Lokasinya ada di stasiun KA (kereta api) Purworejo. Sebuah stasiun yang sempat “tutup beroperasi sementara”. Warung soto yang satu ini cukup terkenal, laris dan popular di kalangan warga purworejo. Karena lokasinya yang lain daripada lainnya. Tempatnya memang di dalam stasiun. Tetapi jika dalam kondisi ramai, maka para pengunjung sampai bertumpah ruah makan di kursi duduk tempat tunggu penumpang kereta. Dan itu tidak begitu menjadi masalah, maksudnya tidak begitu mengganggu kenyamanan calon penumpang kereta api. Karena stasiun yang terletak di kota purworejo ini memang saat ini masih berperan menjadi transit sementara. Jikalau hendak berkunjung ke Jakarta atau Bandung dari kota Purworejo, maka sebenarnya lokasi keberangkatan utama di stasiun Kutoarjo (kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo).
Membela Kemandirian Negara
1 10 2009
Di sebuah pos ronda RT 02 RW III Kelurahan Pangenrejo Kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo, mengalirlah sebuah percakapan ringan nan sederhana. Malam hari ketika sedang ronda. Antara tiga orang warga. Sutrisno, seorang buruh pabrik mebel; Bowo, pemilik toko kelontong kecil; dan Diyono, seorang petani.
Diyono : “sudah pada liat berita di tv tho sampeyan semua? Wah bencana gempa datang lagi. Kita harus waspada”
Sutrisno : “iya, saya turut berduka cita. Kasian sekali, beratus-ratus orang meninggal. Seandainya saya bisa membantu mereka untuk turun langsung! Doh!”
Bowo : “negara ini memang membutuhkan uluran tangan semua warganya. Di tengah kondisi negara yang menurut saya belum makmur-makmur amat, bencana alam ada terus. Selepas krisi ekonomi tahun 90-an itu, ada saja teroris ngawur mampir di negara kita. Wah, ada saja yah. Mungkin ini saatnya kita pada membela bangsa, apalagi momennya pas. Nanti tanggal 5 ulang taun tentara. Yo tho?”
Diyono : “sampeyan iki ono-ono wae tho kang Bowo. Kok njuk terus dikaitke karo bela negara, bela bangsa. Terus topik pembicaraane jadi berat tho. Apa mentang-mentang sampeyan iki lulusan insinyur yang mantunya tentara? Hehehe”
Bowo : “ya enggak gitu tho kang Diyono. Seperti tadi dah disinggung kang Tris. Setiap warga itu sudah sepatutnya punya kepedulian terhadap sesama dan peduli terhadap nasib bangsa. Sudah lumayan bagus itu kang Tris, punya niat dan doa yang baik untuk para korban bencana gempa. Itu juga namanya bela negara. Apa sampeyan mau, ada kasus klaim kebudayaan negara kita oleh negara tetangga lagi?”
Sutrisno : “nha itu juga bagian bela kebudayaan negara, saya enggak suka itu kejadian lagi, budaya kita diklaim. Eh kang Diyono, memangnya sampeyan tidak pernah diajarin di sekolah dulu apa? Gini-gini walopun saya Cuma buruh pabrik, tapi saya masih ingat kok. Pasal 30 UUD 45 itu meminta seluruh warga untuk membela negara dengan kekuatan masing-masing”
Diyono : “owalah kang Tris. koyo sampeyan tidak mengerti saja. Lha wong saya ini lulusan SD yang sekarang jadi petani. Walopun punya beberapa lahan luas untuk bertani, saya sudah lupa pelajaran apa itu dulu di sekolah. Tapi ngomong-ngomong, sebagai petani pantesnya saya membela negara lewat apa yah? Dan lagipula saya merasa kok kemakmuran kaum petani itu lebih baik jaman-jaman pemimpin negara yang dulu. Bibit dan pupuk murah, lancar lagi. Gimana menurut sampayen-sampeyan ini?”
Bowo : “negara kita ini sebenernya kaya lho kang Diyono. Warganya banyak, dan sebenernya pinter-pinter. Lha yang lulusan luar negri dan kerja jadi peneliti di luar negri juga banyak. Tanahnya subur, banyak kekayaan alam, pabrik tambangnya banyak. Kalau menurut saya, kita sebagai rakyat kecil itu kalau cara mudahnya untuk membela negara ya dengan memakai produk lokal. Apalagi bagi kita-kita yang rakyat kecil, enggak mampu beli produk-produk luar negri kayak baju, sepatu. Lha wong duitnya pas-pasan buat makan saja. Ya tho? Hahaha”
Sutrisno : “ya iya tho. Tapi gini kang Bowo, negara kita memang belum makmur-makmur amat seperti yang dibilang kang Diyono tadi. Dan mungkin apa sebenarnya masih sedikit orang-orang cerdas di negara ini? Pabrik-pabrik dan perusahaan besar itu isinya orang luar negri semua. Pada berkulit putih-putih, berbadan tinggi tegap dan berhidung mancung. Apa sebenernya kita juga enggak mampu berdikari sendiri tho?”
Bowo : “nha ini agak serius ni. Tadi kan saya sudah bilang tho pada sampeyan-sampeyan ini. Sebenernya kita ini mampu kok dengan potensi kita untuk mengurusi segala kekayaan alam negri. Kita bisa mandiri mengurusi semuanya. Kadang-kadang saya merasa sedih saja sama keputusan-keputusan para petinggi kita yang suka meminjam uang, terus terkadang juga agak meremehkan kemampuan bangsa sendiri. Saya kok yakin sebenernya kita bisa lho punya teknologi canggih sendiri, lha wong bisa buat motor dan mobil sendiri. Bisa buat alat dan teknologi canggih lainnya. Tapi dengan dalih sudah terbiasa memakai teknologi dari luar dan takut nanti banyak PHK, ya jadilah kita mengekor terus ke teknologi bangsa lain. Ada lagi ni, kebun kelapa sawit kita itu buanyak sekali, tapi atas nama peraturan dan undang-undang yang dibuat sendiri, e lha kok malah dibebaskan kepemilikannya ke bangsa lain. Lha kita bangsa sendiri dapat apa? Masa Cuma jadi pekerja di rumah sendiri. Kadang lucu tho? Itu, sampeyan tau pabrik kacang bungkusan itu tho. Kalau sampeyan kira itu bahan baku kacang semuanya dari negara sendiri yang punya banyak kebun kacang, itu salah. Masa negara yang subur makmur ini mesti impor hasil perkebunan. Kan jadi terbalik kayak jaman penjajahan Belanda dulu. Kalau jaman Belanda dulu malah negara kita jadi produsen unggul bahan alam. Saya merasa kok mungkin para petinggi bangsa ada yang merasa tidak yakin sama kemampuan dan kemandirian bangsa, untuk mengelola segala potensi yang ada. Tapi lha wong memberi kesempatan untuk mengelola secara mandiri saja belum pernah kok, ya jadinya sampai sekarang seperti ini. Kita mampu kok, bener. Mampu mandiri berdikari. . . . . .”
Diyono : “owalah, uwis-uwis. Sampeyan iki nggawe mumet tenan. Saya enggak mudeng yang sampeyan omongkan. Saya ini mung lulusan SD, ora mudeng. Ha ha ha ”
Sutrisno : “ha ha ha. Dasar kang Diyono ini, susah diajak omong yang serius. Ya sudah, ayo muter ronda saja. Ini juga termasuk membela kemanan wilayah, membela negara. Ya tho? He he he.
*****
Ditulis untuk sebuah event, dari blognya pakdhe Cholik.
Komentar : 15 Komentar »
Tag: bela, kemandirian, Negara
Kategori : Sosial, Story
Masjid Agung Mataram
23 09 2009Konon adalah masjid tertua di Jogjakarta. Berlokasi di kotagede. Jikalau singgah di DIY dan menginginkan berwisata sejarah, maka lokasi ini adalah salah satu rekomendasi yang bagus. Kotagede adalah salah satu cikal bakal kerajaan Mataram di jaman dulu.
Masjid ini memang tidak begitu besar jika dibandingkan dengan masjid agung Kauman Jogja yang terletak di tengah kota, alun-alun utara. Tapi nilai sejarah dan bangunan masjid ini tidak kalah menarik untuk disimak. Berlokasi di sebelah selatan pasar kotagede. Bisa ditempuh melalui jalan kecil beraspal. Kemudian di kanan jalan akan menemukan tulisan “Makam Raja Mataram”. Ya, memang di dalam kompleks masjid ini juga terdapat makam raja-raja mataram terdahulu. Selain itu, uniknya di dalam kompleks juag terdapat pemukiman warga asli. Gapura depan masjid berbeda dengan masjid pada umumnya. Karena gapura tersebut menyerupai tempat peribadatan umat Hindu atau Budha.
Komentar : 25 Komentar »
Tag: Coklat Monggo, Makam Raja, Mataram
Kategori : Kuliner, Sosial
Amil Sebagai Profesi
18 09 2009Jika membicarakan masalah zakat di tanah air. Akan banyak sekali yang bisa dibicarakan. Dan mencoba ditelaah lebih lanjut mengenai permasalahan yang ada. Mulai dari kesadaran menunaikan zakat, sistem pengelolaan zakat di kelembagaan, fundraising atau penggalangan dana, permasalahan amil atau pengelolaan manajemen kelembagaan zakat, dan distribusi zakat. Dan satu lagi masalah aturan atau undang-undang yang konon mencoba mengatur mengenai zakat di tanah air, tetapi masih setengah-setengah. Yang sekadar ingin dituangkan kali ini adalah seputar amil. Ya, amil adalah orang yang mempunyai peran untuk mengelola zakat. Secara gampang ialah orang yang akan menerima zakat dari muzaki (pemberi zakat) dan menyalurkannya kepada penerima zakat yang termasuk 8 golongan asnaf (mustahik). Berikut beberapa ilustrasi dan sedikit yang ingin diutarakan. Semoga menjadi wacana yang berbeda dan bermanfaat.
***
Sekadar flashback masa lalu. Ketika jaman kepemimpinan islam masih berjaya di tangan Baginda Rasulullah dan khalifah, katakanlah ada sebuah lembaga keuangan pengelola ekonomi negara yang disebut dengan istilah Baitul Mal. Di lembaga tersebutlah keuangan negara diatur secara benar. Sehingga rakyat tidak ada yang kelaparan. Orang yang bekerja di lembaga keuangan tersebut atau Baitul Mal, yang mempunyai peran mengurusi zakat disebut dengan amil.
Tanah air ini merupakan negara yang penuh keberagaman. Walaupun memang secara presentase hitam di atas putih, mayoritas beragama islam. Tetapi dasar negara yang dianut adalah Pancasila. Mungkin hal itu juga yang menjadi salah satu faktor bahwa pekerjaan sebagai amil (kalau dibaca secara sederhana menjadi : pengumpul zakat) masih dipandang sebagai pekerjaan sambilan atau sampingan. Walaupun masih banyak sebenarnya alasan atau faktor lain penyebab hal itu terjadi. Pekerjaan menjadi amil di sebuah lembaga pengelola zakat, infak dan shodaqoh belum sepenuhnya “diterima” menjadi pekerjaan tetap seseorang. Memang ada yang telah menetapkan bahwa bekerja sebagai amil di sebuah lembaga pengelola zakat adalah pekerjaan tetap. Terutama di lembaga pengelola zakat atau lazis yang tingkatannya sudah besar. Bisa lazis tingkat provinsi atau bahkan nasional. Tapi itu hanya sedikit. Masih banyak sekali lazis kecil yang memposisikan amil sebagai pekerjaan sampingan. Misalnya seorang pegawai negri atau pegawai swasta yang pada pagi sampai siang bekerja di kantor. Tetapi di sela-sela waktu sore hari atau hari libur berperan menjadi amil sebuah lazis.
Ya memang begitulah kondisi riil di lapangan. Cara pandang sebagian masyarakat lebih condong mangatakan bahwa amil adalah pekerjaan sambilan. Karena mungkin paradigma sebagian masyarakat memandang bahwa yang namanya pekerja tetap yang profesioanl itu akan mendapat gaji dengan jumlah nominal tetap. Atau bisa juga memandang bahwa amil lebih banyak digolngkan ke aktivitas yang bersifat filantropi atau kedermawanan. Charity atau bersifat sosial yang tanpa meminta imbalan.
Kalau ditinjau dari segi masalah pendapatan dari pekerjaan tersebut, memang sudah menjadi ketentuan bahwa amil akan mendapat 2.5 persen dari zakat. Sesuai dengan ketentuan Al Quran. Tetapi jika melihat dari kenyataan di lapangan yang ada, khusunya di lembaga pengelola zakat atau lazis yang sudah besar dan mapan, sistem penggajiannya bisa beragam. Tapi bukan berarti meniadakan aturan 2.5 persen tersebut. Logikanya memang semakin besar zakat yang diperoleh, maka semakin besar “jatah” untuk amil yang bisa diperoleh. Tetapi juga harus dilihat pula bahwa sebuah lazis yang besar pada umumnya bukan melulu menampung zakat. Masih ada aliran dana lain seperti dari infak dan shodaqoh. Belum lagi jika lembaga atau lazis tersebut pada dasarnya adalah sebuah afiliasi sebuah perusahaan atau company holding besar. Yang tentunya ada subunit usaha lain yang terkait.
Nah, jika berpijak pada kenyataan masa lalu yang telah diutarakan pada paragraf satu serta untuk memberikan sedikit sumbangsih penyelesaian permasalahan zakat di tanah air, sekiranya sebenarnya perlu diubah cara pandang atau paradigma di tengah masyarakat bahwa amil adalah sebuah profesi. Seperti layaknya seorang dokter, akuntan, apoteker dan lain sebagainya. Bahwa sebenarnya seorang amil itu bekerja layaknya mereka. Dengan kemampuan yang spesifik dan bidang yang spesifik pula, seorang amil bisa saja berpindah lokasi kerja. Bisa dianalogikan seperti seorang dokter yang bisa praktek dimana-mana, tetapi kemampuan atau skill-nya tetap spesifik.
Untuk menumbuhkembangkan iklim zakat dan pengelolaannya untuk yang lebih baik, maka sudah sepantasnya jika pekerjaan sebagai amil dipandang sebagai sebuah profesi .Atau bukan hanya sebagai pekerjaan sambilan. Analoginya jika masih diposisikan sebagai pekerjaan sambilan, maka tentu saja hasilnya juga akan setengah-setengah. Padahal sebenarnya untuk menggerakkan semangat berbagi melalui zakat bukanlah pekerjaan asal-asalan. Perlu totalitas dalam pekerjaan. Bekerja dengan semangat profesionalisme. Seperti pula yang telah diajarkan dalam Al Quran. Penuh amanah.
Komentar : 25 Komentar »
Tag: amil, profesi, zakat
Kategori : Sosial
Milis Blogger-Purworejo
17 09 2009Berdasarkan rekomendasi dari admin blogger-purworejo, maka terbentuklah inisiatif untuk membuat forum yang dipandang lebih intensif lagi untuk menggalang infromasi yakni melalui milis (mailing list). Milis ini bernama blogger-purworejo, sesuai dengan nama web yang berisi kumpulan blogger yang berasal dari purworejo. Berlamat di : http://groups.google.com/group/blogger-purworejo.
———————*******BP*******—————————
———————*******BP*******—————————
Milis ini masih baru, betul-betul masih baru. Baru beberapa hari yang lalu dibuat. Dan berharap semoga diterima dan diapresiasi dengan baik oleh seluruh kaum blogger berkebangsaan asli tanah purworejo, tanah subur yang penuh durian, manggis dan ternak kambing etawa. Dan semoga menjadi ruang yang lebih nyaman bagi para blogger untuk saling bertukar informasi.
Dan juga membicarakan isu-isu hangat lainnya. Baik isu nasional secara umum, maupun isu hangat yang sering diperbincangkan ketika menjelang hari raya idul fitri. Yakni kopdar alias kopi darat (maaf, bukan minum kopi bersama para buaya darat lho
) blogger-purworejo. Lagi-lagi hal itu sering sekali diperbincangkan di berbagai komentar yang sering berlalu lalang di postingan kaum BP (blogger-purworejo). Karena selama ini, berdasarkan pengalaman dan informasi yang banyak beredar, rupanya kaum BP belum pernah saling bertemu dan bertatap muka sekalipun di dunia nyata. Bahkan di tanah asal purworejo juga belum pernah. Nah semoga, para kaum BP bersedia bergabung di milis ini dan juga turut andil untuk berurun rembug membicarakan hal itu. Dan mungkin juga bisa dibuat forum yang lebih resmi, nyata dan bermanfaat bagi kemajuan Purworejo. Menjadi komunitas yang lebih solid, melakukan berbagai kegiatan riil yang bermanfaat untuk sosial kemasyarakatan, dan banyak hal lagi. Amin!
Oleh karena itu, ditunggu kehadirannya untuk “join this group” di sini. Atawa bisa menghubungi admin web BP yakni mas Sumedi di www.sumedi.net dan email korespondensi ke nurrahman18@yahoo.com
Komentar : 11 Komentar »
Tag: blogger, milis, purworejo
Kategori : Sosial
Marjinal
14 09 2009Entah dari mana istilah marjinal ini mucul untuk didefinisikan sebagai warga miskin, pemulung, pengamen, gelandangan, penduduk dengan status sosial rendah, dan pengemis. Mungkin juga belum banyak yang tahu darimana asal kata pengemis. Mengapa dinamakan “pengemis”? kalau mau sekadar googling maka akan menemukan sebuah penjelasan dari buku “Khasanah Bahasa dalam Kata per Kata” karya Prof. Gorris Keeraf yang mencoba menjelaskannya. Alkisah pada jaman dulu di tanah jawa ketika masa berkuasa para Raja. Diceritakan bahwa para penguasa gemar memberikan sedekah kepada kaum miskin ketika hari kamis. Dalam bahasa jawa lebih jamak dilafalkan “kemis”. Sehingga orang-orang atau warga miskin yang sering meminta-minta sekadar sumbangan di hari tersebut diberi julukan “pengemis”. Dan istilah itu langgeng sampai sekarang.
Kini, di setelah sekian lama tanah air Indonesia merdeka, untuk mencegah berkembangnya kaum marjinal yang artinya kemiskinan semakin manjalar maka dibuatlah sebuah peraturan atau undang-undang atas nama hukum. Entah apakah cara ini efektif apa tidak. Apalagi mungkin agak pas dengan momen ramadhan. Dimana kehadiran kaum marjinal justru disebut-sebut semakin banyak. Dengan asumsi bahwa akan semakin banyak orang mau bersedekah. Atau mungkin perlu dibuat penelitian yang membuktikan kolerasi positif antara semakin banyak orang ingin bersedekah dengan semakin banyak pengemis.
Bukan bermaksud mengeksploitasi atau apapun, tapi gambar di bawah ini adalah gambaran nyata yang sering terjadi. Dan tidak semua “ngeh” akan hal yang lebih bersifat strategis dari permasalahn tersebut. Mungkin karena sudah dianggap lumrah sehingga seolah dicuekin dan dibiarkan begitu saja. Apa adanya. Di sebuah acara di tengah kota jogja, tepatnya alun-alun utara jogja, begitu terlihat banyak orang terkumpul dengan segera dikerumuni oleh beberapa pengemis. Entah dadakan atau memang benar-benar pengemis. Dan hal tersebut juga sering nampak di beberapa supermarket di tengah kota. Apalagi sekarang bulan ramadhan. Wallahu’alam.
Dan dengan foto tersebut masalah kemiskinan kaum marjinal pasti tidak akan langsung teratasi. Tetapi paling tidak bisa menggugah semangat untnk menjalani hidup dan mensyukuri semua nikmat yang menempel di diri masing-masing orang yang diberi kelapangan hati. Kepalangan nikmat. Dan semoga juga bisa nembangkitkan kesadaran bersama untuk memberikan sedikit kelebihan nikmat. Kelebihan rejjeki yang berlimpah ruah. Bahkan bisa mendoakan adalah sebuah nikmat. Walaupun mungkin itu usaha yang paling minim dan lemah.
Teringat lagu iwan fals yang “untukmu terkasih”. Bang Iwan berkata andai saja setiap satu orang kaya memberikan kemudahan dan kelebihan rejeki ke satu orang miskin, maka selesai urusan kemiskinan di negara ini. Atau juga sindiran-sindiran di sinetron PPT 3. Dimana pemimpin wilayah, dalam hal ini RW, membuat aturan bahwa setiap orang yang akan makan harus melihat kanan kiri tetangga terlebih dahulu, apakah ada yang kekurangan makan. Semoga semua bersedia menyisihkan sedikit kenikmatan di bulan yang suci untuk yang belum mendapatkan cukup rejeki.….
Sekadar Ide
Teringat akan sebuah tulisan di sebuah papan di perempatan tugu jogja. Kurang lebih berbunyi begini : “Peduli bukan berarti memberi. Salurkan dana bantuan ada ke lembaga sosial keagamaan”. Terpampang juga sebuah gambar pengemis jalanan yang diberi uang oleh seorang pengendara mobil di sebuah jalan. tetapi diberi tanda silang warna merah tebal.
Komentar : 26 Komentar »
Tag: kemiskinan, marjinal
Kategori : Story
Ramadhan adalah OJT
8 09 2009Ardian adalah salah seorang sarjana teknik industri. Asli tanah pantura yang mengembara dan bersekolah di tanah bengawan. Setelah lulus, karena kepandaiannya, dia langsung diterima di sebuah BUMN yang bergerak di bidang kelistrikan. “Bu, alhamdulilah saya ketrima. Saya mau pamit Bu. Penempatan di Balikapapan Kalimantan timur”, dia berbicara dengan ibundanya untuk berpamitan. Dia harus menjalankan On the Job Training (OJT). Punya teman seperjuangan ketika mendaftar di BUMN tersebut yang bernama Khori, mahasiswa lulusan Sosiologi dengan kampus yang sama. Berdua banyak mengarungi waktu dan bercengkrama bersama untuk menempuh karier.
Ketika OJT berlangsung, semua calon karyawan tentu saja ingin menampilkan performansi terbaik mereka. Walaupun sebenarnya profesionalitas itu harus terus dilakukan walaupun masa OJT telah usai. Akhirnya seiring berjalannya waktu, mereka berdua berhasil menyelesaikan OJT. Yakni semacam training awal bagi calon karyawan baru yang akan diterima menjadi karyawan tetap. OJT berlangsung selama setahun. Dengan berbagai program kegiatan dan evaluasi yang cukup ketat. Di tahun kedua, musibah menimpa Khori. Dia rupanya melanggar kontrak perjanjian kerja yang telah disepakati. Berawal dari kebiasaan-kebiasaan yang kurang disiplin, sering terlambat masuk kerja. Dimulai dari surat peringatan yang berulang sampai tiga kali. Dan akhirnya harus dikeluarkan dari perusahaan.
Berbeda nasib dengan Ardian. Yang pada tahun-tahun berikutnya justru semakin rajin. Tahun pun berganti. Berbagai evaluasi prestasi kerja berlangsung. Dan diklat atau pelatihan juga senantiasa dilakukan. Tidak hanya sesekali dilakukan, tetapi perulangan dilakukan secara rutin. Semakin meningkat level prestasi kerjanya. Dan kemudian Ardian sukses memperoleh sebuah jabatan manager. Dengan gaji yang lebih besar tenetunya. Bisa berkesempatan untuk mutasi pindah lokasi kerja ke Semarang. Yang tentu saja lebih dekat dengan daerah pantura tempat Ardian dilahirkan dan rumah orangtuanya. Dimana harga makanan dan kebutuhan pokok tentu saja dijamin murah. Lebih murah daripada di tempat kerja untuk OJT.
Kalau mau dianalogikan, bulan ramadhan itu adalah semacam OJT untuk setiap muslim. Dan juga merupakan training semacam diklat atau pelatihan. Memang terkadang sewaktu training atau OJT seseorang ingin menampilkan yang terbaik. Tapi setelah itu usai bukan berarti selesai dalam hal menampilkan prestasi kerja yang terbaik. Karena sesungguhnya justru setelah masa OJT atau trainng itu akan terlihat yang sesungguhnya. Setelah masa OJT ada evaluasi dan training lagi. Jadi kalau prestasi kerja lebih buruk dari sebelumnya, akan bisa jatuh. Bernasib seperti Khori yang dipecat.
Komentar : 24 Komentar »
Tag: dijamin murah, lomba blog '09
Kategori : Story
Award dan Persahabatan
4 09 2009Terimakasih kepada rekan blogger Olvy yang memberikan award. Untuk kedua kalinya mendapat award di tahun 2009. Sebenarnya telah cukup lama diberikan 1 award, tetapi maaf baru kali ini dikerjakan. Dan malah dapat satu award lagi. Total ada dua. Sudah menjadi rahasia umum kalau maksud dari award antara para blogger adalah berarti sebuah persahabatan. Persahabatan di dunia maya tentunya. Untuk saling mengeratkan silaturahmi.
Baiklah, akan segera dikerjakan tugas rumah yang harus diselesaikan sebagai syarat untuk menerima award pertama. Yakni blog award “Fabulo”. Dan selanjutnya award ini spesial akan diberikan kepada rekan blogger Pujangga. Khusus, supaya pemilik blog tambah rajin di dunia bogger dan segera terbit bukunya
.
And, here’s the rules :
1. Put your music on shuffle.
2. For each question, press the next button to get your answer.
3. You must write that song name down no matter how silly it sounds!
Okay, let’s do it!
1. If someone says “is this okay” you say?
Andre Hehanusa – Karena Ku Tahu Engkau Begitu (KKEB)
2. What would best describe your personality?
Netral – Nuansa
3. What do you like in a guy/girl?
Rida Sita Dewi (RSD) – Ketika Kau Jauh
4. How do you feel today?
Padi – Belum Terlambat
5. What is your Motto?
Andra and The Backbone – Tak Ada Yang Bisa
6. What is your life’s purpose?
Gita Gutawa – Sempurna
7. What do your friends think of you?
Gigi – My Facebook
8. What do you think about very often?
Opie Andaresta – Rumahku
9. What is 2+2?
Utopia – Hujan
10. What do you think of your best friend?
The Rain – Terimakasih Karna Kau Mencintaiku
11. What do you think of the person you like?
Adrian Martadinata – Ku Ingin Kau Tahu
12. What is your life story?
Dewa 19 – Mahameru
13. What do you want to be when you grow up?
Java Jive – Hilang
13. What do you want to be when you grow up?
Kla Project – Prahara
15. What will you dance to at your wedding?
Dewa 19 – Petuah Bijak
16. What do you think when you see the person you like?
Kerispatih – Tak Lekang Oleh Waktu
17. What is your hobby?
Rida Sita Dewi (RSD) – Antara Kita
18. What is your biggest secret?
Vidi Aldiano – Status Palsu
19. What’s the worst think that could happen?
Kerispatih – Bila Rasa Ini Rasamu
Komentar : 12 Komentar »
Tag: award, persahabatan, silaturahmi
Kategori : Sosial
Pengamen
27 08 2009Yufal dan Zainal sedang mengendarai motor berdua. Tibalah mereka di perempatan condongcatur Ring Road utara Jogja. Terjadilah perbincangan menarik di antara kedua sahabat dekat ini.
Y : “Wah, baru liat aku ada pengamen kayak gini. Sudah beberapa tahun di sini perasaan baru kali ini ada pengamen seperti ini. Pernah liat ga?”
Z : “Belum. Wah kreatif betul tuh”
Y : “Iya sih, tapi itu juga seolah untuk menutupi bahwa mereka kurang cakap dalam bekerja. Tidak bisa kerja”
Z : “Bukan begitu bro. Bukan ga bisa kerja, tetapi lowongan kerja terlalu sempit di sini. Harusnya pemerintah dan swasta ikut andil tanggungjawab nih”

Lalu Yufal mengambil kamera digitalnya. “Kuambil gambar ah, lumayan buat koleksi”. Zainal bilang, “Dasar, fotografer kurang kerjaan, huh”.
Y : “Ah gak papa. Kan namanya ini kreatif. Kayak para pengamen itu. Ngamen dengan kreatif. Jarang-jarang ada yang seperti itu. Yang penting mereka dah bisa menyukuri hasil pekerjaan mereka itu sudah baik. Daripada meminta-minta, apalagi korupsi. Huh, memalukan””
Z : “Iya deh, terserah kamu mau bilang apa. Tapi tetep aja pembangunan negara kita ini belum merata. Kesempatan kerja juga. Apalagi kurs dolar amerika nilainya masih tinggi amat. Masih ga setuju juga kamu dengan pendapatku ini?”
Y : “He he. Lampu hijau sudah menyala bro. Wokelah, mereka itu juga punya nilai lebih lho. Melestarikan budaya. Memakai unsur budaya kesenian asli tanah air, dari etnis jawa. Daripada keduluan diklaim lagi sama negara tetangga. Kita nikmati saja dulu”
Lalu, uang seribu rupiah dikeluarkan dari kantong saku Zainal. Diberikan ke pengamen itu.
Komentar : 35 Komentar »
Tag: budaya, pengamen
Kategori : Sosial, Story







yang berkomentar