Laskar Pelangi The Movie (2008)

24 09 2008

sedikit ulasan :

Sutradara: Riri Riza
Produser: Mira Lesmana
Penulis: Salman Aristo, Riri Riza
Pemeran: Lukman Sardi, Cut Mini, Slamet Rahardjo Djarot, Matias Muchus, Ario Bayu, Alex Komang, Jajang C Noer, Tora Sudiro, Robbie Tumewu, Ikranegara, Rieke Dyah Pitaloka
Musik oleh: Titi Syuman, Aksan Syuman
Distributor: Miles Production dan Mizan Sinema
Rilis: 29 September 2008

Laskar Pelangi Siap di Layar Lebar
Kolaborasi Peran 12 Anak Belitong Asli dengan 12 Aktor Profesional Indonesia

—setelah safari ke ulil albab, baitul qohar, nurul islam, mas-kamp UGM, dan masjid telkom jogja……——





Shodaqoh di Bulan Ramadhan

24 09 2008

“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung” (Ar Ruum 38)

Belum lama hilang di ingatan masyarakat kita pada umumnya, peristiwa yang sangat memilukan ketika sejumlah media cetak dan elektronik memberikan headline ”pembagian zakat maut di Pasuruan”. Tanggal 15 september 2008, hari Senin tepatnya, saudara-saudara kita yang kurang mampu mendapat musibah. Sejumlah 21 orang dipanggil oleh-Nya, ketika pembagian zakat senilai Rp. 30.000,00 kepada sekitar 100 orang dhuafa. Pada tanggal itu pula Lazis UII Yogyakarta memberikan ”1001 parcel untuk dhuafa” di lingkungan kota Yogyakarta. Alhamdulillah di Yogyakarta tidak mengalami tragedi yang sama.

Belum berhenti sampai di situ, beberapa media memberitakan lagi bahwa pada hari Rabu, 17 september 2008, sejumlah lansia jatuh pingsan ketika sepuluh ribu warga kurang mampu di Probolinggo mendapat pembagian zakat dari salah satu pondok pesantren. Zakat yang dibagi berwujud 5 kg beras. Alangkah ironis memang dua contoh peristiwa yang kurang berkenan di hati umat muslim pada umumnya. Di tengah suasana sejuk dan suci Ramadhan 1429 H, peristiwa-peristiwa tersebut sontak mengagetkan umat muslim, terutama yang disoroti adalah zakat, infak dan shodaqoh. Jika kita tengok kembali setelah Indonesia merdeka (63 tahun), umat muslim Indonesia sudah mengalami 63 Ramadhan di suasana kemerdekaan. Dan sudah hampir 9 tahun mekanisme pembagian zakat, infak dan shodaqoh diterapkan di Indonesia melalui UU no.38 tahun 1999, dengan harapan tercipta kesinambungan antara dana zakat, infak dan shodaqoh, dengan kebutuhan masyarakat kurang mampu yang berhak menerima zakat. Setelah sekian lama umat muslim belajar berulang-ulang, mari kita review kembali, jangan-jangan ada yang kurang tepat dari semua yang pernah umat muslim Indonesia lakukan? Jawabannya tentu iya.
Wacana dan pembahasan mengenai sistem distribusi zakat dan seluk beluknya sudah sangat banyak kita dengar dan liat dengan seksama. MUI dan pemerintah tidak henti-hentinya mencoba memperbaiki agar peristiwa memilukan dari dua contoh di atas tidak terulang lagi. Bahkan ada fatwa MUI provinsi Jatim yang menyatakan bahwa haram menyalurkan zakat secara langsung kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat), tetapi harus melalui lembaga penyalur zakat. Draft usulan perubahan mekanisme distribusi zakat melalui UU No.38 tahun 1999 juga telah diketengahkan oleh DPR, salah satu poin penting adalah dengan pengaturan mekanisme yang bersifat sentralistik oleh pemerintah daerah setempat.
Saling tuding dan menyalahkan sekiranya bukan langkah bijak untuk memperoleh solusi permasalahan. Mari sejenak kita tengok kembali esensi, pengertian dan sasaran zakat, infak dan shodaqoh itu sendiri. Dengan harapan mengkoreksi umat muslim pada umumnya. Penyaluran zakat, infak dan shodaqoh bukan semata problem pemerintah sebagai ulil ’amri, tapi sejauh mana setiap umat muslim memahami dan ikut andil untuk bersama-sama membenahi sistem penyaluran di negri kita tercinta ini, yang rupanya btuh perbaikan bersama.
Zakat adalah kewajiban yang harus diberikan dengan nilai tertentu yang telah ditentukan atas rezeki yang diperoleh. Infak merupakan amal yang dilakukan oleh seorang muslim dengan nilai sesuai kemampuannya. Infak lebih difokuskan pada ”kelebihan harta” yang dilmiliki oleh seorang muslim. Jika nilai zakat yang harus dibayarkan telah ditentukan dalam Al Qur’an maupun Hadist, maka nilai infak tidak ditentukan. Yang lebih mempunyai arti luas lagi adalah shodaqoh. Shodaqoh tidak hanya mencakup amal harta yang harus disisihkan untuk orang yang berhak mendapatkannnya. Akan tetapi dapat juga berupa amal yang bersifat nonmateriil. Misalnya ketika kita membantu saudara muslim kita yang sedang punya hajat. Apapun yang kita berikan baik dalam bentuk zakat, infak maupun shodaqoh, pada dasarnya adalah kebutuhan dan sangat bermanfaat buat diri pribadi seorang muslim yang melakukannya. Mensucikan diri dari perbuatan buruk dan semua dosa yang telah dilakukan adalah esensi utama umat muslim beramal. Sebagaimana firman Allah SWT “Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”. (QS : At-Taubah : 103). Dosa dan kesalahan tidak akan pernah luput dari manusia. Oleh karena itu, Allah memberikan solusi dari kebutuhan kita untuk mengurangi dosa-dosa dengan bershodaqoh.
Sasaran zakat sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an meliputi 8 golongan, atau asnaf. Yakni fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilliah, dan ibnu sabil. Golongan fakir dan miskin adalah dua golongan pertama dan utama yang disebutkan. Jika kita menelaah lebih lanjut di kehidupan bangsa kita saat ini, maka sebenarnya sangatlah sinkron dan cocok, ketika “kemiskinan” selalui mengahantui kehidupan nasional bangsa kita. Zakat, infak dan shodaqoh sejatinya adalah solusi yang memang sudah menjadi petunjuk-Nya untuk membantu mengurangi dan mengentaskan kemiskinan. Sebagaimana pada zaman Khalifah sesudah Nabi Muhammad SAW, Baitul Mal sebagai lembaga pemerintahaan yang mengatur perekonomian umat, telah mencontohkan untuk pemberdayaan dana zakat, infak dan shodaqoh untuk memerangi kemiskinan umat. Bahkan pernah suatu kali, dana dari Baitul Mal untuk orang fakir dan miskin tidak tersalurkan karena ternyata semua umat yang kekurangan, telah terbantu dari jurang kemiskinan. Alangkah indahnya jika kondisi tersebut ada di bangsa kita tercinta, Indonesia.
Kemiskinan tidak terlepas begitu saja dari peran umat muslim secara keseluruhan. Kemiskinan adalah permasalahan komplek di bangsa kita yang melibatkan seluruh komponen bangsa, baik pemerintah, swasta dan masyarakat pada umumnya. Pemerintah sebagai pengatur roda perekonomian bangsa, menetapkan beberapa parameter kemiskinan yang bisa dijadikan dasar untuk mengurangi angka kemiskinan. Misalnya di kota Yogyakarta, melalui Peraturan Walikota No 70 tahun 2006, menyatakan bahwa ada 4 parameter utama kemiskinan, yakni pangan, kesehatan, pendidikan dan papan atau tempat tinggal. Namun yang terjadi di kenyataan sekarang, sangatlah komplek. Pemerintah yang notabene terdiri dari beberapa lembaga dan dinas pemerintahan, ternyata mempunyai data kemiskinan yang berbeda-beda. Misalnya di BPS, Dinas Kependudukan dan Pemerintah Daerah setempat. Memang terlihat hanya permasalahan sepele. Namun, jika dikaji lebih dalam, alngkah baiknya jika tejadi sinkronisasi antar semua lembaga yang terlibat sehingga memudahkan mengurangi dan memerangi kemiskinan dengan pemberdayaan dana zakat, infak dan shodaqoh.
Di bulan ramadhan 1429 yang suci ini, sejatinya kondisi kemiskinan bangsa kita masih relatif sama. Jika kita mau sejenak melihat secara langsung di lingkungan sekitar kita, maka fenomena kemiskinan tidaklah sulit dicari. Fenomena PGOT (pengemis, gelandangan dan orang terlantar) semakin meningkat terutama di bulan ramadhan. Misalnya kita lihat di Yogyakarta, apabila melewati perempatan lampu merah di Janti, UIN, Gramedia dan Galleria, maka masih tetap saja ada PGOT, dan mungkin malah bertambah di bulan ramadhan. Di bulan ramadhan memang sangat dianjurkan untuk beramal, dan ketika bulan ramdhan pula, lembaga amil zakat, infak dan shodaqoh (LAZ) akan sangat gencar menyalurkan dana. Namun, apakah dengan dalih itu pula, fenomena bertambahnya PGOT sebagai salah satu indikator kemiskinan dapat dimaklumi begitu saja di bangsa kita selama bertahun-tahun?? Memang bukan perkara mudah untuk ikut andil dalam memerangi kemiskinan. Atau jangan-jangan kita kurang beramal dan salah menyalurkan bantuan?? Atau bisa jadi salah dalam memerangi kemiskinan, sebagai contoh razia PGOT oleh dinas yang berwajib dengan cara yang kurang solutif. Karena hanya “memindah lokasi” PGOT. Oleh karena itu, marilah kita sejenak melakukan refleksi terhadap shodaqoh yang telah kita lakukan, terutama di bulan ramdhan 1429 H yang suci ini. Memang penelitian-penelitian mengenai fenomena kemiskinan, terutama di kota-kota besar belum mengerucut pada kesimpulan data tertentu mengenai kemiskinan. Dan saran solusi apa yang patut dilakukan. Namun alangkah lebih baiknya kita mengkoreksi diri kita masing-masing terlebih dahulu. Sudahkah kita memeriksa semua harta yang kita miliki, yang wajib dizakati?? Sudah sesuaikah hitungan zakat tersebut?? Dan shodaqoh apa saja yang mampu kita berikan kepada orang yang membutuhkan, terutama dibulan ramadhan??
Melalui bulan ramadhan ini, sangatlah baik ketika kita mampu membenahi shodaqoh kita. Shodaqoh seperti telah disebutkan di atas adalah salah satu upaya untuk mensucikan diri. Hal ini sangat sejalan dan selaras dengan makna bulan ramadhan yang bermanfaat bagai umat muslim untuk kembali menjadi pribadi yang suci, seperti layaknya bayi yang baru lahir. Karena kita telah digembleng melalui puasa selama kurang lebih 30 hari lamanya. Contoh sederhana yang bisa kita mulai adalah dengan melihat kondisi lingkungan keluarga dan tetangga kita, jangan-jangan ada salah seorang dari sanak saudara kita yang sebenarnya sangat membutuhkan uluran tangan kita. Atau mungkin tetangga kita ada yang tidak mampu untuk membeli belanja untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Saling tuding dan saling menyalahkan bukan merupakan tindakan solutif untuk membenahi amal shodaqoh kita. Merasa sudah benar dan layak dalam bershodaqoh, serta menuding pihak tertentu yang salah membut aturan, juga bukan tindakan arif dan bijaksana dalam menyikapi fenomena kemiskinan di bangsa kita. Apalagi di tengah kondisi bangsa kita yang tengah bangkit sejak 10 tahun era reformasi. Akan tetapi justru tindakan konkrit apa yang bisa kita sumbangkan kepada bangsa ini untuk memerangi kemiskinan. Dan sejatinya, setiap muslim pasti mempunyai kemampuan untuk membantu saudaranya, bukan hanya melihat harta yang dimilikinya, tetapi dengan cinta kasih dan kepedulian yang dimilikinya untuk bershodaqoh.





Pemicu Konflik Organisasi

24 09 2008

Hanya ada dua posisi seseorang dalam sebuah organisasi, yakni dipimpin dan memimpin. Baik organisasi berskala mikro (contohnya Yayasan, LSM, Industri Kecil dan Menengah, dan organisasi kampus) maupun organisasi berskala makro (contohnya perusahaan-perusahaan besar yakni Astra, IBM, Wall-mart), tidak bisa terlepas begitu saja dengan pola sistematik yang ada di organisasi. Begitu juga halnya dalam islam. Seorang ulama adalah pemimpin muslim lainnya dalam koridor islam sebagai organisasinya. Organisasi adalah sebuah sistem yang berfungsi sebagai wadah interaksi antar manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Seorang pemimpin merupakan tonggak ujung yang akan mengarahkan agar tujuan organisasi tercapai. Pemimpin mempunyai power yang tidak dimiliki oleh orang yang dipimpin. Power tidak dapat tumbuh begitu saja. Power merupakan kekuatan untuk mengelola dan mengatur organisasi. Beberapa ahli berpendapat bahwa kemampuan seseorang dalam memimpin adalah sebuah kemampuan alami secara genetik, yang tidak bisa diajarkan. Akan tetapi tidak semua orang berpandangan sama. Kemampuan seseorang untuk menjadi pemimpin dapat dipelajari baik di lingkungan pendidikan maupun terjun langsung di lapangan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemimpin memegang peranan penting dalam sebuah organisasi. Sebagai contoh dalam kasus pemilu negara kita tahun 2009, banyak partai baru bermunculan. Image orang terhadap partai baru, salah satunya tercermin dari siapa pemimpinnya. Orang awam akan langsung bertanya, ”Siapa sih pemimpin partainya?”. Karena dari situlah dapat ditebak seperti apa gambaran organisasi tersebut. Segala atribut yang menempel di pemimpin, seperti umur, jabatan dan bahkan suku bangsa dapat digeneralisir menjadi atribut organisasi yang dipimpinnya. Terlepas dari semua hal itu, sebenarnya ada hal yang lebih pokok dari atribut-atribut tersebut. Karena pada hakekatnya, secara tidak langsung seorang pemimpin organisasi akan membawa visi pribadinya menjadi bagian dari visi organisasi. Alangkah naifnya jika ternyata seorang pemimpin baru yang ditunjuk, mempunyai visi pribadi yang kurang sinergi dengan visi organisasi dan secara perlahan-lahan mengotori visi organisasi. Hal ini bukan hal yang baru di dalam sebuah organisasi. Sudah banyak contohnya di kehidupan politik bangsa ini. Konflik internal di beberapa partai politik merupakan dampak dari permasalahan itu. Kepemimpinan dalam sebuah organisasi sangat erat kaitannya dengan visi organisasi. Seorang pemimpin akan menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai visi organisasi. Akan tetapi ada hal lain yang bisa digunakan dalam menjalankan kepemimpinan, yakni pengalaman. Pemimpin besar bagi umat muslim yang patut dijadikan panutan dalam semua aspek kehidupan adalah Baginda Rasulullah SAW.
Proses seorang menjalankan kepemimpinanya di organisasi tidak akan berjalan dengan linier. Rumus matematik saja sejatinya belum cukup untuk memodelkan pola kepemimpinan dan daur hidup organisasi. Banyak permasalahan-permasalahan internal yang sebagian besar tidak ingin diungkapkan sebagai permasalahan organisasi. Beberapa ahli organisasi dan konsultan menyebut organisasi dalam kondisi sakit. Keengganan pemimpin untuk mengakui dan mengungkap permasalahan internal organisasi bisa menjadi efek bola salju. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa semua organisasi mempunyai permasalahan internal. Dan proses penyelesaiaan secara benar bukan satu-satunya indikator berhasil tidaknya organisasi dalam mencapai visi dan tujuannya. Yang lebih utama adalah hasil atau output. Indikator tersebut merupakan indikator yang paling valid dari indikator-indikator lain untuk mengukur tercapainya visi dan tujuan organisasi. Misalnya ketika terjadi permasalahan internal di sebuah lembaga pendidikan. Solusi-solusi akan datang silih berganti dan tumpang-tindih untuk mencoba menengahi dan menyelesaikannya. Namun, yang perlu diperhatikan justru sejauh mana hasil atau output lembaga pendidikan tersebut dalam hal kualitas. Karena bisa saja yang terjadi dengan adanya permasalahan internal atau konflik itu, dapat menjadikan pelajaran yang berharga bagi pengelola lembaga pendidikan dan memicu produktivitas. Hal ini sesuai dengan penjelasan di atas bahwa siklus organisasi sejatinya tidak ada yang linier, akan tetapi penuh dengan kondisi probailistik.
Konflik organisasi secara umum ada dua macam. Pertama konflik eksternal, yakni bekaitan dengan hubungan organisasi dan lingkunganya. Kedua adalah konflik internal, yakni permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalam organisasi. Beberapa ahli organisasi berpendapat bahwa konflik internal meliputi konflik yang terjadi di dalam diri individu, konflik antar individu yang dipimpin, konflik antara individu yang dipimpin dan organisasi, konflik antara pemimpin dan yang dipimpin, serta konflik antara pemimpin dengan organisasi (Winardi, 2007). Porsi terbesar yang dapat memicu potensi rapuhnya organisasi adalah konflik yang melibatkan pimpinan di dalamnya. Ini adalah sesuatu yang lumrah mengingat pemimpin adalah tonggak ujung organisasi. Pemimpin yang mempunyai tanggung jawab menjaga keluwesan organisasi dalam menghadapi konflik. Pandangan ahli organisasi pada zaman dulu menganggap bahwa konflik adalah ancaman yang mengandung resiko. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, manajemen konflik menjadi wacana baru. Salah satu contoh riil berkaitan dengan konflik internal adalah konflik antar golongan yang menimpa umat muslim akhir-akhir ini. Terlepas dari semua perbedaan pendapat dan perdebatan dalam menghadapi masalah itu, seolah-olah justru visi islam yang diturunkan Allah SWT sebagai Rahmatallil’alamin terbiaskan. Sehingga alangkah baiknya jika merujuk kembali ke Al Qur’an surat Asy Syuro ayat 38 yang menyebutkan bahwa pernasalahan antar manusia diselesaikan dengan permusyawaratan. Allah SWT juga berfirman untuk mendamaikan semua pihak yang bertikai jika terjadi konflik (Al Hujurat ayat 9). Langkah serupa juga selayaknya diterapkan di semua organisasi agar jalan tengah konflik dapat dicapai.
Konflik merupakan dampak dari kepentingan, baik kepentingan individu yang dipimpin maupun pemimpin. Untuk membentuk sebuah organisasi yang kokoh, visi pemimpin (secara indiidual) harus selaras dengan visi organisasi (Teori Agency).Disadari atau tidak, ketika bergabung dalam sebuah organisasi, setiap individu mempunyai kepentingan tertentu yang ingin dicapai pada saat bergabung dengan organisasi. Disamping bahwa ada kepentingan organisasi, yakni visi, yang harus sejalan dan selaras dengan pemikiran individu yang bergabung dengan organisasi. Kepentingan merupakan salah satu faktor dominan yang menjadi akar pemicu konflik. Misalnya dalam sebuah organisasi kampus, setiap individu yang bergabung mempunyai angan-angan tertentu yang ingin diraihnya. Dan ketika angan-angan dan harapan tersebut perlahan-lahan hilang, maka individu yang bersangkutan akan surut semangatnya di organisasi itu. Konflik juga bersinggungan dengan peran. Peran yang dijalani setiap individu (baik pemimpin maupun yang dipimpin) bisa saja bertentangan dengan keinginan pribadi yang bersangkutan.
Seperti halnya manusia hidup di dunia juga mempunyai kepentingan. Setiap muslim wajib mencari kebahagian di dunia maupun di akhirat. Seorang muslim yang hanya mengejar dunia, maka belum tentu kehidupan akhirat akan bahagia. Namun, jika mengejar akhirat sebagai tujuan akhir, maka insya Allah, kehidupan dunia akan tercukupi. Jika dianalogikan dalam kehidupan berorganisasi, kepentingan individu di dalam organisasi diumpamakan sebagai kepentingan mengejar kehidupan dunia. Sedangkan kepentingan memperoleh kehidupan akhirat yang baik, diibaratkan seperti pencapaian visi organisasi. Apabila kepentingan untuk meraih pencapaian visi organisasi diutamakan dan tetap dijunjung tinggi, maka kepentingan individu juga akan ikut terlaksana. Manusia sebagai entitas individu memang tidak bisa lepas dari atribut-atribut yang menempel di setiap individu. Manusia mempunyai cipta, rasa dan karsa dalam menjalankan berbagai aktivitas apapun. Demikian juga ketika manusia berinteraksi dalam sebuah organisasi. Kepentingan-kepentingan individu tidak bisa dipungkiri akan terbawa pada saat setiap individu berinteraksi. Emosi dan hati manusia ketika berinteraksi dalam sebuah organisasi akan selalu menghiasi. Namun perlu disadari juga bahwa hati manusia mudah berubah, sebagaimana Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Sehingga alangkah indahnya jika setiap individu bisa menata hatinya untuk memanajemen qalbu, sebagaimana Aa’Gym sering mengulas dalam setiap wejangannya. Karena pada hakekatnya interaksi manusia dalam organisasi tidak akan pernah bisa lepas dari hakekat manusia yang mempunyai emosi dan hati.
Nurrahman
Pakis delanggu klaten 28 7 08





Manajemen Ikhlas

24 09 2008

Pernah terlihat tayangan di televisi seorang ibu tega membunuh kedua anaknya yang masih kecil. Setelah proses penyelidikan oleh pihak yang berwajib diketahui bahwa ternyata sang Ibu menderita stress berat sehingga tega membunuh kedua darah dagingnya sendiri. Alangkah ironisnya ketika diselidiki sang ibu mengatakan bahwa ia menanggung beban ekonomi yang sangat berat sehingga ia mengambil jalan pintas dengan melampiaskan kepada buah hatinya. Banyak sudah kejadian seperti itu. Mulai dari orang yang ingin bunuh diri sampai menyakiti orang terdekat seperti cerita di atas tadi. Pemicunya terbagi menjadi dua yakni dari diri sendiri dan pengaru kondisi ekstern seperti lingkungan rumah tangga. Pemicu atau faktor intern yang dominan yakni melihat kenyataan tidak seperti yang dibayangkan. Itulah inti permasalahannya. Setiap orang pasti telah mempunyai rencana tertentu dan menyiapkan seluruh bekalnya untuk meraihnya. Baik itu rencana harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Namun apa daya, manusia sering tidak memperhatikan faktor penentu seluruh kehidupan alam semesta, yaitu Sang Khalik, Allah SWT. Ia adalah penentu semua usaha manusia.

Lalu apa kunci utama ketika usaha manusia tidak memunculkan kenyataan yang diekpektasikan? Alkisah, seperti telah diceritaklan sebelumnya di beberapa buku, ada seorang ibu yang dengan berani dan ketulusan hatinya akan menyelamatkan sang buah hati. Sebuah papan menghubungkan dua genung bertingkat. Di gedung sebelahnya, tempat sang buah hatinya yang masih balita, ia terjebak dalam kebakaran. Lalu, sang ibu tanpa berpikir panjang ingin menyelamatkan. Ia tak peduli dengan tingginnya gedung. Berawal dengan niat tulus dan ia ikhlas menerima kenyataan yang akan terjadi nanti. Apakah ia akan berhasil selamat, atau malah menjemput maut. Ia sudah tau resiko dan menaruh sepenuhnya hasil akhir kepada Sang Khalik. Ia ikhlas dengan kejadian yang akan terjadi. Walaupun tentu saja sang ibu berharap keduanya selamat.

Ikhlas, itulah intinya. Setiap manusia wajib meyerahkan segala hasil dari rencana duniawinya kepada Sang Khalik. Ikhlas bahwa manusia sejauh mana berusaha, tetap keputusan akhir ada di tangan-Nya. Ikhlas tidak berarti pasrah, justru sebaliknya. Ketika manusia merencanakan dan berusaha, manusia selalu memandang optimis bahwa apa yang sudah direncanakan berhasil. Tentu saja dengan perhitungan yang matang. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa “Dan mereka (jin dan manusia) tidak disuruh beribadah kepada Allah, melainkan dengan penuh keihkhlasan karena-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (QS.98:5). Sudah jelas di situ bahwa setiap manusia dalam hal aktivitas sekecil apapun harus didahului dengan penuh ikhlas. Membaca bismillahhirrahmannirrahim, merupakan salah satu upaya, bahwa kita berkeyakinan nantinya segala sesuatu yang dikerjakan akan ada penentu akhir, yaitu Allah SWT. Dengan membaca basmalah itu pula, telah mengindikasikan bahwa niat yang lurus telah ditancapkan dalam hati. Setiap aktivitas apapun sejatinya adalah ibadah manusia, yang akan dihisab di hari perhitungan. Oleh karena itu niat yang lurus dan selalu menanamkan ikhlas sangat utama. Harus ikhlas, menerima kenyataan seperti apa adanya setelah berusaha dengan optimal.

Pelampiasan ketika rencana (planning) manusia tidak berjalan sebagaimana mestinya bermacam-macam. Seperti contoh di atas tadi, sang Ibu menganggap bahwa orang terdekatnyalah yang dikambing hitamkan. Menganggap bahwa sang buah hati dapat dikorbankan untuk lari dari permasalahan. Contoh lain, alkisah seorang majikan yang akan berangkat ke kantor dipagi hari. Ia naik mobil pribadi dengan seorang sopir. Ketika sudah sampai di kantor, sang majikan kebingungan karena tas yang biasa dibawa tidak ada. “Sopir, mana tas saya, kamu taruh di mana?”, sang majikan bertanya. “Maaf Pak, Bapak dari tadi tidak membawa tas”, sang sopir menjawab. “ah, kamu ini gimana sih, kenapa kamu tidak bilang dari tadi”, seketika sang majikan memarahi sopir dengan terus menyalahkannya. Itu adalah salah satu contoh sederhana di kehidupan sehari-hari. Betapa seringnya kerangka berpikir manusia menanamkan pemikiran bahwa jangan-jangan orang terdekat kita yang selalu membuat kita kurang berhasil. Alangkah baiknya dalam contoh kasus di atas, jikalau sang majikan selalu mengatakan kepad sopir, untuk selalu mengingatkannya sebelum pergi tentang apa yang biasa dipersiapkan.

Dalam surat Al Hudzurot ayat 12 disebutkan bahwa “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang diantara mu memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai, maka tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha menerima taubat lagi maha penyayang.” Alangkah naifnya kita ketika mengkambing hitamkan orang di sekitar kita tanpa melihat kondisi kita sebelumnya.

Manusia selalu merencanakan segala sesuatunya sebelum bertindak. Baik dalam hal kecil maupun besar. Ilmu untuk mengelola mulai dari perencanaan sampai pengawasan sering diistilahkan dengan manajemen. Pendekatan seperti ini juga digunakan di lingkungan organisasi. Manusia memang wajib berusaha menggapai cita-citanya di dunia dan akhirat. Seperti dalam surat Al Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain. Sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Oleh karena itu sangatlah perlu dilakukan manajemen oleh manusia. Ini juga berkaitan dengan penempatan niat dan ikhlas yang akan selau tertanam di lubuk hati manusia.

Stephen Robbins (1999) dalam bukunya Managementmenyebutkan bahwa pola pengelolaan atau manajemen terbagi menjadi 4 tahap yang sering distilahkan dengan POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling). Pola seperti ini tidak hanya untuk sebuah organisasi, melainkan setiap individu dapat menerapkan di setiap sendi kehidupan. Mulai dari menentukan renaca, proses pengelolaan yang dibutuhklan, implementasi rencana, dan pengawasan agar selalu fokus pada tujuan yang akan kita capai. Lalu dimanakah letak niat dan ikhlas? Niat tentu saja harus terukir di lubuk hati kita sebelum semua rencana dibuat. Iklhas harus menjadi nafas dalam setiap tahap. Ketika kita berniatkan ikhlas di awal, tidak akan menjamin kita akan ikhlas seterusnya. Seorang yang berniat ikhlas apapun yang terjadi pada saat ia menghadiri seminar di luar kota di musim hujan, belum tentu pada akhirnya benar-benar ikhlas. Bisa jadi dalam perjalanan ia terjebak banjir. Sehingga tujuannya tidak tercapai. Dan ketika terjebak banjir, cenderung akan berkata dalam hatinya, bahwa seandainya saja tidak jadi berangkat, atau kalau tau seperti ini tidak jadi berangkat. Itulah esensi ikhlas, bukan hanya dalam niatan di awal rencana kita. Akan tetapi, harus selalu masuk di setiap sendi manajemen kita.

Lalu apa yang terjadi ketika kita membiarkan hal sepele seperti di atas. Iman kita akan tergerus karena selalu melihat bahwa kegagalan selalu ada walaupun sudah dilakukan perencanaan matang. Cara berpikir seperti ini dikarenakan tidak melihat esensi ikhlas secara keseluruhan. Ikhlas adalah nafas dalam setiap aktivitas sekecil apapun. Dengan ikhlas, maka iman terbangu. Kosep bahwa Allah AWT selalu punya rencana terhadap kekurang berhasilan manusia. Iman adalah penting, karena merupakan pondasi manusia. Pantaslah bila Imam Ibnu Athoillah pernah berujar, “Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa habis tandas tidak tersisa”. Demikianlah yang terjadi bagi orang yang tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Contoh nyata seperti kasus seorang ibu yang tega membakar anaknya. Setelah ikhlas tidak tertanam dalam kalbunya, secara perlahan-lahan imannya tergerogoti. Dan pada akhirnya melakukan perbuatan yang bertentangan dengan iman.

Latihan dari pengalaman seluruh aktivitas. Itu merupakan salah satu yang harus dilakukan untuk memetik ilmu ikhlas. Mengingat-ingat tentang perencanaan yang kita buat, dan bagaimana implementasinya. Ilmu bisa didapatkan dari situ. Setelah itu, kita akan menjadi tegar karena proses yang telah mengajari kita. Menjadi kuat dan tegar menjalani segala aktivitas dengan penuh ikhlas adalah utama. Seperti disebutkan dalam hadist, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari orang mukmin yang lemah.” Semakin kita belajar dari pengalaman hidup kita tentang ikhlas, semakin kita tau bagaimana penerapan ikhlas dalam pengelolaan seluruh rencana aktivitas kita.

*pernah dimuat di buletin jumat Al Rasikh UII*





Pendidikan di Abad Informasi

23 09 2008

Pendidikan merupakan pilar penting berkembangnya suatu bangsa. Kualitas suatu bangsa atau negara banyak bergantung pada sistem pendidikan yang tumbuh pada negara tersebut. Pendidikan yang tidak hanya mencakup formal (sekolah), tapi juga pendidikan di luar sekolah, sangat menentukan karakter masyarakat suatu bangsa.

Pengertian pendidikan

Pendidikan sering dikaitkan dengan pembelajaran dan pengajaran. Sebenarnya ditinjau dari makna aslinya, kata – kata tersebut mempunyai hakekat pengertian yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengejaran dan pelatihan; proses, pembuatan, cara mendidik. Nah, dari situ kita sudah dapat menyimpulkan bahwa makna pendidikan mempunyai cakupan yang lebih luas dari kata pembelajaran dan pengajaran. Makna kata pembelajaran dan pengajaran termasuk dalam kata pendidikan.

Salah satu “guru pendidikan” kita, yakni Nurcholis Madjid (yang juga seorang cendekiawan muslim), pernah menulis mengenai pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan berasal dari bahasa Inggris, educe, yang berarti mengeluarkan. Kata educe berubah menjadi educate, yang berarti mendidik. Beliau (Cak Nur) juga menjelaskan bahwa pendidikan atau tarbiyah, mempunyai makna meningkatkan. Seorang filsafat terkenal, Galileo, pernah mengatakan “Kau tidak akan pernah mengajari seseorang sesuatu, tapi kau hanya mengeluarkan kemampuan itu dari orang tersebut”. Hal ini sebenarnya senada dengan yang diungkapkan Cak Nur mengenai makna pendidikan. Satu lagi seorang penulis buku tentang pendidikan dan kewirausahaan, yakni Andrias Harefa, dalam salah satu bukunya menyampaikan bahwa pendidikan pada hakekatnya merupakan proses perubahan seseorang menuju dewasa dengan karakter yang berbeda-beda.

Jadi, pendidikan bermakna suatu proses pengajaran, pembelajaran seseorang sehingga berkembang menuju kedewasaan sesuai dengan karakternya. Hasil dari pendidikan seharusnya tidak homogen pada setiap orang karena setiap orang mempunyai watak / ciri khas masing-masing. Maksud dari kedewasaan adalah mempunyai kemampuan atau kecerdasan yang sesuai dengan karakter. Hal inilah sesungguhnya substansi dari pendidikan. Jadi bukan hanya semata-mata memberikan materi atau pelajaran saja, akan tetapi mencakup proses perkembangan seseorang menuju pribadi yang mempunyai kelebihan dan siap mengarungi kehidupan.

Pendidikan meliputi pendidikan formal, informal dan nonformal. Pendidikan formal berlangsung di lembaga-lembaga formal (resmi) yang meliputi sekolah, madrasah, perguruan tinggi, dsb. Pendidikan nonformal mencakup pembelajaran di kursus-kursus, les, atau lembaga sejenisnya. Pendidikan yang berlangsung di luar kedua macam pendidikan (formal dan nonformal) di atas, adalah termasuk pendidikan informal. Ini terjadi di lingkungan keluarga, masyarakat, teman sebaya, dan media lainnya yang sama. Ketiganya merupakan pendidikan yang sama pentingnya dalam menciptakan manusia-manusia yang dewasa, berkarakter mantap, dan mempunyai kecerdasan. Pendidikan formal sering lebih diutamakan. Padahal seharusnya ketiganya sama pentingnya. Dan hal pertama atau fase pertama yang harus diperhatikan adalah ketika masa kanak-kanak.

Pendidikan pada anak merupakan hal fundamen yang tidak boleh meleset dalam pelaksanaanya. Salah satu kesalahan yang terjadi hingga mengakibatkan terciptanya probadi yang kurang baik adalah ketika penanaman dasar pendidikan pada anak tidak berjalan dengan baik. Mengutip pernyataan Robert T. Kiyosaki, bahwa sebenarnya setiap anak dilahirkan jenius dan kaya. Ini menggambarkan jika anak mempunyai dasar kemampuan yang sama untuk berkembang, walaupun hal atau jenis kemampuan yang dikembangkan jelas berbeda. Pernyataan tersebut relevan dengan pengertian pendidikan yang menyatakan jika orang mempunyai karakter berbeda. Ketika anak-anak diajari pelajaran matematika, maka jelas nantinya akan ada anak yang pandai dan anak yang bodoh. Yang perlu diperhatikan sesungguhnya jangan sampai kita memaksakan dengan cara yang sama untuk setiap anak, sehingga anak tersebut dapat menguasai materi pelajaran tertentu. Begitu juga bila masa remaja, dan dewasa. Setiap orang akan tertarik pada materi atau pelajaran yang berbeda, tidak selalu homogen, dan hasilnya pun berbeda.

Hal yang harus diperhatikan ketika memberikan pendidikan kepada anak adalah bagaimana memotivasi si anak untuk dapat menumbuhkan keinginannya belajar pada sesuatu hal yang ia senangi (dalam arti positif). Keluarga merupakan lingkungan pertama yang ditemui si anak. Orang tua dan keluarga adalah orang-orang yang pertama menanamkan dasar pendidikan kepada anak. Setelah itu mereka (anak-anak) akan belajar atau bergaul dengan teman-teman sebaya dan masyarakat sekitar. Ketertarikan anak akan sesuatu berbeda-beda. Kadang kala, orang tua sering memaksakan si anak untuk menuruti kecerdasan atau keahlian tertentu yang harus dilakoninya. Walaupun pengawasan dan pembatasan oleh orang tua juga perlu. Secara umum menurut Howard Gardner ada 7 kecerdasan/kejeniusan, yakni

  1. Linguistik-verbal: kecerdasan dalam bahasa.dan pemahaman.
  2. Numerik: kecerdasan mengenai hitungan.
  3. Spasial: kecerdasan berkenaan dengan ruang dan tempat (imajinasi).
  4. Fisik: kecerdasan dalam menggunakan fisik tubuhnya.
  5. Intrapersonal: kecerdasan mengelola emosi
  6. Interpersonal: kecerdasan berhubungan dengan orang lain.
  7. Lingkungan: kecerdasan mendayagunakan lingkungan alam sekitar.

Kecerdasan seseorang itu natural dan tidak dipaksakan. Seseorang bisa saja mempunyai keahlian atau kecerdasan lebih dari satu. Oleh karena itu formula yang digunakan seseorang untuk sukses mengarungi hidup akan berbeda-beda. Perkembangan kecerdasan seseorang selalu kontinu dan tidak mungkin langsung begitu saja ditemukan. Hal ini karena terpengaruh oleh berbagai lingkungan dimana seseorang berkecimpung, dan input pendidikan lain yang masuk ke diri seseorang.

Kenyataan pendidikan di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mempunyai kurikulum kurang berkembang. Sudah sejak lama kita mempunya kurikulum yang “itu-itu” saja. Hanya baru-baru ini kurikulum berbasis kompetensi dikembangkan. Karena baru dimulai dan dengan segala keterbatasan resource, tentu saja KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) itu belumlah optimal seperti yang diharapkan. Kebanyakan kurikulum di beberapa negara adalah kurikulum yang bersifat stagnan. Bahkan Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Kid Smart Kid pernah menyinggung bahwa sistem pendidikan hanya menciptakan karyawan dan tentara. Ini relevan dengan system pendidikan di negara kita. Sesungguhnya sistem pendidikan kita lebih pantas disebut dengan sistem pembelajaran atau pengajaran. Masih sedikit proses pendidikan (sesuai dengan pengertian yang dijelaskan di atas) yang termaktub. Orang-orang yang mengaku pendidik, lebih banyak memberikan pembelajaran ketimbang bagaimana anak didiknya berkembang dan mempunyai bakat tertentu. Anak didik seolah dipaksa untuk mempunyai harus mempunya “output” yang sama semua. Keahlian di luar akademis seolah dikesampingkan, walaupun saat ini mulai dikembangkan.

Kesuksesan seseorang tidak hanya dinilai dengan kemampuan akademis di bangku sekolah. Untuk menjadi sukses masih banyak kecerdasan-kecerdasan di luar akademis yang dibutuhkan. Walaupun keahlian akademis juga tetap mempunyai arti. Kita lihat bahwa kenyataan di masyarakat banyak lulusan PT (perguruan tinggi) yang hanya berpangku tangan menunggu pekerjaan.

Di Indonesia, anak didik lebih mengarah diajari belajar “bagaimana”, atau learn how. Itu artinya kita lebih diarahkan untuk “bercerita” dan “berteori”. Ini sebenarnya tidak buruk, tapi yang membuat kurang berarti adalah pelaksanaan/praktiknya tidak diajarkan. Sehingga secara mudahnya kita lebih banyak hanya diajari konsep atau teori mengenai sesuatu tanpa pernah mencoba atau mengalaminya sendiri. Konsep sistem pendidikan yang lebih maju adalah dengan learn about dan learn with.

Salah satu konsep yang bisa dicontoh dari beberapa negara maju adalah menggunakan kurikulum berbasiskan masalah. Jadi anak didik awalnya diberikan masalah, lalu mencoba menyelesaikannya sendiri. Setelah itu, baru diberikan bagaimana sebenarnya permasalahan/persoalaan itu terpecahkan. Keunggulan kurikulum itu ialah anak didik bisa berkecimpung langsung dengan permasalahan, mempelajari masalah itu, dan mencoba memecahkannya. Beberapa Universitas di negara kita mulai mengembangkan kurikulum semacam ini.

Menyikapi abad informasi

Dahulu, ketika orang lulus sarjana dan mengantongi gelar, begitu mudahnya mendapat pekerjaan. Bahkan dengan gaji tidak sedikit dan ketidakkhawatiran di masa tua. Tetapi itu dahulu saat abad atau era perindustrian berlangsung. Bukan hanya di negara-negara pelopor reformasi industri, akan tetapi negara kita juga mengalami kondisi yang sama. Di abad industri, pada saat belum banyak orang “berpendidikan”, sistem pendidikan yang ada pada waktu itu sangat mendukung kesuksesan seseorang. Namun seiring berkembangnya zaman, telah banyak tercipta para lulusan sistem pendidikan yang lebih banyak menciptakan “pekerja”. Ini membuat mereka yang sedang mencari pekerjaan terhambat. Artinya persaingan lebih ketat. Dan seiring itu pula, teknologi telah berkembang sedemikian rupa hingga teknologi merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia.

Yang perlu dibenahi adalah sistem pendidikan kita. Dari analisis di atas, negara kita harusnya mengubah sistem pendidikan yang benar-benar mengusung pendidikan dalam arti yang semestinya(paparan pertama). Pendidikan merupakan proses pengembangan anak menuju kedewasaannya dengan kecerdasan yang berbeda-beda satu sama lain, dan formula keberhasilan yang juga berbeda. Kalau pengertian ini diimplementasikan dengan semestinya, sistem pendidikan kita akan mencetak generasi yang benar-benar terdidik, tidak terombang-ambing perkembangan zaman.

Tidak mudah memang melakukan hal itu. Ada banyak aspek yang akan termuati. Mulai dari membangun kurikulum yang solid dan pengaktualisasinya, tenaga pendidik yang tau benar konsep pendidikan dalam arti yang hakiki, serta anak didik yang mau dan mampu bekerja keras. Pengkonsepan kurikulum yang dapat menciptakan generasi tangguh di abad informasi membutuhkan pemikiran-pemikiran kritis. Tenaga pendidik juga harus meniadakan pemikiran lama yang cenderung hanya “mengajari”, tetapi tidak memberikan “pendidikan”. Konsep dasar pendidikan yang benar harus diimplementasikan dari lingkungan keluarga semenjak dini. Seterusnya, penciptaan lingkungan masyarakat, bangsa dan negara yang berkompetensi wajib ditumbuhkembangkan untuk mendukung proses pendidikan. Namun hal ini perlu dukungan optimal seluruh komponen bangsa.