Feodal dan Power Distance

15 12 2008

Sebuah balada. feodal

Pagi nan cerah di hari minggu, dikisahkan di sebuah kabupaten di jawa tengah. Sebuah daerah yang mempunyai trade mark kambing etawa, manggis dan buah durian. Pula mempunyai bentangan pantai yang cukup indah, dengan pasir besi yang terkandung di dalamnya. Kawasan pantai selatan. Lokasi persis di sebelah provinsi yang dikomandani seorang Sultan ternama.

Alkisah hari itu, pejabat nomer wahid di kabupaten itu, berbincang-bincang ringan dengan para staff pemerintahan setempat. Setelah sang pejabat memberikan sambutan pada acara funbike ria menyongsong akhir tahun di lapangan kota. Sebuah acara yang memadukan olahraga dan hiburan rakyat. Bincang-bincang ringan dilakukan di kawasan pendopo kabupaten.

Perbincangan dilakukan karena mempertimbangkan wacana pengisian acara di akhir tahun. Sang pejabat ingin mengetahui secara langsung dari para staff nya, mengenai acara apa yang akan dilakukan guna menyambut akhir tahun 2009 di kabupaten itu. Juga usulan mengenai proyeksi tahun 2009 mendatang, dengan macam-macam usulan acara yang baru.

Seorang staff ahli, baru masuk 2 bulan. Lulusan S 2 di sebuah perguruan tinggi di kota gudeg. Yang bernama Bulaksumur University of Jogja. Mengusulkan pada sang pejabat nomer wahid. Dia melihat sebuah kecamatan di kabupaten tersebut yang sangat potensial akan hasil bumi dan peternakannya. Kambing etawa, buah durian dan buah manggis. Di kawasan tersebut juga terdapat sebuah air terjun, dengan keindahan alam yang mengitari di kanan kirinya. Sampai saat ini, jarang sekali dikembangkan menjadi area wisata yang mandiri. Daerah potensial yang kurang begitu mendapat perhatian. Sayang sekali. Staff ahli tersebut memberikan usulan untuk membuat gebrakan baru di tahun 2009. Tahun yang diperkirakan memakan korban PHK beribu-ribu jumlahnya. Termasuk di kabupaten tersebut. Usulan untuk membuat kawasan wisata terpadu. Yang memadukan keindahan alam, air terjun, peternakan dan hasil bumi pertanian. Bahkan dia membuat blueprint lengkap dengan analisis kelayakan bisnis. Tujuan utama dari proyek pengembangan wisata terpadu ini jelas, meningkatkan pendapatan daerah dan lambat laun mencoba menghilangkan julukan kabupaten tersebut sebagai kota pensiun. Proyek yang cukup bernilai besar.

Rupanya tak selamanya usulan dari seorang bawahan bawang kothong, julukan untuk seseorang yang baru masuk dan sedikit pengalaman, ditampung dengan antusias. Sang pejabat yang juga lulusan S 2, bahkan menaruh senyum cemberut. Jelas masih terlihat gab antara garis komando seorang atasan dan pimpinan. Ditampiknya usulan itu secara lugas dengan sebuah dalih bahwa warga di kecamatan tersebut sampai sekarang adem ayem saja. Tidak ada konflik, masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan peternak tenang-tenang saja. Tidak ada berita menghebohkan seputar kemiskinan atau kelaparan. Laporan dari klinik kesehatan pemerintahan setempat juga mengabarkan tidak ada masyarakat di kecamatan tersebut yang menderita gizi buruk. Semua baik. Tinggal dijalankan saja program yang sudah ada saat ini, seperti pendampingan ke petani dan peternak. Kawasan air terjun juga aman-aman saja. Masyarakat masih bisa bebas mengakses ke sana, dan pembangunan infrastruktur jalan-jembatan tetap dilaksanakan. Walaupun dengan tertatih-tatih.

Kontan staff ahli berapi-api mencoba melakukan pembelaan dengan memaparkan lebih lanjut mengenai proyek pengembangan wisata terpadu itu. Dia mencoba menjelaskan kemanfaatannya secara bertubi-tubi. Dan suasana bincang-bincang ringan pagi itu seakan-akan berubah menjadi pembicaraan yang serius. Beberapa pejabat nomer setelah wahid, cuma mengerutkan dahi dan berdehem-dehem, tanda kurang sepakat. Dan seolah ingin mengatakan bahwa sudahlah, kita jalani saja sekarang apa adanya. Urusan proyek yang berguna untuk masa depan, tidak harus dipikirkan secara mendalam. Itu urusan nanti.

Semakin ditampik usulan itu oleh pejabat nomer wahid, semakin pula staff ahli itu mencoba menjelaskan dengan detail. Suasana perbincangan ringan jadi kurang kondusif. Agak memanas. Karena rupanya staff ahli itu ngotot. Jadilah sang pejabat nomer wahid yang tak mau kalah dengan seorang bawang kothong manjadi agak murka. Dengan nada yang agak memanas pula, dia mengatakan bahwa usulan itu tidak selayaknya dipaparkan di forum ini. Dan usulan yang mengada-ada saja. Spontan staff ahli diingatkan dan ditegur dengan nada keras oleh sang pejabar nomer wahid. Dan sang pejabat mengatakan kepada sekretaris pribadinya, untuk segera membuat surat peringatan level pertama keesokan harinya, yang ditujukan kepada staff ahli tersebut.

Suasana jadi hening, seketika setelah sang pejabat mulai geram. Dan staff ahli tau diri. Diam. Staff ahli pejabat yang lain, yang lebih senior karena sudah beberapa tahun menjadi tangan kanan pejabat, mencoba mengubah suasana kurang mengenakkan itu dengan mengalihkan perhatian. Spontan dia mencoba mengutarakan rencana acara wayangan tahunan yang akan segera digelar di lapangan kota. Staff ahli tersebut adalah lulusan S 3, lebih tepatnya SD, SMP dan SMK. Acara wayangan tahunan memang rutin dilaksanakan di kabupaten tersebut. Menjadi ritual tersendiri. Seorang pejabat bernomer setelah wahid berusaha menimpali perbincangan untuk mengkondusifkan perbincangan ringan di pagi itu. Nampaknya perbincangan acara wayangan leih diminati untuk menjadi perbincangan.

Staff ahli yang lulusan S 3 itu ternyata juga mempunyai usulan lain di tahun baru nanti. Dangdutan ria. Di lapangan kota, dengan tujuan untuk menghibur rakyat menyongsong tahun baru dengan penuh semangat katanya. Rupanya usulan itu lebih diterima secara bijak oleh pejabat nomer wahid. Entah karena sang staff ahli adalah juru kampanye pejabat nomer wahid saat pemilu dulu dan merupakan kerabat petinggi golongan politik yang sama dengan sang pejabat nomer wahid, atau entah karena sang pejabat nomer wahid suka wayangan dan dangdutan.

Rupanya tak semua usulan bawahan pejabat nomer wahid ditampung dengan antusias dan legowo. Masih terdapat perbedaan jenjang kekuasaan. Feodal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka Jakarta tahun 1997, diartikan bahwa sistem feodal bersifat mengagung-agungkan kekuasaan atasan, bukan menilai prestasi kerja dan kualitas.

Hanya usulan yang berasal dari orang-orang tertentu saja yang diterima oleh pejabat nomer wahid itu. Dan usulan yang tidak disenangi secara pribadi oleh pejabat nomer wahid, spontan kurang ditanggapi. Seolah perbincangan di pagi itu bukan untuk menampung aspirasi bawahan, tetapi hanya ingin mendengarkan usulan yang cocok saja.

Hal ini bisa dianalogikan sama dengan bagaimana seorang penguasa pada jaman-jaman penjajahan dulu yang cenderung masih feodal. Sistem feodal masih menampakkan perbedaan kesetaraan hak antara penguasa dan rakyat biasa. Mengagung-agungkan kekuasaan seorang penguasa. Rakyat adalah objek bagi penguasa. Kekuasaan dilakukan sesuai kesenangan penguasa. Padahal bisa jadi usulan dari bawahan adalah usulan yang sangat membangun. Bersifat memakmurkan rakyat.

Apakah hal ini masih merupakan cerminan sebagian besar kepemimpinan pejabat di negri kesatuan ini? Apakah hal ini juga yang menyebabkan kemakmuran pejabat-pejabat pemerintahan semakin jaya, sedangkan rakyat jelata semakin susah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari? Seolah kesejahteraanya dinomerduakan oleh sang pemimpin daerah? Padahal amanah yang dipikul oleh pemimpin sangatlah berat. Laksana memikul beban yang tiada tara, apalagi di tengah krisis yang melanda. Amanah untuk memberikan kebijakan-kebijakan yang memihak kepada rakyat sehingga rakyat makmur. Dan seolah menjadi pemimpin adalah ladang bisnis yang patut diperlombakan, terbukti dengan cukup banyaknya peminat untuk menjadi pemimpin ketika pemilu daerah dibuka, bahkan pemilu pemimpin negara. Dan sejatinya menjadi pemimpin bukanlah memperoleh hasil yang bermanfaat secara pribadi, tapi memberikan seluruh jiwa dan raga untuk menjalankan amanah.

Rumahku, 14 Desember 2008. Menjelang maghrib.

Iklan

Aksi

Information

4 responses

15 12 2008
inidanoe

Endonesa. . . Endonesa. . .
kapan majuna. . . ? ? 😦

15 12 2008
nurrahman18

@danoe: tenang mas danoe, optimis, kita pasti bisa….

15 12 2008
Sarifudin

Assalamu’alaikum mas,

baru lihat blognya mas arif nih, tapi belum baca2 soalnya di warnet nih malem lagi..
kapan-kapan aja daku baca semua (kalau sempet he.. he..)
Mampir ke Blogku juga ya, mas.
http://sarifudin.tk/

20 12 2008
feeds.bloggerpurworejo.com » Feodal dan Power Distance

[…] Feodal dan Power Distance Filed under: Uncategorized — @ 10:17 pm […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: