Lagan

30 12 2008

Rabu, 24 Desember 2008

Riuh ramai terdengar dari dapur rumah itu. Dapur yang ditinggal pemilik rumahnya untuk menunaikan rukun islam yang kelima ke tanah suci. Tinggalah di situ keluarga Pak Ali, dengan keempat anaknya, laki-laki semua dan masih bujang. Khan, Ahmad, Prayoga dan Muhammad.

Ibu-ibu tetangga di rumah dekat masjid Al Ikhlas Jl. Brigjen Katamso Purworejo itu berdatangan. Sudah semenjak hari senin dan selasa, persiapan dilakukan untuk menyambut kepulangan suami-istri itu di tanah air.

Semenjak selasa sore, sang anak sudah mulai berdatangan dari kota perantauan. Yang paling besar pulang terlebih dahulu. Naik motor dari Jogja. Anak kedua pulang pada Rabu siang. Menjelang ashar. Sedangkan yang ketiga pulang ketika menjelang maghrib.

“Asslkm! Bapak belikan pulsa. Habis ini hp dimatikan. Naik pesawat”, begitulah kira-kira bunyi sms dari sang Ayah pada pagi pukul sembilan. Minta dibelikan pulsa.

Sejak pagi hari, Bu Sabar-yang dipasrahi amanah untuk menjadi pemimpin urusan dapur-sudah menyiapakan menu makanan untuk menyuguh tamu. Dan para tetangga berdatangan dengan sendirinya. Ada yang sekadar memberikan gula dan teh, membantu memasak dari pagi-siang-sore-malam hingga pagi lagi, sampai gotong royong membawa kursi milik Pengurus RT. Deretan kursi itu ditata rapi di halaman masjid. Dan sejak sore pula beberapa orang tetangga lainnya membantu menata kursi.

Tak pelak, ngrumpi Ibu-ibu yang sedang memasak di dapur menjadi hal yang lumrah. Sudah menjadi tradisi-entah darimana tradisi ini-bahwa jika ada sebuah keluarga yang mempunyai hajat atau gawe, para tetangga saling membantu sebisanya. Bahkan tanpa diminta. Dengan adanya budaya seperti itu, maka hampir bisa dikatakan jarang di lingkungan tersebut, ada sebuah keluarga yang memesan jasa cathering untuk keperluan konsumsi. Semua tenaga dan bantuan berasal dari tetangga. Dan tradisi membantu untuk keperluan memasak itu dinamakan Lagan.

Sore itu, Ahmad baru saja pulang. Rupanya sanak saudara sudah berdatangan. Mulai dari Budhe sampai sepupu. Syamsuddin, sepupu dari Temanggung yang masih kecil, diajaknya baik sepeda ke sawah dekat rumah untuk memancing bersama seorang tetangga bernama Yadi. Memancing, hal yang sudah tidak pernah dilakukan lagi oleh Ahmad semenjak sekolah di SMU. Sore itu, memancing di kalen (sebutan untun sungai kecil, besarnya hampir sama dengan got) dekat rumah menjadi sangat mengasyikkan, karena mengingatkan kembali pada memori pada masa kecil dulu. Dimana sering sekali bermain di sawah bersama teman-teman sebayanya. Namun kali ini beda. Memancing ikan kecil-kecil, mulai dari sidat, yuyu (kepiting) sampai lumbo (sejenis belut tapi punya moncong kepala seperti ikan).

Menjelang maghrib, keduanya pulang. Telepon berdering ketika isya. “Bapak sudah sampai Batam. Transit sementara. Nanti sampai Solo sekitar jam 10”, suara sang Ayah yang terdengar letih tapi tetap ada semangat untuk segera pulang ke rumah. Dan seketika itu pula, kabar kepastian jam berapa suami-istri itu pulang beredar. Para tetangga sudah mulai berdatangan dan menanyakan kepastian waktunya. Menjelang jam sepuluh, para tetangga sekitar baik laki-laki maupun perempuan, seolah tanpa dikomando segera berdatangan. Menyambut kehadiran suami-istri itu. Begitulah budaya tepo sliro yang berkembang di lingkungan masyarakat itu. Mungkin budaya yang sudah sangat jarang ditemui di kota-kota besar. Para tetangga rela lek-lekan guna menyambut kepulangan suami-istri itu. Dan seolah mengisyaratkan bahwa mereka berdua bukan hanya dipunyai oleh anak dan sanak saudara, tetapi sudah menjadi bagian dari masyarakat sekitar yang tidak dapat dipisahkan.

Budaya atau tradisi, ya memang di lingkungan masyarakat jawa banyak sekali budaya luhur yang patut ditiru. Mulai dari lagan, tepo-sliro sampai budaya-budaya kesenian yang syarat makna maupun cenderung slengekan. Seperti gending jowo, yang setiap sajaknya memuat makna mendalam. Makna tentang berbagai cerita kehidupan. Mulai dari suka sampai duka. Salah satunya bisa dilihat di situs http://www.ki-demang.com. Adapula budaya yang bisa dibilang slengekan, yakni boso ghali. Ghali berarti preman. Boso ghali ditengarai berasal dari kota gudeg. Salah satu contohnya ada di produk pakaian dagadu, yang jika diartikan sebenarnya adalah berarti matamu. Cara penggunaan boso ghali mudah. Susunan aksara jawa ha na ca ra ka dst, dipindah pemaknaaanya sesuai baris. Baris 1 dipindah menjadi baris 3, dst.

Kamis, 25 Desember 2008

Kepulangan suami-istri itu memang molor 12 jam. Cukup lama. Pukul satu dini hari, dua mobil datang bersiap untuk menjemput ke Pendopo Kabupaten. Ada rasa haru terbesit dan lega di rumah itu. Keluarga, sanak saudara dan para tetangga sangat berharap suami-istri itu pulang dengan selamat. Kelegaan akan muncul jika suami-istri itu pulang dengan kondisi sehat wal afiat. Sekitar pukul satu lebih sedikit, dua mobil meluncur ke Pendopo Kabupaten.

pendopokabpur pendopo2 alikhlas

Ahmad dan Khan masuk Pendopo Kabupaten. Yang lain menunggu di luar. Karena memang bus pembawa jemaah akan memasuki Pendopo terlebih dahulu. Dan hanya orang yang membawa tanda masuk penjemput saja yang diperbolehkan masuk.

“Bapak sudah sampai Don Bosco”, seru sang Ayah di telepon genggam Khan. Suara sirine mobil polisi mulai meraung-raung. Tanda jemaah sudah datang. Suami-istri itu ada di bus nomer 6. Segeralah kedua anaknya mencari dengan seksama. Dengan sigap akhirnya mereka menemukan Ayah-Ibunya itu. Alhamdulillah. Sontak rasa syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan keselamatan.

Jumat. 26 Desember 2008

Tangis haru pecah ketika suami-istri itu bersalaman dengan para tetangga dan sanak saudara. Dan semenjak malam dini hari itu, tamu berdatangan tak kunjung habis. Menandakan betapa pentingnya silaturahmi.

Dan tutur kata cerita perjalanan ke tanah suci langsung menjadi bahan obrolan utama dengan para tamu. Perjalanan tahun ini, di mana para jemaah sebagian besar merasa makanan yang disediakan oleh Depag, turah-turah. Dan ada pula penginapan yang seharusnya ditempati satu kamar 4 orang, menjadi 8 orang. Serta jauhnya penginapan yang mencapai 8 km, sehingga harus jalan kaki sejauh itu untuk beribadah. Ada pula ONH plus yang ongkosnya bisa dua kali lipat jalur biasa, mencapai 60-an juta.

Suatu sore itu sang Ibu bertutur dengan penuh hikmat, “Kalau sudah kerja dan berkeluarga, jangan beli mobil dulu, tetapi haji dulu”.

Ditulis bertepatan dengan satu Muharam 1430. Tahun baru Hijriah, pindah dan menuju kebaikan. Semoga budaya mendekati syirik, tumpengan arakan kebu bule di Solo, juga hijrah menuju jalur pemahaman yang benar. Semua barokah karena-Nya. Bukan karena kotoran kebo bule. Ketika beberapa hari setelah ratusan saudara muslim di Palestina digempur teroris zionis Israel. Dan lumpur Petrocina di Gresik mulai menyembur.

Iklan

Aksi

Information

3 responses

30 12 2008
feeds.bloggerpurworejo.com » Lagan

[…] Lagan Filed under: Uncategorized — @ 3:00 am […]

2 01 2009
Lutfi

waduh, sayang sekali jajannya koq ga di foto ya? 🙂

5 01 2009
nurrahman18

menu makanan saat itu adalah opor ayam dan gudeg 😀
salam kenal buat lutfi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: