Kotak pos, tiang listrik dan vandalisme di Yogyakarta

23 10 2008

Vandalisme berasal dari kata vandal, yang artinya kurang lebih tindakan perusakan dan tindakan anarki untuk mengurangi bahkan mengubah fungsi yang seharusnya dari suatu aktivitas atau benda milik publik / umum (fasilitas umum dari pemerintah atau lembaga swasta). Istilah vandalisme kerap lekat dengan aktivitas kurang bermoral seperti corat-coret tembok, perusakan cagar budaya bahkan pencurian fasilitas umum. Di kota-kota besar di Indonesia, hal itu sangat lumrah ditemui di tepi-tepi jalan raya. Atau kalau terjadi di lokasi wisata, seperti area candi dan air terjun, maka akan ditemui berderet tulisan nama orang yang pernah berkunjung di situ, misalnya di salah satu arca candi.

Ironis memang, terlihat sepele namun sejatinya mencerminkan siapa kita (bangsa indonesia) dan budaya apa yang sedang melanda kita. Di Kota Yogyakarta, banyak contoh tindakan vandal yang dapat dilihat dengan mudah, dan ditemui di berbagai sudut jalan. kotak pos, area halte bus, pohon-pohon rindang, badan jalan, lampu traffic light, tiang listrik, papan nama dan pengumuman, bahkan rambu-rambu lalu lintas.

Berikut adalah foto dari hasil terjun langsung ke lapangan, di berbagai jalan di wilayah kota Yogyakarta untuk melihat relaita secara langsung seperti apa kondisi kotak pos dan tiang listrik yang mengalami vandalisme maupun tidak.

Dua gambar di atas hanya beberapa dari puluhan kotak pos yang mengalami corat-coret. Di sebelah kanan adalah kotak pos di jalan magelang, dan yang di belah kiri adalah kotak pos di jalan abubakar. Terlihat dengan jelas beberapa poster dan coretan pilox.

Di samping adalah kotak pos yangmasih “terpelihara” dengan baik di jalan malioboro. Sejauh ini kurang diketahui berapa kali dan dalam kurun waktu berapa lama petugas dai PT Pos Indonesia akan melakukan maintenance.

oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Ketiga gambar di atas adalah tiang listrik yang telah beralih fungsinya. Paling kanan, sudah menjadi “penopang” sebuah PKL di jalan magelang. Sedangkan yang gambar tengah adalah sebuah tiang listrik di jalan brigjen katamso yang dipenuhi iklan dan pamfelt. Gambar kiri adalah sebuah tiang listrik di jalan teuku cik di tiro yang menjadi “sanggahan” bendera sebuah partai politik.

Setelah melihat kondisi langsung mengenai apa yang terjadi di lapangan, ya memang seperrti itu apa adanya. Tidak ada rekayasa sama sekali. Terlihat sepele memang, sebuah kotak pos, yang sekarang menurun penggunaannya (karena ada teknologi yang lebih canggih dan murah, telepon), ada di berbagai pinggir jalan dengan kondisi agak ”mengenaskan”. Tidak semuanya, tapi dapat dikatakan sebagian besar, karena itu merupakan area umum yang dijadikan sasaran empuk untuk menempel sebuah brosur, poster, pengumuman, bahkan tak jarang dicorat-coret dengan pilox. Kalau saja hal-hal sepele itu bisa dikurangi di Yogyakarta, setidaknya akan menambah predikat Yogyakarta sebagai kota bebas ”vandalisme”…amin!

Apalagi tiang listrik, wah sudah sangat wajar jika kita menemui sebuah tiang listrik dengan sebuah pamflet menempel yang berbunyi ”sedot ****”, atau sampai iklan sudah dikeluarkannya sebuah album baru oleh grup band baru. Bahkan di beberapa tempat, sudah sangat lumrah kalau tiang listrik adalah penyangga alami dan ”fasilitas” yang diberikan oleh pemerintah untuk dijadikan penopang tempat usaha (PKL) atau tempat ”sandaran” bendera-bendera partai politik yang sekarang sedang berlomba mendapatkan massa.

Ada beberapa ulasan sekaligus ulasan untuk menanggapi berbagai ”vandalisme” di kotak pos dan tiang listrik.

  1. Jangan-jangan ruang publik yang disediakan pemerintah untuk menempel iklan, brosur, poster dan pamflet kurang!?!!
  2. Aspek legalitas kurang dipahami oleh masyarakat. Seperti misalnya pemasangan atribut partai politik, apakah pemasangan di ruang publik seperti itu (yang mungkin bisa dikategorikan vandalisme), sudah sesuai dengan undang-undang negara kita!!! Ataukah memang pemerintah belum menampung aspirasi vandalisme seperti ini untuk dijadikan sebuah peraturan resmi berkekuatan hukum??!!!!
  3. Pembenaran publik, adalah hal yang paling umum dan paling banyak digunakan untuk dijadikan sebagai sebuah alasan tindakan anarki vandalisme??!!! Setiap orang bisa saja terpersepsikan bahwa penempelan pengumuman dan poster di kotak pos adalah wajar, sehingga menghilangkan etika moralnya secara perlahan-lahan mengenai nilai ”perusakan barang milik umum”. Atau pemasangan papan pengumuman suatu event yang dikaitkan di tiang listrik merupakan sebuah keharusan??!!!
  4. Keindahan kota rupanya masih merupakan tanggung jawab yang dilaksanakan oleh warga dengan nomor urut kesekian kali. Karena jika dilihat lebih dekat, upaya vandalisme sudah menjadi wajar di masyarakat.

NB : foto diambil pada tanggal 22 Oktober 2008 dengan camera HP sonny ericson k700i








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.