Kuntowijoyo

30 07 2009

Diambil dari sebuah kisah nyata. Dikutip dari berbagai sumber dengan berbagai pengolahan kata tanpa bermaksud menghilangkan kisah nyata sebenarnya.

*********

Alkisah ada seorang guru besar di sebuah universitas terkemuka di Yogyakarta, budayawan, sastrawan dan sekaligus sejarawan ternama. Beliau aktif di berbagai organisasi dan telah banyak menulis buku serta menerima penghargaan. Pendidikan di luar negri juga pernah dijalaninya.

Kehidupan berumah tangga dan aktivitas bersosial masyarakat tetap dijalani. Seiring waktu berlalu, banyak sekali aktivitas beliau hingga kadang menyita waktu untuk sekadar beristirahat dan melepas lelah. Walaupun begitu, beliau tetap menjalaninya dengan penuh semangat dan dedikasi. Karya-karyanya sudah banyak dinikmati kalangan akademisi dan masyarakat umum dalam bentuk buku, novel dan masih banyak lagi. Dan mendapat apresiasi yang cukup baik, karena dinilai memang konsisten di bidangnya.

Suatu ketika karena begitu padatnya aktivitas beliau, datanglah penyakit yang bertubi-tubi hingga mengakibatkan kondisi beliau yang agak mengkhawatirkan. Ketika itu, beliau sampai harus dirawat di rumah sakit karena koma. Pihak dokter rumah sakit tetap memandang bahwa ada harapan untuk hidup. Walaupun itu sangat kecil sekali. Tetapi dengan konsekuensi bahwa beliau harus dipasangi alat medis guna menopang kehidupan untuk sementara waktu. Dan biaya untuk perawatan itu sangatlah mahal

Waktu bergulir sekali lagi, pihak keluarga pun mengalami dilema karena beberapa hal. Yang jelas, biaya alat tersebut tidaklah murah. Dan itu cukup menyedot pundi-pundi keuangan tumah tangga. Dan jika alat itu dilepas, tidaklah mungkin karena berdasarkan keilmuan dokter sebenarnya masih ada harapan hidup walapun kecil sekali. Otak masih bisa merespon walaupun kecil sekali. Kecuali jika sebenarnya otak sudah tidak bisa merespon; maka berdasarkan ijtihad ulama karena berbagai pertimbangan yang matang dan lama, alat tersebut boleh dilepas. Jika kemudian meninggal atau akan tetap hidup, maka itu sepenuhnya di tanganNya.

Rupanya karena berdasarkan diagnosa medis bahwa otak masih merespon, maka dipertahankanlah. Dan ditunggulah beberapa hari, bahkan bulan. Respon otak yang kecil tersebut jikalau akan sembuh, maka diperkirakan dokter beliau akan kehilangan memorinya dan kemampuan motorik. Sehingga diibaratkan seperti bayi yang baru lahir. Kosong semua. Akhirnya, hanya waktu yang bisa menjawab. Dan selama 70 hari beliau harus koma di rumah sakit. Sungguh luar biasa karena benar-benar di luar dugaan. Kondisi memori otak sepenuhnya masih tetap sama. Hanya kemampuan motorik seperti gerak tangan dan kaki saja yang tidak bisa kembali seperti semula.

Akhirnya kehidupan beliau pun juga harus tetap berjalan. Walaupun sekarang dengan berbagai keterbatasan. Semua orang disekitar beliau sudah was-was karena khawatir akan kondisinya sekarang yang tidak seperti lagi. Tapi sungguh luar biasa, hal itu berbalik. Memang secara motorik, beliau mengalami banyak keterbatsan. Tetapi secara pemikiran otak, itu tidaklah demikian. Dengan hanya satu jari, beliau mengetik dan menulis buku. Bayangkan, satu jari saja. Dan itu pun proses memencet tombol di keyboard lama sekali. Tidak seperti orang normal. Tapi hasilnya luar biasa. Puluhan buku telah diterbitkan dengan kondisi beliau yang terbatas. Kondisi dimana beliau sebelumnya sempat koma 70 hari di rumah sakit. Salah satu kutipan beliau, pernah bilang bahwa beliau rindu melihat pidato pak Habibie. Karena pak Habibie lincah sekali tanggannya ketika berpidato. Mulutnya pak Habibie juga lincah berbicara.

Dan bukan hanya menulis buku, tapi beliau masih diundang untuk mengisi seminar dan semacamnya. Karena keterbatasan kemampuan motorik beliau hingga tak mampu berbicara, terkadang istrinya yang membacakan makalah beliau ketika presentasi.

Beliau, dengan keterbatasan fisiknya yang pernah koma 70 hari telah menerima apa adanya. Bahkan memanfaatkan dengan segenap upaya dan daya. Gerak tangan saja susah sekali.  Tapi sudah puluhan buku dan pemikiran tercipta. Lalu apakah yang mempunyai dua tangan dan fisik lainnya normal masih akan menggerutu dan menyalahkan nasib?

kuntowijoyo

Beliau adalah Prof. Dr. Kuntowijoyo. Seorang guru besar. Salah satu karya novel yang terkenal adalah “Wasripin dan Satinah”; bercerita tentang dua orang yang jatuh cinta dalam balutan konflik jaman Orba. Sumber terkait dapat dilihat di:

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/k/kuntowijoyo/index.shtml

http://id.shvoong.com/social-sciences/1687076-kuntowijoyo/