Pangeran Glonggong

20 11 2008

glonggongKonspirasi atau bisa dianalogikan sebagai sebuah persekongkolan. Selalu terjadi berkaitan dengan harta, tahta dan wanita. Konspirasi sering diasosiasikan sebagai hal yang negatif. Dilakukan dengan tujuan tertentu yang merugikan beberapa pihak terkait. Memang begitulah adanya. Dan sudah sejak dahulu terjadi. Sejak sebelum Indonesia merdeka. Demikian kiranya yang disampaikan penulis dalam buku ini (berjudul GLONGGONG). Pesan tersirat yang mengingatkan bahwa hal serupa (baca : konspirasi) di era reformasi saat ini masih tumbuh subur. Terbukti dengan adanya manufer politik, korupsi dan kolusi.

Penulis (Junaedi Setiyono) yang notabene adalah staf pengajar di UMP (Univ. Muhammadiyah Purworejo), menuangkan novel sejarah peperangan Dipanegara dengan bahasa yang tidak sulit dipahami. Novel pemenang sayembara penulisan novel DKJ tahun 2006 ini diterbitkan pada tahun 2007 oleh penerbit Serambi Jakarta.

Mengisahkan seorang keturunan keraton yang mempunyai sebutan ”Glonggong”. Sebutan yang diperoleh karena keahlian dalam bermain Glonggong. Glonggong adalah sejenis senjata buatan dari pelepah pepaya yang telah kering. Glonggong kecil terlahir dari lingkungan keraton. Namun seiring pertumbuhannya, pada umur 17 tahun ia kehilangan Ibundanya tercinta. Peristiwa kehilangan yang tidak wajar, karena diliputi intrik dan manufer para pengkhianat dari lingkungan kraton yang membela kompeni Belanda untuk menggagalkan perang yang dipimpin Pangeran Dipanegara. Cakra Manggilingan, hidup itu terus berputar, begitulah kiranya kehidupan si Glonggong. Dari mulai hidup enak di lingkungan keraton sampai harus berjuang sebatang kara menjadi pengikut setia Kanjeng Pangeran Ngabdulhamid (Sebutan lain Pangeran Dipanegara).

Dikisahkan Pangeran Dipanegara meninggal pada 8 Januari 1855. Dalam pengasingan, entah dimana, setelah kalah perang dan ”Parapatan Agung” di Karisidenan Magelang. (Perundingan akhir dengan kompeni Belanda). Beliau adalah sosok yang semula dianggap sebagai ”Ratu adil” yang akan mengakhiri kesengsaraan ”Kawula ndasih” (rakyat banyak pada umumnya). Hal itu diyakini masyarakat sekitar wilayah Keraton Ngayojokarto Hadiningrat sesuai dengan yang tertulis di ”Jangka Jayabaya” (Semacam primbon Jawa). Perang jawa (Java Oorlog) dimulai pada 20 juli 1825.

Penulis mencoba mengisahkan sejarah dari sisi lain. Sisi yang bisa dibilang lebih komplek. Sisi dimana jarang sekali diungkapkan di pelajaran sejarah sekolah. Tentang pengkhianatan orang-orang keraton, para pangerannya, dan masyarakat pribumi pada umumnya.

Dikisahkan dengan sudut pandang orang pertama. Alur cerita bersifat bolak-balik. Dimana didalamnya dipadu bukan hanya berkisah mengenai cerita dan latar suasana perang tahun 1800-an di tanah Jawa, akan tetapi dibumbui dengan kisah ketulusan cinta sang aktor utama, Glonggong. Ketulusan dan kesetian cinta bukan hanya pada saudara, istri dan teman, tetapi juga dengan masyarakat luas. Masyarakat yang kala itu digambarkan benar-benar ditindas oleh penjajahan kompeni Belanda. Penulis memang mencoba membawa setiap siapa saja yang membaca serasa ikut andil mengalami masa perang Dipanegara. Walaupun penceritaan mengenai kejadian detail setiap gerakan dalam perang tidak lugas. Karena memang cenderung lebih menampilkan makna dari setiap kejadian tersebut.

Makna dan pesan yang juga beberapa muncul secara tersurat maupun tersirat. Diantaranya pengkisahan hikayat atau cerita Nabi, mulai dari Adam, Ibrahim sampai Sulaiman yang dapat berbicara dengan binatang. Pesain lain bahwa seorang lelaki sejati tidak akan bermain perempuan, dan menahan nafsu untuk memperoleh bidadari yang seutuhnya dan memuliakannya pada saatnya nanti. Pada saat pernikahan resmi benar-benar berlangsung.

Iklan

Aksi

Information

2 responses

2 12 2008
rina

pangeran pujaanku…
hehehe…

ini baru pengeran ku di dunai ataupun di akherat nanti

16 08 2010
Arumdalu « nurrahman's blog

[…] menyuntingkan bunga itu di rambutnya. Siapakah sebenarnya Arumdalu? Bagi yang sudah pernah membaca Pangeran Glonggong hendaknya sudah pernah mendengar nama tersebut. Tak lain dia adalah kakak perempuan dari Pangeran […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: