Manajemen Zakat

25 08 2009

Mungkin langsung akan terlintas bahwa penulis buku ini mempunyai latar pendidikan kental dengan pondok pesantren atau perguruan tinggi islam. Tetapi itu agak meleset. Penulis adalah salah satu orang tersohor di Indonesia. Di bidang zakat tentunya. Punya latar belakang kuliah S1 di Arkeologi UI. Dia adalah Eri Sudewo. Salah satu perintis Dompet Dhuafa Republika (DD). Penulis memang pernah bekerja di Badan Arkeolog, karena background keilmuannya itu. Tetapi juga pernah merangkap bekerja di bisnis media. Dan alhasil pada tahun 1993, penulis terlibat dalam melahirkan DD.

m zaktMungkin ini adalah buku pertama di Indonesia yang membahas mengenai seluk beluk pengelolaan zakat di sebuah organisasi nirlaba. Dan mungkin dengan dasar itulah diberi judul “Manajemen Zakat”. Bukan mengupas lebih dalam mengenai zakat kontemporer dalam sudut pandang fiqih dan penerapannya di dunia modern saat ini. Tetapi pengelolaan zakat di sebuah lembaga atau organisasi. Tentu saja dengan sejarahnya.

Buku ini memupunyai judul  “Manajemen Zakat, Tinggalkan 15 Tradisi Terapkan 4 Prinsip Dasar”. Penerbit Institut Manajemen Zakat (IMZ) Jakarta pada tahun 2004. sudah cukup lama. Tapi tetap menarik dibaca. Karena seperti diungkapkan di awal tadi bahwa jarang-jarang buku seperti ini. Di dalamnya juga tidak melulu bercerita secara teoritis. Tetapi diliputi pula oleh cerita-cerita di balik kesuksesan pembangunan lembaga DD. Dengan beragam kenangan baik maupun yang kadang lucu bahkan bercitra negatif. Tak lupa penulis kadang menyelipkan beberapa kata-kata bijak di setiap bab-nya.

Membaca buku ini, langsung disuguhi oleh pengatar atau kata sambutan dari lima orang penulis dan professional di bidangnya. Yakni sang maestro pemasaran Hermawan K, ahli manajemen Dr. Rhenald K, Akademisi Prof. Azyumardi A, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Prof. Didin H, dan penulis berbagai buku mengenai ekonomi syariah Adiwarman A.Karim. Semua kata pengantar memiliki petuah dan sudut pandang yang berbeda-beda sesuai bidang keilmuannya.

Selama ini memang masalah pengelolaan zakat dalam sudut pandang hukum negara Indonesia belum tertata dengan baik. Jika diambil sudut pandang dari ranah hukum, tentu UU zakat yang akan dipermasalahkan dan perlu ditinjau kembali. Dan jika dilihat lebih ke arah operasional, maka banyak sekali permasalahn teknis berkaitan dengan lembaga pengelola zakat. Permasalahan yang diangkat penulis, mengungkapkan ada 15 tradisi yang menyebabkan kesulitan perkembangan. Yakni : anggap sepele, kelas 2, tanpa manajemen, tanpa perencanaan, struktur organisasi tumpang tindih, tanpa fit and proper test, kaburnya batasan, ikhlas tanpa imbalan, dikelola paruh waktu, lemahnya SDM, bukan pilihan, lemahnya kreativitas, tak ada monitoring dan evaluasi, tak disiplin dan kepanitiaan. Sehingga penulis menawarkan solusi 4 prinsip dasar; prinsip rukun islam, prinsip moral, prinsip lembaga dan prinsip manajemen.

Pada intinya penulis ingin bahwa pengelolaan zakat oleh lembaga nirlaba atau sekarnag lebih sering memakai istilah lazis, bisa memberikan kemanfaatan lebih. Bukan hanya sebagai lembaga yang asal-asalan dibuat tanpa manajemen dan dibuat hanya untuk semata charity. Tetapi semua itu adalah sebuah nilai profesionalisme. Dan paradigma baru seperti ini memang tidak mudah dan butuh waktu untuk menerapkannya di benak masyarakat banyak.

Tumpang tindih yang terjadi secara struktural mengenai kelambagaan zakat secara nasional juga sedikit disingguh di sini. Kemudian tak lupa salah satu hal yang penting dalam hal pengelolaan dana zakat adalah masalah distribusi. Dimana terdapat berbagai cara atau program kegiatan untuk mendistribusikan zakat. Mulai dari cara konvensional bisa untuk penyaluran sesuatu yang bersifat konsumtif, sekali pakai habis. Sampai cara penyaluran dengan pendayagunaan. Sesuatu yang bermanfaat untuk jangka panjang. Sehingga seseorang yang termasuk golongan mustahiq (golongan yang berhak menerima zakat, 8 asnaf) bisa meningkat menjadi muzaki (donator).





Sistem Teknologi Informasi

20 08 2009

Apa bedanya Sistem Informasi Manajemen (SIM) dengan Sistem Teknologi Informasi (STI)? Buku ini akan menjawabnya. Buku karangan professor Jogiyanto Dosen Tetap UGM yang satu ini banyak mengupas perbedaaanya. Buku yang ditulis beliau telah terbit pertama tahun 2003 oleh Andi Jogja tetapi telah mencapai edisi ketiga saat ini.

stiDimulai dari daftar pustaka, beliau mencoba menuturkan secara runtut konsep teknologi informasi. Dimulai dari terminologi kata STI sampai hal teknis menyangkut software dan hardware. Ditinjau dari ilmu peristilahan kata atau terminologi kata, sebenarnya SIM dan STI tidak berbeda jauh dari segi konsep, bahkan takaran operasional. Lebih banyak bisa diartikan bahwa penulis ingin menambah wacana keilmuan mengenai SIM. Jika menilik pada bagian atau bab 1 terlihat perbedaan antara SIM dan STI; STI merupakan sebuah konsepsi yang lebih besar daripada SIM. Artinya di dalam STI terdapat unsur SIM. Padahal jika membaca buku lebih lanjut, tidak banyak perbedaan dengan buku SIM pada umumnya. Hanya saja seperti tadi telah dipaparkan, penulis mencoba membuat atau menambah khasanah keilmuan baru dengan teminologi yang sedikit diperluas. Beberapa tambahan atau perbedaan dengan buku mengenai SIM pada umumnya adalah pada penjelasan mengenai konsep teknologi lebih banyak dan istilah-istilah yang berhubungan dengan teknologi juga dipaparkan penulis, setelah pembahsan setiap bab. Dilengkapi pula dengan pertanyaan latihan. Karena memang konsep buku ini dikembangkan oleh penulis lebih untuk persiapan materi perkuliahan. Terlihat di bagian depan buku (kata pengantar) mengenai susunan pertemuan kuliah.

Tetap saja siklus pengolahan data berikut ini nampak pada semua buku yang berhubungan dengan sistem informasi. Ya, karena konsep dasar ini selalu terpakai. Pembuatan sisten informasi selalu terdapat pemodelan dan melibatkan basis data di dalamnya. Kumpulan data. Data yang diolah sehingga memberikan kemanfaatan akan menjadi informasi.

sim

Setelah terminologi istilah STI dibahas, penulis memaparkan terlebih dahulu mengenai teknologi sistem computer (perangkat keras), software sampai pada bahasa pemrograman seperti FORTRAN, BASIC, dan COBOL. Tak lupa mengenai jaringan dan protokol. Kemudian menuju ke bab selanjutnya, penulis membeberkan mengenai aplikasi system informasi di berbagai aspek atau bidang. Seperti system informasi akuntansi, pemasaran, produksi, sumber daya manusia, keuangan dan konsep besar ERP (Enterprise Resource Planning). Aplikasi sistem informasi lain yang cukup terkini juga tak luput dibahas. Jika pada buku mengenai SIM yang ditulis oleh penulis yang sama lebih banyak memaparkan jenis sistem informasi yang termasuk jenis SIM, maka pada buku ini tidak hanya itu. Selain DSS, sistem pakar, neural artificial, sistem informasi geografis, sistem informasi eksekutif dan aplikasi kantor (Office Automation System) juga tak lupa dipaparkan.

Bias dibilang karena saking cukup lengkapnya buku ini, penulis juga mencoba sedikit mengungkapkan metode ilmiah pengembangan SIM. Yang pertama diutarakan adalah jenis SDLC (System Life Development Life Cysle). Kemudian metode-metode lain sebagai wacana tambahan; prototyping, outsourcing dan masih banyak lagi. Dan di akhir bab, ada mengenai etika dan politik dalam sistem informasi. Suatu hal yang kadang dianggap sepele tetapi justru terkadang berfungsi sebagi kunci pengembangan sebuah sistem informasi di perusahaan atau organisasi pada umumnya. Maksud dari penjelasan etika misalnya penjelasan permasalahan seperti privasi, kepemilikan intelektual, kemanan (security) dan lain-lain.

Secara umum, buku ini sangat bagus sebagai referensi bagi pelajar, mahasiswa (ekonomi, teknik, sosial, hukum) atau kalangan praktisi yang berminat mengenai sistem informasi.





Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pembangunan Bangsa

4 08 2009

Sebenarnya ini buku lama. Terbitan tahun 1995 oleh CIDES (Center for Information and Development Studies) dengan pengarang B. J. Habibie. Sudah bisa ditebak bahwa dari judul dan pengarangnya, buku ini akan membahas mengenai teknologi dan seputarnya. Tetapi bukan pada takaran teknis, melainkan lebih banyak membahasa strategi. Terlepas dari semua permasalahan politik dan kenegaraan yang membelit beliau, serta umur terbitan buku ini yang sudah lebih dari 10 tahun lalu, sebenarnya masih banyak pemikiran-pemikiran beliau yang layak disimak. Dan sampai sekarang masih layak disimak dan dijadikan kajian bersama untuk pembangunan bangsa (sesuai judul bukunya). Buku ini ditulis beliau pada waktu menjabat menristek dan beberapa jabatan penting kenegaraan lain. Dan secara tersirat bisa terlihat bahwa masih banyak ide-ide pemikiran beliau yang mungkin belum terlaksana sesuai keinginan beliau pada waktu itu hingga sekarang. Ide mengenai masalah teknologi, ekonomi dan pendidikan bangsa.

iptek habiebieYang disoroti pada bagian pertama adalah mengenai pembangunan bangsa. Menurut beliau, pembangunan harus dilakukan dengan orientasi nilai tambah dan menggunakan basis teknologi serta sumber daya manusia. Ini ditekankan di awal buku mungkin karena beliau mempunyai pemikiran bahwa perlu ditekankan terhadap penghargaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Bahwa peningkatan kekayaan dan kemakmuran berakar pada peningkatan produktivitas, dan bahwa kunci bagi produktivitas adalah ilmu pengetahuan dan rekayasa. Berikut adalah beberapa kutipan :

Bila kita bericara tentang teknologi canggih, bukan teknologi canggih yang kita kejar. Salah kalau dikira bahwa saya seorang insinyur kebetulan ahli konstruksi pesawat terbang hanya cinta teknologi canggih. Karena itu, apakah lantas hanya teknologi canggih yang ingin dikembangkan, dan hanya itu yang didasari untuk pembangunan bangsa? Itu tidak benar, yang saya sasari adalah proses nilai tambah, proses nilai tambah dari materi yang harganya rendah, dengan segala ketrampilan dengan usaha dari manusia, bisa dijadikan produk yang nilainya lebih tinggi, itu proses nilai tambah.

Atau dengan perkataan lain memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang tepat dan berguna tanpa memilih apakah itu canggih atau tidak canggih yang lebih penting bahwa teknologi yang tepat dan berguna itu dapat dimanfaatkan untuk proses nilai tambah, dapat mengubah materi itu dengan cepat untuk mendapatkan nilai yang setinggi-tingginya dengan mengontrol kualitas, biaya, dan jadwal secara terus-menerus agar produksi lancar jalannya.

Itulah pentingnya nilai tambah. Begini diilustrasikan sederhana oleh beliau mengenai bagaimana memahami arti sebuah nilai tambah (added value). Jika sebuah produksi celana jeans dilakukan, maka teknologi dan nilai yang dihasilkan cukup rendah jika dinilai dalam kerangka sebuah bangsa. Dan persaingan di pasar pun sudah banyak. Sehingga mudah tergusur. Berbeda dengan produksi pesawat terbagng atau satelit. Tidak banyak yang membuat dan teknologinya canggih. Nilai tambah yang dihasilkan tentu lebih baik. Mengenai contoh teknologi, beliau mencontohkan IPTN pada waktu itu.

Sebenarnya bukan hanya iptek saja, tetapi ada unsur lain yakni sumber daya manusia (SDM) yang perlu dibangun. Beliau sempat mengutarakan dalam buku bahwa membangun teknologi canggih dan SDM yang baik bukanlah upaa yang tidak mungkin di Indonesia, terbukti dengan IPTN waktu itu. Masyarakat membutuhkan dua hal, yakni sekolah sebagai proses penciptaan nilai tambah untuk SDM, dan industri atau perusahaan sebagai tempat melaksanakan proses tambah dan biaya tambah. Penekakan beliau bahwa jika seseorang telah sekolah tinggi dan bekerja di sebuah instansi, maka dia tidak boleh hanya mengendalkan gelarnya lantas tidak berbuat banyak untuk kepentingan bangsa. Tetapi harus memberikan andil terhadap nilai tambah kemakmuran bangsa.

Ada sebuah cerita yang dipaparkan. Berpijak pada kebijakan negara maju seperti Jepang. Pada awalnya mereka benar-benar mandiri dan sampai sekarag. Segala kebutuhan domestik di-supply semua oleh industri domestik. Tidak diperkenankan produk-produk domestik digusur oleh produk dari luar. Ketika produk-produk domestik telah mencapai kapasitas produksi yang bisa diekspor, maka dilakukan ekspansi ke luar. Sebagai contoh ketika produk Jepang baik Toyota atau Honda atau Nissan dibuat untuk pasaran dalam negri sendiri, pasar Jepang ditutup, semua tidak boleh masuk. Lalau kenapa kenapa pasar kita masih mau direbut orang lain? Dengan dalih lapangan kerja untuk anak cucku kelak, mengepa pasar itu masih diserahkan dengan mudahnya oleh asing?

Falsafah kerja ilmuwan. Di negara ini sudah menjadi rahasia umum bahwa profesi peneliti masih bisa dikatakan jarang. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa apresiasi terhadap hasil penelitian kurang, terbukti dengan banyak yang mengatakan sebagian peneliti Indonesia memliih kerja di luar karena masalah gaji. Penulis juga menyinggung masalah ilmuwan ini. Beliau mengetakan sesungguhnya peneliti atau ilmuwan memepunyai posisi penting dalam sosial budaya kemasyarakatan, walaupun kadang tidak secara langsung. Perannya adalah sebagai agent of social change. Lihat saja ketika ada penemuan teknologi baru misalnya, maka budaya konsumsi masyarakat terhadap teknologi tersebut akan mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat secara lambat laun.

Peranan pendidikan dipandang penulis sangat besar. Universitas adalah tempat yang paling cocok untuk mendidik sarjana baru agar mudah diserap pasar. Sampai saat ini pun, masalah penyerapan tenaga kerja di lapangan masih sering dipertanyakan. Mungkin seringnya negara ini mungkin terlalu berpijak pada negara barat. Dengan dalih mengikuti standar internasional atau apapun itu, kepentingan internal pendidikan yang termarjinalkan kadang terabaikan. Semntara banyak anak putus sekolah da menjadi gelandangan, sekolah yang katanya ingin bertarafi internaisonal atau semacamnya mulai dirintis. Ini pembangunan tidak merata atau sekadar gengsi?

Terakhir, yang ingin dikutip dari buku ini adalah pernyataan beliau mengenai pembangunan teknologi tepat guna dan pembangunan teknologi pedesaan.

Dalam keadaan mendesaknya masalah-masalah kehidupan konkrit yang dihadapi bagian dunia yang masih terbelakang, tidak banyak gunanya menggolong-golongkan teknologi ke dalam ”teknologi sederhana” dan ”teknologi tinggi”. Jauh lebih berguna mempertanyakan teknologi manakah yang dapat memecahkan suatu masalah yang konkrit, tanpa memperdulikan apakah teknologi yang tepat itu adalah teknologi primitif, menengah atau canggih, dan tanpa mempersoalkan dimana teknologi tersebut pertama kali dikembangkan.





Metode Penelitian Bisnis

29 06 2009

Penulis : Prof. Sugiyono (UNY)

Penerbit : Alfabeta, Bandung

Tahun Terbit : 2008

Tebal halaman : 540-xx

metopelSebenarnya Prof.Sugiyono telah menulis banyak sekali buku mengenai penelitian. Karena memang konsentrasi keilmuan Beliau mengenai hal itu. Salah satu buku terdahulunya adalah :Metode Penelitian Administrasi, 2004”. Buku yang berjudul “Metode Penelitian Bisnis” ini saja merupakan cetakan yang kesebelas.

Ketika penelitian ilmiah mulai disoroti tajam akhir-akhir ini, salah satu pemicunya dengan melihat fenomena banyaknya lembaga-lembaga survey, maka salah satu komponen dalam penelitian yang makin diperhatikan dengan jeli adalah state of the art. Apa itu? Yakni penelusuran secara ilmiah mengenai keterkaitan dengan sumber referensi penelitian yang terdahulu. Penelitian yang dibahas di sini lebih diartikan secara ilmiah. Yakni penelitian terstruktur dan berdasarkan bahan-bahan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi bukan melulu mengenai penelitian di institusi pendidikan (skripsi, tesis dan disertasi), tetapi juga meliputi penelitian bisnis (penilitian di perusahaan, survey, dll). Penulis memberikan pengertian secara jelas sebagai berikut; metode penelitian bisnis dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid degan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah dalam bidang bisnis.

Penulis mencoba memaparkan bahwa dalam buku ini berisi tiga pendekatan, yakni kuantitatif, kualitatif dan R&D (research and development). Di bagian daftar isi juga terlihat jelas pemisahannya dimana bagian satu menjelaskan perbedaan penelitian kuantitatif dan kualitatif, bagian 2 adalah kuantitatif, bagian 3 adalah kualitatif, bagian 4 adalah bagaiamana membuat proposal penelitian, dan terakhir adalah penelitian pengambangan (R&D).

Secara umum ada langkah-langkah atau bagian yang harus betul-betul dipahami seorang peneliti, yakni

  1. Proses penelitian, variabel dan paradigma (meliputi latar belakang, rumusan masalah hingga tujuan)
  2. Landasan teori, kerangka berpikir dan hipotesis
  3. Metode penelitian/eksperimen
  4. Populasi dan sampel
  5. Skala pengukuran dan instrumen penelitian
  6. Teknik pengumpulan data
  7. Analisis data

Penulis tak lupa memberikan contoh analisis data.

Secara garis besar, penulis memisahkan dua jenis penelitian. Yakni kuantitatif dan kualitatif. Keduanya berbeda. Ada 3 hal yang menjadi variabel perbedaannya. Yakni perbedaan akisoma (pandangan dasar), karakteristik penelitian dan proses penelitian. Penelitian kuantitatif mempunyai hubungan variabel sebab-akibat (kausal) sedangkan penelitian kualitatif bersifat interaktif / timbal-balik. Contoh sederhana penelitian kuantitatif adalah pembuatan model matematis (lebih cenderung penelitian oleh mahasiswa teknik dan sejenisnya yang terkait). Sedangkan contoh sederhana penelitian yang bersifat kualitatif (lebih cenderung penelitian sosial ekonomi) adalah penentuan faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah masalah. Lebih jauh, penulis membuat sebuah pengertian; metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Sedangkan; metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang ilmiah, (sebagai lawannya yang eksperimen) dimana peneliti adalah instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan data dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Pada halaman 126, penulis memaparkan penentuan jumlah sampel populasi dengan taraf kesalahan mulai dari 1%, 5% dan 10%. Misalnya jika N (populasi) berjumlah 100, maka dengan taraf kesalahan 1& sampel haru sberjumlah 87. Selain itu terdapat tabel-tabel statistik di bagian belakang buku seperti tabel kurva normal, binomial, harga faktorial tabel harga kritis dalam Run Test sampai tabel spearman rank.

Buku ini cocok untuk kalangan pendidikan maupun bisnis, karena cukup komprehensif dalam menjelaskan runtutan bagaimana penelitian yang benar itu dilakukan. Hingga akhirnya kevalidan secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi penjelasan mengenai unsur seberapa jauh bobot suatu penelitian dilihat dari konten isinya memang bukan menjadi pokok utama bahasan.