Comfort Zone

18 12 2008

Di sebuah universitas swasta terkemuka di Jogjakarta, PTIE Swasembada (Perguruan Tinggi Ilmu Ekonomi) yang terletak di daerah Seturan sedang terjadi kejadian yang cukup menggemparkan para staff karyawan dan akademisinya. Terpampang di papan pengumuman resmi universitas, “Gaji Karyawan akan dinaikkan per Januari tahun depan”.

Parno, seorang karyawan kontrak asal desa Dayu Ngaglik Sleman juga tak luput dari kegembiraan. Parno adalah seorang karyawan kontrak urusan Perbekalan Universitas. Baru masuk 2 bulan lalu. “Alhamdulillah, aku bisa nyicil kredit motor bulan depan”, selorohnya pada seorang kawannya. “Nah begini harusnya. Gaji kita naik hampir dua kali lipat. Kerjaan kita kan nambah banyak, lha wong mahasiswa baru yang masuk aja nambah banyak. Sudah sepantasnya gaji kita naik, kampus kan sedang kaya-kayanya. Kebanjiran mahasiswa, he he he”, timpal kawan Parno. Kemudian keduanya pulang seusai melihat pengumuman itu, dan seiring itu pula jam kerja karyawan usai.

comfortHari esoknya, semua karyawan universitas menjalankan aktivitas seperti biasanya. Bulan berganti, dan tiba saatnya di bulan yang pernuh berkah bagi karyawan universitas itu. Ya, kenaikan gaji. Tahun lalu dan tahun ini memang banyak sekali mahasiswa baru di kampus itu. Mungkin seiring dengan tingginya minat terhadap keilmuan ekonomi. Tak pelak membuat pihak manajemen kelabakan menerima begitu banyaknya uang sumbangan yang masuk. Dan hasil keputusan rapat, uang yang cukup berlebih itu dialokasikan untuk kenaikan gaji karyawan saja. Biar tambah semangat kerja.

Sebulan setelah bulan kenaikan gaji, para karyawan kampus itu mulai merasakan kenyamanan dan rejeki yang berlimpah. Beberapa orang terkadang menraktir rekan kerja lainnya seisai jam kerja. Begitu juga yang terjadi di Bagian Perbekalan Universitas. Parno tak luput dari budaya baru itu. Terkadang selepas jam kerja, Parno menraktir kawannya, Ngadiman, makan bakso Pak Narto. “Wah mantep tenan Kang Parno. Kemarin aku juga baru makan-makan sama Pak Jalal, Kepala Admin Perpustakaan. Kalau setiap tahun ada kenaikan gaji terus, bisa makmur kita nanti”.

“Yang penting kita tetep semangat kerja Kang Ngadikman. Betul kan!”, kata Parno yang masih lajang dan minim pengalaman.

*****

Bulan berganti dan kini telah memasuki semester baru. Palayanan terhadap mahasiswa masih tetap berjalan seperti biasa. Dan memasuki semester selanjutnya, yakni saatnya pendaftaran mahasiswa baru. Rupanya jumlah mahasiswa baru yang mendaftar menurun. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Pihak manajemen kampus mulai melakukan pembuatan strategi ulang, pemasaran kampus dengan lebih gencar. Di sisi lain para karyawan tidak begitu merisaukan hal itu.

Di saat makan siang di kantin kampus, “Kalau aku sih nyantai aja Kang, yang penting nyambut gawe. Lagian kerjaan kita sekarang lebih tenang dan tidak banyak. Lha wong gajinya dah nambah, he he he!”, kata Ngadiman.

“Kualitas pelayanan mahasiswa harunya kita tingkatkan, biar mahasiswa betah dan puas. Jadi tahun depan tidak mengecewakan. Mahasiswa nambah”, Parno agak berbeda pendapat.

*****

Setahun berganti. Dan sudah dua tahun Parno bekerja. Sudah saatnya mengajukan permohonan untuk menjadi karyawan tetap. Dan pendaftaran mahasiswa juga dimulai. Nampaknya kinerja manajemen untuk memperbaiki manajemen tak kunjung membaik. Jumlah mahasiswa baru semakin turun drastis saja.

Bulan berikutnya, Parno dipanggil kepala Bagian Perbekalan Universitas. “Kang Parno, ini ada undangan dari Kepala Perbekalan, katanya suruh menghadap besok”, kata Ngadiman.

Ono opo yo? kok firasatku tidak enak. Perasaan aku kerja baik-baik saja kok, tidak pernah mbolos”, Parno menimpali dengan suara gundah gulana di hatinya.

Tak dinyana dan disangka, sepucuk surat itu adalah awal mula dari berakhirnya pekerjaan Parno di kampus itu. Mimpi Parno untuk jadi karyawan tetap bulan ini hangus sudah. Rupanya akibat penurunan jumlah mahasiswa baru, manajemen mengambil langkah radikal. Pemecatan beberapa karyawan. Pihak manajemen tak mampu menggaji lagi beberapa karyawan, karena SPP mahasiswa kontan berkurang.

*****

Comfort Zone atau zona kenyamanan. Parno dan kawan-kawan terjebak dalam zona itu. Zona dimana seseorang sudah merasa nyaman dan tenang dalam hal apapun. Padahal sejatinya ada ancaman dan tantangan berat di dalamnya. Tanggung jawab moral untuk bekerja lebih baik. Ketika sudah merasa tenang dengan jumlah gaji yang banyak, justru terjadi penurunan kinerja.

Begitu pula ketika seseorang sudah merasa puas dengan suatu pekerjaan dan kondisi financial. Hura-hura dan foya-foya menjadi salah satu pelampiasan untuk kemakmuran. Berada dalam comfort zone susah di-treatment. Karena merasa di posisi tersebut sudah tidak bisa diganggu gugat. Jika merasa ada kelebihan secara financial, maka ada dua alternatif pilihan yang lebih baik. Yakni investasi dan donasi.

Rumahku, 17 Desember 2008. Menjelang Dhuhur.

Iklan

Aksi

Information

8 responses

19 12 2008
@beh

nice artikel brow..
inspiring me
manstap 😀

19 12 2008
inidanoe

zona nyaman…????

*tereak mode : on*
BBBLLLLOGGGGG….!!!!!
*tereak mode : off*

aku harus waspada….
*celingak-celinguk kanan kiri*
waspada….
waspada….

19 12 2008
inidanoe

hee…
ternyata aku premium…eh pertamax…
apa ini tipuan..???

*waspada mode : on*

19 12 2008
nurrahman18

tipuan???? ….that was a true story, at one of university in jogja….

20 12 2008
labib85

sepertinya den bagus arif makin jago aja nih,, memang begitulah kalau kita? kita lu kali gua ga haaa… sudah mabuk,

seperti halnya kita enak ngetik-ngetik lupa jam saja. atau kita kerja lupa sholat. padahal ada sisi-sisi yang perlu rehat juga bukan?

comfort zone barangkali aku maknai dan terjadi pada diriku adalah yang seperti itu……..ampuni hamba ya Allah.

20 12 2008
nurrahman18

same with me pak pujangga…..:(

20 12 2008
annosmile

pilih zona aman aja ya ^_^

22 12 2008
ical

paling enak memang di tengah-tengah, terlalu nyaman maupun terlalu tidak nyaman seringkali membuat kita lupa akan sesuatu yang penting, seperti yang terjadi pada diri saya.
huff (maaf, malah seperti curhat..he)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: