Bunyi Terompet Tahun Baru, Suara Mercon dan Kembang Api

5 01 2009

Suroto adalah seorang penganut urbanisme. Penjual plastik bekas, kertas dan kardus yang tinggal di bantaran kali code jl. Sudirman Jogja. Yang masuk wilayah Gondolayu Jetis. Bapak dua orang anak ini sudah 15 tahun lamanya berprofesi sebagai pengepul sampah-sampah plastik dan kertas bekas. Pabrik-pabrik daur ulang sampah dan plastik akan mencari bahan baku, salah satunya ke tempat tinggal Suroto. Dan Suroto sendiri setiap harinya bekerja mengais rejeki dari sampah-sampah atau mencari barang bekas dari rumah ke rumah. Dalam sebulan saat ini hanya mampu menjual 80 kg plastik ke pabrik. Harga satu kilo menurun drastis, dahulu sebelum lebaran bisa mencapai 600 rupiah. Sekarang hanya 200 rupiah saja. Sungguh pilu pukulan krisi global ini, rupanya pabrik-pabrik kehabisan modal sehingga tak punya uang dan hanya membeli bahan baku yang sangat rendah.

sampah Rumah Suroto yang sekaligus sebagai tempat mencari nafkah, hampir selalu digunakan sebagai atap tidur setiap harinya. Rumah di bantaran kali code yang penuh sesak dengan bau busuk sampah, kotoran dan nyamuk-nyamuk gemuk serta ganas yang siap memangsa. Atau genangan air yang muncul di kala hujan, walaupun tidak sampai banjir. Akan tetapi sebenarnya Suroto mempunyai satu kamar kos di daerah Monjali. Yang lebih sering ditempati istri tercintanya. Begitu juga malam itu. Suroto dan istrinya adalah warga asli Magelang. Tepatnya di desa Pakis, lereng gunung Merbabu, Kab. Magelang. Hanya pulang ketika Lebaran tiba.

Bantaran kali code jl.sudirman memang penuh sesak dengan hamparan pemukiman padat. Dihuni oleh penduduk yang terdiri dari background pekerjaan yang bermacam-macam. Tak dipungkiri di situlah banyak sekali masyarakat kelas menengah ke bawah, dari sudut pandang penghasilan. Beraneka ragam pekerjaan masyarakatnya mulai dari pedagang asongan, angkringan, tambal ban, pemulung, office boy, buruh pabrik sampai sales koemstik. Mungkin dengan adanya rasa sepenanggungan dan toleransi masyarakat jawa yang masih cukup tinggi, di kawasan tersebut bisa dibilang damai, sejahtera, dan miski konflik.

Agak berbeda malam taun baru sekarang. Perbedaan kondisi di atas; jembatan kali code jl.sudirman. Dan kondisi di bawah; bantaran kali code. Di tengah hiruk pikuk, muda-mudi bermesraan, orang tua-anak saling bersuka cita sampai fotografer dan wartawan yang nampak ceria dan bahagia ditemani awan langit yang cerah; di bantaran kali code itu sunyi senyap. Ternyata sebagian warga di situ juga mencoba ikut sedikit mencicipi kebahagiaan malam tahun baru dengan naik dan menikmati indahnya malam di jembatan kali code. Namun, tak sedikit pula yang menghabiskan malam tahun baru di dalam rumah. Tidur.

Kurang lebih jam 23.00, Budiyo, anak bungsu Suroto dibangunkan dari tidurnya. Mula-mula Suroto yang naik terlebih dahulu ke atas jembatan, mendaki tangga dari bekas cor-coran semen yang terjal dan licin. Selanjutnya disusul Budiyo, bocah kelas 2 sekolah dasar, naik menyusul Bapaknya. Entah apa yang di benak Suroto dan Budiyo mendengar bunyi terompet tahun baru, suara mercon dan kembang api malam itu. Suroto dan Budiyo sebenarnya telah terlelap dalam tidur. Namun suara-suara meriah perayaan tahun baru di kali code itu membangunkannya. Dan ada sebersit rasa ingin tahu dan menikmati pula.

picture89

Di tengah hamparan bunyi terompet dan kembang api, Budiyo, hanya ingin melihat seperti apa meriahnya malam tahun baru. Malam yang bisa jadi sangat berbeda dengan biasanya. Karena malam-malam biasanya hanya menikmati bau busuk sampah dan celoteh Bapaknya, Suroto. Atau sekali-kali bertandang ke kamar kos di Monjali, tidur bersama Ibunya. Malam yang berbeda pula bagi Suroto. Dia bisa melihat begitu mudahnya orang-orang yang bisa menyisihkan uangnya, atau lebih tepatnya membuang uangnya untuk membeli mercon dan kembang api. Kembang api, mungkin kenikmatan sesaat bagi Suroto. Karena setiap hari ia harus bergelut dengan dunia sampah, dunia yang bisa dikatakan setiap orang menganggapnya kotor. Karena bau busuk. Dan setiap hari ia harus mengais rejeki yang tak jarang memperoleh rejeki yang nilainya tak lebih dari harga satu buah terompet tahun baru.

Setelah pesta usai. Hal yang juga lumrah ditemui Suroto tiap tahun adalah tumpukan sampah kertas bekas mercon, dan sampah-sampah makanan. Entah itu sudah menjadi budaya bagi orang-orang yang punya uang atau seperti apa. Karena di setiap pesta usai di tempat publik, apalagi di tahun baru, selalu menyisakan sampah berlimpah. Atau jangan-jangan sudah menjadi pembenaran publik bahwa setelah pesta tahun baru di tempat publik usai, selaras dengan tebaran sampah di jalan. Nampaknya tangan-tangan kurang disiplin begitu susah untuk membuang sampah pada tempatnya. Atau jka tidak menemukan tempat secepatnya, bisa menyimpannya di kantong dan segera membuang sampah di tong sampah jika menemukannya.

Dan toko serba ada 24 jam pun segera ramai oleh orang-orang berdesakan membeli makanan-minuman.

Based on true story

Bantaran kali code jl.sudirman; 31 Desember 2008 – 1 Januari 2009