Sekolah Entrepreneur

27 01 2012

Sekolah EntrepreneurKabarnya jumlah pengusaha di Indonesia masih minim, dibandingkan dengan jumlah pengusaha di negara-negara maju di dunia. Apalagi dengan kondisi Indonesia yang masih saja semenjak puluhan tahun lalu mempunyai gelar “negara berkembang“, maka kebutuhan untuk semakin memperbanyak jumlah pengusaha adalah pilihan yang baik demi kemajuan perekonomian bangsa. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan iklim kewirausahaan dan menciptakan para pengusaha baru adalah melalui Sekolah Entrepreneur. Lembaga atau program pendidikan (bukan formal) yang secara khusus mempunyai tujuan akhir menghasilkan lulusan yaitu pengusaha / wirausahawan atau entrepreneur.

Baca Lagi!





Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pembangunan Bangsa

4 08 2009

Sebenarnya ini buku lama. Terbitan tahun 1995 oleh CIDES (Center for Information and Development Studies) dengan pengarang B. J. Habibie. Sudah bisa ditebak bahwa dari judul dan pengarangnya, buku ini akan membahas mengenai teknologi dan seputarnya. Tetapi bukan pada takaran teknis, melainkan lebih banyak membahasa strategi. Terlepas dari semua permasalahan politik dan kenegaraan yang membelit beliau, serta umur terbitan buku ini yang sudah lebih dari 10 tahun lalu, sebenarnya masih banyak pemikiran-pemikiran beliau yang layak disimak. Dan sampai sekarang masih layak disimak dan dijadikan kajian bersama untuk pembangunan bangsa (sesuai judul bukunya). Buku ini ditulis beliau pada waktu menjabat menristek dan beberapa jabatan penting kenegaraan lain. Dan secara tersirat bisa terlihat bahwa masih banyak ide-ide pemikiran beliau yang mungkin belum terlaksana sesuai keinginan beliau pada waktu itu hingga sekarang. Ide mengenai masalah teknologi, ekonomi dan pendidikan bangsa.

iptek habiebieYang disoroti pada bagian pertama adalah mengenai pembangunan bangsa. Menurut beliau, pembangunan harus dilakukan dengan orientasi nilai tambah dan menggunakan basis teknologi serta sumber daya manusia. Ini ditekankan di awal buku mungkin karena beliau mempunyai pemikiran bahwa perlu ditekankan terhadap penghargaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Bahwa peningkatan kekayaan dan kemakmuran berakar pada peningkatan produktivitas, dan bahwa kunci bagi produktivitas adalah ilmu pengetahuan dan rekayasa. Berikut adalah beberapa kutipan :

Bila kita bericara tentang teknologi canggih, bukan teknologi canggih yang kita kejar. Salah kalau dikira bahwa saya seorang insinyur kebetulan ahli konstruksi pesawat terbang hanya cinta teknologi canggih. Karena itu, apakah lantas hanya teknologi canggih yang ingin dikembangkan, dan hanya itu yang didasari untuk pembangunan bangsa? Itu tidak benar, yang saya sasari adalah proses nilai tambah, proses nilai tambah dari materi yang harganya rendah, dengan segala ketrampilan dengan usaha dari manusia, bisa dijadikan produk yang nilainya lebih tinggi, itu proses nilai tambah.

Atau dengan perkataan lain memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang tepat dan berguna tanpa memilih apakah itu canggih atau tidak canggih yang lebih penting bahwa teknologi yang tepat dan berguna itu dapat dimanfaatkan untuk proses nilai tambah, dapat mengubah materi itu dengan cepat untuk mendapatkan nilai yang setinggi-tingginya dengan mengontrol kualitas, biaya, dan jadwal secara terus-menerus agar produksi lancar jalannya.

Itulah pentingnya nilai tambah. Begini diilustrasikan sederhana oleh beliau mengenai bagaimana memahami arti sebuah nilai tambah (added value). Jika sebuah produksi celana jeans dilakukan, maka teknologi dan nilai yang dihasilkan cukup rendah jika dinilai dalam kerangka sebuah bangsa. Dan persaingan di pasar pun sudah banyak. Sehingga mudah tergusur. Berbeda dengan produksi pesawat terbagng atau satelit. Tidak banyak yang membuat dan teknologinya canggih. Nilai tambah yang dihasilkan tentu lebih baik. Mengenai contoh teknologi, beliau mencontohkan IPTN pada waktu itu.

Sebenarnya bukan hanya iptek saja, tetapi ada unsur lain yakni sumber daya manusia (SDM) yang perlu dibangun. Beliau sempat mengutarakan dalam buku bahwa membangun teknologi canggih dan SDM yang baik bukanlah upaa yang tidak mungkin di Indonesia, terbukti dengan IPTN waktu itu. Masyarakat membutuhkan dua hal, yakni sekolah sebagai proses penciptaan nilai tambah untuk SDM, dan industri atau perusahaan sebagai tempat melaksanakan proses tambah dan biaya tambah. Penekakan beliau bahwa jika seseorang telah sekolah tinggi dan bekerja di sebuah instansi, maka dia tidak boleh hanya mengendalkan gelarnya lantas tidak berbuat banyak untuk kepentingan bangsa. Tetapi harus memberikan andil terhadap nilai tambah kemakmuran bangsa.

Ada sebuah cerita yang dipaparkan. Berpijak pada kebijakan negara maju seperti Jepang. Pada awalnya mereka benar-benar mandiri dan sampai sekarag. Segala kebutuhan domestik di-supply semua oleh industri domestik. Tidak diperkenankan produk-produk domestik digusur oleh produk dari luar. Ketika produk-produk domestik telah mencapai kapasitas produksi yang bisa diekspor, maka dilakukan ekspansi ke luar. Sebagai contoh ketika produk Jepang baik Toyota atau Honda atau Nissan dibuat untuk pasaran dalam negri sendiri, pasar Jepang ditutup, semua tidak boleh masuk. Lalau kenapa kenapa pasar kita masih mau direbut orang lain? Dengan dalih lapangan kerja untuk anak cucku kelak, mengepa pasar itu masih diserahkan dengan mudahnya oleh asing?

Falsafah kerja ilmuwan. Di negara ini sudah menjadi rahasia umum bahwa profesi peneliti masih bisa dikatakan jarang. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa apresiasi terhadap hasil penelitian kurang, terbukti dengan banyak yang mengatakan sebagian peneliti Indonesia memliih kerja di luar karena masalah gaji. Penulis juga menyinggung masalah ilmuwan ini. Beliau mengetakan sesungguhnya peneliti atau ilmuwan memepunyai posisi penting dalam sosial budaya kemasyarakatan, walaupun kadang tidak secara langsung. Perannya adalah sebagai agent of social change. Lihat saja ketika ada penemuan teknologi baru misalnya, maka budaya konsumsi masyarakat terhadap teknologi tersebut akan mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat secara lambat laun.

Peranan pendidikan dipandang penulis sangat besar. Universitas adalah tempat yang paling cocok untuk mendidik sarjana baru agar mudah diserap pasar. Sampai saat ini pun, masalah penyerapan tenaga kerja di lapangan masih sering dipertanyakan. Mungkin seringnya negara ini mungkin terlalu berpijak pada negara barat. Dengan dalih mengikuti standar internasional atau apapun itu, kepentingan internal pendidikan yang termarjinalkan kadang terabaikan. Semntara banyak anak putus sekolah da menjadi gelandangan, sekolah yang katanya ingin bertarafi internaisonal atau semacamnya mulai dirintis. Ini pembangunan tidak merata atau sekadar gengsi?

Terakhir, yang ingin dikutip dari buku ini adalah pernyataan beliau mengenai pembangunan teknologi tepat guna dan pembangunan teknologi pedesaan.

Dalam keadaan mendesaknya masalah-masalah kehidupan konkrit yang dihadapi bagian dunia yang masih terbelakang, tidak banyak gunanya menggolong-golongkan teknologi ke dalam ”teknologi sederhana” dan ”teknologi tinggi”. Jauh lebih berguna mempertanyakan teknologi manakah yang dapat memecahkan suatu masalah yang konkrit, tanpa memperdulikan apakah teknologi yang tepat itu adalah teknologi primitif, menengah atau canggih, dan tanpa mempersoalkan dimana teknologi tersebut pertama kali dikembangkan.





