Survey Oh Survey

5 02 2009

Dengan adanya pemberitaan di media masa mengenai survey siapakah calon presiden yang paling banyak diminati masyarakat, maka keberadaan lembaga survey di Indonesia kembali menjadi sorotan hangat. Selain hal itu, ada pula mengenai survey partai politik mana yang akan memenangkan pemilu 2009 nantinya. Ada sorotan yang berbeda kali ini, karena juga berkaitan dengan keinginan untuk semacam sertifikasi atau pendaftaran terlebih dahulu keKPU (Komisi Pemilihan Umum) bagi semua lembaga survey di Indonesia yang akan melakukan survey berkaitan dengan pemilu. Survey di sini memang lebih cenderung bisa diartikan sebagai semacam polling atau penelitian jajak pendapat dengan menggunakan sample (contoh). Atau dalam bahasa ilmiah, dikenal istilah sampling, yakni penelitian tidak sepenuhnya dilakukan kepada semua objek secara menyeluruh. Akan tetapi hanya diambil beberapa saja yang memang sudah teruji secara ilmu statistik bahwa sampling tersebut valid, atau sudah merepresentasikan kondisi riil di lapangan.

suerveysoto

^^^^ Soto Surabaya, Soto Koya Ayam Kampung^^^^

Jika diibaratkan survey (tentu saja dengan sampling) dilakukan untuk meneliti atau mengetahui seperti apa rasa sebuah makanan, yakni soto surabaya, maka akan ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Seseorang yang mencicipi rasa soto surabaya diibaratkan sebagai seuah lembaga survey. Sedangkan bagaimana dan bagian apa yang akan dicicipi dari soto ayam surabaya tersebut diibaratkan sebagai metode sampling yag digunakan.

Pertama. Jika seseorang yang mencicipi rasa soto adalah tuna netra yang belum pernah merasakan soto surabaya, atau orang yang ditutupi matanya shingga tidak bisa melihat secara langsung bentuk soto dan hanya mengambil secara acak serta belum pernah merasakan khas soto surabaya. Maka, besar kemungkinan akan salah ambil. Bisa saja yang diambil hanya bagian atas soto, dimana terkumpul daging ayam kampung. Dan orang tersebut akan menyimpulkan bahwa rasa soto tersebut enak seperti daging ayam yang berkuah. Atau jika yang diambil sebagian besar adalah kuah yang tercampur dengan mie, maka akan disimpulkan bahwa soto mirip dengan bakso, dengan rasa kuah yang berbeda. Ini adalah pengkiasan untuk survey yang dilakukan dengan metode sampling yang kurang tepat.

Kedua. Jika seseorang yang mencicipi seperti apa rasa soto surabaya adalah seseorang yang telah mengetahui seperti apa rasa soto secara umum. Tetapi belum pernah merasakan cita rasa khas soto surabaya. Pertama kali melihat, orang tersebut sudah pasti tidak begitu heran, karena dari tampilan dan racikan bahan-bahannya tidak berbeda dengan soto pada umumnya. Hanya saja agak berbeda pada tampilan dan warna kuah, agak kekuning-kuningan. Dan terdapat semacam bubuk bberwarna orange, yakni koya. Dibuat dari krupuk udang yang ditumbuk, dipadu dengan bawang putih. Orang tersebut akan mencicpi dengan seksama. Yang diambil pertama kali adalah kuahnya. Lalu mengecap rasanya. Selanjutnya yang dicoba adalah campuran antara koya, mie putih, nasi, toge dan koya. Rasa asem manis yang khas, yang membedakan dengan rasa soto pada umumnya. Orang yang mencicipi tersebut bisa dikiaskan sebagai orang yang berpendidikan dan terpelajar. Jika kondisinya demikian, maka orang tersebut sejatinya telah mencicipi rasa soto surabaya dengan lebih komprehensif, ibarat metode sampling dalam survey telah valid, dan hasilnya pun menceriminkan kondisi riil sebenarnya.

Ketiga. Jika seseorang yang ingin mengeahui rasa soto koya ayam kampung khas surabaya adalah bisa dikatakan orang awam. Orang tersebut justru tidak mau mencicipi rasa soto secara langsung. Karena yang bersangkutan juga belum pernah makan soto. Orang tersebut hanya ingin tau rasanya dengan bertanya pada orang yang pernah makan soto koya ayam kampung khas surabaya. Jika kondisinya demikian, maka bisa jadi salah bertanya. Orang tersebut akan bertanya pada orang buta, dan hasilnya rasa soto seperti daging ayam. Ketika bertanya pada orang kedua, hasilnya rasa soto asem manis. Kondisi demikian bisa digolongkan atau dikiaskan seperti kondisi pertama. Ketika sebuah survey dengan sampling kuran tepat.

Keempat. Jika yang mencicipi rasa soto adalah seseorang yang sejatinya telah tau seperti apa itu soto koya ayam kampung khas surabaya. Orang tersebut ternyaa berniat kurang baik, sehingga hasilnya diselewengkan. Sengaja mengambil bagian mie kuah saja, atau koya dan campuran daging saja. Sehingga akan berkesimpulan dengan tendensi tertentu. Kondisi demikian seperti halnya sebuah survey oleh (yang mengaku) lembaga independent. Padahal sangat memungkinkan ada sebuah kepentingan atau sokongan dana dari pihak luar yang berkepentingan dengan hasl survey. Atau dengan kata lain Survey Pesanan. Sehingga pihak dibaliknya yang berkepentingan tersebut, bisa menggunakan hasil survey sesuka hati mereka, entah untuk mendongkrak popularitas atau dengan tendensi lainnya. Sungguh sayangat disayangkan.

Kesimpulan cerita :

  • Sebuah hasil survey menimbulkan opini publik, sudah selayaknya disampaikan dengan hati-hati dan bahasa yang santun.

  • Kalau saja hasil survey disampaikan kepada masyarakat yang memang benar-benar tau esensi sebuah survey (apalagi mahasiswa jurusan statistik), tidak akan menimbulkan permasalahan yang terlalu berlebih-lebihan, misalnya menjadi gusar, risau, takut atau semacamnya. Tetapi pada kenyataannya, survey menjadi onsumsi masyarakat luas, dari anak-anak, orang dewasa, para pekerjakerah biru sampai kerah putih.

  • Disampaikan kepada masyarakat bahwa hasil survey bukan nilai mati, dan selalu benar sesuai kenyataan. Boleh saja benar dipandang dari metodologi secara ilmiah, tapi sangat bisa terjadi kesalahan pada hasil survey. Survey hampir sama dengan prakiraan.

  • Semoga lembaga-lembaga survey dan media massa tidak terlalu menggembor-gemborkan, apalagi mendekati momen-moment tertentu yang butuh perhatian masa, seperti pemilu. Padahal survey bukan hanya masalah tersebut. Bisa untuk keperluan lain yang manfaatnya sangat banyak. Misalnya survey untuk menampung aspirasi rakyat dalam hal pertanian. Bagaiamana kondisi pupuk di petani secara riilnya!

Iklan

Aksi

Information

28 responses

6 02 2009
Maman Alimansyah

Analisisnya bagus banget mas, mudah-mudahan lembaga-lembaga survey di Indonesia juga mengetahui info ini

6 02 2009
Jafar Soddik

Usaha survey menyurvey akhir-akhir ini memang mendapat sorotan tajam. Yang ‘merasa diuntungkan’ tentu senang dengan hasil yang dipublikasikan dan sebaliknya yang ‘merasa dirugikan’ dengan serta merta tidak mengakui hasil yang sudah dipublikasikan. Dan parahnya lagi kedua belah pihak yang diuntungkan dan dirugikan tidak pernah secara bijak menyikapinya. Seandainya keluar kata-kata bijak, rendah hati dan meneduhkan yang keluar dari kedua belah pihak tentu hasil suatu survey tidak perlu sampai dibesar-besarkan.

6 02 2009
nugroho

setuju pak arif, mantulll itu tulisan. ket winginane aku meh nulis iku, malah koe ndisik, yowis haaaaa..

7 02 2009
iwan

pertama melihat blog ini aq liat terasa aneh namun setelah dibaca..mengasikan juga. kamu mengambil sampel yang cukup sederhana tapi membuat orang mudah mengerti apa maksud dari postingan anda.
skor 100 deh….

