Longlife Learning

27 04 2009

Novita baru saja membuka sebuah acara di laboratorium kampus. Mahasiswi teknik industri yang aktif sebagai asisten laboratorium inovasi, didaulat untuk menjadi moderator acara workshop dengan tema “Technopreneur”. Sebuah tema yang lumayan hangat diperbincangkan di kampus. Pagi itu hari jumat, hari yang sangat dimuliakan. Pembicara adalah seorang praktisi sekaligus akademisi. Pengusaha perhiasan asal Solo. Yang diundang memang terbatas untuk kalangan laboratorium. Mulai dari kepala laboratorium (Ka-Lab) dan perwakilan asisten. Memang acara yang bertujuan untuk mengembangkan keilmuan lab.

“Marilah kita buka acara ini dengan membaca basmallah bersama”, begitu Novita membuka acara pagi itu. Segera saja disusul oleh Sari Tilawah dan sedikit sambutan dari tuan rumah, Ka-Lab. Langsung menuju ke inti untuk tidak membuang waktu, maka sang pembicara segera memulai presentasi untuk workshop. Akan ada sesi tanya jawab dan diskusi di sesi berikutnya selepas presentasi.

“Saya mengucapkan terimakasih sekali karena sudah diundang hadir untuk menjadi pembicara. Sebuah kesempatan yang sangat baik bagi saya sendiri. Karena dengan seperti ini saya seolah ‘dipaksa’ untuk belajar ;agi. Membuka buku lagi. Begadang lagi untuk mendalami referensi, nyari referensi di internet dan buku. Sebuah kegiatan yang sempat hilang. Tidak lagi seperti waktu jaman mahasiswa masih aktif belajar karena tuntutan”, pembicara bertutur kata sebelum presentasi. Semua terlihat hening, termasuk Novita. Karena dari sepenggal kalimat tersebut mengindikasikan bahwa akan ada suatu cerita lain yang ingin disampaikan di samping materi presentasi.

“Sekarang hari-hari lebih banyak diisi dengan aktivitas yang monoton. Rutinitas. Setiap dua sampai tiga kali seminggu datang ke Jogja, ngajar, ya sudah selesai pulang. Menuju pabrik, ngurusi pabrik dan toko lagi. Begitu seterusnya. Seolah memang menyenangkan karena sudah dalam kondisi tenang. Tetapi justru dengan rutinitas itu ada yang hilang. Terkadang rutinitas aktivitas itu yang menghilangkan kreativitas dan tingkat pembelajaran kita. Sudah merasa nyaman dengan keaddan. Seolah terlena. Padahal di luar sana sudah banyak berkembang. Orang-orang di luar sana sudah banyak yang menemukan alat inilah, ilmu itulah dan sebagainya. Saya terkadang seolah asyik dengan rutinitas yang menjemukan”, lanjut pembicara. Novita bergumam.

Manusia memang diciptakan berbeda. Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia diciptakan berbeda antara satu dengan yang lain. Unik. Bahkan sidik jari dan retina mata tidak akan pernah ada yang sama. Oleh karena itu sudah lumrah jika setiap orang ingin berbeda penampilannya. Sehingga ingin unik terhadap kepemilikan produk.

Berjuang setiap hari terjun ke dalam rutinitas yang sama adalah hal yang wajar terjadi. Berjuang untuk mewujudkan impian setiap angan-angan manusia untuk sekadar ‘berbeda’ dengan yang lain. Bukan berarti salah ketika persepsi rutinitas merekat pada rajin, disiplin dan tepat waktu. Tetapi yang kadang harus dicermati bahwa rutinitas terkadang menghilangkan semangat dan keinginan untuk belajar. Karena sudah merasa nyaman.

Satu hal lagi, belajar masih sering sekali diartikan sempit. Padahal belajar itu setiap saat. Arti belajar sering disamaartikan dengan ’sekolah’. Padahal sangat luas sekali. Bisa dari sumber yang tidak terbatas. Pemahaman yang terkukung pada aktivitas ’sekolah’, membayar SPP, belajar dari guru-dosen dll. Padahal sumber ilmu itu banyak sekali. Sehingga sangat tepat bila mengusung istilah belajar sepanjang masa. Longlife learning.

Belajarlah terus. Kalau ada yang bilang semakin banyak belajar maka merasa semakin bodoh, itu hanyalah cara pandang untuk tawadhu kepadaNya. Bahwa ilmu manusia hanya seperti setetes air di lautan. Tetapi jika diartikan untuk menjadi ’malas’ dan ’takut’ belajar, karena cara pandang bahwa semakin banyak belajar maka akan semakin banyak hal yang sebenarnya tidak diketahui adalah cara pandang yang kurang tepat. Manusia memperoleh hak seluas-luasnya untuk belajar. Bahkan dalam sebuah riwayat diperintahkan untuk menuntut ilmu sampai ke negri orang. Masihkah bermalasan untuk belajar? Bahwa banyak sekali media untuk belajar, orang-orang di sekeliling, teman, sahabat, keluarga, bahkan pengalaman buruk….. belajar akan menyemangati untuk tetap hidup.

Workshop Teknopreneur. LIPO, jumat 24 April 2009

teknopreneur

Iklan

Aksi

Information

7 responses

28 04 2009
mei allif

wah sayang mb mei gak ikut workshopnya 😦 maaf ya arif, pagi itu mb mei ada acara… tapi alhamdulilLAh dapet ceritanya dari arif… syukran…
hehhe… ternyata rajin nuis juga si arif ini… semangat2…!!! 😀

28 04 2009
rheifania

wah…jadi pengen nih ikutan workshopnya…boleh ga ya kira2????trus itu ada fotonya ya??fota mas arif yang mana????

28 04 2009
feeds.bloggerpurworejo.com » Longlife Learning

[…] Longlife Learning Filed under: Uncategorized — @ 1:16 pm […]

29 04 2009
mel

emang cocok bgt…mukanya udah mirip ama PC kotak kotak hehhehee..kidding

30 04 2009
vit

Longlife learning, satu bahasan yang bagus ..memang manusia itu harus belajar sepanjang kita masih bisa bernafas .. Tak ada kata “berhenti” dalam belajar segala hal sebelum nyawa terlepas dari sang raga.

7 05 2009
olvy

setujuh bangetsss, longlife learning harus jalan terus…yesss!!!

8 01 2010
harymantop

opak apek saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: