Waktu

13 03 2009

Sepenggal cerita…………. Zaqia baru saja terbangun dari tidur lelapnya. ”Waktu, tidak nampak riil sama sekali, coba renungkan sejenak. Apakah dengan waktu aku beranjak pergi, menghilang, berpendar dan berubah. Tidak. Aku, manusia, tetap di bumi ini, sejak lahir sampai mati.” Itulah renungan dan ungkapan sejenak Zaqia. Dalam lelehan air mata berurai, doa dan dzikirnya malam itu. Di kala memohon kemudahan dari-Nya, karena esok adalah hari penentuan. Penentuan untuk ujian akhir skripsi S1 nya. Lelehan air mata itu juga menandakan ingatan akan sahabat karibnya, Nia. Seorang kawan semenjak menginjak di sekolah menengah pertama, hingga perguruan tinggi. Seorang kawan yang baru beberapa minggu harus menghadapNya, jatah beramal di dunia sudah habis. Kecelakaan lalu lintas menimpa, hingga merenggut nyawa.

Zaqia adalah mahasiswi biasa di sebuah kota pelajar di pulau Jawa. Jurusan psikologi di sebuah universitas swasta ternama. Ia aktif di berbagai kegiatan sosial, bahkan menjadi relawan guru mengajar siswa-siswa kurang mampu di daerah terpencil.

Zaqia ingat peristiwa 2 minggu lalu. Ketika Nia berpamitan ke Ibunda Zaqia.

***

Nia dan Zaqia bercengkrama di rumah Zaqia waktu itu. Nia mencurahkan perasaan senangnya waktu itu. Senang sekali. Seolah hidupnya telah begitu sempurna. Nia hidup dengan berkecukupan dan sempurna. Keteraturan, teliti dan tekun adalah hal yang wajib baginya. Disiplin. Bahkan kelulusannya tepat 4 tahun di perguruan tinggi. Gelar cumlaude tak pelak segera disandang. Memang tak seperti Zaqia yang gemar berorganisasi dan bersosialisasi. Nia tidak seperti itu, mungkin karena fasilitas lengkap yang disediakan oleh orang tuanya. Tapi hal itu tak membuat keduanya renggang dalam bersahabat. Justru sebaliknya, sering saling mencurahkan hati. Dan jarak rumah mereka tidak begitu jauh. Sudah satu tahun Nia bekerja di sebuah departemen pemerintahan daerah. Kedatangan Nia ke rumah Zaqia waktu itu tak lain untuk membagi kebahagiaan. Kebahagiaan yang akan melengkapi keteraturan hidup Nia. Sudah cukup umur untuk menikah. Nia sangat bersuka cita ketika itu menceriterakan rencananya untuk bertunangan. Dan seandainya, seandainya Nia belum dipanggil olehNya, hari ini adalah hari Nia bertunangan dengan calom mempelai pria. Seorang wirausaha sukses keturunan darah biru dari Kraton Mataram.

Setelah asyik bercerita berdua, Nia bermaksud pamitan ke Ibunda Zaqia. Ibunda Zaqia sudah menganggap Nia sebagai anak sendiri. Karena sudah sebegitu dekat hubungan mereka. ”Hati-hati ya Nia, kalau naik motor.” Nia berceloteh, ”Iya Ibu, kalau nggak hati-hati ntar ga bakalan ke sini lagi dunk, hehehe”. Nia segera beranjak pergi naik motor. Pulang ke rumahnya. Hendak mempersiapkan berkas-berkas pendaftaran, karena besoknya akan mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa magister. Tuntutan kerja di kantornya. Tapi, keinginan itu tak tersampaikan. Rupanya maut segera menyapa. Kecelakan motor tak terhindarkan di sebuah jalan. Sebuah bus kencang menabrak dari depan. Karena Nia terburu-buru pulang. Innalilahi wainna ilaihi roji’un.

****

Lelehan air mata Zaqia kian deras. Kian deras jika mengingat kehidupan Nia yang sebegitu sempurna, baik dan penuh keteraturan. Boleh dibilang nyaris tanpa cacat. Hampir bisa dikatakan berkebalikan dengan kehidupan keteraturan Zaqia. Zaqia yang lebih memilih aktif di luar kampus, sehingga nilai jelek adalah hal biasa. Tangan kirinya pernah patah, tapi tak mengurungkan niatnya untuk tetap berjuang menyelesaikan studi kuliahnya. Walaupun juga penelitian untuk skripsinya terganjal oleh beberapa hal.

***

Disadari atau tidak disadari, dunia semakin kompleks. Sekolah, kerja, teknologi, kehidupan sosial bahkan isu kesehatan planet bumi menjadi semakin banyak. Tapi waktu, akan tetap sama. Bergerak semakin tua. Tidak ada yang bisa melawan waktu. Waktu-takdir, terkadang sangat berbeda dengan harapan manusia. Setiap manusia diberi jatah waktu yang tidak sama. Keteraturan hidup yang dijalankan Nia tidak mengurungkan dan menghambat waktu ajal menjemput. Dan bukan kunci untuk memperpanjang amal. Zaqia yang qanaah dengan keadaan justru masih diberi kesempatan untuk beramal lebih banyak. Yang penting bukan keteraturan hidup itu untuk mengisi waktu, tetapi selalu mengingatNya bahwa yang punya dan mengatur waktu bukan manusia. Yang Maha Kuasa.

waktu

Ada dua hal yang sering dikhawatirkan; khoufun : takut dengan waktu yang akan datang, yahzanun : menyesali waktu lampau.

Hanya Rasulullah Muhammad SAW yang tahu kapan waktu hidup akan bearkhir, itupun dengan proses yang sungguh sangat mengharukan.

Setiap detik, menit dan jam berlalu akan terekam dalam ingatan, akan terbentuk insan manusia. Bukan membentuk waktu.

Waktu sangat berarti, masihkah kita melupakan dan menyia-nyiakannya! Waktu bukan ukuran kualitas hidup. Tapi waktulah yang akan mengukurnya, bagaimana kita memanfaatkannya.

Apa-apa. Kita hidup tidak bawa apa-apa, terus mencari apa-apa, dan mendapat apa-apa, kemudian mati tidak membawa apa-apa…jadi tidak usah risau dengan apa-apa yang kita punyai, apalagi bingung tidak punya apa-apa.

Iklan

Aksi

Information

10 responses

13 03 2009
masarif

Hm…
Alwaqtu kassaif idza lamtaqtha’hu qatha’aka…

13 03 2009
feeds.bloggerpurworejo.com » Waktu

[…] Waktu Filed under: Uncategorized — @ 9:09 am […]

14 03 2009
yanimaniez

waduh…artikelnya puanjang amat….Waktu kubaca kokgak habis2

15 03 2009
nurrahman18

@ masarif (namanya sama, heheheh) : artinya apa yah itu???

@ yanimaniez : baca intinya aja di bawahnya..hehehe

15 03 2009
Novianto

OOO, Yang namanya waktu itu bisa maju tapi ndak bisa mundur

16 03 2009
suci

“Kita hidup tidak bawa apa-apa, terus mencari apa-apa, dan mendapat apa-apa, kemudian mati tidak membawa apa-apa…jadi tidak usah risau dengan apa-apa yang kita punyai, apalagi bingung tidak punya apa-apa” iya setuju!

18 03 2009
bujaNG

Saya malah juga jadi bingung karena nggak tau apa-apa, tapi nggak apa-apa jika dengan baca tulisan ini jadi tambah tau, makanya…. apa-apanya apa?

19 03 2009
nurrahman18

@ bujang : apa-apanya adalah apa-apa yang kita punyai

21 03 2009
Andi

Segala sesuatu yang hidup pasti akan mengalami mati. Lak ya gitu to mas? Kalo nggak mau mati ya jangan hidup. Lak ya gitu to mas?

Renungan yang apik, terima kasih.

24 03 2009
olvy

lah ini bukannya cerpen yach 🙂
*lariiii*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: