Pendidikan di Abad Informasi

23 09 2008

Pendidikan merupakan pilar penting berkembangnya suatu bangsa. Kualitas suatu bangsa atau negara banyak bergantung pada sistem pendidikan yang tumbuh pada negara tersebut. Pendidikan yang tidak hanya mencakup formal (sekolah), tapi juga pendidikan di luar sekolah, sangat menentukan karakter masyarakat suatu bangsa.

Pengertian pendidikan

Pendidikan sering dikaitkan dengan pembelajaran dan pengajaran. Sebenarnya ditinjau dari makna aslinya, kata – kata tersebut mempunyai hakekat pengertian yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengejaran dan pelatihan; proses, pembuatan, cara mendidik. Nah, dari situ kita sudah dapat menyimpulkan bahwa makna pendidikan mempunyai cakupan yang lebih luas dari kata pembelajaran dan pengajaran. Makna kata pembelajaran dan pengajaran termasuk dalam kata pendidikan.

Salah satu “guru pendidikan” kita, yakni Nurcholis Madjid (yang juga seorang cendekiawan muslim), pernah menulis mengenai pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan berasal dari bahasa Inggris, educe, yang berarti mengeluarkan. Kata educe berubah menjadi educate, yang berarti mendidik. Beliau (Cak Nur) juga menjelaskan bahwa pendidikan atau tarbiyah, mempunyai makna meningkatkan. Seorang filsafat terkenal, Galileo, pernah mengatakan “Kau tidak akan pernah mengajari seseorang sesuatu, tapi kau hanya mengeluarkan kemampuan itu dari orang tersebut”. Hal ini sebenarnya senada dengan yang diungkapkan Cak Nur mengenai makna pendidikan. Satu lagi seorang penulis buku tentang pendidikan dan kewirausahaan, yakni Andrias Harefa, dalam salah satu bukunya menyampaikan bahwa pendidikan pada hakekatnya merupakan proses perubahan seseorang menuju dewasa dengan karakter yang berbeda-beda.

Jadi, pendidikan bermakna suatu proses pengajaran, pembelajaran seseorang sehingga berkembang menuju kedewasaan sesuai dengan karakternya. Hasil dari pendidikan seharusnya tidak homogen pada setiap orang karena setiap orang mempunyai watak / ciri khas masing-masing. Maksud dari kedewasaan adalah mempunyai kemampuan atau kecerdasan yang sesuai dengan karakter. Hal inilah sesungguhnya substansi dari pendidikan. Jadi bukan hanya semata-mata memberikan materi atau pelajaran saja, akan tetapi mencakup proses perkembangan seseorang menuju pribadi yang mempunyai kelebihan dan siap mengarungi kehidupan.

Pendidikan meliputi pendidikan formal, informal dan nonformal. Pendidikan formal berlangsung di lembaga-lembaga formal (resmi) yang meliputi sekolah, madrasah, perguruan tinggi, dsb. Pendidikan nonformal mencakup pembelajaran di kursus-kursus, les, atau lembaga sejenisnya. Pendidikan yang berlangsung di luar kedua macam pendidikan (formal dan nonformal) di atas, adalah termasuk pendidikan informal. Ini terjadi di lingkungan keluarga, masyarakat, teman sebaya, dan media lainnya yang sama. Ketiganya merupakan pendidikan yang sama pentingnya dalam menciptakan manusia-manusia yang dewasa, berkarakter mantap, dan mempunyai kecerdasan. Pendidikan formal sering lebih diutamakan. Padahal seharusnya ketiganya sama pentingnya. Dan hal pertama atau fase pertama yang harus diperhatikan adalah ketika masa kanak-kanak.

Pendidikan pada anak merupakan hal fundamen yang tidak boleh meleset dalam pelaksanaanya. Salah satu kesalahan yang terjadi hingga mengakibatkan terciptanya probadi yang kurang baik adalah ketika penanaman dasar pendidikan pada anak tidak berjalan dengan baik. Mengutip pernyataan Robert T. Kiyosaki, bahwa sebenarnya setiap anak dilahirkan jenius dan kaya. Ini menggambarkan jika anak mempunyai dasar kemampuan yang sama untuk berkembang, walaupun hal atau jenis kemampuan yang dikembangkan jelas berbeda. Pernyataan tersebut relevan dengan pengertian pendidikan yang menyatakan jika orang mempunyai karakter berbeda. Ketika anak-anak diajari pelajaran matematika, maka jelas nantinya akan ada anak yang pandai dan anak yang bodoh. Yang perlu diperhatikan sesungguhnya jangan sampai kita memaksakan dengan cara yang sama untuk setiap anak, sehingga anak tersebut dapat menguasai materi pelajaran tertentu. Begitu juga bila masa remaja, dan dewasa. Setiap orang akan tertarik pada materi atau pelajaran yang berbeda, tidak selalu homogen, dan hasilnya pun berbeda.

Hal yang harus diperhatikan ketika memberikan pendidikan kepada anak adalah bagaimana memotivasi si anak untuk dapat menumbuhkan keinginannya belajar pada sesuatu hal yang ia senangi (dalam arti positif). Keluarga merupakan lingkungan pertama yang ditemui si anak. Orang tua dan keluarga adalah orang-orang yang pertama menanamkan dasar pendidikan kepada anak. Setelah itu mereka (anak-anak) akan belajar atau bergaul dengan teman-teman sebaya dan masyarakat sekitar. Ketertarikan anak akan sesuatu berbeda-beda. Kadang kala, orang tua sering memaksakan si anak untuk menuruti kecerdasan atau keahlian tertentu yang harus dilakoninya. Walaupun pengawasan dan pembatasan oleh orang tua juga perlu. Secara umum menurut Howard Gardner ada 7 kecerdasan/kejeniusan, yakni

  1. Linguistik-verbal: kecerdasan dalam bahasa.dan pemahaman.
  2. Numerik: kecerdasan mengenai hitungan.
  3. Spasial: kecerdasan berkenaan dengan ruang dan tempat (imajinasi).
  4. Fisik: kecerdasan dalam menggunakan fisik tubuhnya.
  5. Intrapersonal: kecerdasan mengelola emosi
  6. Interpersonal: kecerdasan berhubungan dengan orang lain.
  7. Lingkungan: kecerdasan mendayagunakan lingkungan alam sekitar.

Kecerdasan seseorang itu natural dan tidak dipaksakan. Seseorang bisa saja mempunyai keahlian atau kecerdasan lebih dari satu. Oleh karena itu formula yang digunakan seseorang untuk sukses mengarungi hidup akan berbeda-beda. Perkembangan kecerdasan seseorang selalu kontinu dan tidak mungkin langsung begitu saja ditemukan. Hal ini karena terpengaruh oleh berbagai lingkungan dimana seseorang berkecimpung, dan input pendidikan lain yang masuk ke diri seseorang.

Kenyataan pendidikan di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mempunyai kurikulum kurang berkembang. Sudah sejak lama kita mempunya kurikulum yang “itu-itu” saja. Hanya baru-baru ini kurikulum berbasis kompetensi dikembangkan. Karena baru dimulai dan dengan segala keterbatasan resource, tentu saja KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) itu belumlah optimal seperti yang diharapkan. Kebanyakan kurikulum di beberapa negara adalah kurikulum yang bersifat stagnan. Bahkan Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Kid Smart Kid pernah menyinggung bahwa sistem pendidikan hanya menciptakan karyawan dan tentara. Ini relevan dengan system pendidikan di negara kita. Sesungguhnya sistem pendidikan kita lebih pantas disebut dengan sistem pembelajaran atau pengajaran. Masih sedikit proses pendidikan (sesuai dengan pengertian yang dijelaskan di atas) yang termaktub. Orang-orang yang mengaku pendidik, lebih banyak memberikan pembelajaran ketimbang bagaimana anak didiknya berkembang dan mempunyai bakat tertentu. Anak didik seolah dipaksa untuk mempunyai harus mempunya “output” yang sama semua. Keahlian di luar akademis seolah dikesampingkan, walaupun saat ini mulai dikembangkan.

Kesuksesan seseorang tidak hanya dinilai dengan kemampuan akademis di bangku sekolah. Untuk menjadi sukses masih banyak kecerdasan-kecerdasan di luar akademis yang dibutuhkan. Walaupun keahlian akademis juga tetap mempunyai arti. Kita lihat bahwa kenyataan di masyarakat banyak lulusan PT (perguruan tinggi) yang hanya berpangku tangan menunggu pekerjaan.

Di Indonesia, anak didik lebih mengarah diajari belajar “bagaimana”, atau learn how. Itu artinya kita lebih diarahkan untuk “bercerita” dan “berteori”. Ini sebenarnya tidak buruk, tapi yang membuat kurang berarti adalah pelaksanaan/praktiknya tidak diajarkan. Sehingga secara mudahnya kita lebih banyak hanya diajari konsep atau teori mengenai sesuatu tanpa pernah mencoba atau mengalaminya sendiri. Konsep sistem pendidikan yang lebih maju adalah dengan learn about dan learn with.

Salah satu konsep yang bisa dicontoh dari beberapa negara maju adalah menggunakan kurikulum berbasiskan masalah. Jadi anak didik awalnya diberikan masalah, lalu mencoba menyelesaikannya sendiri. Setelah itu, baru diberikan bagaimana sebenarnya permasalahan/persoalaan itu terpecahkan. Keunggulan kurikulum itu ialah anak didik bisa berkecimpung langsung dengan permasalahan, mempelajari masalah itu, dan mencoba memecahkannya. Beberapa Universitas di negara kita mulai mengembangkan kurikulum semacam ini.

Menyikapi abad informasi

Dahulu, ketika orang lulus sarjana dan mengantongi gelar, begitu mudahnya mendapat pekerjaan. Bahkan dengan gaji tidak sedikit dan ketidakkhawatiran di masa tua. Tetapi itu dahulu saat abad atau era perindustrian berlangsung. Bukan hanya di negara-negara pelopor reformasi industri, akan tetapi negara kita juga mengalami kondisi yang sama. Di abad industri, pada saat belum banyak orang “berpendidikan”, sistem pendidikan yang ada pada waktu itu sangat mendukung kesuksesan seseorang. Namun seiring berkembangnya zaman, telah banyak tercipta para lulusan sistem pendidikan yang lebih banyak menciptakan “pekerja”. Ini membuat mereka yang sedang mencari pekerjaan terhambat. Artinya persaingan lebih ketat. Dan seiring itu pula, teknologi telah berkembang sedemikian rupa hingga teknologi merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia.

Yang perlu dibenahi adalah sistem pendidikan kita. Dari analisis di atas, negara kita harusnya mengubah sistem pendidikan yang benar-benar mengusung pendidikan dalam arti yang semestinya(paparan pertama). Pendidikan merupakan proses pengembangan anak menuju kedewasaannya dengan kecerdasan yang berbeda-beda satu sama lain, dan formula keberhasilan yang juga berbeda. Kalau pengertian ini diimplementasikan dengan semestinya, sistem pendidikan kita akan mencetak generasi yang benar-benar terdidik, tidak terombang-ambing perkembangan zaman.

Tidak mudah memang melakukan hal itu. Ada banyak aspek yang akan termuati. Mulai dari membangun kurikulum yang solid dan pengaktualisasinya, tenaga pendidik yang tau benar konsep pendidikan dalam arti yang hakiki, serta anak didik yang mau dan mampu bekerja keras. Pengkonsepan kurikulum yang dapat menciptakan generasi tangguh di abad informasi membutuhkan pemikiran-pemikiran kritis. Tenaga pendidik juga harus meniadakan pemikiran lama yang cenderung hanya “mengajari”, tetapi tidak memberikan “pendidikan”. Konsep dasar pendidikan yang benar harus diimplementasikan dari lingkungan keluarga semenjak dini. Seterusnya, penciptaan lingkungan masyarakat, bangsa dan negara yang berkompetensi wajib ditumbuhkembangkan untuk mendukung proses pendidikan. Namun hal ini perlu dukungan optimal seluruh komponen bangsa.

Iklan

Aksi

Information

One response

1 11 2011
Tips Memilih Kos « nurrahman's blog

[…] kos pada umumnya adalah lokasi, biaya, lingkungan dan keamanan. Tapi seiring perkembangan abad informasi saat ini, maka ada satu pertimbangan lain yang bisa dikatakan cukup penting. Simak kisahnya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: