Iwan dan Daia

28 01 2009

iwan1

Iwan adalah seorang bocah kelas TK yang berteman dengan Daia semenjak kecil. Keduanya tidak terpisahkan karena orangtuanya bersahabat karib. Bermain bersama setiap sore adalah langganan bagi kedua bocah itu.


Suatu saat keduanya dibelikan mainan oleh kedua orangtua masing-masing. Mainan robot-robotan. Mainan yang dimainkan hampir setiap harinya oleh keduanya. Hingga suatu saat, mendasarkan pada keakraban yang terjalin, mainan tersebut saling ditukarkan. Berdua seiya sekata untuk saling menjaga mainan tersebut supaya tidak rusak selama masih bisa. Dan jalinan keakraban tersebut terjalin dengan baik-baik saja.

Selepas pulang dari bermain di TK, Iwan dengan girang menuju ke rumah Daia. Karena kebetulan rumahnya bersebelahan. Berencana bermain robot-robotan itu lagi. Heran dan terkaget, entah dengan alasan apa mainan robot milik Daia rusak, Iwan pun pulang dengan kecewa. Daia hanya melongo tak tahu harus berbuat apa. Karena mereka masih kanak-kanak.

Hingga kesekokan harinya, Iwan enggan bermain dengan Daia, bahkan menyapa pun sungkan. Dan hal itu berlanjut terus. Hingga suatu hari, orang tua Iwan harus pindah keluar kota. Pindah rumah menuruti tugas kantor. Tak ada komunikasi hingga keluarga Iwan menetap di rumah baru, jauh di luar kota dan beranjak dewasa seiring waktu berjalan. Iwan harus melanjutkan belajar di bangku kuliah. Sudah bertahun-tahun lamanya.

*********

Dan saat sore menjelang latihan futsal harus segera dimulai. Daia, mahasiswa komandan klub futsal tingkat fakultas, dikagetkan dengan pendaftaran seorang mahasiswa baru calon pemain futsal. Iwan. Hanya senyum datar yang mengiringi diterimanya Iwan sebagai anggota baru klub futsal mahasiswa tingkat fakultas. Iwan dan Daia tak banyak terlibat perbincangan. Mungkin karena masih kukik atau karena alasan lain yang susah diungkapkan. Waktu terus berlalu, dan dalam sebuah tim futsal sudah selayaknya harus kompak untuk memenangkan pertandingan. Berlatih terus dan melakukan uji coba pertandingan adalah hal yang sering dilakukan oleh tim futsal tersebut. Alhasil dalam sebuah kompetisi antar kampus, tim futsal tersebut menang. Itu juga berkat bantuan kekompakan tim, termasuk di dalamnya Iwan dan Daia.

*********

Begitulah kepercayaan antar orang. Seperti pertukaran mainan. Jika yang satu rusak. Maka kepercayaan yang terjalin antara dua orang itu rusak. Kadang harus menghargai pertengkaran. Karena akan ada persatuan sesudahnya.

Kepercayaan ibarat mainan robot-robotan yang saling ditukarkan satu sama lain. Sedangkan komitmen adalah janji ikatan untuk saling menjaga mainan itu. Konsistensi meliputi bagaimana menjaga mainan itu tetap utuh, tidak cacat. Resiko adalah berpisahnya Iwan dan Daia. Bisa jadi kepercayaan itu tumbuh dengan sendirinya karena melihat bahwa resiko itu terlalu besar untuk ditanggung. Sehingga seseorang tidak mampu untuk menyangganya.

Beginilah rumus kepercayaan seseorang terhadap yang lainnya :

kepercayaan = komitmen + konsistensi – resiko.

Terkadang keputusan seseorang yang telah dipertimbangkan matang-matang tetap bisa memberikan secuil kekecewaan bagi orang lain. Karena kita manusia.

Iklan

Aksi

Information

17 responses

29 01 2009
masdeewee

Wah apik tenane mas….
Aku pingin bisa nulis kayak gini. Mohon izin ngopi ya mas, buat arsip pribadi. 🙂
Nuwun ….

30 01 2009
mel

sebagian besar orang takut dengan komitmen (termasuk saya)karena susah membangun kepercayaa dengan orng lain terutama bagi yang baru kenal…

30 01 2009
nurrahman18

@ masdeewee : monggo
@ mel : takut karena resiko kah?…..

30 01 2009
inidanoe

saya percaya anda kok mas…
tapi saya gk punya komitmen apapun ma anda… 😀
*di gaplok mas rahman*

31 01 2009
nurrahman18

@ inidanoe : *sedang mencari2 danoe buat digaplok, kemana ini anak, apa aku aja yang jarang ngumpil sama anak2*, he he he

31 01 2009
xentala

wewww keren tulisannya.. apalagi rumus kepercayaanya tuh.. dua jempol buat mas nurrahman. trus analogi nya juga boleh…
btw jgn lupa kunjung2 ya mas di blog kita… lg blajar nulis neh biar bsa kya mas.

best regard,

http://www.xentala.wordpress.com

31 01 2009
xentala

test2

31 01 2009
xentala

mas kox tiap saya komment banyak gx langsung ke publish yah..

31 01 2009
nafisblog

susah juga ya !

salam kenal aku nafis
kunjungi blog saya ya:
http://nafisblog.wordpress.com

2 02 2009
INDAHREPHI

ada satu hal yang dilupakan dalam cerita ini… yaitu..

“bicara”

walaupun ini sesuatu hal yang spele namun kadang “bicara” *dari hati ke hati* itu bs mencairkan hati yang membeku 🙂

2 02 2009
rheifania

hai…salam kenal…aduh jadi inget persahabatanku waktu sekolah dulu…..
mampir ke blog aku ya…di http://rheifania.wordpress.com
ditunggu comentnya

2 02 2009
Jafar Soddik

Tipikal anak kecil itu ada yaitu, mudah sekali mengingat akan sesuatu dan tidak mudah juga melupakan sesuatu. Jika dalam kasus diatas ada kemungkinan kejadian mainan tersebut membekas di anak sampai ia dewasa sehingga ada semacam trauma untuk berhubungan akrab lagi dengan kawan masa kecilnya.

Semestinya sih memang ketika usia semakin dewasa maka kita semakin bijak untuk tidak mudah menjauhi seseorang yang pernah berbuat tidak mengenakkan kepada kita sewaktu kecil. Namanya juga mungkin anak-anak masih belum berpikir jernih dan siapa tahu mungkin ketika sudah besar sifat Daia sudah berubah menjadi seorang yang baik lagi bertanggungjawab :).

2 02 2009
vanizha

oh… so sweet…

2 02 2009
masiqbal

so sweet…

3 02 2009
oRiDo™

yups..
karena kita adalah manusia..
yang tak pernah merasa cukup denganapa yang di dapatkan…

4 02 2009
tukyman

sudah lama gak berkunjung, gue bawah ole oleh nih 🙂
siapa tau suka, iseng 2x berhadiah

4 02 2009
nurrahman18

@ xentala : terimakasih dah mampir
@ nafisblog : makasih, aku juga dah mampir ke blogmu
@ indahrephi : terimakasih atas masukkannya……….:D
@ rheifania : wah, puisi-puisi mu bagus, boleh dunk minta diajarain 😀
@ jafar : sebenarnya bukan pada ‘anak kecil’ inti ceritanya, tapi pada ‘kepercayaannya’
@ vanizha dan iqbal : yang sweet apanya…he he he he 😀
@ orido : manusia punya salah dunk 😀
@ tukyman : o. boleh, silakan berkunjugn kapan saja…oleh2 , mana????????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: