Pengusaha, Negara, dan Almamater Bangku Kuliah

20 11 2008

city-untuk-pengusahaKrisis global terjadi karena adanya unsur derivatif dalam perekonomian. Begitulah sebagain besar pendapat para ahli ekonomi dan manajemen di Indonesia. Efek derivatif atau turunan sebenarnya bukan hal baru, bahkan ada karena sistem perekonomian bebas dan kapitalis. Negara dan pengusaha sudah pasti sama-sama tahu mengenai hal ini. Efek yang terjadi dimana sebuah surat berharga dijaminkan dan dijual lagi dengan harga melambung. Begitulah kira-kira penjelasan sederhananya.

Penyelesaian dan solusi krisis global telah banyak dikumandangkan oleh banyak negara. Dan yang ter-uptodate dan berskala internasional adalah perundingan negara G-20 di Washington DC sabtu pekan lalu, 15 November 2008. Ditengarai oleh berbagai pengamat ekonomi dunia akan menghasilkan kebijakan yang dapat menyembuhkan pasar ekonomi (lebih tepatnya sektor riil) yang sedang sakit saat ini.

Mengatasi problematika pasar yang sakit dibutuhkan jurus atau strategi yang sophisticated atau jitu. Bukan startegi kacangan yang bisa jadi dilakukan berulang-ulang. Pasar yang dimaksud disini tentu saja erat kaitannya dengan perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh pemodal besar, yakni pengusaha.

Beberapa cara mengatasi pasar yang sedang ”sakit” dikemukakan oleh seorang pakar manajemen (Suwarsono Muhammad MA), antara lain dengan menghidupkan pasar yang sehat (suku bunga rendah, kurs stabil), menyehatkan sektor riil, dan menyehatkan perusahaan. Krisis global yang sedang merusak pasar finance (sektor nonriil) saat ini bisa diselesaikan dengan paradigma ”Growth driven” (teori awal perekonomian sebuah negara: sektor riil dikokohkan terlebih dulu, baru ditopang oleh sektor finance). Bukan dengan paradigma mengenai perekonomian yang sebenarnya lebih terkini, yakni ”financial driven”; sektor finance (sektor utama pendorong) dipaksa mengucurkan dana ke sektor riil.

Pengusaha, yang bisa dikatakan sebagai aktor utama dalam pasar ekonomi (baik pasar modal maupun sektor riil) memegang peranan yang penting dalam mengatasi pasar yang sedang sakit. Pasar yang sedang sakit jelas akan mengakibatkan roda perekonomian negara yang ikut-ikutan sakit. Lalu apakah para pengusaha tersebut akan bekerjasama dengan negara (baca : pemerintah) untuk saling bahu membahu menyehatkan pasar yang sedang sakit?

Yang terjadi di lapangan sebagian besar justru negaralah yang menjadi tulang punggung penyelesaiaan masalah. Beberapa pakar mengatakan, inilah saatnya pengusaha meminta bantuan negara. Jika kondisi sebuah negara sedang resesi, maka para pengusaha akan cenderung ”berteriak” meminta tolong, untuk menyehatkan perusahaanya yang sedang dilanda sakit. Bahkan dalam konsisi tertentu, misalnya bencana alam besar yang tidak sengaja disebabkan karena kelalaian pengusaha dan membuat sengsara rakyat, bisa mendapat ”topangan” bantuan dari negara atau pemerintah. Telah pula dibuat UU yang mengatur hal itu (sejenak mengingat kejadian lumpur Sidoarjo). Apakah hal ini memang mencerminkan di Indonesia negara bersifat sangat ”baik” dan demokratis??

Karl Max dalam penelitiannya mengemukakan bahwa negara adalah kawannya pengusaha. Dan hal ini setidaknya mulai terbukti, apalagi di Indonesia. Jika ”perkawanannya” merupakan sebuah jalinan yang menguntungkan bersama dalam horison waktu jangka panjang sekiranya tidak menjadi masalah. Tetapi apakah yang terjadi di lapangan demikian?? Sepertinya tidak selau ”simbiosis mutualisme” antara pengusaha dan negara. Negara seolah-olah dianggap tidak tahu menahu dan agak ”bodoh” dalam hal bisnis oleh pengusaha. Hal ini mungkin bisa sedikit dijadikan alasan pula mengapa ”bisnis-bisnis negara” (baca : beberapa BUMN), agak stagnan, bahkan jauh kalah bersaing dengan bisnis pengusaha (sektor swasta).

Jika disimak dengan teliti, terdapat beberapa trik yang dilakukan pengusaha (tentu saja tidak semuanya) dalam kondisi resesi negara seperti saat ini. Cara pertama tentu saja seperti diungkapkan di depan tadi, meminta tolong negara. Kemudian negara akan membeli perusahaan dengan kucuran dana. Apabila perusahaan tersebut sudah mengindikasikan sehat kembali, maka pengusaha akan membeli lagi dengan harga murah. Dibeli dengan atas nama orang lain atau anak cabang perusahaan. Untuk mengelabuhi. Apakah semua perusahaan yang sakit di Indonesia menerapkan metode-metode ini?? Yang bisa dilakukan adalah menyimak dengan baik dan melihat ke depan, seperti apa hasilnya nanti.

Satu hal lain yang tak kalah menarik ketika memperbincangkan masalah hubungan negara dan pengusaha adalah aspek jenjang pendidikan. Bangku kuliah. Jika disimak dengan detail, ada semacam pola yang terbentuk. Pejabat-pejabat penting di pemerintahan, seperti mentri, dan pengusaha kelas kakap cenderung terpusat di beberapa institusi Perguruan Tinggi. Hal yang tidak bisa dipungkiri. Komamdan Riset dan Teknologi yang sekarang berasal dari bangku kuliah di Institut Teknologi di Bandung. Beberapa pajabat lain (seperti Gubernur, Kepala BUMN) juga berasal dari bangku almamater kuliah yang sama. Kecenderungan yang terjadi memang para pejabat adalah berasal dari almamater bangku kuliah orang-orang yang juga pernah menjadi pejabat negara. Sangat susah pejabat yang terpilih berasal dari almamater bangku kuliah yang belum ada track record nya (menjadi pejabat). Hal tersebut memang akan menjadikan nilai dan prestige tersendiri bagi almamater bangku kuliah. Kerjasama antara negara (baca : pemerintah) dan institusi Perguruan Tinggi bisa dibilang pasti akan terjalin tanpa hambatan.

Begitu pula dengan pangusaha. Anak cucu generasi penerus pengusaha akan mempunyai kecenderungan mempunyai almamater bangku kuliah yang pernah ”menelorkan” pejabat-pejabat negara kelas atas. Hubungan yang terjadi selanjutnya adalah hubungan baik antara pengusaha dan negara (baca : pemerintah). Jika dicermati detail dan dilengkapi dengan data akurat, rupanya ketiganya akan terhubung (pengusaha, negara dan almamater bangku kuliah).


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: