Wajah Lebaran Pribumi

10 10 2008

Purworejo-Kebumen-Magelang….

Lebaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka 1990 cetakan ketiga), adalah hari raya umat islam sehabis menjalankan ibadah puasa (tanggal 1 syawal).

Mudik adalah berlayar atau pergi ke udik (hulu sungai, pedalaman). Pulang ke kampung halaman.

“Ied Mubarok”, begitulah kurang lebih yang diucapkan oleh orang-orang muslim di Afghanistan dan seantero wilayah timur tengah. Kalimat itu berarti kurang lebih selamat hari raya idul fitri. Sholat ied, yang terkadang berubah haluan dasar hukumnya, menjadi “wajib”, adalah rutinitas yang memang sudah menjadi “tradisi” tahunan di mana saja. Termasuk di Purworejo-Kebumen-Magelang. Sholat Id kali ini (baca : tahun ini, 1429 H / 2008 M) sungguh ramai. Karena tidak terjadi perbedaan pendapat yang cukup tajam mengenai penetapan jatuhnya hari raya di antara golongan dan ormas Islam di Indonesia. Hanya beberapa Ormas tertentu yang secara terang-terangan berbeda pandapat dengan penetapan pemerintah, seperti HTI (yang berkiblat pada penetapan hari raya idul fitri di Mekah, Saudi Arabia, yakni jatuh pada hari Selasa 30 september 2008) jamaah Aboge (penetapan jumlah puasa adalah 31 hari).

Alangkah padat dan penuh sesak di alun-alun kota Purworejo ketika satu syawal tiba. Masjid Kauman yang menjadi salah satu tempat penyelenggaraan sholat Id, sampai kehabisan tempat di sepanjang pelatarannya. Kira-kira pukul tujuh kurang seperempat, jamaah yang agak terlambat dating sudah susah untuk mencari lokasi parkir. Dan jalan sepanjang alun-alun sudah ditutup. Sehingga apabila ada jamaah dari arah selatan yang ingin sholat Id di Garnizun, sudah dipastikan tidak bisa lewat untuk menuju tujuan. Pada hari pertama dan kedua, secara umu, masyarakat purworejo akan mengadakan halal bihalal ke tetangga sekitar dan saudara. Di beberapa lokasi bahwan sudah ditetapkan bahwa pada hari kedua Lebaran, baru dimulai acara saling mengunjungi antar tetangga. Tradisi Lebaran ketupat (satu minggu setelah hari H, seperti di beberapa lokasi di Jawa Timur), tidak terjadi di Purworejo. Suara mercon dan kembang api tahun ini (1429 H) semakin turun drastis saja presentasenya. Hanya beberapa terdengar ketika Takbiran dan di lokasi-lokasi tertentu. Hal ini karena pihak kepolisian telah gencar melarang tradisi itu.

Justru ramai di beberapa sudut pusat kota di Purworejo, apalagi kalau malam hari di hari Lebaran di alun-alun kota. Hal ini dikarenakan banyaknya pemudik dari luar kota yang ingin jalan-jalan. Terlihat banyak sekali plat nomer kendaraan dari luar kota Purworejo. Apabila sudah H plus kurang-lebih satu minggu, maka yang terjad sebaliknya, seperti kondisi apa adanya, Purworejo kembali lengang sesuai julukannya kota pensiun.

Sepanjang jalan menuju Jakarta (jalur alternatif selatan maupun jalur utama, lewat Kutoarjo), selalu menjadi langganan macet. Tahun ini, berdasarkan data resmi Kepolisian, angka kecelakaan pemudik yang menuju Jakarta menurun, hanya sekitar 1800 orang korban tewas. Alhamdulillah. Jalur ramai selalu terjadi di sekitar pasar, seperti pasar Kutoarjo, Prembun dan Kutowinangun. Yang terjadi adalah seperti lazimnya masyarakat Indonesia, banyak PKL (Pedagang Kaki Lima) yang berhamburan di jalan. Memang kondisi ini sebenarnya memberikan rezeki dan menjadi kenikmatan tersendiri bagi pemudik untuk menikmatinya. Tetapi, ya memang seperti itu yang terjadi. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai membuat angak kecelakaan naik. Peace! Kota Kebumen (dengan toko swayalan Rita yang menjadi andalan keramaian pusat perbelanjaan di hari raya idul fitri), hampir tak ada bedanya dengan kota Purworejo dalam hal keramaian di hari raya. Suasana alun-alun yang sejuk di sore hari, selalu menjadi andalan untuk menikmati pemandangan dan menyambut maghrib di kota yang terkenal dengan bahasa jawa ngapak-nya. Pabrik batu bata dengan sistem home industry dan genteng, tetap menjadi pundit-pundi perekonomian kerakyatan Kebumen. Pantai petanahan, puring dan Ayah selalu menjadi primadona untuk menikmati pantai dan Laut di Kebumen.

Perjalanan ke magelang hanya ditempuh kurang lebih satu jam dari kota Purworejo. Dari pusat kota menuju daerah Mangklong, Salaman, hanya butuh kurang lebih 45 menit. Sangat dekat memang. Ketika melewati jalan raya utama Pwr-Mgl, akan terlihat pemandangan pegunungan yang khas. Terasiring akan terlihat dengan jelas di kanan-kiri jalan. Walaupun air di sawah tidak begitu banyak, karena baru awal memasuki musim hujan. Jika mau masuk ke daerah pedesaan sebelum masuk ke kota/Kab.Magelang, maka pemandangan kali yang bersih dengan batu-batu besar akan menjadi sangat apik untuk dinikmati. Dengan ritme perjalanan yang naik-turun, karena memang jalannya berbukitan. Gunung Merbabu atau pegunungan Tidar akan menyapa bila dilihat dengan seksama di kanan-kiri jalan pedesaan. Kota Magelang, terutama di daerah Pecinan merupakan salah satu sendi perekonomian. Hawa dingin selalu nampak di semua sudut Magelang, baik di kota, kabupaten, maupun pedesaan. Suasana yang sangat terasa sekali di Magelang adalah sejuk dan nyaman. Karena memang tidak banyak dijumpai kluster-kluster industri di sana-sini, dan suasana kota jumlah penduduknya tidak berjubel.

Iklan

Aksi

Information

2 responses

21 10 2008
andi

bagus. wah ra ngiro rip koe jago juga nulis. aku wae ra iso koyo ngene. smenagat bro. auk tunggu buku2nya haha

1 03 2009
Tole

haloooooo

pertamaxxx

brooo salam nderek langkung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: