Ditampar

30 04 2009

Seorang ustadz sedang didatangi oleh muridnya. Suatu ketika sang murid penasaran dan bertanya pada sang guru.

Tolong jelaskan kepadaku akan tiga hal:

“Bagaimana aku bisa memperolah gambaran yang detail mengenai iman? Apa iman itu?”, lalu “Jika syetan itu terbuat dari api dan neraka juga terbuat dari yang sama, maka kalau syetan akan ditempatkan di neraka tidak akan terasa tersiksa apa-apa. Percuma?, dan yang terakhir, “Apa takdir itu? Bagaimana aku bisa memperoleh gambaran yang detail mengenai hal itu?”. Lalu sang Ustadz terdiam. Tidak berkata apa-apa. Kemudian sang murid ditampar. Plakkk!!!

tampar

“Auw!!!”, sang murid agak terkejut setengah mati. Heran. Bisa-bisanya sang guru berlaku seperti itu. “Salah apa aku ini ya guru?”, sang murid tidak terima. “Aku baru saja memberikan jawaban dari tiga pertanyaanmu itu”, sang guru menimpali. “Engkau tadi bertanya apa iman itu. Ibarat orang yang ditampar, iman itu seperti rasa sakit. Apakah engkau merasakan dan percaya pada rasa sakit itu?”, sang guru bertanya. “Aku percaya hal itu. Tapi belum bisa menggambarkan rasa sakit itu secara fisik”. Lalu, “Pertanyaanmu yang kedua, api itu diibaratkan kulit. Jikalau kulit bertemu kulit seperti halnya yang kulakukan barusan, apakah masih terasa tidak sakit?”. “Sakit sekali”, sang murid berlanjut berkata. “Apakah tadi malam engkau bermimpi akan kutampar”, sang guru gantian mengajukan pertanyaan untuk yang kesekian kali”. “Tidak sama sekali”. “Terkadang takdir tidak disangka sama sekali akan hadir, itulah ketentuanNya yang tidak bisa dilawan. Qonaah saja”, guru menjawab dengan bijak.

Disadur dari ceramah ustadz Eka. Kajian tafsir Mhs PPMhd Cik Ditiro Yogya. Kamis 30 April 2009 06.00 WIB





Gehu dan Bala-bala

30 04 2009

bala2Kalau orang jawa bilang salah satu makanan gorengan yang enak dan lezat adalah bakwan,(gorengan tepung dicampur bahan sayuran tertentu), maka orang Sunda (Sukabumi, Ciamis, dll) akan kurang familier dengan istilah itu. Ya, karena mereka cenderung lebih sering menggunakan istilah bala-bala. Kata mereka, filosofisnya itu berasal dari kata bala. Yang artinya teman atau kalau dijamakkan bala-bala jadi bearti serumpunan, sekawanan. Memang isi dari bakwan bukan hanya satu sayuran saja. Ada kubis, wortel dan sayuran lain bergantung pada tempat asalnya. Tapi kalaiu di jogja, walaupun banyak warung mie (PIR : Pedagang Indomie Rebus) dan borjo (bubur kacang ijo) yang notabene penjualnya adalah orang sunda, mereka tetap saja menggunakan istilah bakwan. Karena lebih umum didengar.

gehu

Ada satu lagi contoh penamaan istilah yang berbeda. Yakni ‘tahu isi’. Di beberapa tempat lain di jawa, seperti di Purworejo, ada yang menggunakan istilah tahu brontak. Asal katanya karena isi tahu yang beraneka ragam itu seolah ‘memberontak’ ingin keluar. Ada kubis, sawi, wortel, toge, dan macam-macam lainnya. Lain lagi disebut oleh orang Sunda. Mereka menyebutnya dengan Gehu (toge tahu). Memang isinya terdiri dari toge (sebagian besar) dan tahu segitiga yang dibelah tengahnya. Tinggal diisi sesuai keinginan dan kebutuhan. Dan disajikan dengan cabe selagi masih hangat akan sangat lezat.





Longlife Learning

27 04 2009

Novita baru saja membuka sebuah acara di laboratorium kampus. Mahasiswi teknik industri yang aktif sebagai asisten laboratorium inovasi, didaulat untuk menjadi moderator acara workshop dengan tema “Technopreneur”. Sebuah tema yang lumayan hangat diperbincangkan di kampus. Pagi itu hari jumat, hari yang sangat dimuliakan. Pembicara adalah seorang praktisi sekaligus akademisi. Pengusaha perhiasan asal Solo. Yang diundang memang terbatas untuk kalangan laboratorium. Mulai dari kepala laboratorium (Ka-Lab) dan perwakilan asisten. Memang acara yang bertujuan untuk mengembangkan keilmuan lab.

“Marilah kita buka acara ini dengan membaca basmallah bersama”, begitu Novita membuka acara pagi itu. Segera saja disusul oleh Sari Tilawah dan sedikit sambutan dari tuan rumah, Ka-Lab. Langsung menuju ke inti untuk tidak membuang waktu, maka sang pembicara segera memulai presentasi untuk workshop. Akan ada sesi tanya jawab dan diskusi di sesi berikutnya selepas presentasi.

“Saya mengucapkan terimakasih sekali karena sudah diundang hadir untuk menjadi pembicara. Sebuah kesempatan yang sangat baik bagi saya sendiri. Karena dengan seperti ini saya seolah ‘dipaksa’ untuk belajar ;agi. Membuka buku lagi. Begadang lagi untuk mendalami referensi, nyari referensi di internet dan buku. Sebuah kegiatan yang sempat hilang. Tidak lagi seperti waktu jaman mahasiswa masih aktif belajar karena tuntutan”, pembicara bertutur kata sebelum presentasi. Semua terlihat hening, termasuk Novita. Karena dari sepenggal kalimat tersebut mengindikasikan bahwa akan ada suatu cerita lain yang ingin disampaikan di samping materi presentasi.

“Sekarang hari-hari lebih banyak diisi dengan aktivitas yang monoton. Rutinitas. Setiap dua sampai tiga kali seminggu datang ke Jogja, ngajar, ya sudah selesai pulang. Menuju pabrik, ngurusi pabrik dan toko lagi. Begitu seterusnya. Seolah memang menyenangkan karena sudah dalam kondisi tenang. Tetapi justru dengan rutinitas itu ada yang hilang. Terkadang rutinitas aktivitas itu yang menghilangkan kreativitas dan tingkat pembelajaran kita. Sudah merasa nyaman dengan keaddan. Seolah terlena. Padahal di luar sana sudah banyak berkembang. Orang-orang di luar sana sudah banyak yang menemukan alat inilah, ilmu itulah dan sebagainya. Saya terkadang seolah asyik dengan rutinitas yang menjemukan”, lanjut pembicara. Novita bergumam.

Manusia memang diciptakan berbeda. Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia diciptakan berbeda antara satu dengan yang lain. Unik. Bahkan sidik jari dan retina mata tidak akan pernah ada yang sama. Oleh karena itu sudah lumrah jika setiap orang ingin berbeda penampilannya. Sehingga ingin unik terhadap kepemilikan produk.

Berjuang setiap hari terjun ke dalam rutinitas yang sama adalah hal yang wajar terjadi. Berjuang untuk mewujudkan impian setiap angan-angan manusia untuk sekadar ‘berbeda’ dengan yang lain. Bukan berarti salah ketika persepsi rutinitas merekat pada rajin, disiplin dan tepat waktu. Tetapi yang kadang harus dicermati bahwa rutinitas terkadang menghilangkan semangat dan keinginan untuk belajar. Karena sudah merasa nyaman.

Satu hal lagi, belajar masih sering sekali diartikan sempit. Padahal belajar itu setiap saat. Arti belajar sering disamaartikan dengan ’sekolah’. Padahal sangat luas sekali. Bisa dari sumber yang tidak terbatas. Pemahaman yang terkukung pada aktivitas ’sekolah’, membayar SPP, belajar dari guru-dosen dll. Padahal sumber ilmu itu banyak sekali. Sehingga sangat tepat bila mengusung istilah belajar sepanjang masa. Longlife learning.

Belajarlah terus. Kalau ada yang bilang semakin banyak belajar maka merasa semakin bodoh, itu hanyalah cara pandang untuk tawadhu kepadaNya. Bahwa ilmu manusia hanya seperti setetes air di lautan. Tetapi jika diartikan untuk menjadi ’malas’ dan ’takut’ belajar, karena cara pandang bahwa semakin banyak belajar maka akan semakin banyak hal yang sebenarnya tidak diketahui adalah cara pandang yang kurang tepat. Manusia memperoleh hak seluas-luasnya untuk belajar. Bahkan dalam sebuah riwayat diperintahkan untuk menuntut ilmu sampai ke negri orang. Masihkah bermalasan untuk belajar? Bahwa banyak sekali media untuk belajar, orang-orang di sekeliling, teman, sahabat, keluarga, bahkan pengalaman buruk….. belajar akan menyemangati untuk tetap hidup.

Workshop Teknopreneur. LIPO, jumat 24 April 2009

teknopreneur





Toyota Talent

22 04 2009

toyotatelentJudul asli : The Toyota Talent. Developing Your People The Toyota Way

Pengarang : Jeffrey K. Liker (Dosen Operation Research and Industrial Engineering di Michigan University) dan David Meier (Seorang konsultan dan pernah menjadi Group Leader selama 10 tahun di Toyota).

Diterjemahkan oleh Rizki Tri Martono, Psi, dengan judul terjemahan bahasi Indonesia mejadi “The Toyota Talent”, Mengembangkan SDM (Sumber Daya Manusia) Anda Ala Toyota.merupakan terbitan ESENSI, bagian dari Penerbit Erlangga. Bekerjasama dengan penerbit buku asli dari McGraw-Hill. Terbitan buku asli tahun 2007. Terjemahan dalam bahasa Indonesia baru diterbitkan setahun kemudian. Kedua penulis buku ini adalah pernah menulis buku mengenai Toyota sebelumnya. Awalnya tahun 2003, ketika Jeffry K. Liker menulis buku yang sempat laris manis di pasaran. Yakni The Toyota Way. Dimana dipaparkan dua prinsip utama kesuksesan raksasa otomotif Toyota yakni continuous improvement dan respect to the other people. Selanjutnya Jeffry bekerjasama dengan Meier menulis buku lagi mengenai Toyota, kali ini berjudul Toyota Way Fieldbook. Yang lebih banyak bercerita mengenai Toyota Production System, istilah sistem produksi di Toyota.

Dalam buku ini, sebagaimana buku-buku mengenai Toyota sebelumnya, tidak hanya berusaha mengeksplorasi raksasa Toyota di sau negara saja. Misalnya di Jepang atau Indonesia saja. Tetapi lebih universal. Karena formula, kisah dan aspek teknis mengenai kisah sukses pengembangan SDM ala Toyota berusaha dipaparkan lebih general (walaupun ada batas-batas di mana ‘formula khusus’ kesuksesan secara teknis tidak diperoleh semua, karena tentu saja ada bagaian dimana hal tersebut adalah rahasia perusahaan yang tidak boleh diketahui pihak luar).

Tidak ada basa-basi kisah sejarah Toyota yang bermula dari Jepang. Tetapi langsung memaparkan ke inti yang dibahas yakni bagaimana car amembangun SDM yang kokoh. Tidak pula diceriterakan mengenai kiat-kiat agar Toyota tetap eksis di tengah krisis global. Karena ketika buku ini diterbitkan gelombang krisis karena ulah kapitalisme Amerika Serikat belum begitu kentara. Bila dilihat daftar isinya, ada 4 bab atau bagian yang disajikan. Dan semuanya menggambarkan urutan atau flowchart yang diterapkan di Toyota mengenai bagaimana membangun SDM ala Toyota. Bagian satu bercerita banyak mengenai kesiapan dan prinsip Toyota dalam memulai mengembangkan orang-orang yang luar biasa. Bagian dua dijelaskan mengenai identifikasi pengetahuan vital, instruksi kerja dan contoh-contoh bagaimana menguraikan perkerjaan. Bagian tiga diisi dengan bagaimana mentransfer ilmu kepada siswa didik, dan ditutup di bagian terakhir dengan paparan bagaiman implementasi dan evaluasi SDM.

Salah satu filosofi yang dipegang kuat mengenai SDM di Toyota adalah bahwa seorang pemimpin haru smenjadi guru. Komitmen Toyota terhadap pendidikan dan pengembagan tidak hanya bersifat internal perusahaan. Tetapi juga ke pihak luar, dibuktikan dengan pendirian pusat pelatihan formal di University of Toyota di California, Global Production Support Center di Kentucky, Toyota Institute di Jepang, dan Toyota Academy di Inggris. Jika ada pertanyaan apa salah satu kunci sukses Toyota dalam hal SDM, maka jawaban yang tepat menurut penulis karena orang-orang hebat di perusahaan didukung oleh sebuah sistem yang memandatkan kebutuhan akan bakat. Kunci yang sederhana sebenarnya. Normatif keilmuan SDM, tetapi Toyota berhasil mengekstraknya menjadi komponen teknis yang mudah dipahami, dapat dilaksanakan, terbukti dan teruji.

Filosofi pelatihan dan pengembangan dalam Toyota “Kami tidak hanya membangun mobil, kami membangun orang”. Memang sangat dahsyat ketika orang hasil didikan pelatihan Toyota sangat teruji. Tetapi di sisi lain ada imbas kecil seperti kemungkinan seorang karyawan ”dibajak” perusahaan sejenis. Karena ”nilai jualnya” sudah lumayan tinggi. Hal yang lumrah di kancah perusahaan global saat ini, apalagi untuk posisi-posisi manajemen menengah ke atas.

Penulis memberikan contoh pertanyaan untuk wawancara penilaian kebutuhan karyawan Toyota di bagian satu. Selan pula sedikit disinggung mengenai bakat apa yang harus dimiliki untuk menjadi trainer di Toyota. Salah satu ’gebrakan’ yang terbukti dan terimplementasi dengan baik yakni semua pekerjaan terstandarisasi sesuai instruksi kerja (IK). Berikut adalah model manajemen leas sistem SDM Toyota (hal.31).

toyotalent1

Tak lupa penulis menghadirkan contoh form-form penilain kerja dan evaluasi pelatihan kerja. Sebagai sebuah rujukan untuk mendefinisikan dan mengelola training menjadi lebih baik. Dan di bagian bab akhir, sedikti disinggung pula menganai bagaimana menjadi trainer yang baik untuk mendidik siswa.

Buku yang cocok untuk orang-orang yang duduk di posisi HRD (Human Resources Development) dan seorang trainer.





Pantai

21 04 2009

Matahari sudah menyapa pagi. Entah dengan senyuman manis atau kecut. Kecut karena tahu bahwa bisa jadi sore hari posisi matahari akan digeser oleh awan mendung. Perjalanan hari minggu pagi untuk menghabiskan waktu melepas lelah dan berkumpul adalah kesempatan bagus bagi matahari yang tersenyum manis. Kami berharap bertemu minggu yang mengembangkan senyumnya. Matahari di pantai.

Kami sebenarnya berjumlah sepuluh orang. Doddy, Ilham, Asep, Rizky, Arif, Rara, Tyas, Afry, Era dan Fiza. Namun kami hanya berkumpul berenam. Sahabat adalah tempat menjalin silaturahmi tanpa batas. Berjuang dalam barisan mengemban amanah.

Rencana untuk melepas temu dan bepergian bersama sudah direncanakan sejak berbulan-bulan lalu. Sampai ide tersebut takut usang. Tetapi ide hanya sebatas rencana yang percuma jika tidak direalisasikan. Sekitar seminggu sebelumnya kami sudah menata barisan untuk melakukan survey lapangan melihat medan. Barangkali rencana tujuan wisata kami ke pantai kukup terlalu jauh. Tetapi itu anggapan yang salah setelah melihat keindahan pantai. Sms jarkom dan message melalui facebook segera dilancarkan. Hanya dalam satu minggu jadwal keberangkatan telah disepakati. Berkumpul di depan kantor Badan Wakaf dengan sms bertajuk kumpul jam 06.00.

kukup

Kami menunggu sahabat lain yang datang belakangan cukup lama. Hingga sempat berbincang ria menunggu sahabat yang sedang mandi dan membawa bekal. Bahkan salah satu sahabat merelakan untuk tidak mandi. Berencana jeburan.

Setelah semua sahabat berkumpul, hanya berenam (Doddy, Arif, Rizky, Rara, Tyas, dan Afry) tetapi sama sekali tidak mengurangi semangat untuk piknik, maka pukul 07.30 doa berangkat dilakukan. Berangkat dengan hati cerah sungguh menyenangkan. Perjalanan jogja kota hingga ke wonosari bukanlah melewati track lurus dan tanpa bukit. Tetapi akan dihadapkan pada sebuah bukit yang menjulang tinggi bernama bukit Pathuk. Sebelum sampai di jalan baron, salah seorang sahabat mengeluh lapar. Belum sarapan rupanya. Sehingga menjadi keputusan bersama untuk sejenak mampir di warung makan bakso dan nasi rames. Makan bersama ditraktir sahabat Rizky. Sungguh nikmat sarapan pagi itu. Tak lama kemudian perjalanan dimulai lagi. Menempuh tidak sampai satu jam perjalanan untuk singgah dan berteduh di pantai kukup. Cukup panas, bukan saatnya berteduh ria, tetapi saatnya bermain air dan berjalan menyusuri tepi pantai dan menaiki bukit. Kami rupanya tak ketinggalan bergabung ke dalam kelompok narsis. Sehingga tiga kamera selalu memainkan perannya tatkala para sahabat berakting dan berpose.

Tak puas hanya singgah dan bermain di satu pantai, maka keputusan bersama untuk menuju ke pantai lain. Sedranan. Sebelum itu karena hari sudah mulai beranjak siang, maka acara dilanjutkan dengan ishoma. Membeli udang segar yang masih hangat baru dibakar adalah kenikmatan tersendiri. Lalu, perjalanan berlanjut. Hanya 10 – 15 menit kami sampai di lokasi tujuan berikutnya. Wow, pantai putih yang jernih sekali. Sangat indah. Tak kalah dengan pantai kukup tujuan kami sebelumnya. Jika di pantai kukup dapat melihat ikan-ikan hias laut kecil yang berenang di tengah karang-karang kecil di pinggiran pantai, maka di Sedranan bisa melihat hamparan pasir putih dan jernihnya air untuk mandi. Ada bagian tertentu yang dangkal. Karena waktu ashar sudah mennanti, maka terpaksa piknik harus segera diakhiri. Sahabat Rizky dan Tyas sempat melakukan jeburan. Karena sahabat Afry sudah ditunggu sanak saudara di Prambanan, maka perjalanan pulang yang diawali dengan penutupan dan doa bersama tidak bisa dilakukan bareng-bareng layaknya berangkat piknik.

Senja menanti pukul 4 sore ketika kami pulang. Tetapi hujan tak mau kalah. Ketika memasuki wonosari kota, hujan rintik-rintik menyambut. Sehingga makan sore adalah keputusan yang tepat untuk menghangatkan badan. Sambil menikmati pemandangan di atas bukit Pathuk. 18.00 WIB.

Menunggu silaturahmi berikutnya.

Minggu cerah Jogja, 5 April 2009. Mulai dari Cik Di Tiro





Short Course Integrated Competence & Profession of Industrial Engineering

18 04 2009

logo

Laboratorium IPO Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri UII bekerja sama dengan Bee Shar’e Training & Consultant mengundang kehadiran Anda dalam Short Course Integrated Competence & Profession of Industrial Engineering: Mempersiapkan Diri Masuk Dunia Kerja.

Manfaat dari short course ini:
- Mengukur tingkat pemahaman dan kompetensi ke-Teknik Industri-an
- Memahami integrasi keilmuan dan kompetensi sarjana Teknik Industri
- Teknik menghadapi wawancara kerja (job simulation interview)
- Evaluasi dan rekomendasi peningkatan kompetensi peserta

Trainer:
Rahman Fauzan, ST., MT (Director of Bee Shar’e Training & Consultant, Head of Innovation & Organization Development Industrial Engineering, dan Lecture of Industrial Engineering.

Fasilitas:
- Sertifikat
- Lembar nilai dan rekomendasi
- Exclusive class (16 peserta)
- Ruang AC
- Short course kit
- snack dan makan siang

Investasi: Rp 75.000

Pelaksanaan:
Hari: Sabtu
Tanggal: 2 Mei 209
Waktu: 08.45 sampai 14.00 WIB
Jumlah peserta: 16 orang per kelas
Tempat: Lab. IPO FTI UII

Pendaftaran: di Lab. IP FTI UII atau CP: Arif Bintoro J (phone: 0274-7172032)

Pamflet Short Course Integrated Competence & Profession of Industrial Engineering: Mempersiapkan Diri Masuk Dunia Kerja, silahkan download di sini.





Guyonan Pemilu

8 04 2009

pemiluDialog antara seorang mahasiswa yang baru punya hak pilih tahun ini dengan tetangganya yang seorang pengusaha mebel.

Mahasiswa : “Bos, besok nyontreng partai apa? Apa jangan-jangan sampeyan nggak ikutan. Banyak order ekspor ya?”

Pengusaha : “Enggak kok Dik. Walaupun akhir minggu ini saya mau liburan bersama anak semata wayang dan istri, tapi saya sempatkan dulu kamis pagi mampir TPS. Lha sampeyan gimana?”

Mahasiswa : “Ikut nyontreng juga. Tapi enggak mau nyontreng caleg yang sudah uzur dan simbah-simbah. Nanti mo jadi apa negri ini kalau pembuat undang-undang nya sudah tidak full energik, hehehe.”

* * * * * * * * * * * * *

Di sebuah koran nasional yang terbit di hari sabtu, terpampang jelas sebuah iklan besar full color satu halaman. Budi, seorang tukang becak sedang membacanya “TERBUKA LOWONGAN KERJA BARU. DI TENGAH KRISIS APAPUN, PEMERINTAH INDONESIA TETAP PEDULI PADA RAKYATNYA UNTUK MEMBUKA LOWONGAN KERJA. SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA UNTUK MENJADI CALEG DI POSKO PARTAI-PARTAI TERDEKAT. KARENA SYARATNYA GAMPANG. TAK PERLU LULUSAN KULIAHAN PUN BISA”. Kontan Budi segera berminat. Karena di halaman berikutnya, terpampang pula berita info terbaru. Pendaftar sudah berjumlah 11.000-an (11.225 orang calon lebih tepatnya). Wow!

* * * * * * * * * * * * *

Kang Asep adalah salah seorang petani asal Sukabumi. Ketika hari H-1, di tengah jalan ketika hendak pulang menuju rumahnya di sore hari, seusai mencangkul di sawah. Ia bertemu tetangganya yang sehari-hari berdagang sayuran keliling kampong. “Besok nyontreng apa Kang?”, Kang Asep ditegur oleh pedagang sayuran. “Rakyat kecil seperti saya mah mudah bingung sekarang. Karena calonnya banyak sekali. Padahal harus bertani setiap hari, tidak sempat mengenali mereka satu-satu. Belum pernah ada yang datang langsung dan salaman sama saya, apalagi caleg pusat…wah”.

* * * * * * * * * * * * *

Di sebuah ruangan kelas sekolah dasar, seorang guru bertanya kepada muridnya.

Guru : “Apa cita-cita kalian anak-anakku?

Murid : “Jadi caleg Bu guru” (dijawab dengan lugas tanpa rasa takut)

Guru : “Lho, kenapa Nak?” (dengan terheran-heran Ibu guru bertanya kembali)

Murid : “Anggota dewan duitnya banyak. Bisa jalan-jalan ke luar negri dan fasilitas cukup.” (sambil tersenyum mengembang)

Apakah terjadi pergeseran bahwa wakil rakyat adalah sebuah profesi yang dijalankan dengan menjunjung profesionalitas dengan atas nama ladang bisnis? Entah.

* * * * * * * * * * * * *

Mungkin yang dilakukan oleh salah satu partai politik besar bisa dibenarkan. Kontrak politik. Caleg bikin janji. Tetapi apakah ada mekanisme yang dinaungi undang-undang mengenai hal itu. Kenapa tidak terpikirkan oleh elite partai, anggota dewan yang terhormat dan pemerintah untuk sekalian membuat undang-undangnya. Begitulah gumam Andi, mahasiswa Ilmu komunikasi ketika hendak membuat makalah politik sebagai tugas salah satu mata kuliah.

* * * * * * * * * * * * *

Indra baru saja selesai kuliah. Mahasiswa fakultas teknik ini akan segera meluncur menuju rumah rekannya di Nogotirto Yogyakarta, rumah Edi. ”Kamu nyontreng ga besok?”, Edi bertanya seketika Indra datang. ”Ga tertarik, lagian ga bisa. Kan KTP ku di Lampung”. Edi menimpali, ”Yah, kamu masih bisa ikutan, dengan mutasi KTP”.

”Kenapa ga ngasih tau dari dulu? Heem… (sambil tersenyum kecut). Ribuan mahasiswa terancam tak nyoblos karena pendatang, alasan administratif. Kenapa Dinas Kependudukan ga proaktif sosialisasi ya? Mungkin mereka ditanya jumlah penduduk Indonesia pastinya saat ini bisa-bisa ga tau? Bisa jadi dari perkiraan 200 juta penduduk, yang setengahnya KTP dobel. He he he”, Indra menyeloroh dengan lugas kepada Edi.

* * * * * * * * * * * * *

Kampanye dan dangdut adalah kesatuan utuh yang hampir bisa ditemui di semua partai. Hanya segelintir partai yang tidak menyamaratakan kampanye partai dengan konser musik dangdut. ”Kenapa bos?”, Iwan si preman pasar bertanya pada juragan preman. ”Bersenang-senanglah kita, saatnya kampanye, saatnya panen hiburan goyangan penyanyi dangdut seksi. Ha ha ha”, bos preman menjawab dengan wajah ceria seperti dapat undian satu milyar. ”Bos, aku ambil minum dulu. Rugi bergoyang dangdut di pasar impres tanpa mabuk. He he he”, Iwan tak kalah sumringah.

* * * * * * * * * * * * *

rambugejayan1

Stop obral janji. Begitulah bunyi salah satu tanda lalu lintas di jalan gejayan yogyakarta. Seolah pertanda bahwa rakyat sudah muak dibohongi oleh :

“The wrong man in the wrong system..”





Nasi Gorpung

7 04 2009

g1Merupakan gabungan dari nasi goreng dan ayam goreng tepung (sebenarnya versi aslinya cuma nasi biasa saja). Tentu saja disajikan dalam dua piring. Cukup murah, hanya 7 ribu saja. Warungnya dapat ditemukan di daerah Degolan jakal (jalan kaliurang). Atau di kantin terpadu kampus UII jalan kaliurang km.14,5. Namanya Mr. Gorpung. Nasi gorengnya memang biasa. Tetapi penyajian ayam goreng tepungnya yang cukup kreatif. Karena diris-iris layaknya rica-rica. Dan diberi bumbu. Yang standar adalah bumbu acar. Ada bumbu lain, yakni bumbu kacang, balado, dan masih banyak lagi variasinya.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

gorpung

** nasi goreng **

gorpung21

** gorpung; goreng tepung **

gorpung3





Bakso Super Jepang

6 04 2009

bsj2Berlokasi di jalan Solo. Jika hendak menuju Solo dari kota Yogyakarta, maka sebelum memasuki candi prambanan akan ada perempatan. Perempatan dimana jika ke arah barat akan menuju jalur alternatif ke Cangkringan. Sebelum memasuki perempatan, tengoklah sejenak kanan jalan. Maka akan menemukan BSJ (Bakso Super Jepang). Sebuah rumah makan bakso yang cukup sederhana tetapi cukup meriah. Terdapat satu bakso ukuran super dalam penyajiannya, dan pangsit. Dengan serat cukup lembut dan terasa daging sapinya. Nama bakso super jepang memang cukup unik. Mungkin sang pemilik memang ingin menggunakan keunggulan itu untuk menarik minat penikmat bakso.  Di beberapa sudut ruangan tidak ada ornamen yang menggambarkan budaya Jepang. Tetapi tetap saja namanya Bakso Super Jepang. Terbukti sudah terdapat cabangnya di jalan wonosari km 11. cabang Kalasan Yogyakarta.

bsj4Harga lumayan standar. Enam ribu rupiah saja. Tag yang nampak di spanduknya adalah “Udah gedhe baksonya, mantep lagi… dijamin ketagihan !!!”.

bsj3

bsj11








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.