Pendidikan dan Partai Politik

7 06 2009

pendidikanpolitikTahun ini adalah tahun di mana kehidupan politik bangsa menjadi salah satu sorotan hampir seluruh masyarakat Indonesia. Karena berhubungan dengan pesta demokrasi. Kehidupan berpolitik kata para elite adalah pondasi kehidupan bangsa yang berdaulat. Tapi kenyataanya para elite seolah masih sering sibuk sendiri dengan kepentingan praktis daripada mendidik masyarakat untuk peduli politik. Dan para aktivis politik itu sebenarnya juga bukan hanya dari kalangan yang punya pendidikan khusus, atau katakanlah orang dengan background pendidikan sosial politik. Simaklah orang-orang hebat terdahulu yang terjun di dunia politik dan pergerakan dengan dasar pendidikan yang beraneka ragam. Bung Karno adalah seorang insinyur. Dan dr. Wahidin adalah seorang sarjana kedokteran. Bahkan sekarang ini, para elite partai politik memiliki background pengusaha sampai orang-orang dengan latar belakang pendidikan eksak. Sebaiknya jika memang diyakini bersama bahwa politik adalah pondasi bangsa, mungkin sejak dini masyarakat dikenalkan dengan aktivitas politik melalu jalur pendidikan. Bisa mulai dari sekolah menengah atas atau bangku kuliah misalnya. Sehingga sikap apriori bahwa berpolitik itu kotor semakin lama terkikis dengan sendirinya. Begini kalau kurang percaya, tengoklah atau coba disurvey ke mahasiswa-mahasiswa saat ini mengenai kepedulian politik mereka. Maka kemungkinan besar akan bersikap apriori. Bahkan tidak peduli karena kehidupan sekarang sudah begitu pragmatis, ada yang menyebut semakin mengarah ke hedonis yang fashionable. Mereka bisa dikatakan kurang suka karena melihat kenyataan kebobrokan sistem dan kekurangpedulian untuk memperbaiki jalur pendidikan politik.

Jika dikatakan berpolitik itu adalah memberikan andil kepada sistem negara secara makro, maka seharusnya bukan kepentingan praktis saja yang diinginkan. Kepentingan praktis bisa dianalogikan sebagai 3 kebutuhan pokok, pangan, dandang dan papan. Terlihat sekali kepentingan praktis dari rangkap-rangkap jabatan yang dipegang oleh para elite partai. Ada yang merangkap pejabat resmi pemerintah, dan bahkan yang kadang seolah lucu adalah sistem kenegaraan yang dibuat masih tumpang tindih. Sebagai ilustrasi begini, jika seseorang memang telah memutuskan berjuang untuk rakyat dengan masuk menjadi anggota pemerintahan dengan masa jabatan tertentu tetapi masih pula berjuang untuk kepentingan praktis segelintir kelompok orang bernama partai politik.

Lalu, di sebuah dialog interaktif seputar dunia politik yang disiarkan langsung oleh sebuah stasiun swasta, seorang mahasiswa bernama Andi bertanya. Dialog yang dibalut dengan rangkaian acara komedi ini terdapat salah satu narasumber seorang pakar politik muda bergelar doktor. ”Saya mahasiswa teknik. Saya belum pernah mendapatkan ilmu politik secara khusus di bangku kuliah. Bisa dikatakan otodidak. Jadi mungkin minta maaf kalau nanti ada salah ucap atau kata yang kurang tepat. Ada dua pertanyaan yang ingin saya ajukan. Pertama begini Pak. Saya melihat sistem secara holistik. Jika dikatakan politik adalah sebuah sistem menyeluruh yang merupakan pondasi bangsa, maka sudah sepatutnya sistem itu dibuat oleh orang-orang kompeten yang menghasilkan sistem yang baik. Jika melihat kenyataan sekarang ini, sistem kenegaraan yang dibuat seolah mulai terpuruk. Sebenarnya para elite pembuat sistem itu memang kurang kompeten sehingga menghasilkan sistem yang bodoh, atau seperti apa. Atau jangan-jangan para pembuat sistem adalah orang-orang yang kompeten tetapi ada hambatan ketika membuat sistem. Misalnya sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing dan dikejar waktu deadline sehingga sistem yang dibuat kurang sempurna. Menurut Bapak seperti apa? Mengapa ini terjadi? Dan pertanyaan kedua mungkin lebih sederhana. Jika melihat kenyataan saat ini, pejabat banyak sekali merangkap jabatan di sebuah partai politik. Menurut saya itu menjadi sesuatu yag tumpang tindih. Seolah pejabat itu mempunyai muka dua. Di saat tertentu berperan membela masyarakat secara keseluruhan, tetapi ada kalanya membela kepentingan praktis sekelompok orang. Lalu, bisa tidak dibuat sistem yang lebih baik misalnya dengan memisahkan sebuah jabatan pemerintahan dari aktivitas politik praktis? Misalnya dibuat ketentuan bahwa orang-orang yang sudah masuk di ranah pemerintah adalah murni pembela rakyat. Tidak punya partai politik lagi selama menjadi pihak pemerintah. Menurut Bapak bisa tidak dibuat sistem atau aturan seperti itu? Karena menurut filosofis dasar saya bahwa politik adalah bagi-bagi pertanggungjawaban dunia akhirat, bukan semata bagi-bagi kekuasaan dan uang”.