7 02 2009
iwan

wah makais atas kunjungannya….
bagus tuh kalu 2 kali setahun………..
dari pada kagak pernahkan………

7 02 2009
Fathul Iman

baca sotonya wong jombang la mas. ‘sotoo dok’ baru denger kan

7 02 2009
angga erlangga

waahh… pastinya enak bangeets tuh… 🙂

salam kenal… 😉

7 02 2009
iwan

kapan kamu traktir aq nih…hehh……
enak tuh santapannya….

7 02 2009
nirwan

ujung tulisannya mantep betul.. “Bagaiamana kondisi pupuk di petani secara riilnya!”

tulisan keren, mas. salam kenal ya. 😀

7 02 2009
haris

survey politik itu selalu berbau politik karena survey kan banyak yg dibiayai oleh parpol tertentu jadi netralitasnya bs kita ragukan meskipun katanya bersabdar pada metode ilmiah…

7 02 2009
putrago

ya saya setuju kalo survey menimbulkan opini publik

9 02 2009
vitriya

Hehe ..malah saya tertarik sama sotonya .. pasti enak tuh ..

9 02 2009
nurrahman18

@ semua yang sudah meninggalkan komentar : terimakasih, klo pengen soto surabaya? bolehlah, nanti makan bareng…he he he he (tapi mbayar sendiri2 yah) 😀

9 02 2009
rheifania

kalo survey masalah politik aku nggak ngerti.karena aku nggak ngerti politik.klo survey masalah soto….wah….mau dong sotonya…..klu politik, mo siapa aja yang jadi presiden terserah.yang penting ga lupain janjinya.hahahaha…ga nyambung ya….ya udah….yang penting klu mi traktir soto Rhe ikutan ya…….

9 02 2009
ayik

politik dan soto ada persamaannya, paling enak kalau ada rasa “pedhes” nya…qiqiqi…

9 02 2009
arko_san

topiknya baru hangat, kalo liat tipi dan baca koran isinya juga hasil survey…..tapi politik bukan soto hahahahahaha

9 02 2009
annosmile

nah ini metode ilmiahnya ma arif
xixixi..
ada kopdar soto ndak mas..???

10 02 2009
aryu

aku sempet tertipu lho.. aku pikir ni artikel bahas tentang soto 😀

10 02 2009
oRiDo™

tapi survey membuktikan bahwa hasil survey lembaga survey memang mendekati kenyataan…
😉

10 02 2009
nurrahman18

@ rhei : puisimu bagus
@ ayik : klo makan soto emang enak
@ arko : soto tidak sama dengan politik 😀
@ annosmile : pengen ikut kopdar nih, tapi pikiran lagi buntek
@ aryu : tapi tujuan tulisan ini bukan untuk menipu lho 😀
@ Orido : itu hanya salah satu atau beberapa saja. Mungkin bisa sharing lagi mengenai intepretasi mengenai bagaimana menyimpulkan sebuah sata statistik 🙂

10 02 2009
oRiDo™

yah mungkin itu yang banyak ada di benak masyarakat umumnya..
mungkin pengaruh media yg begitu menggembar/bor-kan hasil survey yg bisa jadi kebetulan mendekati kenyataan..

dan mungkin saya termasuk orang awam yg tertipu oleh gembar/bor nya dunia media..
heheheh…

10 02 2009
nurrahman18

@ orido : he he he, tetap semangat bos..:D

11 02 2009
masiqbal

ternyata survey soto…

11 02 2009
ksemar

Sebuah artikel yang begitu memiliki arti. Teruslah berkarya sahabatku. sukses selalu. salam

12 02 2009
alid abdul

soto? biasa ajah ah…

13 02 2009
tukyman

ikut ninggalin jejak & numpang ini itu
biarpun hanya 5 menit sejenak 🙂

18 02 2009
olvy

nice posting,
tapi maap q hanya tertarik dengan sotonya
*kan aku orang sby juga :)*

30 04 2010
Ironi Berita Penelitian « nurrahman

[…] robot, pemecahan rumus kalkulus algoritma yang rumit, hingga penelitian kualitatif yang melibatkan survei dan kuisioner. Penelitian kualitatif memang bisa berdampak cukup besar. Dalam artian bisa […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: