Manajemen Zakat

25 08 2009

Mungkin langsung akan terlintas bahwa penulis buku ini mempunyai latar pendidikan kental dengan pondok pesantren atau perguruan tinggi islam. Tetapi itu agak meleset. Penulis adalah salah satu orang tersohor di Indonesia. Di bidang zakat tentunya. Punya latar belakang kuliah S1 di Arkeologi UI. Dia adalah Eri Sudewo. Salah satu perintis Dompet Dhuafa Republika (DD). Penulis memang pernah bekerja di Badan Arkeolog, karena background keilmuannya itu. Tetapi juga pernah merangkap bekerja di bisnis media. Dan alhasil pada tahun 1993, penulis terlibat dalam melahirkan DD.

m zaktMungkin ini adalah buku pertama di Indonesia yang membahas mengenai seluk beluk pengelolaan zakat di sebuah organisasi nirlaba. Dan mungkin dengan dasar itulah diberi judul “Manajemen Zakat”. Bukan mengupas lebih dalam mengenai zakat kontemporer dalam sudut pandang fiqih dan penerapannya di dunia modern saat ini. Tetapi pengelolaan zakat di sebuah lembaga atau organisasi. Tentu saja dengan sejarahnya.

Buku ini memupunyai judul  “Manajemen Zakat, Tinggalkan 15 Tradisi Terapkan 4 Prinsip Dasar”. Penerbit Institut Manajemen Zakat (IMZ) Jakarta pada tahun 2004. sudah cukup lama. Tapi tetap menarik dibaca. Karena seperti diungkapkan di awal tadi bahwa jarang-jarang buku seperti ini. Di dalamnya juga tidak melulu bercerita secara teoritis. Tetapi diliputi pula oleh cerita-cerita di balik kesuksesan pembangunan lembaga DD. Dengan beragam kenangan baik maupun yang kadang lucu bahkan bercitra negatif. Tak lupa penulis kadang menyelipkan beberapa kata-kata bijak di setiap bab-nya.

Membaca buku ini, langsung disuguhi oleh pengatar atau kata sambutan dari lima orang penulis dan professional di bidangnya. Yakni sang maestro pemasaran Hermawan K, ahli manajemen Dr. Rhenald K, Akademisi Prof. Azyumardi A, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Prof. Didin H, dan penulis berbagai buku mengenai ekonomi syariah Adiwarman A.Karim. Semua kata pengantar memiliki petuah dan sudut pandang yang berbeda-beda sesuai bidang keilmuannya.

Selama ini memang masalah pengelolaan zakat dalam sudut pandang hukum negara Indonesia belum tertata dengan baik. Jika diambil sudut pandang dari ranah hukum, tentu UU zakat yang akan dipermasalahkan dan perlu ditinjau kembali. Dan jika dilihat lebih ke arah operasional, maka banyak sekali permasalahn teknis berkaitan dengan lembaga pengelola zakat. Permasalahan yang diangkat penulis, mengungkapkan ada 15 tradisi yang menyebabkan kesulitan perkembangan. Yakni : anggap sepele, kelas 2, tanpa manajemen, tanpa perencanaan, struktur organisasi tumpang tindih, tanpa fit and proper test, kaburnya batasan, ikhlas tanpa imbalan, dikelola paruh waktu, lemahnya SDM, bukan pilihan, lemahnya kreativitas, tak ada monitoring dan evaluasi, tak disiplin dan kepanitiaan. Sehingga penulis menawarkan solusi 4 prinsip dasar; prinsip rukun islam, prinsip moral, prinsip lembaga dan prinsip manajemen.

Pada intinya penulis ingin bahwa pengelolaan zakat oleh lembaga nirlaba atau sekarnag lebih sering memakai istilah lazis, bisa memberikan kemanfaatan lebih. Bukan hanya sebagai lembaga yang asal-asalan dibuat tanpa manajemen dan dibuat hanya untuk semata charity. Tetapi semua itu adalah sebuah nilai profesionalisme. Dan paradigma baru seperti ini memang tidak mudah dan butuh waktu untuk menerapkannya di benak masyarakat banyak.

Tumpang tindih yang terjadi secara struktural mengenai kelambagaan zakat secara nasional juga sedikit disingguh di sini. Kemudian tak lupa salah satu hal yang penting dalam hal pengelolaan dana zakat adalah masalah distribusi. Dimana terdapat berbagai cara atau program kegiatan untuk mendistribusikan zakat. Mulai dari cara konvensional bisa untuk penyaluran sesuatu yang bersifat konsumtif, sekali pakai habis. Sampai cara penyaluran dengan pendayagunaan. Sesuatu yang bermanfaat untuk jangka panjang. Sehingga seseorang yang termasuk golongan mustahiq (golongan yang berhak menerima zakat, 8 asnaf) bisa meningkat menjadi muzaki (donator).





Sistem Teknologi Informasi

20 08 2009

Apa bedanya Sistem Informasi Manajemen (SIM) dengan Sistem Teknologi Informasi (STI)? Buku ini akan menjawabnya. Buku karangan professor Jogiyanto Dosen Tetap UGM yang satu ini banyak mengupas perbedaaanya. Buku yang ditulis beliau telah terbit pertama tahun 2003 oleh Andi Jogja tetapi telah mencapai edisi ketiga saat ini.

stiDimulai dari daftar pustaka, beliau mencoba menuturkan secara runtut konsep teknologi informasi. Dimulai dari terminologi kata STI sampai hal teknis menyangkut software dan hardware. Ditinjau dari ilmu peristilahan kata atau terminologi kata, sebenarnya SIM dan STI tidak berbeda jauh dari segi konsep, bahkan takaran operasional. Lebih banyak bisa diartikan bahwa penulis ingin menambah wacana keilmuan mengenai SIM. Jika menilik pada bagian atau bab 1 terlihat perbedaan antara SIM dan STI; STI merupakan sebuah konsepsi yang lebih besar daripada SIM. Artinya di dalam STI terdapat unsur SIM. Padahal jika membaca buku lebih lanjut, tidak banyak perbedaan dengan buku SIM pada umumnya. Hanya saja seperti tadi telah dipaparkan, penulis mencoba membuat atau menambah khasanah keilmuan baru dengan teminologi yang sedikit diperluas. Beberapa tambahan atau perbedaan dengan buku mengenai SIM pada umumnya adalah pada penjelasan mengenai konsep teknologi lebih banyak dan istilah-istilah yang berhubungan dengan teknologi juga dipaparkan penulis, setelah pembahsan setiap bab. Dilengkapi pula dengan pertanyaan latihan. Karena memang konsep buku ini dikembangkan oleh penulis lebih untuk persiapan materi perkuliahan. Terlihat di bagian depan buku (kata pengantar) mengenai susunan pertemuan kuliah.

Tetap saja siklus pengolahan data berikut ini nampak pada semua buku yang berhubungan dengan sistem informasi. Ya, karena konsep dasar ini selalu terpakai. Pembuatan sisten informasi selalu terdapat pemodelan dan melibatkan basis data di dalamnya. Kumpulan data. Data yang diolah sehingga memberikan kemanfaatan akan menjadi informasi.

sim

Setelah terminologi istilah STI dibahas, penulis memaparkan terlebih dahulu mengenai teknologi sistem computer (perangkat keras), software sampai pada bahasa pemrograman seperti FORTRAN, BASIC, dan COBOL. Tak lupa mengenai jaringan dan protokol. Kemudian menuju ke bab selanjutnya, penulis membeberkan mengenai aplikasi system informasi di berbagai aspek atau bidang. Seperti system informasi akuntansi, pemasaran, produksi, sumber daya manusia, keuangan dan konsep besar ERP (Enterprise Resource Planning). Aplikasi sistem informasi lain yang cukup terkini juga tak luput dibahas. Jika pada buku mengenai SIM yang ditulis oleh penulis yang sama lebih banyak memaparkan jenis sistem informasi yang termasuk jenis SIM, maka pada buku ini tidak hanya itu. Selain DSS, sistem pakar, neural artificial, sistem informasi geografis, sistem informasi eksekutif dan aplikasi kantor (Office Automation System) juga tak lupa dipaparkan.

Bias dibilang karena saking cukup lengkapnya buku ini, penulis juga mencoba sedikit mengungkapkan metode ilmiah pengembangan SIM. Yang pertama diutarakan adalah jenis SDLC (System Life Development Life Cysle). Kemudian metode-metode lain sebagai wacana tambahan; prototyping, outsourcing dan masih banyak lagi. Dan di akhir bab, ada mengenai etika dan politik dalam sistem informasi. Suatu hal yang kadang dianggap sepele tetapi justru terkadang berfungsi sebagi kunci pengembangan sebuah sistem informasi di perusahaan atau organisasi pada umumnya. Maksud dari penjelasan etika misalnya penjelasan permasalahan seperti privasi, kepemilikan intelektual, kemanan (security) dan lain-lain.

Secara umum, buku ini sangat bagus sebagai referensi bagi pelajar, mahasiswa (ekonomi, teknik, sosial, hukum) atau kalangan praktisi yang berminat mengenai sistem informasi.





Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pembangunan Bangsa

4 08 2009

Sebenarnya ini buku lama. Terbitan tahun 1995 oleh CIDES (Center for Information and Development Studies) dengan pengarang B. J. Habibie. Sudah bisa ditebak bahwa dari judul dan pengarangnya, buku ini akan membahas mengenai teknologi dan seputarnya. Tetapi bukan pada takaran teknis, melainkan lebih banyak membahasa strategi. Terlepas dari semua permasalahan politik dan kenegaraan yang membelit beliau, serta umur terbitan buku ini yang sudah lebih dari 10 tahun lalu, sebenarnya masih banyak pemikiran-pemikiran beliau yang layak disimak. Dan sampai sekarang masih layak disimak dan dijadikan kajian bersama untuk pembangunan bangsa (sesuai judul bukunya). Buku ini ditulis beliau pada waktu menjabat menristek dan beberapa jabatan penting kenegaraan lain. Dan secara tersirat bisa terlihat bahwa masih banyak ide-ide pemikiran beliau yang mungkin belum terlaksana sesuai keinginan beliau pada waktu itu hingga sekarang. Ide mengenai masalah teknologi, ekonomi dan pendidikan bangsa.

iptek habiebieYang disoroti pada bagian pertama adalah mengenai pembangunan bangsa. Menurut beliau, pembangunan harus dilakukan dengan orientasi nilai tambah dan menggunakan basis teknologi serta sumber daya manusia. Ini ditekankan di awal buku mungkin karena beliau mempunyai pemikiran bahwa perlu ditekankan terhadap penghargaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Bahwa peningkatan kekayaan dan kemakmuran berakar pada peningkatan produktivitas, dan bahwa kunci bagi produktivitas adalah ilmu pengetahuan dan rekayasa. Berikut adalah beberapa kutipan :

Bila kita bericara tentang teknologi canggih, bukan teknologi canggih yang kita kejar. Salah kalau dikira bahwa saya seorang insinyur kebetulan ahli konstruksi pesawat terbang hanya cinta teknologi canggih. Karena itu, apakah lantas hanya teknologi canggih yang ingin dikembangkan, dan hanya itu yang didasari untuk pembangunan bangsa? Itu tidak benar, yang saya sasari adalah proses nilai tambah, proses nilai tambah dari materi yang harganya rendah, dengan segala ketrampilan dengan usaha dari manusia, bisa dijadikan produk yang nilainya lebih tinggi, itu proses nilai tambah.

Atau dengan perkataan lain memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang tepat dan berguna tanpa memilih apakah itu canggih atau tidak canggih yang lebih penting bahwa teknologi yang tepat dan berguna itu dapat dimanfaatkan untuk proses nilai tambah, dapat mengubah materi itu dengan cepat untuk mendapatkan nilai yang setinggi-tingginya dengan mengontrol kualitas, biaya, dan jadwal secara terus-menerus agar produksi lancar jalannya.

Itulah pentingnya nilai tambah. Begini diilustrasikan sederhana oleh beliau mengenai bagaimana memahami arti sebuah nilai tambah (added value). Jika sebuah produksi celana jeans dilakukan, maka teknologi dan nilai yang dihasilkan cukup rendah jika dinilai dalam kerangka sebuah bangsa. Dan persaingan di pasar pun sudah banyak. Sehingga mudah tergusur. Berbeda dengan produksi pesawat terbagng atau satelit. Tidak banyak yang membuat dan teknologinya canggih. Nilai tambah yang dihasilkan tentu lebih baik. Mengenai contoh teknologi, beliau mencontohkan IPTN pada waktu itu.

Sebenarnya bukan hanya iptek saja, tetapi ada unsur lain yakni sumber daya manusia (SDM) yang perlu dibangun. Beliau sempat mengutarakan dalam buku bahwa membangun teknologi canggih dan SDM yang baik bukanlah upaa yang tidak mungkin di Indonesia, terbukti dengan IPTN waktu itu. Masyarakat membutuhkan dua hal, yakni sekolah sebagai proses penciptaan nilai tambah untuk SDM, dan industri atau perusahaan sebagai tempat melaksanakan proses tambah dan biaya tambah. Penekakan beliau bahwa jika seseorang telah sekolah tinggi dan bekerja di sebuah instansi, maka dia tidak boleh hanya mengendalkan gelarnya lantas tidak berbuat banyak untuk kepentingan bangsa. Tetapi harus memberikan andil terhadap nilai tambah kemakmuran bangsa.

Ada sebuah cerita yang dipaparkan. Berpijak pada kebijakan negara maju seperti Jepang. Pada awalnya mereka benar-benar mandiri dan sampai sekarag. Segala kebutuhan domestik di-supply semua oleh industri domestik. Tidak diperkenankan produk-produk domestik digusur oleh produk dari luar. Ketika produk-produk domestik telah mencapai kapasitas produksi yang bisa diekspor, maka dilakukan ekspansi ke luar. Sebagai contoh ketika produk Jepang baik Toyota atau Honda atau Nissan dibuat untuk pasaran dalam negri sendiri, pasar Jepang ditutup, semua tidak boleh masuk. Lalau kenapa kenapa pasar kita masih mau direbut orang lain? Dengan dalih lapangan kerja untuk anak cucku kelak, mengepa pasar itu masih diserahkan dengan mudahnya oleh asing?

Falsafah kerja ilmuwan. Di negara ini sudah menjadi rahasia umum bahwa profesi peneliti masih bisa dikatakan jarang. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa apresiasi terhadap hasil penelitian kurang, terbukti dengan banyak yang mengatakan sebagian peneliti Indonesia memliih kerja di luar karena masalah gaji. Penulis juga menyinggung masalah ilmuwan ini. Beliau mengetakan sesungguhnya peneliti atau ilmuwan memepunyai posisi penting dalam sosial budaya kemasyarakatan, walaupun kadang tidak secara langsung. Perannya adalah sebagai agent of social change. Lihat saja ketika ada penemuan teknologi baru misalnya, maka budaya konsumsi masyarakat terhadap teknologi tersebut akan mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat secara lambat laun.

Peranan pendidikan dipandang penulis sangat besar. Universitas adalah tempat yang paling cocok untuk mendidik sarjana baru agar mudah diserap pasar. Sampai saat ini pun, masalah penyerapan tenaga kerja di lapangan masih sering dipertanyakan. Mungkin seringnya negara ini mungkin terlalu berpijak pada negara barat. Dengan dalih mengikuti standar internasional atau apapun itu, kepentingan internal pendidikan yang termarjinalkan kadang terabaikan. Semntara banyak anak putus sekolah da menjadi gelandangan, sekolah yang katanya ingin bertarafi internaisonal atau semacamnya mulai dirintis. Ini pembangunan tidak merata atau sekadar gengsi?

Terakhir, yang ingin dikutip dari buku ini adalah pernyataan beliau mengenai pembangunan teknologi tepat guna dan pembangunan teknologi pedesaan.

Dalam keadaan mendesaknya masalah-masalah kehidupan konkrit yang dihadapi bagian dunia yang masih terbelakang, tidak banyak gunanya menggolong-golongkan teknologi ke dalam ”teknologi sederhana” dan ”teknologi tinggi”. Jauh lebih berguna mempertanyakan teknologi manakah yang dapat memecahkan suatu masalah yang konkrit, tanpa memperdulikan apakah teknologi yang tepat itu adalah teknologi primitif, menengah atau canggih, dan tanpa mempersoalkan dimana teknologi tersebut pertama kali dikembangkan.





Metode Penelitian Bisnis

29 06 2009

Penulis : Prof. Sugiyono (UNY)

Penerbit : Alfabeta, Bandung

Tahun Terbit : 2008

Tebal halaman : 540-xx

metopelSebenarnya Prof.Sugiyono telah menulis banyak sekali buku mengenai penelitian. Karena memang konsentrasi keilmuan Beliau mengenai hal itu. Salah satu buku terdahulunya adalah :Metode Penelitian Administrasi, 2004”. Buku yang berjudul “Metode Penelitian Bisnis” ini saja merupakan cetakan yang kesebelas.

Ketika penelitian ilmiah mulai disoroti tajam akhir-akhir ini, salah satu pemicunya dengan melihat fenomena banyaknya lembaga-lembaga survey, maka salah satu komponen dalam penelitian yang makin diperhatikan dengan jeli adalah state of the art. Apa itu? Yakni penelusuran secara ilmiah mengenai keterkaitan dengan sumber referensi penelitian yang terdahulu. Penelitian yang dibahas di sini lebih diartikan secara ilmiah. Yakni penelitian terstruktur dan berdasarkan bahan-bahan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi bukan melulu mengenai penelitian di institusi pendidikan (skripsi, tesis dan disertasi), tetapi juga meliputi penelitian bisnis (penilitian di perusahaan, survey, dll). Penulis memberikan pengertian secara jelas sebagai berikut; metode penelitian bisnis dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid degan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah dalam bidang bisnis.

Penulis mencoba memaparkan bahwa dalam buku ini berisi tiga pendekatan, yakni kuantitatif, kualitatif dan R&D (research and development). Di bagian daftar isi juga terlihat jelas pemisahannya dimana bagian satu menjelaskan perbedaan penelitian kuantitatif dan kualitatif, bagian 2 adalah kuantitatif, bagian 3 adalah kualitatif, bagian 4 adalah bagaiamana membuat proposal penelitian, dan terakhir adalah penelitian pengambangan (R&D).

Secara umum ada langkah-langkah atau bagian yang harus betul-betul dipahami seorang peneliti, yakni

  1. Proses penelitian, variabel dan paradigma (meliputi latar belakang, rumusan masalah hingga tujuan)
  2. Landasan teori, kerangka berpikir dan hipotesis
  3. Metode penelitian/eksperimen
  4. Populasi dan sampel
  5. Skala pengukuran dan instrumen penelitian
  6. Teknik pengumpulan data
  7. Analisis data

Penulis tak lupa memberikan contoh analisis data.

Secara garis besar, penulis memisahkan dua jenis penelitian. Yakni kuantitatif dan kualitatif. Keduanya berbeda. Ada 3 hal yang menjadi variabel perbedaannya. Yakni perbedaan akisoma (pandangan dasar), karakteristik penelitian dan proses penelitian. Penelitian kuantitatif mempunyai hubungan variabel sebab-akibat (kausal) sedangkan penelitian kualitatif bersifat interaktif / timbal-balik. Contoh sederhana penelitian kuantitatif adalah pembuatan model matematis (lebih cenderung penelitian oleh mahasiswa teknik dan sejenisnya yang terkait). Sedangkan contoh sederhana penelitian yang bersifat kualitatif (lebih cenderung penelitian sosial ekonomi) adalah penentuan faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah masalah. Lebih jauh, penulis membuat sebuah pengertian; metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Sedangkan; metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang ilmiah, (sebagai lawannya yang eksperimen) dimana peneliti adalah instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan data dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Pada halaman 126, penulis memaparkan penentuan jumlah sampel populasi dengan taraf kesalahan mulai dari 1%, 5% dan 10%. Misalnya jika N (populasi) berjumlah 100, maka dengan taraf kesalahan 1& sampel haru sberjumlah 87. Selain itu terdapat tabel-tabel statistik di bagian belakang buku seperti tabel kurva normal, binomial, harga faktorial tabel harga kritis dalam Run Test sampai tabel spearman rank.

Buku ini cocok untuk kalangan pendidikan maupun bisnis, karena cukup komprehensif dalam menjelaskan runtutan bagaimana penelitian yang benar itu dilakukan. Hingga akhirnya kevalidan secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi penjelasan mengenai unsur seberapa jauh bobot suatu penelitian dilihat dari konten isinya memang bukan menjadi pokok utama bahasan.





Bung Karno

27 06 2009

bungkarnoSalah satu buku yang cukup lengkap menceritakan riwayat Bung Karno (selain buku Di Bawah Bendera Revolusi) adalah buku ini. Berjudul “Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Dicetak pertama kali dalam bahasa Inggris pada tahun 1965. Penulis adalah Cindy Adams, seorang wartawati AS yang kebetulan waktu itu sedang berkunjung ke Indonesia menemani suaminya, Joey Adams yang memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara. Cetakan terbaru tahun 2007. Dalam kata sambutannya Bung Karno menyematkan sebuah kalimat; “seribu orangtua hanya dapat bermimpi, satu anak muda dapat mengubah dunia”.

Buku ini adalah Otobiografi, sehingga sudut pandangnya adalah orang pertama. Pada bagian satu jelas terpampang judul mengenai alasan buku ini ditulis. Dan bisa ditebak salah satu alasannya adalah untuk “pembelaan” terhadap diri sendiri di tengah kontroversi yang menimpa Bapak Proklamasi waktu itu. Bung Karno memang salah satu orang yang berjasa untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Tetapi seiring berjalannya pemerintahan yang berdaulat, gejolak politik semakin memanas. Dan Bung Karno juga tak luput dalam kerasnya dunia politik waktu itu. Sehingga ada beberapa orang yang kurang sepaham dengan Beliau di saat menjabat pemerintah bahkan cenderung berlawanan dan bersitegang. Terlepas dari itu semua, dengan membaca buku ini, paling tidak ada satu poin penting yang bisa dipetik yakni mengenal lebih dekat siapa sebenarnya Bung Karno. Mulai dari lahir, kehidupan sosialnya, pendidikannya, sepak terjang politiknya, kehidupan di penjara, pembelaan diri sendiri di masa demokrasi terpimpin, dan bahkan sampai kehidupan berumah tangganya. Meskipin hal yang terakhir tadi tidak menyeluruh.

Foto Bung Karno pernah terpasang di rumah pelacuran. Itu karena waktu perjuangan menuju kemerdekaan, begitu banyak orang mengidolakan Beliau. Dan Beliau sendiri tidak marah dengan hal itu. Bahkan ketika jaman perang, rumah pelacuran merupakan tempat yang cukup aman untuk rapat secara tersembunyi. Dahulu, ketika Bung Karno sering ke Tampaksiring Bali, hujan akan turun. Sampai-sampai ada masyarakat Bali yang menganggap bahwa Bung Karno adalah titisan dewa.

Bung Karno lahir tahun 1901 tanggal 6 bulan ke-6. Dengan bintang gemini. Beliau sendiri yang pernah bilang bahwa dia memiliki kepribadian yang lembut tetapi keras terhadap sebuah idealisme. Bung Karno mempunyai ayah seorang keturunan Raden di tanah Jawa. Sedangkan ibunya adalah asli Bali, seorang penari. Dan diceritakan pula di buku ini bahwa orang tua Bung Karno dulu mengalami kawin lari. Bung Karno mempunyai kaka perempuan bernama Sukarmini. Dan seorang pembantu di masa kecilnya bernama Sarinah. Ayah Bung Karno adalah pengagum Mahabarata, sehingga nama Sukarno merupakan intepretasi dari salah seorang tokoh bernama Karna. Ditambahi awalan su yang artinya baik dalam bahasa jawa. Walaupun ayah Bung Karno keturunan bangsawan tetapi masa kecilnya tidak selalu mewah dengan kehidupan ningrat. Karena sering berpindah rumah untuk sekadar mengontrak di daerah Surabaya. Dan ketika kuliah di Bandung, Bung Karno tinggal di kos. Rumah milik HOS Cokroaminoto, teman Ayah Bung Karno. Tinggal di kamar kos kecil yang gelap dan pengap. Sudah menjadi harapan Ayahnya bahwa Sukarno harus kuliah di Sekolah Tinggi Teknik. Yang waktu itu jumlah mahasiswa pribumi hanya 11 orang. Dan di tempat ini pula Sukarno sudah mulai aktif terjun di dunia politik. Sering berorasi dan orasinya disukai banyak orang, bahkan sering beradu mulut dan diinterogasi oleh polisi Belanda waktu itu karena aktivitas Beliau yang dianggap berbahaya bagi pemerintah Belanda,

Bung Karno memperkenalkan idealisme marhaen di buku ini. Juga memperkenalkan asal kata Indonesia. Kata tersebut berasal dari ahli purbakala dari Jerman yang bernama Jordan, yang belajar di negeri Belanda. Kepulauan Indonesia secara geografis berdekatan dengan India. Sehingga digabungkan dengan kata nesos (bahasa Yunani yang artinya kepulauan) menjadi Indusnesos.

Salah satu kendaraan atau partai yang begitu terkenal menjadi alat Bung Karno adalah PNI (Partai Nasional Indonesia), karena Beliaulah yang memprakarsai. Dan karena aktivitas di PNI pula, Bung Karno pernah dipenjarai di penjara Banceuy. Penjara lain yang pernah didiami Beliau adalah penjara Sukamiskin dan pernah dibuang di Ende, Flores.

bungkarno2

Masa kemerdekaan adalah masa kritis. Dimana berbagai peristiwa menyertai. Dan di buku ini memang hanya menceritakan sampai kurang lebih di era demokrasi terpimpin. Tidak ada penceritaan bagaimana Bung Karno menjalani kepemimpinan kritis di mana suharto mulai ‘merebut’ kekuasaan. Dan akhirnya  21 juni 1970 Bung Karno wafat.





Automation, Production System, and Computer-Integrated Manufacturing

9 06 2009

Bisa dibilang adalah buku wajib seorang industrial engineer, terutama dengan konsentrasi mengarah ke production engineering. Pengarang adalah seorang Profesor of Industrial And Systems Engineering dari Lehigh University. Mikell P Groover. Penerbit adalah Pearson di tahun 2008, dan buku sudah masuk di edisi ketiga.

grooverPada awalan dan Bab 1 buku ini, penulis mencoba memberikan gambaran dan definisi secara umum apa itu sistem produksi dan sistem manufaktur. Bab 2 akan mencoba mendetailkan penjelasan apa itu sistem manufaktur. Selanjutnya adalah bahasan yang cukup menarik di keilmuan Teknik Industri, yakni Otomasi dan Teknologi kontrol (termasuk di dalamnya menjabarkan mengenai CAD/CAM). Sistem manufaktur tak mungkin lepas dari sistem Material handling. Oleh karena itu penulis juga membuat bab khusus untuk memberikan contoh-contoh konsep dan riil mengenai hal tersebut. Pada bagian akhir, terdapat penjelasan mengenai Pengendalian Kualitas (Quality Control) di sistem manufaktur apa saja yang termasuk dalam jenis Manufacturing Support System.

Edisi pertama buku ini sebenarnya terbitan 1980 ketika jurusan atau prodi Teknik Industri belum begitu banyak di Indonesia, masih bisa dihitung dengan jari tangan seseorang. Prof.Groover menjelaskan bahwa istilah manufactur berasal dari bahasa latin. Yakni tersusun atas dua kata; Manus (hand) dan factus (make). Sejarahnya berawal di negera Inddris pada tahun 1567 (halaman 41). Muncul istilah tersebut dari perusahaan handycraft. Perkembangan manufaktur memang tidak bisa terlepas dari sistem produksi. Karena sistem manufaktur mempunyai cakupan yang lebih luas daripada hanya sistem produksi. Dan pengelolaan sistem produksi seharusnya bukan melulu masalah ’ilmu manajeman’. Itu saja dirasa tidak cukup. Karena yang lebih baik adalah dengan pendekatan sistemik dan pembuatan model.

Di halaman 206 terdapat istilah-istilah yang disebut Common G-words (preparatory word). Ini adalah istilah permesinan yang digunakan untuk CAD-DAM. Formulasi-formulasi seperti G92 X0 Y-050.0 Z010.0 banyak dicontoh penulis mengenai bagaimana pengembangan dan aplikasinya. Dan rumusan model tersebut salah satuya dapat diterapkan di mesin CNC. Berikut adalah gambar yang menjelaskan mesin CNC secara umum. 

gambar 14.5Di Indonesia, keilmuan industrial robotik belum begitu banyak. Walaupun kontes robot telah manjamur tetapi yang khusus pada pengembangan robot untuk keperluan industri belum menampakkan hasil signifikan. Di Bab 8, penulis menceritaka contoh-contoh dan aplikasi industrial robotic dan ada pula sejarah mengenai numerical control. Berikut adalah contoh gambar industrial truck di halaman 296-297.

296

^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^

297

Serta gambar crane and hoist di halaman 310.

310^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^

gambar 10.12

Topik sistem penyimpanan atau storage system berkaitan erat dengan otomasi.

339

^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^

gambar 11.5

Sistem perakitan juga tak lepas dari proses otomasisasi, apalagi menuju era teknologi saat ini. Berikut adalah gambar yang menunjukkan tipe sistem perakitan otomatis di halaman 499.

gambar 17.1

Sebenarnya rasanya tak cukup dan lucu jika buku engineering bisa dikupas hanya pada resensi buku untuk menggambarkan isinya dengan baik. Karena buku ini kaya akan model dan rumus matematis. Khususnya bermanfaat untuk pengembangan keilmuan teknik industri.





Sikap Kerja 5 S

4 06 2009

Budaya bangsa memang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Bahkan kedaulatannya. Bagaimana budaya itu tumbuh dan berkembang akan mencerminkan apakah budaya itu benar-benar menjadi sebuah kepribadian bangsa. Budaya orang Jepang memang terkenal sangat disiplin. Termasuk di dunia kerja. Sehingga istilah ‘sikap kerja 5 S’ sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi para pekerja di sana, bahkan pelajar/mahasiswa yang memang sedang belajar mengenai budaya kerja di sana.

5sAdalah seorang bernama Takashi Osada. Seorang direktur pada Institute of Productive di Nagoya Jepang. Dia menerbitkan buku yang kurang lebih memaparkan sedikit konsepsi apa itu sikap kerja 5 S. Buku yang sebenanya sudah cukup lama, terbitan tahun 2000, tetapi isi atau konten di dalamnya masih bagus menjadi rujukan landasan teori. Meskipun buku ini adalah terjemahan.

Landasan filosofis 5 S pada mulanya dirancang untuk menghilangkan pemborosan. Sehingga tercipta utilitas tinggi yang menopang pula tingginya produktivitas. Efisien dan efektif sudah pasti tercipta. Landasan 5 S bisa dibilang sangat filosofis karena mengandung arti atau makna mendalam di setiap istilah kata. Beberapa istilah Jepang lain dalam dunia kerja yang selama ini dikenal yakni Kaizen (penyempurnaan berkesinambungan dengan proses yang sedikit demi sedikit), sistem Kanban, hingga konsep ideal zero inventory yang menciptakan just in time. Istilah-istilah tersebut juga mempunyai keterkaitan dengan sikap kerja 5 S. Sikap kerja ini bisa diterapkan di mana saja, misalnya di kantor (office), lantai produksi bahkan gudang bahan baku. Tetapi juga tidak menjadi masalah ketika sikap kerja ini diaplikasikan dalam kehidupan pribadi secara umum. Penulis memang kurang menjelaskan detail dari mana istilah dalam 5 S itu lahir dan terbentuk. Tetapi cukup detail dalam memberikan gambaran dan contoh nyata.

Seiri

5s2Artinya pemilahan. Seorang profesor dari universitas Kyoto bernama Yuji Aida mendefinisikan sebagai ‘seni membuang. Mengapa? Karena dengan adanya pemilahan maka barang-barang yang tidak terpakai akan terdefinisi dan menjadi tidak terpakai atau dengan kata lain sudah menjadi sampah. Metode lain yang dipaparkan dalam sikap kerja ini sebagai rujukan yakni Diagram Pareto (pencetus adalah Vilfredo Pareto) dan metode KJ (pencetus adalah Jiro Kawakita).

Seiton

Artinya penataan. Contoh sederhananya dengan memberi label barang pada waktu seorang sekretaris menata inventaris kantor.

Seiso

Artinya adalah pembersihan. Membersihkan berarti memeriksa. Misalnya seorang pekerja gudang logistik finished goods yang sedang beres-beres membersihkan sampah ketika loading dan unloading, maka pekerja tersebut harus pula mengecek atau memeriksa jangan sampai barang yang seharusnya masuk ke gudang secara tidak sengaja terbuang dengan percuma.

Seiketsu

Artinya adalah pemantapan. Sikap ini berawal dari pemeliharaan dan pengendalian. Dengan adanya pemeliharaan yang berkelanjutan dan diiringi kontrol atau kendali terhadap sikap kerja, maka seorang pekerja akan mantap dalam bekerja.

Shiketsu

Artinya adalah pembiasaan. Praktek adalah pembelajaran yang paling baik dalam bekerja adalah learning by doing. Dan hal itu akan tercipta bukan hanya setelah kemantapan tetapi setelah dilakukan berulang-ulang. Dengan adanya pembiasaan.

Memang terlihat sangat sederhana. Jika dicontohkan di Indonesia maka akan seperti membiasakan membuang sampah di tempatnya, menata rak buku dan lain sebagainya. Tetapi pelajaran yang bisa dipetik dari kebudayaan sikap kerja Jepang ini adalah bangsa Jepang sangat memperhatikan detail dalam berkerja dan sungguh-sungguh. Ada nilai-nilai lain yang dibina dan diterapkan secara menyeluruh sehingga budaya bangsa tercerminkan. Kelima sikap kerja ini sebenarnya merupakan sebuah kesatuan yang tak terelakkan. Apabila benar-benar dijadikan sebuah sikap yang memunculkan kepribadian dan jati diri sebagai orang yang berkeja penuh profesionalitas.





Managing Information Technology

22 05 2009

mIT2

Mempelajari text book dari luar (terbitan asing, bukan dalam negri) serasa menyenangkan sebenarnya. Bukan karena tidak suka produk dalam negri. Tetapi para pakar itu terkadang bisa menjelaskan (baca : benar-benar menjadi guru) dengan bagus. Mulai dari filosofis maksud konten meteri dari buku yang ditulis, maupun penejlasan teknis dengan contoh. Yang jelas menjadi kekurangan adalah karena basic penelitian mereka dilakukan di sana. Jadi terkadang ada beberapa contoh yang kurang pas diterapkan di Indonesia. Memang text book asli khas Indonesia yang berbobot mengenai materi-materi perkuliahan belum begitu banyak secara umum.

Buku ini membahas mengenai pengelolaan teknologi informasi. Apa itu definisi teknologi informasi dan apakah sama dengan sistem informasi. Ditulis oleh E. Wainright Martin et all (Prentice Hall, cetakan pertama tahun 1999). Dalam sebuah pengantar di Bab I penulis menceritakan asal mula komputer pertama. Dikatakan bahwa komputer pertama tahun 1946 bernama ENIAC (Electric Numerical International Computer), yang diprakarsai oleh Dr. John W. Manlchy & J. Presper (dari Moore School Electrical Engineering; Univ. Pennsylvania). Buku ini memang terbitan lama, tetapi cukup bagus dalam runtutan ceritanya. Karena setelah penulis bercerita mengenai sejarah dan jenis-jenis gambaran apa saja teknologi informasi, maka selanjutnya dipaparkan mengenai sistem informasi manajemen. Bermula dari pendefinisian apa itu sistem. “System is a set of interrelated components that must work together to achieve some common purpose (page 272).” Berikut adalah gambar betapa jeleknya sebuah sistem yang diciptakan oleh seorang designer rumah. Gambar yang lucu dan menarik.

mIT

enulis menuntun pula bagaimana menggambarkan membuat wide concept sebuah sistem informasi manajemen. Basic model sebuah information system secara umum adalah :

mTi3

Ada beberapa notasi dasar untuk pembuatan model (model jenis visual). Dicontoh dibawah ini sistem persediaan sederhana untuk barang jadi. Ada notasi untuk penyimpanan (storage), aliran data, proses/aktivitas dan entitas.mIT3Model atau teknologi baru untuk jenis teknologi informasi diramalkan oleh penulis akan terus berkembang. Lihat saja dengan perkembangan dari jenis seperti Electronic Data Interchange (EDI), internet, sampai Enterprise Resources Planning (ERP).





