Kehidupan tidak Matematis

3 07 2009

Fitta adalah seorang gadis pintar yang kuliah di arsitek. Dahulu, dia memang anak pandai. Sering juara kelas. Lalu semasa kuliah memilih melanjutkan kuliah di sebuah iniversitas terkemuka di Bandung, tanpa tes. Seiring berjalannya waktu, proses kuliah berjalan terus. Ada banyak tugas, saat untuk praktikum dan kerja lapangan. Rupanya dia kebagian untuk bisa melakukan kerja lapangan terlebih dahulu dibandingkan teman-temannya. Bisa dibilang ia adalah mahasiswa terpintar di kelasnya. Ia di awal sudah menebak siapa di antara temannya yang akan lulus duluan, dan dia menebak diri sendiri. Lalu ia juga memprediksi akan masa depan mengenai perkerjaan teman-teman kuliahnya. Siapa yang akan mendapat perkerjaan terlebih dulu, siapa yang kira-kira mendapat pekerjaan yang mapan dan bahkan siapa yang akan menikah terlebih dahulu.

Lalu, waktu berjalan. Bahkan berlari dan menari. Proses kehidupan terus berlangsung. Kadang manusia sama sekali tidak bisa menikmati proses tersebut. Karena merasa proses itu cepat sekali berlalu. Dan kadang menikmatinya hanya ketika proses itu selesai berlangsung. Dan, semua prediksi Fitta hampir meleset semua. Dia yang menargetkan cepat lulus pun tak tercapai. Dan selepas beberapa temannya lulus duluan, baru ia menyusul.  Itu pun hanya tinggal segelintir, dari temanya yang ratusan wisuda duluan.

Dan dengan pertimbangan matang, akhirnya justru Fitta melanjutkan studi lagi di kota lain dengan beasiswa. Salah seorang rekannya bahkan telah bekerja di luar negri, ia tak menyangka sama sekali. Padahal menurutnya, temannya tersebut tidak begitu pandai semasa kuliah.. Dan ada pula teman yang justru menganggur dan nasibnya kurang baik padahal ketika begitu lulus ia langsung diterima di sebuah perusahaan asing terkemuka di Indonesia. Ada pula seorang teman yang Fitta prediksi akan bekerja di perusahaan yang biasa saja, justru sekarang menikmati gaji berjuta-juta di sebuah perusahaan properti.

Fitta hampir merasa semua prediksinya salah. Termasuk kejadian bahwa ia sekarang harus sekolah lagi adalah sesuatu yang di luar prediksi. Dan prediksi mengenai siapa di antara teman-temannya yang menikah terlebih dahulu juga meleset. Dua orang teman putrinya yang dahulu biasa saja, justru kini sudah punya pasangan masing-masing. Salah satu di antara mereka sudah dikarunia momongan. Dan pasangan sejoli, yang juga teman satu kelas Fitta semasa kuliah, kini justru belum beranjak dan berani menikah. Bahkan ada pasangan yang telah lama menjalin hubungan kekasih semenjak duduk di bangku kuliah, kini harus terpisahkan bentangan jarak dan waktu. Sungguh semua kini di luar prediksi Fitta. Lalu Fitta memutuskan untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh saja untuk kehidupan yang lebih baik daripada menulis segenggam prediksi di luar batas nalar dan akal manusia. Dalam benaknya, tersirat bahwa kehidupan dunia sama sekali tidak matematis dan sistematis. Apakah benar seperti itu?

kehidupantdkmatematis

Terkadang pandangan bahwa kehidupan itu tidak matematis dan tidak sistematis hanya di mata manusia. Semesta ini diciptakannaya dengan begitu sistematis. Coba tengok bahwa rotasi bumi selalu 24 jam,. Walaupun masih banyak ilmu yang seolah masih terkubur, karena manusia susah sekali menguakknya. Terbatas. Baik buruk hanya di mata manusia. Tuhan punya rencana sempurna dan takkan melebihi batas kemampuan manusia tersebut