, didaulat untuk menjadi moderator acara workshop dengan tema “Technopreneur”. Sebuah tema yang lumayan hangat diperbincangkan di kampus. Pagi itu hari jumat, hari yang sangat dimuliakan. Pembicara adalah seorang praktisi sekaligus akademisi. Pengusaha perhiasan asal Solo. Yang diundang memang terbatas untuk kalangan laboratorium. Mulai dari kepala laboratorium (Ka-Lab) dan perwakilan asisten. Memang acara yang bertujuan untuk mengembangkan keilmuan lab.

“Marilah kita buka acara ini dengan membaca basmallah bersama”, begitu Novita membuka acara pagi itu. Segera saja disusul oleh Sari Tilawah dan sedikit sambutan dari tuan rumah, Ka-Lab. Langsung menuju ke inti untuk tidak membuang waktu, maka sang pembicara segera memulai presentasi untuk workshop. Akan ada sesi tanya jawab dan diskusi di sesi berikutnya selepas presentasi.

“Saya mengucapkan terimakasih sekali karena sudah diundang hadir untuk menjadi pembicara. Sebuah kesempatan yang sangat baik bagi saya sendiri. Karena dengan seperti ini saya seolah ‘dipaksa’ untuk belajar ;agi. Membuka buku lagi. Begadang lagi untuk mendalami referensi, nyari referensi di internet dan buku. Sebuah kegiatan yang sempat hilang. Tidak lagi seperti waktu jaman mahasiswa masih aktif belajar karena tuntutan”, pembicara bertutur kata sebelum presentasi. Semua terlihat hening, termasuk Novita. Karena dari sepenggal kalimat tersebut mengindikasikan bahwa akan ada suatu cerita lain yang ingin disampaikan di samping materi presentasi.

“Sekarang hari-hari lebih banyak diisi dengan aktivitas yang monoton. Rutinitas. Setiap dua sampai tiga kali seminggu datang ke Jogja, ngajar, ya sudah selesai pulang. Menuju pabrik, ngurusi pabrik dan toko lagi. Begitu seterusnya. Seolah memang menyenangkan karena sudah dalam kondisi tenang. Tetapi justru dengan rutinitas itu ada yang hilang. Terkadang rutinitas aktivitas itu yang menghilangkan kreativitas dan tingkat pembelajaran kita. Sudah merasa nyaman dengan keaddan. Seolah terlena. Padahal di luar sana sudah banyak berkembang. Orang-orang di luar sana sudah banyak yang menemukan alat inilah, ilmu itulah dan sebagainya. Saya terkadang seolah asyik dengan rutinitas yang menjemukan”, lanjut pembicara. Novita bergumam.

Manusia memang diciptakan berbeda. Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia diciptakan berbeda antara satu dengan yang lain. Unik. Bahkan sidik jari dan retina mata tidak akan pernah ada yang sama. Oleh karena itu sudah lumrah jika setiap orang ingin berbeda penampilannya. Sehingga ingin unik terhadap kepemilikan produk.

Berjuang setiap hari terjun ke dalam rutinitas yang sama adalah hal yang wajar terjadi. Berjuang untuk mewujudkan impian setiap angan-angan manusia untuk sekadar ‘berbeda’ dengan yang lain. Bukan berarti salah ketika persepsi rutinitas merekat pada rajin, disiplin dan tepat waktu. Tetapi yang kadang harus dicermati bahwa rutinitas terkadang menghilangkan semangat dan keinginan untuk belajar. Karena sudah merasa nyaman.

Satu hal lagi, belajar masih sering sekali diartikan sempit. Padahal belajar itu setiap saat. Arti belajar sering disamaartikan dengan ’sekolah’. Padahal sangat luas sekali. Bisa dari sumber yang tidak terbatas. Pemahaman yang terkukung pada aktivitas ’sekolah’, membayar SPP, belajar dari guru-dosen dll. Padahal sumber ilmu itu banyak sekali. Sehingga sangat tepat bila mengusung istilah belajar sepanjang masa. Longlife learning.

Belajarlah terus. Kalau ada yang bilang semakin banyak belajar maka merasa semakin bodoh, itu hanyalah cara pandang untuk tawadhu kepadaNya. Bahwa ilmu manusia hanya seperti setetes air di lautan. Tetapi jika diartikan untuk menjadi ’malas’ dan ’takut’ belajar, karena cara pandang bahwa semakin banyak belajar maka akan semakin banyak hal yang sebenarnya tidak diketahui adalah cara pandang yang kurang tepat. Manusia memperoleh hak seluas-luasnya untuk belajar. Bahkan dalam sebuah riwayat diperintahkan untuk menuntut ilmu sampai ke negri orang. Masihkah bermalasan untuk belajar? Bahwa banyak sekali media untuk belajar, orang-orang di sekeliling, teman, sahabat, keluarga, bahkan pengalaman buruk….. belajar akan menyemangati untuk tetap hidup.


Workshop Teknopreneur. LIPO, jumat 24 April 2009

teknopreneur





Perancangan Organisasi

27 01 2009

Bagaimana merancang sebuah organisasi? Sebelum pertanyaan tersebut dipaparkan secara ilmiah dengan berbagai macam teori-teori organisasi, maka perlu disamakan terlebih dahulu persepsi mengenai organisasi seperti apa yang hendak dirancang dan apa itu aktivitas merancang organisasi.

Organisasi merupakan sekumpulan orang yang membentuk sebuah sistem terpadu mengenai bagaimana orang-orang dalam organisasi mencapai tujuan yang sama. Tujuan tersebut sering dituangkan dalam sebuah wadah yakni Visi. Orang-orang dalam organisasi, seberapa besarpun organisasi itu, pasti memiliki tujuanbersama yang ingin dicapai. Tujuan yang dicapai tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, secara individual. Sehingga membentukalah organisasi. Berasal dari kata dasar organ. Arti harfiahnya dalam istilah biologi kurang lebih berarti sekumpulan jaringan yang membentuk satu kesatuan dimana dapat melakukan fungsi tertentu secara independen. Kata organ mendapat imbuhan ’isasi’. Sehingga bisa diartikan sebagai proses dan sekumpulan aktivitas. Mengenai jumlah orang dalam organisasi, dalam hal ini tidak dibatasi. Perancangan organisasi yang akan dibahas di sini bersifat umum dan bisa diterapkan dalam jenis organisasi apa saja dan jumlah orangnya berapa saja. Mulai dari organisasi kampus, sosial kemasyarakatan, industri rumah tangga dan organisasi perusahaan, serta sebuah partai politik.

Kata ’perancangan’ sering disamaartikan dengan fungsi perencanaan dalam keilmuan manajemen secara umum. Hal ini memang tidak salah. Namun dalam perancangan organisasi akan lebih detail dijelaskan bagaimana strategi spesifik mengenai langkah-langkah agar organisasi terbentuk. Secara spesifik perancangan organisasi adalah sebuah usaha formal, proses yang terarah untuk mengintegrasikan manusia, informasi dan teknologi dalam sebuah organisasi. Perancangan organisasi di gunakan untuk mempertemukan bentuk organisasi yang sedekat mungkin dengan tujuan yang ingin diraih oleh organisasi. Melalui desain proses, aktivitas organisasi untuk meningkatkan kemungkinan dari usaha bersama seluruh anggota organisasi mencapai kesuksesan.

Visi Misi

Visi merupakan keinginan akan keadaan di masa mendatang yang dicita-citakan oleh seluruh anggota organisasi mulai dari jenjang paling bawah hingga yang paling atas. Misi adalah serangkaian cara untuk melaksanakan atau mewujudkan visi. Bisa terdiri dari lebih dari satu uraian.

Jika ditinjau dari segi istilah secara ilmiah, maka visi dan tujuan organisasi berbeda dari sudut pandang frame atau horison waktu. Visi mempunyai horison waktu jangka panjang, sedangkan tujuan merujuk pada suatu satuan waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Selanjutnya yang pasti dilakukan adalah memberi nama, logo dan motto atau slogan organisasi. Nama bisa mencerminkan bidang organisasi yang digeluti, singkatan dari sebuah slogan atau motto tertentu, serta biasanya dihiasi dengan warna-warna unik yang mempunyai makna.

Value and belief perlu dirancang di awal untuk menentukan prinsip-prinsip dasar organisasi dan nilai dasar yang dianut. Sebagai contoh adalah prinsip dasar sebuah organisasi menggunakan landasan antikorupsi. Dalam prakteknya, perancangan value and belief sudah pasti dimiliki oleh semua organisasi. Hanya saja dengan nama yang diistilahkan berbeda. Misalnya sebuah organisasi perusahaan memberikan nama ’prinsip dasar perusahaan’.

Strategi

Strategi secara mudah didefinisikan sebagai serangkaian cara tertentu yang berkesinambungan untuk mencapai tujuan sebuah organisasi. Strategi secara umum terbagi menjadi dua, yakni bersifat strategis dan operasional. Jika bersifat strategis, maka hanya orang-orang yang terletak di jajaran pimpinan yang akan membahas. Sedangkan bersifat operasioanl karena sudah mencakup langkah-langkah teknis di lapangan untuk mencapai sebuah tujuan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, opportunities dan threat). Merupakan analisis yang digunakan untuk memetakan bagaimana kondisi internal organisasi pada saat dirancang, dikaitkan dengan visi-misi dan tujuan organisasi. Dan kondisi eksternal perusahaan, baik berupa peluang dan ancaman yang akan mempengaruhi organisasi. Selanjutnya akan dirumuskan strategi berdasarkan keempat faktor tersebut. Jika dicontohkan dalam sebuah gambar adalah sebagai berikut. Contoh organisasi yang dibentuk adalah perusahaan perak. Strategi yang dipilih adalah gabungan antara kekuatan dan peluang (S-O).

cek

Analisis SWOT semacam ini sering disebut dengan SWOT kualitatif. Pearce and Robbinson membuat analisis SWOT yang lebih bersifat kuantitatif. Akan dijelaskan lebih lanjut di-postingan berikutnya dengan tema ’Manajmen Strategi’.

Proses Bisnis

Menggambarkan sekumpulan proses yang disusun secara komprehensif untuk mendeskripsikan bagaimana proses perancangan dilakukan, sampai bagaimana organisasi melakukan aktivitasnya. Jika dimisalkan organisasi yang dirancang adalah sebuah perusahaan manufaktur, maka tahap ini sampai mendesain proses produksi di lantai produksinya.

Salah satu yang bisa dijadikan landasan ilmiah untuk menyusun proses bisnis perancangan organisasi adalah memakai acuan standar desain yang dikeluarkan oleh APQC (American Productivity and Quality Centre). Organisasi tersebuat mengemukakan cara yang dinamakan PCF (Process Classification Framework). Memuat dua tabel dasar, yakni tabel kategori proses bisnis dan pengelompokan aktivitas bisnis. Untuk menyusun kedua hal itu, ada dasar acuan dalam pengklasifikasian apa saja yang masuk dalam proses bisnis. Ada 12 jenis kategori.

po1

APQC membuat pengklasifikasian proses bisnis menjadi :

1. Kategori, merupakan tingkat tertinggi dalam klasifikasi proses bisnis, diberikan nomor item, seperti : 1.0 dan 3.0.

2. Kelompok Proses, merupakan item dalam klasifikasi proses yang dipertimbangkan dalam satu daerah proses, diberikan nomor item dengan satu desimal, seperti : 8.1 dan 9.1

3. Proses, merupakan item dalam klasifikasi proses yang dipertimbangkan sebagai suatu proses, diberikan nomor item dengan dua desimal, seperti : 8.1.1 dan 9.1.2

4. Aktivitas, merupakan semua item yang dipertimbangkan sebagai aktivitas-aktivitas di dalam suatu proses, diberikan nomor item dengan tiga desimal atau lebih, seperti : 8.3.1.1 dan 9.1.1.1

Tabel pertama, yakni tabel kategori proses bisnis, berikut adalah contohnya. Ke-12 kategori proses bisnis tidaklah perlu dibuat. Hanya yang perlu saja menurut sudut pandang pembuat organisasi dengan mengacu hasil strategi organisasi dengan analisis SWOT.

po31

Tabel kedua, yakni tabel pengelompokan aktivitas bisnis, berikut adalah contohnya. Untuk memperoleh bidang apa saja yang terlibat dalam organisasi tidak asal-asalan. Hal ini memperhatikan proses bisnis yang ada. Misalnya dalam proses bisnis ada aktivitas HSE (Health and Safety Environtment), maka tentu saja ada bagian khusus yang menangani itu.

po4Keterangan :

xx : Penaggung jawab dan pengambil keputusan

oo : Keterlibatan penuh / pelaku utama

vv : Keterlibatan biasa, sekedar informasi (membantu)

Skema organisasi

Sebelum mendesain skema organisasi, perlu dijabarkan terlebih dahulu mengenai proses bisnis apa saja yang terlibat. Sehingga secara logika, maka dalam hasil proses bisnis tersebut didapat pula fungsional keorganisasian apa saja yang terlibat. Misalnya keuangan, SDM, pemasaran dan teknologi informasi. Sehingga tidak bisa langsung terbentuk skema organisasi. Berikut adalah contoh hasil perancangan organsasi.

po5

Semoga bermanfaat, keterangan lebih lanjut hubungi admin.

po6





20 Hari Ketika Genderang Perang Telah Ditabuh

15 01 2009

palestine^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Hari ini, tepat pukul 00.00 WIB penurunan BBM di Indonesia sebesar Rp. 500 benar-benar terjadi. Dan pencarian korban kapal motor Teratai Prima di Pare-pare Sulawesi masih tetap berlangsung. Disusul upaya kerabat korban yang mungkin kurang percaya sama KNKT sehingga berlayar sendiri mencari korban. Dan banjir telah pula menjadi langganan, melanda ibukota Jakarta. Tapi hari ini pula, tepat 20 hari ketika genderang perang telah ditabuh, Israel dengan biadab menginvansi Palestina.

Konflik

Apakah perseteruan antara Palestina dan Israel murni konflik agama? Tidak bisa disimpulan secara sepihak. Diperlukan penjelasan sejarah, politik, budaya, agama, bahkan perekonomian untuk menyimpulkan hal itu. Palestina sendiri terdiri tidak hanya umat muslim saja, tetapi juga dari umat bergama yang lain. Sebelum menilik lebih lanjut konflik dua negara ini, maka perlu dipertanyakan bagaimana keutuhan persatuan warga Palestina sendiri. Pertikaian antar kelompok untuk memperebutkan kekuasaan politik di suatu negara adalah lumrah. Dan di wilayah Timur Tengah hal ini bisa dibilang wajar terjadi. Begitu juga di Palestina. Perseteruan antar kelompok demi sebuah kekuasaan politik telah terjadi sejak dulu. Konflik internal negara sudah terjadi sejak dulu. Bisa jadi hal ini juga yang seolah menjadikan negara Pelestina kurang kokoh. Liat juga video mengenai sejarah Palestina dan Israel di sini. Di sini juga dapat melihat video lain mengenai aksi perang yang terjadi .

Persatuan antara negara-negara di Timur Tengah juga menjadi permasalahan tersendiri. Jika dibayangkan, apabila negara-negara Arab bersatu dalam pengertian secara politik dan kekuatan militer, maka tidaklah sulit menyingkirkan bangsa Israel yang haya segelintir dibandingkan persatuan bangsa di Timur Tengah. Mungkin sudah sejak dulu, jika bangsa-bangsa di Timur Tengah sepaham, maka zionis Israel dimusnahkan. Tapi apa masalahnya sedemikian sederhana? Tidak. Ada Amerika Serikat dan sekutunya yang menjadi pion-pion Israel, sehingga bangsa-bangsa di Timur Tengah seolah enggan untuk mengurusi pertikaian Israel-Palestina. Akan ada imbasnya jika berurusan dengan Amerika Serikat dan sekutunya, sudah pasti salah satunya masalah ekonomi. Terbukti Amerika Serikat masih mendominasi perekonomian dunia. Bisa dicontohkan dengan adanya krisis karena kredit perumahan di AS macet, maka dunia internasional lembat laun terkena krisis global keuangan.

Jangan-jangan Israel dan AS frustasi karena krisis global. Sehingga melakukan penyerangan ke Hammas (Palestina) dengan dalih teroris dan punya nuklir.

Tidak Imbang

Pemimpin Palang merah Internasional sampai menangis ketika konferensi pers. Menjelaskan kondisi korban di jalur Gaza.

Sudah hampir 1050 orang mati (dikutip dari pernyataan Duta Besar Palestina untuk Indonesia di sebuah stasiun TV hari ini). Setengahnya adalah warga sipil. Sedangkan di pihak Israel hanya memakan korban 10 tentara dan 3 warga sipil. Sungguh perang yang tidak imbang. Perang yang sama sekali tidak jantan. Bisa dibilang Israel tidak berani face to face, perang di medan perang. Perang yang licik, salah satunya dibuktikan dengan dpakainya fosforputih oleh Israel. Senjata yang bisa menimbulkan wabah penyakit bagi warga Palestina.

Ekonomi

Ekonomi Palestina jelas terpuruk. Di samping roda perkeonomian tidak lancar, bantuan dari negara lain juga dihadang Israel secara licik. Beberapa hari yang lalu bantuan Irak berupa 2 ribu ton bahan makanan yang diantarkan lewat kapal di tahan Israel. Tidak bisa masuk ke Palestina. Jeda waktu perang selama 3 jam, yang disepakati bersama, sering dilanggar Israel. Sehingga banyak warga Palestina yang diserang bom-bom, yakni di jalur Gaza, tidak bisa pergi ke pasar untuk sekadar membeli bahan makanan.

Pasar modal dunia memang tidak banyak merespon aksi perang ini. Tapi beberapa bursa saham ada yang merespon negatif walaupun dalam porsi kecil. Aksi biadab Israel dianggap sebagai sebuah aksi yang melanggar norma kemanusiaan.

Pendidikan

Pendidikan anak-anak di Palestina jelas terbengkalai. Di jalur Gaza dan kota Raffah, atmosfir sekolah bisa dibilang tenggelam.

Pemilu Israel dan Barrack Obama

Dua hal itu adalah agenda dekat yang terkait dengan perang Israel vs Palestina. Sebenarnya perang lebih mengarah lebih tepatnya menjadi Israel+AS dan sekutunya VS Palestina+dunia internasional yang peduli kepada kemanusaian. Israel akan mengadakan pemilu sebentar lagi. Sedangkan pengukuhan Obama yang pelit berkomentar mengenai masalah konflik Israel ini, akan segera dilaksanakan pada tanggal 20 januari 2009. Obama yang pada waktu kampanye secara terang-terangan mendukung kedaulatan penuh Israel, mempunyai harapan tipis (sangat tipis) untuk menjadikan perang Israel vs Palestina segera usai.

Tanggapan Dunia Internasional

Hosni Mubarok, presiden otoriter Mesir, di awal perang Israel sama sekali tidak bergeming dengan aksi tidak manusiawi Israel. Diam. Sehingga sempat di demo warganya sendiri. Profesor Yunahar Ilyas, dari PP Muhammadiyah menengarai bahwa jika saja pintu darat di Mesir yang terhubung ke timur tengah dibuka, maka bisa ribuan relawan muslim Mesir yang rela berperang melawan Israel. Menyelamatkan tanah Palestina dari perebutan oleh Israel. Dimana di wilayah tersebut terdapat Masjidil Aqso, sebuah wilayah penting bagi umat muslim

Ban Ki Moon dengan gencar safari ke negara-negara Arab. Mencari dukungan. Ban Ki Moon, sekjend PBB tengah beraksi dan mencari cara untuk paling tidak ada gencatan senjata. Seberapa ampuhkan PBB di mata dunia? Masih ada anggapan bahwa PBB tak lain adalah antek AS. Terbukti ketika Dewan Keamanan PBB vooting untuk mengambil sikap mengenai keluarnya resolusi gencatan senjara, menlu AS terang-terangan abstain.

Presiden Bolivia baru saja memutuskan hubungan diplomatis dengan AS. Sedang Ahmadinejad sudah secara terang-terangan sejak lama menentang Israel. Dan Hugo Chavez, pimpinan tertinggi rakyat Venezuela juga bertindak sama.

Indonesia-Palestina

Jihad ke Palestina? Itu merupakan sebuah pilihan. Jika merunut makna dasar jihad, maka di Indonesia masih terbuka ladang itu. Masih banyak kemiskinan di negara ini. Di kota-kota besar, gepeng (baca : gelandangan pengemis) mudah sekali ditemui di perempatan jalanan kota besar. Kawasan pelacuran masih nampak subur di perkotaan. Maka jika ada orang yang bersemangat membara berapi-api,seolah jihad perang ke Palestina adalah kewajiban mutlak, tak bisa ditinggalkan, dan secara fanatik mengatakan bahwa setiap laki-laki baligh wajib melaksanakannya, perlu ditinjau ulang pemahaman makna jihadnya dan nawaitu-nya.

Wapres Indonesia, di awal terjadinya perang mengeluarkan statement bahwa warga Indonesia tidak perlu melakukan jihad, jadi relawan perang secara fisik. Entah apakah berubah sikap atau tidak jika konflik berkepanjangan. Karena track record Indonesia, melalui TNI , dalam hal pengiriman pasukan perdamaian dunia terbilang lumayan. Salah satunya yang sedang berlangsung di pasukan perdamaian Lebanon. Pasukan TNI yang sudah lama berlatih sebenarnya cocok untuk sekadar mempraktekan ilmu perangnya di Palestina. Daripada berlatih perang berahun-tahun dan pamer atraksi kekuatan militer TNI, tapi belum terbukti secara nyata.

Boikot Israel. Hal ini yang sedang diserukan oleh beberpa pihak di Indonesia, yang mengecam keras aksi perang Israel.





Budaya Latah

13 01 2009

Meutia, salah seorang mahasiswa teknik industri angkatan 2003 baru saja dikagetkan oleh salah satu temannya seusai kuliah. Di universitas negeri Solo. Yang terucap pertama di bibirnya adalah kata “e copot e copot e copot e copot”. Begitulah orang latah pada umumya. Akan keluar kata-kata yang sama berulang-ulang ketika dikagetkan.

***

Apakah kebiasaan latah hanya menimpali manusia pada umumya? Cobalah tengok per-televisi-an Indonesia. Masih ingat di benak kita beberapa tahun yang lalu, di sebuah stasiun TV swasta menayangkan program acara ajang mencari penyanyi muda berbakat. Tak lama berselang. Beberapa bulan kemudian karena melihat antusias pemirsa TV (yang konon katanya dibuktikan dengan banyaknya sms), stasiun TV lain menayangkan acara yang bisa dibilang sama kontennya. Ajang kontes bintang. Dengan berbagai improvisasi. Ada yang mencoba mencari bintang lawak, pasangan selebritis, pasangan anak-ibu, sampai program yang katanya mengadopsi ajang serupa yang sukses di Amerika. Dan sampai sekarang program-program tersebut beberapa masih ada.

Rupanya telah pula terjadi ke-latah-an di tayangan TV. Dengan dalih tayangan terebut laris, semakin banyak acara serupa seolah ditiru. Atau yang saat ini sedang cukup marak. Acara Reality Show. (mungkin) Dengan dalih serupa, berbagai program seperti itu dirancang. Mulai dari acara yang berbau cinta kasih, tolong menolong sampai menjahili selebritis. Ada pula program Sitkom. Acara komedi ringan yang sedang cukup marak ditayangkan. Satu saja stasiun TV saja yang berhasil menayangkan acara Sitkom dengan sukses, maka yang lain mengikuti. Seolah hanya ikut-ikutan saja. Walaupun tentunya setiap stasiun TV punya program kerja yang berbeda-beda secara keseluruhan. Tapi acara yang ‘latah’ itu tetap ada. Tetap ada.

picture6Buku dan film

Seolah tak mau kalah dengan dunia TV, maka di kancah per-filman nampaknya ada semacam budaya ‘latah’ yang hampir sama. Misalnya ketika genre fiilm horor laris manis di pasaran, maka beberapa produser langsung berinisiatif untuk membuat film serupa. Dengan dalih yang tentu saja logis dan tidah mudah dipatahkan. Memang bukan untuk disalahkan dan dicari pembenarannya. Yang harus diperhatikan adalah ada semacam budaya tiru-tiru atau latah, yang sebenarnya kurang baik. Budaya semacam ini akan memangkas kreativitas. Benar-benar hanya meniru. Memang jika proses pembelajaran, proses meniru untuk kali pertam adalah wajar. Terkadang di penulisan ilmiah ada yang disebut dengan kurva belajar. Akan tetapi, jika terus-menerus meniru, tidaklah pantas.

Ada kalanya latah membawa imbas yang cukup baik. Seperti ketika film AADC diputar, beberapa orang melihat potensi perfilman Indonesia mulai bangkit. Hal ini bisa dikatakan sebagai ‘latah’ yang bagus.

Di dunia buku juga nampaknya terjadi hal serupa. Tengoklah judul-judul buku yang menggunakan kata ”pelangi” setelah novel Andrea Hirata itu laris manis. Pasti berjibun. Atau novel yang menggunakan judul mirip dengan Ayat-ayat Cinta. Bahkan dengan cover hampir sama. Hampir bisa dikatakan jika ada satu saja novel yang laris manis di pasaran, maka yang lainnya akan mencoba mengikuti. Yang sayangnya proses mengikutinya terkadang mentah-mentah. Tidak diserap sari patinya.

Bad news is a good news

Jika ada pihak yang mau membuat penelitian statistik di acara-acara infotainment TV, maka bisa dipastikan bahwa headline-nya sebagian besar adalah berita kurang menyenangkan. Atau diistilahkan bad news. Mulai dari isu perceraian, hutang-piutang, kecelakaan, sampai berebut harta warisan. Rupanya berita semacam itu masih menjadi daya tarik yang lumayan bagus. Bisa dibilang bahwa masyarakatIndonesia lebih tertarik dengan ”kekurangberuntungan” dan ”kesedihan” orang lain. Memang tidak untuk disalahkan secara sepihak. Toh dari sudut pandang si empunya TV pasti akan berpandangan bahwa ya dari situlah daya tariknya sehingga pemirsa bersedia nonton infotainment. Tapi apakah budaya-budaya seperti ini patut dikembangkan. Budaya untuk melihat ”kebobrokan” sebuah permasalahn, budaya mengumbar aib. Karena jika dibiarkan berkembang terus menerus bukan tidak mungkin akan tercipta sebuah stasiun TV yang menayangkan acara gosip, isu, dan kabar burung. Diberi nama ”TV GOSIP”.

Jika ada headline yang menampilkan prestasi seseorang, maka itu hanya sebgaian kecil saja. Bahkan beberapa hanya dijadikan semacam bumbu penyedap.

Mendidik

Seiring perkembangan kebebasan jurnalisme, maka berita-berita di media semakin menyuarakan apa adanya kondisi di lapangan. Orang bebas berpendapat. Akan tetapi memang ada penyaring tertentu yang dinamakan kode etik jurnalistik. Media TV punya tanggungjawab sosial untuk sebuah hal besar bagi bangsa ini. Mendidik. akan tetapi pada realisasinya “setan itu bernama rating”. Ya, rating acara TV sangat diagungkan. Padahal metode statistik yang dipakai belum tentu valid.

Jika TV hanya dikatakan sebagai hiburan saja, maka ya masyarakat akan cuma mendapat satu kemanfaatan saja. Terhibur. Padahal TV adalah alat komunikasi masa yang paing diminati saat ini. Ada visualisasinya. Menarik untuk ditonton.

Definisi mendidik memang sangat luas dan kualitatif. Sangat susah menyatukan definisi akan hal ini. Akan ada beribu pendapat mengenai bagaimana menilai apakah TV sudah mendidik masyarakat. Tapi coba dilihat tayangan saat ini. Lebih banyak manakah tayangan yang bisa dibilang kurang mendidik dan hanya hiburan, dengan acara-acara yang bertema pendidikan. Misalnya kuis cerdas cermat anak sekolah, keilmuan alam, sampai berita internasional. Dengan acara gosip artis dan reality show muda-mudi yang berjuang atas nama cinta. Atau memang kondisi masyarakat yang sudah membudaya suka akan acara-acara ”bad news” itu?





Organisasi Masa Depan

30 12 2008

Pemahaman mengenai apa dan bagaimana sebuah organisasi, tidak serta merta dapat mengena dengan mempelajari berbagai teori organisasi kini. Seperti struktur organisasi divisi, matrik, job description dan perancangan organisasi. Teori-teori yang mencerminkan organisasi klasik, yang perbegangan pada salah satu prinsip spare of control. Yang perlu dipahami dan ditekankan terlebih dahulu adalah mengenai substansi dan dasar filosif mengenai apa itu organisasi dan seperti apa kerjanya. Dan yang perlu dimengerti juga adalah bagaimana sebaiknya cara berpikir orang-orang di dalam organisasi itu bekerja. Bukan hanya pemahaman organisasi secara sistemik. Karena pada dasarnya sistem di sebuah organisasi adalah buah hasil karya cara berpikir dan tindakan orang-orang di dalamnya.

Sebuah organisasi pada hakekatnya dibangun oleh sekumpulan orang-orang dengan tujuan bersama, bukan tujuan yang sama. Organisasi, seperti dikatakan Mintzberg merupakan sekumpulan otoritas dan fungsi-fungsi. Disebut juga dengan changes of commands.Diilustrasikan dengan perumpamaan organisasi adalah sebuah kano atau perahu yang sedang dilombakan. Sebuah kano dan orang-orang di dalamnya adalah tak lain diibaratkan organisasi. Dengan tujuan bersama; menang perlombaan. Koordinasi antara tangan kiri-kanan pada orang-orang di dalam kano atau atlet, adalah sesuatu yang krusial. Diperlukan harmonisasi untuk mencapai kemenangan. Dan harmonisasi itu dicapai melalui suara genderang. Suara genderang merupakan sebuah komando bersama. Dengan suara genderang pula tercipta distribution of power dan balancing of power. Begitu pula dengan jenis perahu yang lebih besar. Misalnya kapal Titanic yang tenggelam dan ditengarai bahwa itu merupakan hasil keteledoran sedetik oleh seorang awak kapal yang bertugas mengamati adanya gunung es. Kapal Titanic sudah tidak dikomandani oleh penabuh genderang, karena begitu besarnya kapal dan banyaknya orang. Sudah ada kapten kapal dan segala piranti teknologi canggih sebagai garis komando kapal. Sehingga jika terjadi suatu tanda kerusakan alat, maka garis komando akan berjalan sebagaimana mestinya. Seorang awak kapal yang mengetahui hal tersebut akan menyampaikannya kepada pimpinannya, dan seterusnya hingga sampai ke telinga Kapten kapal. Ada informasi yang memang harus cepat disampaikan, tetapi ada pula informasi yang juga tidak perlu diketahu sampai Kapten kapal karena bisa diselesaikan sendiri. Begitulah pengibaratan sebuah organisasi. Diisi dengan berbagai macam orang dengan kondisi yang bermacam-macam, dan rantai komando yang beragam pula. Katakanlah di sebuah perusahaan manufaktur, maka yang menjadi koordinasi atau penabuh genderang adalah schedulling atau penjadwalan. Semua lini harus mematuhi jadwal yang telah dibuat.

LIPO

Dalam organisasi (baik organisasi perusahaan maupun nonperusahaan) yang dipentingkan ketika pertama kali berdiri adalah arahannya. Mau kemana orang-orang yang di dalam organisasi itu. Dengan kata lain apa tujuannya. Jika dalam horizon waktu yang lebih lama, apa visinya. Jadi, bukan penekanan pada organisasi seperti apa yang akan dibangun pertama kali.

Menarik sekali konsep yang dikemukakan oleh seorang Jerman H. J. Warnecke. Dia adalah pengarang buku dalam jenis Automation Production Management. Diterbitkan pada tahun 1993 oleh penerbit Springer-Verlag (Berlin, New York). Judulnya adalah The Fractal Company; a revolution in corporate culture.Buku yang terbilang langka di Indonesia ini salah satunya membahasa mengenai organisasi. Dituliskan di buku tersebut bahwa sebuah organisasi dapat dianalogikan tersusun atas partikel-partikel tertentu yang menpunyai wujud yang sama dengan organisasi yang bersangkutan. Misalnya dalam sebuah organisasi Lab Kampus, maka asisten sebagai penyusun terkecil Lab sudah bisa dikatakan mencerminkan seperti apa Lab. Asisten sudah bisa menjadi cerminan seperti apa Lab tersebut dan mau kemana arahannya.

Tren ke masa depan di dalam pengelolaan organisasi salah satunya adalah adanya konsep Lean organisasi. Jika memasuki era milenium banyak sekali konsep lean di dunia manufaktur, maka sekarang sudah banyak juga yang membahas mengenai konsep lean organization. Dasar filosofisnya hampir sama dengan lean manufacturing. Yakni mengacu pada efisiensi dan efektivitas pengelolaan organisasian. Hemat dan cermat. Katakanlah tingkat koordinasi dalam sebuah organisasi yang memerlukan banyak middle management, maka jika sekiranya malah membebani informasi yang akan disampaikan ke atas, posisi middle management dapat dihapus perlahan.

Konsep lain yang menjadi ideologi organisasi di masa depan adalah organisasi virtual. Tantangan dunia di masa depan mengarah ke hal tersebut. Yakni dunia maya yang penuh komunitas industri (cyberspace industrial community). Virtual tidak sama dengan fatamorgana. Jika virtual adalah sesuatu yang tidak berbentuk (Organisasi tidak berbentuk / OTB) dan menghasilkan sebuah kegunaan. Sedangkan fatamorgana adalah sesuatu yang tidak berbentuk tetapi tidak nyata. Salah satu contoh yang sudah ada dalam konsep organisasi virtual adalah situs rajapresentasi dot kom. Situs penyedia presentasi dari buku-buku referensi sesuai keinginan pelanggan. Di situ hanya ada satu bagian saja yang merangkap sebagai pemasaran, administrator, penerjemah, sekaligus direktur. Dan bisa dikatakan organisasi rajapresentasi tanpa kantor nyata. Sehingga virtual tetapi hasil nyatanya ada. Presentasi dari buku-buku referensi yang kebanyakan berbahasa Inggris dan bisa dikebut digarap 2 x 24 jam.

Apa yang akan terjadi di masa yang lebih mendatang lagi, dengan berbagai macam teknologi komunikasi dan informasi? Jawabannya adalah organisasi yang bersifat Plug and play. Organisasi bisa mengarah kepada komunitas maya. Dan organisasi tersebut bisa dibilang sangat ringan, sehingga ke depan, banyak organisasi induk yang punya anak cabang bermacam-macam organisasi kecil yang menempel. Jika setelah selesai fungsinya, organanisasi dapat bubar. Dan dalam waktu singkat pula dapat mengumpul lagi untuk menjalankan sebuah fungsi. Lalu seperti apakah lagi contoh konkretnya di masa mendatang? Kita tunggu jawabannya bersama………

Dikutip dari paparan Profesor Doktor Insinyur Dadan Umar Daihani, DEA, pada Workshop Pengembangan LIPO FTI UII (Laboratorium Inovasi dan Pengembangan Organisasi) Yogyakarta. Dengan tema CONTINUOUS INNOVATION AND IMPROVEMENT. Mengambil judul “Desain Organisasi Masa Depan”.

Rabu, 24 Desember 2008

Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA adalah Direktur Lembaga Penelitian Universitas Trisakti Jakarta, dan Ketua Program Pascasarja Teknik Industri Universitas Trisakti.





Balada Tiga Bersaudara

22 12 2008

tiga1

Bayu. Di musim rambutan seperti bulan desember 2008 ini, memang sangat enak jika menikmati buah rambutan langsung dari pohonnya. Memanjat pohon sendiri dan makan buah rambutan di atasnya. Wah, sungguh lezat.

Bayu masih duduk di kelas 3 SMU di sebuah SMU ternama di Purworejo. Dan baru saja selesai ujian semester. Semester depan sudah harus berjuang mati-matian untuk masuk universitas dambaannya. Sebuah universitas negeri di Bandung. Bayu lumayan cerdas dalam hal ilmu eksak.

“Bu, kalau semua universitas negri jadi BHP, Badan Hukum Pendidikan, apa SPP semesternya jadi mahal sekali?”, Bayu bertanya pada Ibunya di suatu sore di rumahnya.

“Sudah, yang penting kamu belajar yang rajin saja. Kalau kamu memang pengen kuliah di Bandung, seberapapun mahalnya nanti, akan Ibu usahakan Nak”, sang Ibu menimpali.

Ah, kasih sayang Ibu memang tiada tara. Pantaslah jika ada hari Ibu di Indonesia tanggal 22 Desember. Jawabannya Ibunya tetap tak sedikit pun menyurutkan semangat Bayu yang menggebu untuk menggapai cita-citanya. Jawaban yang mungkin diplomatis. Tapi itulah seorang Ibu. Walaupun sebenarnya dalam hati kecil Ibunda Bayu terbesit rasa ragu karena merasa tak mampu. Tak mampu membiayai kuliah di Bandung yang sebegitu mahal. Karena orang tua Bayu hanya pegawai kantoran biasa. Bukan bos. Ibunda Bayu sangat khawatir biaya kuliah setelah ada UU BHP hanya mampu dijangkau oleh orang kaya. Dan entah apa pula yang menjadi landasan pemikiran anggota dewan rakyat yang terhormat. Sampai adanya UU BHP. Undang-undang yang lambat laun melegalkan dan menjadi legitimasi tersendiri bahwa ke depan rakyatlah yang harus menanggung biaya sekolah. Sekolah di perguruan tinggi. Atau memang pemerintah sengaja sedang mengurangi dana pendidikan rakyatnya di Perguruan Tinggi. Sehingga dialokasikan untuk sektor lain.

Akan tetapi ditengarai anggota dewan yang terhormat bahwa dengan UU BHP, maka biaya operasional mahasiswa sebanyak dua pertiga akan ditanggung negara. Entah apakah para anggota dewan yang terhormat kurang membuat sosialisasi sehingga mahasiswa yang berdemo tak sempat membaca pasal-pasal di BHP dan memahami BHP. Atau mahasiswa pendemo sudah tidak percaya dengan janji dewan yang terhormat. Janji yang mungkin tahun depan tidak dilaksanakan oleh pemerintah.

Ditengarai lagi oleh salah seorang anggota dewanpembuat UU BHP bahwa dengan adanya UU BHP maka perguruan tinggi negri akan diwajibkan menampung mahasiswa miskind engan prosentase 20 %. Entahlah………

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Joko. Pemuda yang akan diwisuda bulan depan, Januari, di sebuah universitas terkemuka di Surabaya. Joko adalah saudara sepupu Bayu. Lokasi rumahnya tak jauh dari Bayu. Hari itu, senin 22 Desember 2008, Joko menuju kantor Polres setempat untuk memperpanjang SKCK, surat keterangan catatan kriminal. Guna melamar pekerjaan.

“Permisi Pak, mau memperpanjang SKCK”, Joko berkata pada salah seorang petugas.

“Isi dulu formulirnya, dan foto 4 x 6 dua lembar”, seorang petugas berkumis yang hampir tak pernah senyum berkata pada Joko.

Setelah selesai dengan pengisian formulir dan menyerahkan foto, “Sepuluh ribu rupiah mas”, sang ptugas berkata pada Joko.

Joko, yang beberapa bulan kemarin pernah menanyakan biaya mengurus SKCK kepada Kasat Intel Purworejo, hanya terheran, dan dengan agak terbata-bata meraih dompet untuk mengambil uang. “Untung bawa uang”, gumamnya. Padahal infomasi yang diperoleh dari Kasat Intel, bahwa pengurusan SKCK sama sekali tidak dipungut biaya.

“Apakah baru saja aku dikenai pungli (pungutan liar) oleh aparat?”, desah Joko dalam hati kecilnya. Entahlah, Joko hanya berusaha menenangkan diri. Dan pada saat itu juga terpikirkan oleh Joko, “Mungkin perkara kecil seperti ini yang menjadi cikal bakal korupsi”.

Merasa tak mungkin beradu mulut dengan petugas Polres yang tak murah senyum itu. Joko hanya merasa janggal. Apalagi dengan pelayanannya. Dan pada saat itu pula Joko teringat pelayanan konsumen di perusahaan-perusahaan swasta, seperti bank atau laboratorium terpadu di kota tempat kuliahnya dulu. Pelayanan konsumen tidak seperti di jajaran pemerintahan, aparat, dan kantor kelurahan. Pelayanan di swasta sungguh membuat orang merasa adem. Murah senyum, ramah, dan tidak ada praktek liar.

Apakah mungkin di pemerintahan hal-hal seperti itu tidak dipikirkan. Pelayanan masyarakat yang profesional dengan mengedepankan sikap ramah, senyum dan sapa. Mungkin terlihat sepele. Tapi itulah kesan mendalam yang dialami Joko.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sigit. Adalah kakak Joko. Sedang pula berlibur di rumah sekalian menjenguk orang tua dan mengurus NPWP (nomor pokok wajib pajak). Sigit berwiraswasta di Jogja. Hari itu pula, senin 22 Desember 2008, Sigit berangkat pukul 08.20 ke kantor palayanan pajak Pratama.

“Silakan diisi form-nya mas”, seorang petugas helpdesk yang berinisial HS berkata pada Sigit. Dalam bayangan Sigit, di kantor pajak akan disambut ramah oleh petugas-petuganya. Pagi itu, tidak sama sekali. Entah mengapa si petugas tidak menampakkan senyumnya sama sekali. “Padahal kalau senyum, mbak nya ini cantik lho”, gumam Sigit dalam hati. Dan pada saat itu juga, terbersit sedikit pemikiran di benak Sigit. “Mungkin kalau petugas pajak bisa melayani dengan ramah seperti halnya SPG (sales promotion girl) dan berwajah rupawan, banyak orang akan antri membayar pajak, dan negara tidak kesusahan meminta rakyat membayar pajak”.

Rumahku, sambil menunggu Ibuku pulang. Di hari Ibu 22 Desember 2008. I love my Mom