Teori Organisasi

12 05 2009

Organisasi bukan sekadar kumpulan orang dalam kelompok atau jamaah tertentu. Tetapi organisasi mempunyai dua atribut inti yakni sekumpulan orang dan sistem. Sistem adalah kesatuan nilai integral yang dianut dan dipatuhi untuk dijalani bersama agar mencapai tujuan bersama (bukan sekadar tujuan yang sama).

Sebenarnya texxt book mengenai bahasan apa itu organisasi dan seluk beluknya amatlah banyak. Baik terbitan luar negri maupun karangan lokal sudah sedemikian banyaknya. Ilmu yang spesifik menyebut ‘organisasi’ memang baru hangat dituangkan dalam bentuk tulisan dan diperbincangkan semenjak satu hingga dua abad lalu. Walaupun sebenarnya ketika penciptaan manusia telah menuntut kehidupan sosial, organisasi telah ada. Mungkin pada abad pertengahan, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain yang seolah sengaja ditenggelamkan oleh pihak barat, ilmu ‘organisasi’ telah eksis.

tOrganisasi

Belajar mengenai organisasi secara utuh bagi mahasiswa atau kalangan terpelajar laiannya; mulai dari hakikat dasar organisasi, struktur, desain hingga aplikasinya; rasanya kurang lengkap tanpa menyebut text book yang satu ini. Buku karangan ahli manajemen dan organisasi; Stephen P. Robbins. Staf pengajar di San Diego University ini sebenarnya telah menerbitkan buku dengan judul asli “Organizaion Theory; Structure, Design & Application” semenjak tahun 1983. Pertama kali terbitan Prentice Hall. Akan tetapi baru tahun 1994 oleh penerbit Arcan Jakarta diterjemahkan oleh Jusuf Udaya, dengan judul dalam bahasa Indonesia; Teori Organisasi; Struktur, Desain dan Aplikasi.

Disajikan dalam 4 bab utama. Bab pertama menyajikan cerita di balik pengertian organisasi. Selanjutnya membahas apa penyebab struktur atau kata lainnya adalah skema. Di bab 3 dipaparkan mengenai konsep desain atau bagaimana merancang organisasi. Dan yang terakhir diceriterakan masalah kontemporer seputar organisasi dan permasalahannya. Misalnya komunikasi sampai konflik organisasi.

Organsasi menurut penulis lebih banyak dikaji secara ilmu administratif. Itulah awal mula pembahasan organisasi menurut penulis. Walaupun saat ini, apalagi memasuki era globalisasi dan teknologi informasi, organisasi bukan hanya dikaji dalam takaran ilmu administratif tetapi telah menjangkau semua lini pembelajaran dan lintas ilmu. Stephen memulai penggambaran organisasi dengan sebuah cerita. Yang diberi judul “Celestical Seasoning”. Ia bercerita mengenai sepasang suami istri yang pada tahun 1971 di Amerika Serikat memulai berjualan obat-obatan dari tanaman. Diracik sendiri. Sepasang suami istri tersebut bernama Mio Siegel dan John. Dari mulai bisnis yang ditangani sendiri, hingga ternyata berkembang pesat. Tak pelak membutuhkan bukan beberapa orang tambahan pekerja, tetapi struktur yang jelas mengenai pembagian kerja. Dari situlah dikenalkan bagaimana organisasi terbentuk dan apa hakikat organisasi.

Seperti telah dipaparkan tadi bahwa organisasi terbentuk atas dua komponen utama, yakni orang dan sistem. Dua hal yang saling terikat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Penulis menyebut teori organisasi berbeda dengan ‘Perilaku Organisasi’ (PO). PO lebih menekankan pada bahasan perilaku dan interaksi orang-orang di dalamnya secara mikro. Stephen tak lupa merangkum teori awal organisasi dan perkembangannya. Mulai dari ‘sistem tertutup’ yang dianut organisasi pada abad 18-19, manajemen audit, cerita mengenai F. Taylor hingga Miles & Soagan. Stephen bukan hanya memaparkan teori struktur organisasi yang dikemukakan oleh Mintzberg (Sederhana, Birokrasi Profesional, Mesin Birokrasi, Divisi dan Adokrasi), tetapi juga mengemukakan bahasan baru. Ada 3 jenis struktur yang utama, yakni sentralisasi, formalitas dan kompleksitas. 3 variabel tersebut yang menjadi pembeda. Dikatakan pula bahwa penyebab terjadinya struktur dalam perspektif industrialisasi bermula dari proses industri, kemudian menjadi strategi dan berakhir pada pembuatan struktur organisasi. Jika dikaitkan dengan perkembangan ilmu yang lebih relevan saat ini, maka istilah yang cukup mendekati untuk mewakili ‘strategi’ adalah ‘proses bisnis’.

Organisasi terus berkembang. Baik menuju perubahan maupun malah terpuruk. Terlepas dari itu semua, penulis membadi model perubahan organisasi menjadi dua jenis. Yakni model yang direncanakan dan yang terjadi begitu saja. Dalam perubahan itu pula; lebih tepat diistilahkan dengan perkembangan; ada konflik-konflik yang terjadi. Ada dua perspektif yang berbeda dalam memandang konflik. Yakni sebagai sebuah proses yang jelek, atau justru mengubahnya menjadi tantangan tersendiri yang harus diselesaikan. Berikut adalah bagan yang mencoba mewakili perkembangan organisasi menuju proses tumbuh. Dapat dianalogikan menjadi sebuah life cycle dari organisasi.

tOrganisasi2Secara umum, ada 5 tahap krisisyang dialamai organisasi. Dan semuanya bukan merupakan proses yang secara utuh harus ada dan berurutan. Tetapi bisa berulang dan berkurang. Teori perkembangan dalam bagan di atas sampai saat ini masih cukup relevan.





Toyota Talent

22 04 2009

toyotatelentJudul asli : The Toyota Talent. Developing Your People The Toyota Way

Pengarang : Jeffrey K. Liker (Dosen Operation Research and Industrial Engineering di Michigan University) dan David Meier (Seorang konsultan dan pernah menjadi Group Leader selama 10 tahun di Toyota).

Diterjemahkan oleh Rizki Tri Martono, Psi, dengan judul terjemahan bahasi Indonesia mejadi “The Toyota Talent”, Mengembangkan SDM (Sumber Daya Manusia) Anda Ala Toyota.merupakan terbitan ESENSI, bagian dari Penerbit Erlangga. Bekerjasama dengan penerbit buku asli dari McGraw-Hill. Terbitan buku asli tahun 2007. Terjemahan dalam bahasa Indonesia baru diterbitkan setahun kemudian. Kedua penulis buku ini adalah pernah menulis buku mengenai Toyota sebelumnya. Awalnya tahun 2003, ketika Jeffry K. Liker menulis buku yang sempat laris manis di pasaran. Yakni The Toyota Way. Dimana dipaparkan dua prinsip utama kesuksesan raksasa otomotif Toyota yakni continuous improvement dan respect to the other people. Selanjutnya Jeffry bekerjasama dengan Meier menulis buku lagi mengenai Toyota, kali ini berjudul Toyota Way Fieldbook. Yang lebih banyak bercerita mengenai Toyota Production System, istilah sistem produksi di Toyota.

Dalam buku ini, sebagaimana buku-buku mengenai Toyota sebelumnya, tidak hanya berusaha mengeksplorasi raksasa Toyota di sau negara saja. Misalnya di Jepang atau Indonesia saja. Tetapi lebih universal. Karena formula, kisah dan aspek teknis mengenai kisah sukses pengembangan SDM ala Toyota berusaha dipaparkan lebih general (walaupun ada batas-batas di mana ‘formula khusus’ kesuksesan secara teknis tidak diperoleh semua, karena tentu saja ada bagaian dimana hal tersebut adalah rahasia perusahaan yang tidak boleh diketahui pihak luar).

Tidak ada basa-basi kisah sejarah Toyota yang bermula dari Jepang. Tetapi langsung memaparkan ke inti yang dibahas yakni bagaimana car amembangun SDM yang kokoh. Tidak pula diceriterakan mengenai kiat-kiat agar Toyota tetap eksis di tengah krisis global. Karena ketika buku ini diterbitkan gelombang krisis karena ulah kapitalisme Amerika Serikat belum begitu kentara. Bila dilihat daftar isinya, ada 4 bab atau bagian yang disajikan. Dan semuanya menggambarkan urutan atau flowchart yang diterapkan di Toyota mengenai bagaimana membangun SDM ala Toyota. Bagian satu bercerita banyak mengenai kesiapan dan prinsip Toyota dalam memulai mengembangkan orang-orang yang luar biasa. Bagian dua dijelaskan mengenai identifikasi pengetahuan vital, instruksi kerja dan contoh-contoh bagaimana menguraikan perkerjaan. Bagian tiga diisi dengan bagaimana mentransfer ilmu kepada siswa didik, dan ditutup di bagian terakhir dengan paparan bagaiman implementasi dan evaluasi SDM.

Salah satu filosofi yang dipegang kuat mengenai SDM di Toyota adalah bahwa seorang pemimpin haru smenjadi guru. Komitmen Toyota terhadap pendidikan dan pengembagan tidak hanya bersifat internal perusahaan. Tetapi juga ke pihak luar, dibuktikan dengan pendirian pusat pelatihan formal di University of Toyota di California, Global Production Support Center di Kentucky, Toyota Institute di Jepang, dan Toyota Academy di Inggris. Jika ada pertanyaan apa salah satu kunci sukses Toyota dalam hal SDM, maka jawaban yang tepat menurut penulis karena orang-orang hebat di perusahaan didukung oleh sebuah sistem yang memandatkan kebutuhan akan bakat. Kunci yang sederhana sebenarnya. Normatif keilmuan SDM, tetapi Toyota berhasil mengekstraknya menjadi komponen teknis yang mudah dipahami, dapat dilaksanakan, terbukti dan teruji.

Filosofi pelatihan dan pengembangan dalam Toyota “Kami tidak hanya membangun mobil, kami membangun orang”. Memang sangat dahsyat ketika orang hasil didikan pelatihan Toyota sangat teruji. Tetapi di sisi lain ada imbas kecil seperti kemungkinan seorang karyawan ”dibajak” perusahaan sejenis. Karena ”nilai jualnya” sudah lumayan tinggi. Hal yang lumrah di kancah perusahaan global saat ini, apalagi untuk posisi-posisi manajemen menengah ke atas.

Penulis memberikan contoh pertanyaan untuk wawancara penilaian kebutuhan karyawan Toyota di bagian satu. Selan pula sedikit disinggung mengenai bakat apa yang harus dimiliki untuk menjadi trainer di Toyota. Salah satu ’gebrakan’ yang terbukti dan terimplementasi dengan baik yakni semua pekerjaan terstandarisasi sesuai instruksi kerja (IK). Berikut adalah model manajemen leas sistem SDM Toyota (hal.31).

toyotalent1

Tak lupa penulis menghadirkan contoh form-form penilain kerja dan evaluasi pelatihan kerja. Sebagai sebuah rujukan untuk mendefinisikan dan mengelola training menjadi lebih baik. Dan di bagian bab akhir, sedikti disinggung pula menganai bagaimana menjadi trainer yang baik untuk mendidik siswa.

Buku yang cocok untuk orang-orang yang duduk di posisi HRD (Human Resources Development) dan seorang trainer.