Senyum Nenek

14 02 2009

Prasetyo, seorang guru muda jurusan psikologi di sebuah lembaga perguruan tinggi swasta di Yogyakarta baru saja berangkat kerja. Dari kota kelahirannya di sebuah kota persis sebelah barat Jogja. Perjalanan yang hampir menempuh waktu satu jam. Siang hari, selepas dhuhur. Di tengah perjalanan, yakni di pinggiran wilayah perbatasan, di mana di kanan kiri tidak ada pemukiman, hanya perbukitan dan hamparan sawah. Telepon genggam milik Prasetyo berdering di saku celana jeans-nya. Kontan membuat Prasetyo terkaget sejenak, dan samar-samar terdengar nada dering yang khusus di-setting bagi sang Ayah. Disempatkan berhenti sejenak di pinggir jalan. Memarkir dan mematikan mesin sepeda motor, dan menerima telepon tanpa turun dari jok sepeda motor. Sepi. Hanya nampak seorang nenek yang menggendong segembol kayu bakar, berjalan perlahan menyusuri pinggiran jalan tak ber-trotoar itu. Tepat di hadapan perhentian Prasetyo, hanya berjarak beberapa meter di depannya, dengan arah jalan sang Nenek menuju ke Prasetyo, berlawanan arah dengan arah tujuan perjalanan Prasetyo.

Rupanya Prasetyo baru saja diberitahu sang Ayah bahwa ada sepucuk surat kiriman dari Jakarta. Dan Prasetyo mengiyakan, akan diambil minggu berikutnya saja. Ketika pulang ke rumah di tanah kelahirannya lagi.

nenekSelepas menerima telepon, kira-kira hanya satu menit. Prasetyo bergegas melanjutkan perjalanan. Menyelipkan telepon genggamnya lagi di saku celana. Dan sang Nenek tepat persis di hadapan Prasetyo , hanya kira-kira berjarak satu meter saja. Seolah terhalang dengan parkir kendaraan Prasetyo, berhenti untuk mempersilakan Prasetyo melanjutkan perjalan terlebih dahulu. Sang Nenek pun tersenyum. Dibalas oleh anggukan kepala Prasetyo dan senyuman yang tertutup slayer penutup muka Prasetyo. Keduanya seolah saling menyapa dan menggatakan “monggo” (adat orang Jawa untuk saling mempersilakan dan menghormati orang lain). Senyum sang Nenek rupanya terbawa dalam alam pikiran Praseto selama perjalanan. Ia berpikiran bahwa sang Nenek, dengan sejuta kesederhanaanya, pasti lebih bahagia daripada orang-orang kaya yang pusing dengan adanya krisis global, penurunan harga indeks saham gabungan dan kurs mata uang. Berlimpahan harta, tetapi pusing berat ketika ada tagihan pajak dan pembuatan laporan keuangan perusahaan ketika memasuki masa akhir tutup buku.

**************

Di kelas sore hari. Prasetyo mengucapkan salam kepada mahasiswa-mahasiswanya dan berdoa sebelum belajar. Sebelum pelajaran di mulai, dan tepat setelah balasan salam dari mahasiswa-mahasiswa terucap, Prasetyo melontarkan sebuah pertanyaan.

“Apa tujuan hidup kalian? Apa yang kalian cari dalam kehidupan ini?”, begitu pertanyaan Prasetyo dengan suara cukup lantang dan sedikit tersenyum. Mula-mula suasana kelas hening dan para mahasiswa hanya saling bertatapan kosong satu sama lain. Kurang memahami dan menebak-nebak materi kuliah apa yang akan diperoleh hari ini. Seorang mahasiswi menjawab, “Tentu salah satunya menyenangkan orang tua. Karena orang tua saya telah berjuang keras sehingga saya bisa kuliah”. Mahasiswa kedua berkata lain, “Memperoleh pekerjaan yang mapan dan keluarga yang sakinah kelak”. Satu lagi mahasiswa yang memberanikan mengungkapkan pendapatnya, “Mandiri secara finansial, dan bisa pensiun muda. Sehingga kelak di hari tua bisa menikmati hasil jerih payah selagi muda dan kuat”. Dengan senyum cukup menggembang dan terinspirasi senyum sang Nenek yang tulus, yang ditemui di tengah perjalanan tadi siang, Prasetyo mencoba menjawab sendiri, “Sejatinya yang paling dicari dalam kehidupan di dunia ini adalah kebahagiaan. Perasaan bahagia. Bahagia menjalankan apa yang kita anut, bukan semata memanjakan nafsu atau keinginan semata. Ada perasaan tentram di hati. Materi, keluarga sanak saudara, harta, kedudukan, kekuasaan hanyalah cara atau media untuk menjadi bahagia, setiap orang sama sekali takkan sama untuk mengapai kebahagiaan itu.