Pendidikan di Abad Informasi

23 09 2008

Pendidikan merupakan pilar penting berkembangnya suatu bangsa. Kualitas suatu bangsa atau negara banyak bergantung pada sistem pendidikan yang tumbuh pada negara tersebut. Pendidikan yang tidak hanya mencakup formal (sekolah), tapi juga pendidikan di luar sekolah, sangat menentukan karakter masyarakat suatu bangsa.

Pengertian pendidikan

Pendidikan sering dikaitkan dengan pembelajaran dan pengajaran. Sebenarnya ditinjau dari makna aslinya, kata – kata tersebut mempunyai hakekat pengertian yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengejaran dan pelatihan; proses, pembuatan, cara mendidik. Nah, dari situ kita sudah dapat menyimpulkan bahwa makna pendidikan mempunyai cakupan yang lebih luas dari kata pembelajaran dan pengajaran. Makna kata pembelajaran dan pengajaran termasuk dalam kata pendidikan.

Salah satu “guru pendidikan” kita, yakni Nurcholis Madjid (yang juga seorang cendekiawan muslim), pernah menulis mengenai pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan berasal dari bahasa Inggris, educe, yang berarti mengeluarkan. Kata educe berubah menjadi educate, yang berarti mendidik. Beliau (Cak Nur) juga menjelaskan bahwa pendidikan atau tarbiyah, mempunyai makna meningkatkan. Seorang filsafat terkenal, Galileo, pernah mengatakan “Kau tidak akan pernah mengajari seseorang sesuatu, tapi kau hanya mengeluarkan kemampuan itu dari orang tersebut”. Hal ini sebenarnya senada dengan yang diungkapkan Cak Nur mengenai makna pendidikan. Satu lagi seorang penulis buku tentang pendidikan dan kewirausahaan, yakni Andrias Harefa, dalam salah satu bukunya menyampaikan bahwa pendidikan pada hakekatnya merupakan proses perubahan seseorang menuju dewasa dengan karakter yang berbeda-beda.

Jadi, pendidikan bermakna suatu proses pengajaran, pembelajaran seseorang sehingga berkembang menuju kedewasaan sesuai dengan karakternya. Hasil dari pendidikan seharusnya tidak homogen pada setiap orang karena setiap orang mempunyai watak / ciri khas masing-masing. Maksud dari kedewasaan adalah mempunyai kemampuan atau kecerdasan yang sesuai dengan karakter. Hal inilah sesungguhnya substansi dari pendidikan. Jadi bukan hanya semata-mata memberikan materi atau pelajaran saja, akan tetapi mencakup proses perkembangan seseorang menuju pribadi yang mempunyai kelebihan dan siap mengarungi kehidupan.

Pendidikan meliputi pendidikan formal, informal dan nonformal. Pendidikan formal berlangsung di lembaga-lembaga formal (resmi) yang meliputi sekolah, madrasah, perguruan tinggi, dsb. Pendidikan nonformal mencakup pembelajaran di kursus-kursus, les, atau lembaga sejenisnya. Pendidikan yang berlangsung di luar kedua macam pendidikan (formal dan nonformal) di atas, adalah termasuk pendidikan informal. Ini terjadi di lingkungan keluarga, masyarakat, teman sebaya, dan media lainnya yang sama. Ketiganya merupakan pendidikan yang sama pentingnya dalam menciptakan manusia-manusia yang dewasa, berkarakter mantap, dan mempunyai kecerdasan. Pendidikan formal sering lebih diutamakan. Padahal seharusnya ketiganya sama pentingnya. Dan hal pertama atau fase pertama yang harus diperhatikan adalah ketika masa kanak-kanak.

Pendidikan pada anak merupakan hal fundamen yang tidak boleh meleset dalam pelaksanaanya. Salah satu kesalahan yang terjadi hingga mengakibatkan terciptanya probadi yang kurang baik adalah ketika penanaman dasar pendidikan pada anak tidak berjalan dengan baik. Mengutip pernyataan Robert T. Kiyosaki, bahwa sebenarnya setiap anak dilahirkan jenius dan kaya. Ini menggambarkan jika anak mempunyai dasar kemampuan yang sama untuk berkembang, walaupun hal atau jenis kemampuan yang dikembangkan jelas berbeda. Pernyataan tersebut relevan dengan pengertian pendidikan yang menyatakan jika orang mempunyai karakter berbeda. Ketika anak-anak diajari pelajaran matematika, maka jelas nantinya akan ada anak yang pandai dan anak yang bodoh. Yang perlu diperhatikan sesungguhnya jangan sampai kita memaksakan dengan cara yang sama untuk setiap anak, sehingga anak tersebut dapat menguasai materi pelajaran tertentu. Begitu juga bila masa remaja, dan dewasa. Setiap orang akan tertarik pada materi atau pelajaran yang berbeda, tidak selalu homogen, dan hasilnya pun berbeda.

Hal yang harus diperhatikan ketika memberikan pendidikan kepada anak adalah bagaimana memotivasi si anak untuk dapat menumbuhkan keinginannya belajar pada sesuatu hal yang ia senangi (dalam arti positif). Keluarga merupakan lingkungan pertama yang ditemui si anak. Orang tua dan keluarga adalah orang-orang yang pertama menanamkan dasar pendidikan kepada anak. Setelah itu mereka (anak-anak) akan belajar atau bergaul dengan teman-teman sebaya dan masyarakat sekitar. Ketertarikan anak akan sesuatu berbeda-beda. Kadang kala, orang tua sering memaksakan si anak untuk menuruti kecerdasan atau keahlian tertentu yang harus dilakoninya. Walaupun pengawasan dan pembatasan oleh orang tua juga perlu. Secara umum menurut Howard Gardner ada 7 kecerdasan/kejeniusan, yakni

  1. Linguistik-verbal: kecerdasan dalam bahasa.dan pemahaman.
  2. Numerik: kecerdasan mengenai hitungan.
  3. Spasial: kecerdasan berkenaan dengan ruang dan tempat (imajinasi).
  4. Fisik: kecerdasan dalam menggunakan fisik tubuhnya.
  5. Intrapersonal: kecerdasan mengelola emosi
  6. Interpersonal: kecerdasan berhubungan dengan orang lain.
  7. Lingkungan: kecerdasan mendayagunakan lingkungan alam sekitar.

Kecerdasan seseorang itu natural dan tidak dipaksakan. Seseorang bisa saja mempunyai keahlian atau kecerdasan lebih dari satu. Oleh karena itu formula yang digunakan seseorang untuk sukses mengarungi hidup akan berbeda-beda. Perkembangan kecerdasan seseorang selalu kontinu dan tidak mungkin langsung begitu saja ditemukan. Hal ini karena terpengaruh oleh berbagai lingkungan dimana seseorang berkecimpung, dan input pendidikan lain yang masuk ke diri seseorang.

Kenyataan pendidikan di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mempunyai kurikulum kurang berkembang. Sudah sejak lama kita mempunya kurikulum yang “itu-itu” saja. Hanya baru-baru ini kurikulum berbasis kompetensi dikembangkan. Karena baru dimulai dan dengan segala keterbatasan resource, tentu saja KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) itu belumlah optimal seperti yang diharapkan. Kebanyakan kurikulum di beberapa negara adalah kurikulum yang bersifat stagnan. Bahkan Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Kid Smart Kid pernah menyinggung bahwa sistem pendidikan hanya menciptakan karyawan dan tentara. Ini relevan dengan system pendidikan di negara kita. Sesungguhnya sistem pendidikan kita lebih pantas disebut dengan sistem pembelajaran atau pengajaran. Masih sedikit proses pendidikan (sesuai dengan pengertian yang dijelaskan di atas) yang termaktub. Orang-orang yang mengaku pendidik, lebih banyak memberikan pembelajaran ketimbang bagaimana anak didiknya berkembang dan mempunyai bakat tertentu. Anak didik seolah dipaksa untuk mempunyai harus mempunya “output” yang sama semua. Keahlian di luar akademis seolah dikesampingkan, walaupun saat ini mulai dikembangkan.

Kesuksesan seseorang tidak hanya dinilai dengan kemampuan akademis di bangku sekolah. Untuk menjadi sukses masih banyak kecerdasan-kecerdasan di luar akademis yang dibutuhkan. Walaupun keahlian akademis juga tetap mempunyai arti. Kita lihat bahwa kenyataan di masyarakat banyak lulusan PT (perguruan tinggi) yang hanya berpangku tangan menunggu pekerjaan.

Di Indonesia, anak didik lebih mengarah diajari belajar “bagaimana”, atau learn how. Itu artinya kita lebih diarahkan untuk “bercerita” dan “berteori”. Ini sebenarnya tidak buruk, tapi yang membuat kurang berarti adalah pelaksanaan/praktiknya tidak diajarkan. Sehingga secara mudahnya kita lebih banyak hanya diajari konsep atau teori mengenai sesuatu tanpa pernah mencoba atau mengalaminya sendiri. Konsep sistem pendidikan yang lebih maju adalah dengan learn about dan learn with.

Salah satu konsep yang bisa dicontoh dari beberapa negara maju adalah menggunakan kurikulum berbasiskan masalah. Jadi anak didik awalnya diberikan masalah, lalu mencoba menyelesaikannya sendiri. Setelah itu, baru diberikan bagaimana sebenarnya permasalahan/persoalaan itu terpecahkan. Keunggulan kurikulum itu ialah anak didik bisa berkecimpung langsung dengan permasalahan, mempelajari masalah itu, dan mencoba memecahkannya. Beberapa Universitas di negara kita mulai mengembangkan kurikulum semacam ini.

Menyikapi abad informasi

Dahulu, ketika orang lulus sarjana dan mengantongi gelar, begitu mudahnya mendapat pekerjaan. Bahkan dengan gaji tidak sedikit dan ketidakkhawatiran di masa tua. Tetapi itu dahulu saat abad atau era perindustrian berlangsung. Bukan hanya di negara-negara pelopor reformasi industri, akan tetapi negara kita juga mengalami kondisi yang sama. Di abad industri, pada saat belum banyak orang “berpendidikan”, sistem pendidikan yang ada pada waktu itu sangat mendukung kesuksesan seseorang. Namun seiring berkembangnya zaman, telah banyak tercipta para lulusan sistem pendidikan yang lebih banyak menciptakan “pekerja”. Ini membuat mereka yang sedang mencari pekerjaan terhambat. Artinya persaingan lebih ketat. Dan seiring itu pula, teknologi telah berkembang sedemikian rupa hingga teknologi merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia.

Yang perlu dibenahi adalah sistem pendidikan kita. Dari analisis di atas, negara kita harusnya mengubah sistem pendidikan yang benar-benar mengusung pendidikan dalam arti yang semestinya(paparan pertama). Pendidikan merupakan proses pengembangan anak menuju kedewasaannya dengan kecerdasan yang berbeda-beda satu sama lain, dan formula keberhasilan yang juga berbeda. Kalau pengertian ini diimplementasikan dengan semestinya, sistem pendidikan kita akan mencetak generasi yang benar-benar terdidik, tidak terombang-ambing perkembangan zaman.

Tidak mudah memang melakukan hal itu. Ada banyak aspek yang akan termuati. Mulai dari membangun kurikulum yang solid dan pengaktualisasinya, tenaga pendidik yang tau benar konsep pendidikan dalam arti yang hakiki, serta anak didik yang mau dan mampu bekerja keras. Pengkonsepan kurikulum yang dapat menciptakan generasi tangguh di abad informasi membutuhkan pemikiran-pemikiran kritis. Tenaga pendidik juga harus meniadakan pemikiran lama yang cenderung hanya “mengajari”, tetapi tidak memberikan “pendidikan”. Konsep dasar pendidikan yang benar harus diimplementasikan dari lingkungan keluarga semenjak dini. Seterusnya, penciptaan lingkungan masyarakat, bangsa dan negara yang berkompetensi wajib ditumbuhkembangkan untuk mendukung proses pendidikan. Namun hal ini perlu dukungan optimal seluruh komponen bangsa.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.