Budaya Latah

13 01 2009

Meutia, salah seorang mahasiswa teknik industri angkatan 2003 baru saja dikagetkan oleh salah satu temannya seusai kuliah. Di universitas negeri Solo. Yang terucap pertama di bibirnya adalah kata “e copot e copot e copot e copot”. Begitulah orang latah pada umumya. Akan keluar kata-kata yang sama berulang-ulang ketika dikagetkan.

***

Apakah kebiasaan latah hanya menimpali manusia pada umumya? Cobalah tengok per-televisi-an Indonesia. Masih ingat di benak kita beberapa tahun yang lalu, di sebuah stasiun TV swasta menayangkan program acara ajang mencari penyanyi muda berbakat. Tak lama berselang. Beberapa bulan kemudian karena melihat antusias pemirsa TV (yang konon katanya dibuktikan dengan banyaknya sms), stasiun TV lain menayangkan acara yang bisa dibilang sama kontennya. Ajang kontes bintang. Dengan berbagai improvisasi. Ada yang mencoba mencari bintang lawak, pasangan selebritis, pasangan anak-ibu, sampai program yang katanya mengadopsi ajang serupa yang sukses di Amerika. Dan sampai sekarang program-program tersebut beberapa masih ada.

Rupanya telah pula terjadi ke-latah-an di tayangan TV. Dengan dalih tayangan terebut laris, semakin banyak acara serupa seolah ditiru. Atau yang saat ini sedang cukup marak. Acara Reality Show. (mungkin) Dengan dalih serupa, berbagai program seperti itu dirancang. Mulai dari acara yang berbau cinta kasih, tolong menolong sampai menjahili selebritis. Ada pula program Sitkom. Acara komedi ringan yang sedang cukup marak ditayangkan. Satu saja stasiun TV saja yang berhasil menayangkan acara Sitkom dengan sukses, maka yang lain mengikuti. Seolah hanya ikut-ikutan saja. Walaupun tentunya setiap stasiun TV punya program kerja yang berbeda-beda secara keseluruhan. Tapi acara yang ‘latah’ itu tetap ada. Tetap ada.

picture6Buku dan film

Seolah tak mau kalah dengan dunia TV, maka di kancah per-filman nampaknya ada semacam budaya ‘latah’ yang hampir sama. Misalnya ketika genre fiilm horor laris manis di pasaran, maka beberapa produser langsung berinisiatif untuk membuat film serupa. Dengan dalih yang tentu saja logis dan tidah mudah dipatahkan. Memang bukan untuk disalahkan dan dicari pembenarannya. Yang harus diperhatikan adalah ada semacam budaya tiru-tiru atau latah, yang sebenarnya kurang baik. Budaya semacam ini akan memangkas kreativitas. Benar-benar hanya meniru. Memang jika proses pembelajaran, proses meniru untuk kali pertam adalah wajar. Terkadang di penulisan ilmiah ada yang disebut dengan kurva belajar. Akan tetapi, jika terus-menerus meniru, tidaklah pantas.

Ada kalanya latah membawa imbas yang cukup baik. Seperti ketika film AADC diputar, beberapa orang melihat potensi perfilman Indonesia mulai bangkit. Hal ini bisa dikatakan sebagai ‘latah’ yang bagus.

Di dunia buku juga nampaknya terjadi hal serupa. Tengoklah judul-judul buku yang menggunakan kata ”pelangi” setelah novel Andrea Hirata itu laris manis. Pasti berjibun. Atau novel yang menggunakan judul mirip dengan Ayat-ayat Cinta. Bahkan dengan cover hampir sama. Hampir bisa dikatakan jika ada satu saja novel yang laris manis di pasaran, maka yang lainnya akan mencoba mengikuti. Yang sayangnya proses mengikutinya terkadang mentah-mentah. Tidak diserap sari patinya.

Bad news is a good news

Jika ada pihak yang mau membuat penelitian statistik di acara-acara infotainment TV, maka bisa dipastikan bahwa headline-nya sebagian besar adalah berita kurang menyenangkan. Atau diistilahkan bad news. Mulai dari isu perceraian, hutang-piutang, kecelakaan, sampai berebut harta warisan. Rupanya berita semacam itu masih menjadi daya tarik yang lumayan bagus. Bisa dibilang bahwa masyarakatIndonesia lebih tertarik dengan ”kekurangberuntungan” dan ”kesedihan” orang lain. Memang tidak untuk disalahkan secara sepihak. Toh dari sudut pandang si empunya TV pasti akan berpandangan bahwa ya dari situlah daya tariknya sehingga pemirsa bersedia nonton infotainment. Tapi apakah budaya-budaya seperti ini patut dikembangkan. Budaya untuk melihat ”kebobrokan” sebuah permasalahn, budaya mengumbar aib. Karena jika dibiarkan berkembang terus menerus bukan tidak mungkin akan tercipta sebuah stasiun TV yang menayangkan acara gosip, isu, dan kabar burung. Diberi nama ”TV GOSIP”.

Jika ada headline yang menampilkan prestasi seseorang, maka itu hanya sebgaian kecil saja. Bahkan beberapa hanya dijadikan semacam bumbu penyedap.

Mendidik

Seiring perkembangan kebebasan jurnalisme, maka berita-berita di media semakin menyuarakan apa adanya kondisi di lapangan. Orang bebas berpendapat. Akan tetapi memang ada penyaring tertentu yang dinamakan kode etik jurnalistik. Media TV punya tanggungjawab sosial untuk sebuah hal besar bagi bangsa ini. Mendidik. akan tetapi pada realisasinya “setan itu bernama rating”. Ya, rating acara TV sangat diagungkan. Padahal metode statistik yang dipakai belum tentu valid.

Jika TV hanya dikatakan sebagai hiburan saja, maka ya masyarakat akan cuma mendapat satu kemanfaatan saja. Terhibur. Padahal TV adalah alat komunikasi masa yang paing diminati saat ini. Ada visualisasinya. Menarik untuk ditonton.

Definisi mendidik memang sangat luas dan kualitatif. Sangat susah menyatukan definisi akan hal ini. Akan ada beribu pendapat mengenai bagaimana menilai apakah TV sudah mendidik masyarakat. Tapi coba dilihat tayangan saat ini. Lebih banyak manakah tayangan yang bisa dibilang kurang mendidik dan hanya hiburan, dengan acara-acara yang bertema pendidikan. Misalnya kuis cerdas cermat anak sekolah, keilmuan alam, sampai berita internasional. Dengan acara gosip artis dan reality show muda-mudi yang berjuang atas nama cinta. Atau memang kondisi masyarakat yang sudah membudaya suka akan acara-acara ”bad news” itu?

Iklan

Aksi

Information

6 responses

14 01 2009
masiqbal

sebel juga kalo ada temen yang latah, apalagi klo yang latah laki-laki… hoeeek… najis abis… 😀

14 01 2009
nurrahman18

kalo yg latah cewek gmn mas iqbal? he he he

1 03 2009
ikaria

kayaknya iqbal juga merasa jijik……..

1 03 2009
nurrahman18

@ ikaria : klo cewek aja kadang bikin jijik 😀

30 04 2010
Ironi Berita Penelitian « nurrahman

[…] hangat yang sedang marak diperbincangkan. Media masa juga mempunyai peran mendidik, bukan sekadar budaya latah. Walaupun hal tersebut perlu proses saat […]

16 10 2011
Es Krim Magnum « nurrahman's blog

[…] apalagi kalau kantong pas-pasan (LOL)”. Yes, benar. Janganlah juga menjadi semacam latah teknologi dalam kasus ngetrend nya ponsel BB beberapa tahun lalu. Karena di Indonesia memang penduduknya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: