Pengamen

27 08 2009

Yufal dan Zainal sedang mengendarai motor berdua. Tibalah mereka di perempatan condongcatur Ring Road utara Jogja. Terjadilah perbincangan menarik di antara kedua sahabat dekat ini.

Y : “Wah, baru liat aku ada pengamen kayak gini. Sudah beberapa tahun di sini perasaan baru kali ini ada pengamen seperti ini. Pernah liat ga?”

Z :  “Belum. Wah kreatif betul tuh”

Y : “Iya sih, tapi itu juga seolah untuk menutupi bahwa mereka kurang cakap dalam bekerja. Tidak bisa kerja”

Z : “Bukan begitu bro. Bukan ga bisa kerja, tetapi lowongan kerja terlalu sempit di sini. Harusnya pemerintah dan swasta ikut andil tanggungjawab nih”

pengamen

Lalu Yufal mengambil kamera digitalnya. “Kuambil gambar ah, lumayan buat koleksi”. Zainal bilang, “Dasar, fotografer kurang kerjaan, huh”.

Y : “Ah gak papa. Kan namanya ini kreatif. Kayak para pengamen itu. Ngamen dengan kreatif. Jarang-jarang ada yang seperti itu. Yang penting mereka dah bisa menyukuri hasil pekerjaan mereka itu sudah baik. Daripada meminta-minta, apalagi korupsi. Huh, memalukan””

Z : “Iya deh, terserah kamu mau bilang apa. Tapi tetep aja pembangunan negara kita ini belum merata. Kesempatan kerja juga. Apalagi kurs dolar amerika nilainya masih tinggi amat. Masih ga setuju juga kamu dengan pendapatku ini?”

Y : “He he. Lampu hijau sudah menyala bro. Wokelah, mereka itu juga punya nilai lebih lho. Melestarikan budaya. Memakai unsur budaya kesenian asli tanah air, dari etnis jawa. Daripada keduluan diklaim lagi sama negara tetangga. Kita nikmati saja dulu”

Lalu, uang seribu rupiah dikeluarkan dari kantong saku Zainal. Diberikan ke pengamen itu.





Nasi Goreng Kotabaru

27 08 2009

Ada beberapa lokasi di daerah Kotabaru Jogja yang merupakan tempat warung makan nasi goreng. Yang tentu saja rasanya menggoyang lidah dan menjadi tempat favorit masyarakat kota Jogja. Jogja memang banyak menyediakan tempat untuk wisata kuliner. Bukan hanya kuliner khas jawa, tetapi juga banyak yang dari luar.

Kali ini akan diperkenalkan dua tempat warung makan nasi goreng yang lumayan favorit di daerah Kotabaru. Pertama di dekat SMA 3 Jogja. Wah, yang ini sangat laris. Lokasinya sangat strategis di tengah kota. Dekat stadion Kridosono dan cocok untuk sekedar menikmati malam hari di Jogja sambil bercengkrama bersama orang-orang terdekat.

nasgorpeta

Yang kedua di jalan abu bakar ali Kotabaru. Tidak jauh dari lokasi yang pertama. Namanya nasi goreng sapi mas Tarman Kotabaru. Tersedia dua makanan yakni nasi goreng dan sop sapi. Rasa nasi gorengnya sederhana, tapi khas dan lembut di lidah. Tersaji dengan emping dan telur ceplok serta acar. Satu porsi dengan jeruk panas seharga 9 ribu.

nasgor1

Lokasi di tengah kota memang menguntungkan. Cocok untuk anak-anak muda nongkrong. Lagipula lokasinya cukup luas. Ada tempat lesehan di trotoar dan ada meja-kursinya pula. Di tengah kota, lumrah pula akan ada pengamen dan pengemis lalu lalang. Terkadang menikmati pengamen yang benar-benar bernyanyi dengan suara khas pengamen tidak akan rugi.

nasgor2

Berikut adalah lokasi-lokasi kuliner lain di jogja yang dikutip dari blog seorang kawan, klik di sini.





Manajemen Zakat

25 08 2009

Mungkin langsung akan terlintas bahwa penulis buku ini mempunyai latar pendidikan kental dengan pondok pesantren atau perguruan tinggi islam. Tetapi itu agak meleset. Penulis adalah salah satu orang tersohor di Indonesia. Di bidang zakat tentunya. Punya latar belakang kuliah S1 di Arkeologi UI. Dia adalah Eri Sudewo. Salah satu perintis Dompet Dhuafa Republika (DD). Penulis memang pernah bekerja di Badan Arkeolog, karena background keilmuannya itu. Tetapi juga pernah merangkap bekerja di bisnis media. Dan alhasil pada tahun 1993, penulis terlibat dalam melahirkan DD.

m zaktMungkin ini adalah buku pertama di Indonesia yang membahas mengenai seluk beluk pengelolaan zakat di sebuah organisasi nirlaba. Dan mungkin dengan dasar itulah diberi judul “Manajemen Zakat”. Bukan mengupas lebih dalam mengenai zakat kontemporer dalam sudut pandang fiqih dan penerapannya di dunia modern saat ini. Tetapi pengelolaan zakat di sebuah lembaga atau organisasi. Tentu saja dengan sejarahnya.

Buku ini memupunyai judul  “Manajemen Zakat, Tinggalkan 15 Tradisi Terapkan 4 Prinsip Dasar”. Penerbit Institut Manajemen Zakat (IMZ) Jakarta pada tahun 2004. sudah cukup lama. Tapi tetap menarik dibaca. Karena seperti diungkapkan di awal tadi bahwa jarang-jarang buku seperti ini. Di dalamnya juga tidak melulu bercerita secara teoritis. Tetapi diliputi pula oleh cerita-cerita di balik kesuksesan pembangunan lembaga DD. Dengan beragam kenangan baik maupun yang kadang lucu bahkan bercitra negatif. Tak lupa penulis kadang menyelipkan beberapa kata-kata bijak di setiap bab-nya.

Membaca buku ini, langsung disuguhi oleh pengatar atau kata sambutan dari lima orang penulis dan professional di bidangnya. Yakni sang maestro pemasaran Hermawan K, ahli manajemen Dr. Rhenald K, Akademisi Prof. Azyumardi A, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Prof. Didin H, dan penulis berbagai buku mengenai ekonomi syariah Adiwarman A.Karim. Semua kata pengantar memiliki petuah dan sudut pandang yang berbeda-beda sesuai bidang keilmuannya.

Selama ini memang masalah pengelolaan zakat dalam sudut pandang hukum negara Indonesia belum tertata dengan baik. Jika diambil sudut pandang dari ranah hukum, tentu UU zakat yang akan dipermasalahkan dan perlu ditinjau kembali. Dan jika dilihat lebih ke arah operasional, maka banyak sekali permasalahn teknis berkaitan dengan lembaga pengelola zakat. Permasalahan yang diangkat penulis, mengungkapkan ada 15 tradisi yang menyebabkan kesulitan perkembangan. Yakni : anggap sepele, kelas 2, tanpa manajemen, tanpa perencanaan, struktur organisasi tumpang tindih, tanpa fit and proper test, kaburnya batasan, ikhlas tanpa imbalan, dikelola paruh waktu, lemahnya SDM, bukan pilihan, lemahnya kreativitas, tak ada monitoring dan evaluasi, tak disiplin dan kepanitiaan. Sehingga penulis menawarkan solusi 4 prinsip dasar; prinsip rukun islam, prinsip moral, prinsip lembaga dan prinsip manajemen.

Pada intinya penulis ingin bahwa pengelolaan zakat oleh lembaga nirlaba atau sekarnag lebih sering memakai istilah lazis, bisa memberikan kemanfaatan lebih. Bukan hanya sebagai lembaga yang asal-asalan dibuat tanpa manajemen dan dibuat hanya untuk semata charity. Tetapi semua itu adalah sebuah nilai profesionalisme. Dan paradigma baru seperti ini memang tidak mudah dan butuh waktu untuk menerapkannya di benak masyarakat banyak.

Tumpang tindih yang terjadi secara struktural mengenai kelambagaan zakat secara nasional juga sedikit disingguh di sini. Kemudian tak lupa salah satu hal yang penting dalam hal pengelolaan dana zakat adalah masalah distribusi. Dimana terdapat berbagai cara atau program kegiatan untuk mendistribusikan zakat. Mulai dari cara konvensional bisa untuk penyaluran sesuatu yang bersifat konsumtif, sekali pakai habis. Sampai cara penyaluran dengan pendayagunaan. Sesuatu yang bermanfaat untuk jangka panjang. Sehingga seseorang yang termasuk golongan mustahiq (golongan yang berhak menerima zakat, 8 asnaf) bisa meningkat menjadi muzaki (donator).





Negara Kesepakatan

22 08 2009

“Besok ngumpul di rumah Tari ya”, begitulah bunyi sms yang dikirim oleh Santoso. Komandan urusan stand pameran pada acara registrasi dan penerimaan mahasiswa baru tahun ini. Di kampus terkemuka di wilayah Jogja. Sms tersebut untuk teman-temanya. Teman baik satu kampus maupun bukan. Yang bersedia diajak usaha dan jualan bareng dengan pangsa pasar tentunya adalah mahasiswa baru. Mahasiswa yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Acara jualan kali ini akan diisi beraneka ragam. Mulai dari yang biasa, yakni peralatan dan perkakas untuk ospek, sampai makanan dan minuman. Jadi lain dari kebiasaan Santoso pada tahun-tahun sebelumnya yang hanya berjualan peralatan dan perkakas ospek seperti co-card, buku, dan lain sebagainya. Lebih berpikiran ke depan, benar-benar ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan jualan makanan dan minuman. Rencana yang akan dijual mulai dari makanan ringan atau snack sampai makanan berat, dan aneka minuman sampai softdrink.

Jumat itu, acara kumpul dimulai lagi. Setelah acara kumpul rapat terbatas di rumah Tari, jalan Kantil 9. Kini, rapat mencoba mengumpulkan semua teman. Bertempat di ruangan rapat laboratorium kampus. Mumpung Santoso masih jadi asisten. Sehingga akses ruangan mudah. Semua teman dikumpulkan. Sudah lumrah jika para mahasiswa yang terkumpul di jogja berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Ya, itulah juga yang terjadi di ruangan laboratorium pada jumat siang itu. Santoso yang asli anak Tangerang berperan sebagai komandan atau koordinator. Tari membuka pertanyaan, “Besok mau jualan apa aja sih?”. Tari yang punya rumah di jalan Kantil 9 sebenarnya adalah gadis cantik asal Bontang, Kalimantan. “Kita nyari supplier roti aja, aku bisa usahain itu”, anak Lampung bernama Azwan menimpalinya.  “Terus target kita berapa mahasiswa yang akan membeli perkakas ospek? Kaitannya sama modal nih”, Rahma kembali memberedel pertanyaan, agas diskusi kembali semarak. Rupanya gadis tomboy penyuka basket asal Pekalongan ini memang sangat berminat dengan usaha bisnis kecil-kecilan ini. “Kita nyari supplier nya jangan hanya makanan dong, minuman juga. Kan pasar masih terbuka lebar”, Zahra ikut memberikan saran. Gadis manis bernama Zahra itu sudah berpengalaman dalam hal jualan. Karena orang tuanya di Semarang punya sebuah warung makan yang lumayan laris. “Kira-kira urunannya per orang ga sampe jutaan kan?he he he”, si Fadli warga pribumi Jogja langsung to the point bertanya ke hal yang inti. Diskusi terus berlanjut. Tak luput semua yang datang memberikan urun rembug. Teman Santoso satu kos yang beda kampus juga tak luput. Yakni Adam yang asli Palopo, Titus warga Klaten, Fredy yang asli Manado dan Hens Leo yang berasal dari Surabaya.

Akhirnya semua sepakat membahas rencana membuat stand pameran untuk registrasi mahasiswa baru. Urusan administrasi dan biaya pendaftaran ke panitia universitas akan diurus sendiri oleh Santoso. Kesepakatan mulai dari kapan mulai jualan, apa saja, nama stand, jumlah nominal urunan dan semuanya. Karena hari esok akan segera tiba hari H. dan kesepuluh mahasiswa tersebut adalah bukan mahasiswa baru tingkat satu, tetapi telah menginjakkan kakinya di Jogja selama beberapa tahun untuk menuntut ilmu.

Akhirnya hari H pun tiba. Semuanya berkumpul di boulevard kampus. Sudah dengan perlatannya masing-masing. Dan sudah dengan barang dagangan. Siap jual. Mirip toko kelontong kecil. Banyak. Bagi-bagi tugas sudah dilakukan. Yang bertugas mengurusi supplier, mencari pasar, operasional, semuanya berpencar. Setiap anggota dari kesepuluh orang tersebut mempunyai potensi yang berbeda-beda. Ada yang punya peralatan lengkap dan moda transportasi mobil, cakap dalam berbicara, smart dalam bertindak dan masih banyak lagi. Semua potensi tersebut disatukan untuk satu tujuan kesepakatan bersama yakni mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Secara mandiri.

Dan akhirnya hasilnya pun tak mengecewakan. Setelah hari H usai, pesanan untuk peralatan ospek terus berdatangan. Dan masih akan berlanjut selama kurang lebih satu minggu. Terkadang ada beberapa anggota tim yang tidak bisa ikut gotong royong pada waktu-waktu tertentu. Misalnya ketika minggu pagi sedang ramai-ramainya pesananan, Titus dan Fredy harus pergi ke gereja untuk menempuh ibadah mereka masing-masing. Walaupun berbeda lokasi peribadatan. Atau ketika suatu hari Hens Loe harus ijin sejenak untuk mengikuti ritual peribadatan di sebuah Pura. Tetapi itu semua tidak menjadikan permasalahan bagi yang lain, yang punya keyakinan muslim. Dan punya idealisme bekerja atau falsafah masing-masing. Beragam. Hingga akhirnya semua bisa tersenyum senang. Keuntungan membludak. Makan-makan bebakaran ayam segera dilaksanakan pada malam hari. “Wah, tak sia-sia kita capek-capek minggu kemaren. Untung bukan pas waktunya aktif perkuliahan. Tahun depan lagi yuk. Syukur-syukur bisa bikin usaha sendiri bersama kelak”, begitu seloroh Santoso ketika acara makan-makan bersama. Suasana meriah.

Dan seiring waktu berganti. Hari berganti dan seterusnya. Rupanya mereka ketagihan untuk selalu membuka usaha kecil-kecilan seperti itu. Bukan menunggu event tahunan, tetapi jika setiap ada kesempatan apalagi di kampus-kampus lain selalu diikuti. Tidak melulu sepuluh orang yang selalu tergabung dalam tim. Bisa kurang, tapi lebih sering lebih.

Berawal dari rintisan wirausaha kecil-kecilan semasa di kampus itu, Santoso dan rekan-rekan sudah memutuskan untuk terjun ke dunia pencipta lapangan kerja. Ketika semasa kuliah, mereka sudah bisa membeli kebutuhan sehari-hari sendiri. Dan kini, sesudah semua selesai menempuh perkuliahan, bersepakat meneruskan rintisan usaha yang dahulu. Membuat sebuah usaha bersama dalam bidang ritel. Supermarket.

Tidak mudah memang memulai sebuah usaha besar. Butuh perjuangan ekstra. Tetapi dengan semangat kerja keras dan doa, hal itu tetap akan tercapai. Dan setelah beberapa tahun akhirnya usaha Supermarket tersebut tidak sia-sia. Tahun demi tahun telah berganti, ratusan bahkan ribuan karyawan telah dimiliki.

***

Baca Selengkapnya





Sate Kambing Muda Tegal

21 08 2009

Balibul atau bawah lima bulan, adalah istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan bahwa umur kambing yang digunakan untuk sate “di bawah lima bulan”. Umur yang muda. Dagingnya masih empuk. Bagi penyuka sate kambing, warung makan yang satu ini adalah alternatif yang cukup menggoda, karena dagingnya kambing jenis balibul. Namanya memang dari Tegal, karena yang yang punya adalah orang keturunan Arab yang asli Tegal. Tetapi lokasinya bukan di Tegal, tetap di Kutoarjo. Sebuah kota kecamatan di Kabupaten Purworejo. Lokasi persisnya di jalan Diponegoro, sebelah barat alun-alun Kutoarjo. Sebelah utara jalan. Sebuah warung makan yang tidak begitu luas tetapi ruangannya bersih dan rapi dengan mebel dari bambu yang bagus.

satetegal

Penyajiannya cukup unik. Seperti penyajian makanan steak yang disajikan dalam nampan pangganan yang masih panas; hot plate. Dagingnya terasa empuk dan gurih karena ada olesan menteganya. Nasi disajikan terpisah, dengan hanya bumbu kecap. Rasanya mantap cukup nendang di perut. Harga satu porsi dengan nasi tidak sampai dua puluh ribu. Kalau di hari jumat dan sabtu ada menu khusus yakni nasi kebuli.





Sistem Teknologi Informasi

20 08 2009

Apa bedanya Sistem Informasi Manajemen (SIM) dengan Sistem Teknologi Informasi (STI)? Buku ini akan menjawabnya. Buku karangan professor Jogiyanto Dosen Tetap UGM yang satu ini banyak mengupas perbedaaanya. Buku yang ditulis beliau telah terbit pertama tahun 2003 oleh Andi Jogja tetapi telah mencapai edisi ketiga saat ini.

stiDimulai dari daftar pustaka, beliau mencoba menuturkan secara runtut konsep teknologi informasi. Dimulai dari terminologi kata STI sampai hal teknis menyangkut software dan hardware. Ditinjau dari ilmu peristilahan kata atau terminologi kata, sebenarnya SIM dan STI tidak berbeda jauh dari segi konsep, bahkan takaran operasional. Lebih banyak bisa diartikan bahwa penulis ingin menambah wacana keilmuan mengenai SIM. Jika menilik pada bagian atau bab 1 terlihat perbedaan antara SIM dan STI; STI merupakan sebuah konsepsi yang lebih besar daripada SIM. Artinya di dalam STI terdapat unsur SIM. Padahal jika membaca buku lebih lanjut, tidak banyak perbedaan dengan buku SIM pada umumnya. Hanya saja seperti tadi telah dipaparkan, penulis mencoba membuat atau menambah khasanah keilmuan baru dengan teminologi yang sedikit diperluas. Beberapa tambahan atau perbedaan dengan buku mengenai SIM pada umumnya adalah pada penjelasan mengenai konsep teknologi lebih banyak dan istilah-istilah yang berhubungan dengan teknologi juga dipaparkan penulis, setelah pembahsan setiap bab. Dilengkapi pula dengan pertanyaan latihan. Karena memang konsep buku ini dikembangkan oleh penulis lebih untuk persiapan materi perkuliahan. Terlihat di bagian depan buku (kata pengantar) mengenai susunan pertemuan kuliah.

Tetap saja siklus pengolahan data berikut ini nampak pada semua buku yang berhubungan dengan sistem informasi. Ya, karena konsep dasar ini selalu terpakai. Pembuatan sisten informasi selalu terdapat pemodelan dan melibatkan basis data di dalamnya. Kumpulan data. Data yang diolah sehingga memberikan kemanfaatan akan menjadi informasi.

sim

Setelah terminologi istilah STI dibahas, penulis memaparkan terlebih dahulu mengenai teknologi sistem computer (perangkat keras), software sampai pada bahasa pemrograman seperti FORTRAN, BASIC, dan COBOL. Tak lupa mengenai jaringan dan protokol. Kemudian menuju ke bab selanjutnya, penulis membeberkan mengenai aplikasi system informasi di berbagai aspek atau bidang. Seperti system informasi akuntansi, pemasaran, produksi, sumber daya manusia, keuangan dan konsep besar ERP (Enterprise Resource Planning). Aplikasi sistem informasi lain yang cukup terkini juga tak luput dibahas. Jika pada buku mengenai SIM yang ditulis oleh penulis yang sama lebih banyak memaparkan jenis sistem informasi yang termasuk jenis SIM, maka pada buku ini tidak hanya itu. Selain DSS, sistem pakar, neural artificial, sistem informasi geografis, sistem informasi eksekutif dan aplikasi kantor (Office Automation System) juga tak lupa dipaparkan.

Bias dibilang karena saking cukup lengkapnya buku ini, penulis juga mencoba sedikit mengungkapkan metode ilmiah pengembangan SIM. Yang pertama diutarakan adalah jenis SDLC (System Life Development Life Cysle). Kemudian metode-metode lain sebagai wacana tambahan; prototyping, outsourcing dan masih banyak lagi. Dan di akhir bab, ada mengenai etika dan politik dalam sistem informasi. Suatu hal yang kadang dianggap sepele tetapi justru terkadang berfungsi sebagi kunci pengembangan sebuah sistem informasi di perusahaan atau organisasi pada umumnya. Maksud dari penjelasan etika misalnya penjelasan permasalahan seperti privasi, kepemilikan intelektual, kemanan (security) dan lain-lain.

Secara umum, buku ini sangat bagus sebagai referensi bagi pelajar, mahasiswa (ekonomi, teknik, sosial, hukum) atau kalangan praktisi yang berminat mengenai sistem informasi.





Edukasi Pemasaran Produk Bank Syariah

14 08 2009

Pemasaran adalah salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam peningkatan kepercayaan konsumen. Salah satu aspek ini memang perlu diperhatikan untuk meningkatkan minat dan konsumen. Pemasaran dalam bank syariah bukan hal yang bisa dianggap sepele. Dan para pengelola bank juga tidak tinggal diam. Tentu sudah banyak hal yang dilakukan untuk mendobrak kinerja pemasaran sebuah bank syariah.

Bermacam-macam program dengan berbagai nama tentu juga sudah dilakukan oleh bank syariah. Pemasaran umumnya langsung pada takaran produk tertentu yang dimiliki oleh bank syariah. Berbeda-beda. Misalnya sebuah bank ada yang mempunyai layanan kredit perumahan syariah, deposito syariah dan lain sebagainya. Produk-produk atau layanan bank syariah di Indonesia umumnya telah dilaksanakan melalui berbagai program atau media. Mulai dari pamflet, iklan, buletin gratis hingga mengikuti pameran-pameran mengenai perbankan syariah. Intinya, program-program atau strategi pemasaran dilakukan langsung pada sebuah aktivitas untuk menawarkan produk yang spesifik dari sebuah bank.

Jika menilik lebih lanjut konsep pemasaran, maka sejatinya banyak sekali filosofi yang bisa diambil dan diterapkan menjadi sebuah strategi pemasaran. Salah satu diantaranya ada konsep pemasaran mengenai 4 P. Jadi strategi pemasaran harus memperhatikan empat aspek yakni place (tempat), product (produk), price (harga) dan promotion (promosi). Dan yang paling mendasar tentu saja konsep pemasaran pada intinya mengenai STP (segmentation, targetting dan positioning). Ada sebuah konsepsi atau filosofi lain yang bisa diambil dari ilmu pemasaran. Hal ini bisa dibilang kadang terlupakan dari sebuah strategi pemasaran. Yakni bahwa pemasaran itu membutuhkan sebuah sosialisasi yang bagus mengenai arti dasar atau konsep dasar produk. Agar konsumen mengetahui betul tidak melulu masalah teknis operasional layanan produk itu seperti apa. Tetapi juga mengetahui maksud, tujuan dan mungkin jika dikaitkan langsung dengan produk bank syariah; yakni dalil agama islam mengenai produk yang syariah itu seperti apa. Dengan satu kata sebuah bahasa sederhana, strategi pemasaran yang perlu digarap lebih serius pada bank syariah yakni aktivitas edukasi.

Pada bahasan ini, memang hanya akan mencoba mengkritisi salah satu aspek kecil saja mengenai bank syariah dalam hal pemasaran. Yakni pentingnya edukasi. Edukasi atau bisa diartikan sebuah aktivitas untuk mendidik atau memberikan pemahaman mengenai sesuatu hal. Edukasi yang dimaksudkan bukan untuk menyoroti bagaimana konsumen, atau yang lebih spesifik adalah calon nasabah, diberi pengertian dan mengerti betul mengenai produk layanan sebuah bank syariah. Akan tetapi diberi edukasi mengenai seperti apa produk atau layanan perbankan yang syariah. Yang benar-benar halal, dikuatkan dengan landasan dalil-dalil dalam Al Qur’an dan Hadits.

Pemasaran adalah sebuah awal dari diterimanya produk oleh konsumen. Sehingga aspek ini patut diperhatikan dan diberikan solusi yang optimal. Jika berpijak pada tujuan untuk meningkatkan konsumen layanan bank syariah yang beberapa pihak mengatakan masih kurang optimal, maka aspek pemasaran tidak bisa diabaikan begitu saja. Tentu saja dengan asumsi bahwa pengelolaan atau manajemen internal sebuah bank syariah khususnya berkaitan dengan produk yang berbasis syariah telah matang. Pentingnya edukasi mengenai produk syariah dalam kaitannya dengan aspek pemasaran diperlukan karena melihat kenyataan bahwa sudah banyak bank di Indonesia yang mempunyai layanan berbasiskan syariah. Bahkan pengelolaan bank syariahnya telah terpisah dari layanan bank konvensional. Pentingnya edukasi produk berbasiskan syariah, karena bisa dibilang bahwa layanan produk berbasis syariah bukan merupakan sesuatu yang telah berlangsung lama semenjak produk perbankan dikenal masyarakat luas. Produk perbankan yang jauh lebih dahulu dikenal dan sampai sekarang sudah teredukasi adalah produk perbankan konvensional. Selepas masa krisis tahun 98, baru bisa dibilang produk perbankan berbasis syariah terus bertambah. Selain itu dengan landasan melihat Indonesia sebagai sebuah negara yang penuh perbedaan, dalam hal ini adalah agama, maka boleh dikatakan cikal-bakal produk perbankan syariah muncul dari sebuah golongan saja. Yakni agama islam. Walaupun pada kenyataannya produk perbankan syariah bukan hanya milik konsumsi satu golongan saja. Tetapi seluruh masyarakat Indonesia.

Maksud dari konsepsi edukasi produk berbasiskan syariah di aspek pemasaran bank syariah, juga untuk menghindari beberapa hal yang kadang dikeluhkan oleh konsumen bank syariah. Ada dua hal utama yang ingin dikritisi dalam tulisan ini. Pertama, mengenai akad atau perjanjian. Sepertinya belum semua bank syariah menjelaskan konsep akad ketika seorang nasabah baru katakanlah akan menabung. Akad atau perjanjian adalah sesuatu yang harus terjadi. Baik lisan dan tulisan. Terkadang beberapa bank masih belum sepenuhnya menerapkan akad dengan baik. Salah satu contoh ada seorang nasabah yang terkadang mengeluhkan setelah sekian lama menabung mengenai biaya administrasi tabungan. Di awal akad menabung, bisa jadi petugas belum menjelaskan atau memang sistem belum tertata dengan baik sehingga mengakibatkan konsumen agak dirugikan. Karena tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu secara resmi dari bank misalnya ketika bank menaikkan biaya administrasi tabungan per bulan dari tiap nasabah. Padahal akad atau pernjanjian kespekatan mengenai transaksi dalam konsep syariah sangat diperhatikan. Kedua, mengenai transparansi laporan keuangan. Hal ini perlu dijelaskan pada strategi edukasi produk berbasiakan syariah. Harus seperti apa transparansi laporan keuangan sebuah bank syariah menurut kaidah syariah yang benar. Apakah setiap nasabah harus dikirimi pemberitahuan resmi setiap bulannya, atau sekadar bank mem-publish laporan keuangan di sebuah media massa.

Strategi pemasaran mengenai edukasi produk berbasiskan syariah bisa dikerucutkan menjadi sebuah tindakan operasional atau teknis. Usulan mengenai edukasi antara lain dengan cara membuat sebuah seminar atau workshop gratis yang menjelaskan konsep produk berbasiskan syariah. Sekali lagi bukan mengenai produk spesifik sebuah bank syariah. Tetapi bank syariah menjelaskan atau mensosialisasikan kepada masyarakat arti filosofi sebuah produk berbasiskan syariah. Pembicara bukan berasal dari pihak bank saja, tetapi ada pembading lain misalnya dari sudut agama islam dari seorang ulama. Diharapkan dari edukasi ini, masyarakat lebih terdidik terlebih dahulu dan merasa respect terhadap produk-produk bank syariah. Lebih merasa sreg dan cocok dengan produk tersebut. Jadi bukan melulu tiba-tiba seorang nasabah datang ke bank syariah dan tidak dibeberkan apa itu nisbah, mudharabah dan lain sebagainya. Padahal kenyataan di masyarakat, tidak semua lapisan masyarakat bisa mengakses informasi mengenai produk perbankan syariah dan mengerti akan hal itu. Edukasi untuk memberikan pemahaman mengenai konsep produk berbasiskan murni syariah juga perlu diperhatikan. Jika memang segmen konsumen sebuah bank syariah adalah seluruh lapisan masyarakat Indonesia, maka perlu diperhatikan tidak semua lapisan masyarakat bisa mengakses informasi dengan lancar. Sebagai contoh masyarakat di perkotaan, akan dengan mudah mencari di internet mengenai konsep produk berbasiskan syariah. Juga terkadang, ada beberapa orang yang menanyakan konsepsi produk syariah yang benar langsung ke seorang ulama karena keterbatasan akses infoemasi. Nah, tugas-tugas mendidik atau edukasi seperti ini sebetulnya layak dan bisa dilakukan oleh bank syariah itu sendiri. Tentu saja ekspektasinya, dengan adanya masyarakat yang teredukasi mengenai produk berbasiskan syariah maka tingkat awareness masyarakat akan bertambah dan nasabah atau konsumen meningkat.

ib new





Sepenggal Cerita yang Terlupakan dari Balikpapan

14 08 2009

Dia baru saja sampai di sebuah kota di Kalimantan Timur. Kekaguman pertama di bandara dan sampai di rumah salah seorang saudara temannya. Bumi Borneo ini baru pertama kalinya diinjakknya. Cita-citanya untuk mengelilingi bumi Indonesia dan dunia memang sudah menjadi impiannya. Apalagi dia adalah anak laki-laki yang bagi keluarganya dipersilakan untuk berkelana mencari pengalaman ke mana saja.

Baru saja sampai langsung dipersilakan mandi. Walaupun dengan kondisi air yang berbeda jauh dengan di tanah jawa, dimana dia dibesarkan dan melanjutkan sekolah, sangat berbeda. Air itu coklat. Walaupun begitu tak apalah gumamnya. Sedikit mengurangi rasa pusing setelah perjalanan terbang dari Surabaya.

Perjalanan dia kali ini adalah untuk menimba ilmu. Bukan semata karena tugas belajar, tetapi perjalanan untuk mencari pengalaman baru. Temannya, juga begitu. Sungguh ingin mengeksplorasi jiwa muda. Hari pertama, minggu pertama diisi dengan adaptasi. Daerah pemukiman dimana ia tianggali sekarang tidak seperti di tanah jawa. Tanah gambut di tengah pemukiman yang mana tanah mengandung batubara banyak berserakan. Dengan kondisi cuaca hujan yang takkan menentu, kata Om Slamet. ”Ayo kita jalan-jalan”, kata temannya. Pagi yang cerah untuk melihat kondisi. Tetapi di sore hari ia dikenalkan pada rekan-rekan kerja Om Slamet. Kerja dimana sungguh ia tidak membayangkan sama sekali. Akan berada di tengah lautan dimana pertaruhan terbesarnya adalah nyawa. Ya, tempat kerja selanjutnya bukan di daratan atau kantoran seperti yang ia bayangkan. Tetapi adalah sebuah platform tambang minyak bumi. Milik asing. Wow!

Ada Adil, Mas Rahmad, dan Anto. Rekan-rekan kerja inilah yang kelak akan menemaninya selama satu bulan kerja di tengah lautan. Sepatu baru, baju kerja baru, helm, kacamata hitam dan ear plug. Adalah seperangkat peralatan yang akan menjadi cerita tersendiri kelak.

”Besok kalian sudah berani berangkat? kita akan naik kapal selama satu jam dari pelabuhan Semayang”. ”Berani Om”, dia dan temannya menjawab dengan kompak. Walupun sebetulnya ada setitik kewaspadaan. Akan seperti apa disana.

Pagi itu ketika adzan shubuh belum berkumandang, antrian mandi sudah terjadi. Mpok, Rama, Mas Rahmad dan Anto adalah sederetan antri. Dan akan seperti ini nantinya. Selama sebulan lebih. ”Ayo pakaiannya dipakai sekalian”, begitu kata Om Slamet. Berangkat jam 5 pagi adalah sebuah keharusan. Agar sampai di pelabuhan tidak terlambat. Setengah tujuh kapal akan segera berangkat. ”Baru pertama kali aku naik kapal seperti ini”, katanya. Dan rekan-rekan kerja yang lain sudah menanti. Ada komandan Warno dan yang lainnya.

Hari berganti. Teman semakin bertambah di tempat kerja. Naik kapal pulang pergi ke platform sudah menjadi kebiasaan. Scafolding, makan siang di tengah laut sampai coffe break. Salah satu teman yang cukup kocak adalah bernama Mas Bambang. Dia adalah asisten teknisi yang pernah bekerja menjadi TKI di Malaysia. Pernah bercerita panjang lebar ketika dia dan temannya bertandang ke rumah Mas Bambang. ”Aku pernah naik kapal tanpa lampu menuju ke Malaysia. Jadi ya kucing-kucingan dengan lampu mercusuar. Sampai di daratan pun tak keliatan”. Tawa riang siang panas itu adalah cerminan kebersamaan. Mas Bambang mempunyai satu anak. Lucu sekali. Namanya juga unik dan lucu. Baru pertama kali ia menemukan nama seorang anak seperti ini. Jingga. Seperti sebuah cahaya yang menyinari.

Waktu terus bergulir. Dan ia harus segera menemukan materi untuk dilaporkan ke sekolahnya di tanah jawa. Insiden adalah hal yang lumrah terjadi di lokasi kerja. ”Prannnnkkk”, suara pipa besar jatuh dari atas. Seorang asisten scafolding lengah dan mengakibatkan pipa itu mengenai sebuah saluran pemadam kebakaran. Yang harganya bisa mencapai harga satu buah mobil kijang yang baru. Asisten itu bernama Syarief. ”Kalian diliburkan selama dua hari”, begitu kata seorang komandan platform yang sangat kecewa dengan kinerja tim dia. Mengecewakan. Lalai ketika bekerja. Untung saja belum terjadi kebakaran.

Hari berikutnya, akan diisi dengan jalan-jalan. Membantu urusan kantor. Sudah menjadi kebiasaan tak lupa pagi itu dia mengirim pesan singkat melalui handphone jadulnya ke kekasih di tanah jawa. Seorang yang sangat dicintainya. Sekadar menyapa. Bahkan terkadang hanya sekadar miscalled saja.

Waktu terus berjalan sehingga ritem kerja di platform kadang sudah menjadi hal lumrah. Pulang ketika matahari sudah tenggelam dan berangkat kerja ketika matahari belum menyapa. Dan sampai suatu titik dimana ia harus meninggalkan tanah Borneo itu karena urusan sekolah di jawa harus segera diikuti. Terlalu naif jika ditinggal untuk terlalu lama. Walaupun sebenarnya dia bekerja. Bukan sekadar bermain di tanah Borneo ini. Data untuk dilaporkan segera dilengkapi. Semua informasi sudah ditelusuri. Walaupun sebenarnya belum puas bereksplorasi, tapi sore itu harus menyampaikan salam perpisahan. Selamat tinggal platform. Surabaya menanti, petoran menunggu. Setengah empat pagi sudah berada di tanah jawa. Pengalaman itu tak terlupakan.

balikpapan

****

Hanya ingin menampilkan kembali agar sepenggal cerita tidak terlupakan. Untuk teman-temanku. Dan cerita ini tertuang lebih utuh dan penuh dalam sebuah buku kecil berwarna coklat. Dulu, seseorang sempat pernah meminta untuk bisa membacanya suatu hari kelak. Tapi mungkin itu sudah tidak akan terjadi.





Jogja Fashion Week

10 08 2009

XLBertemakan Boedaja in Motion.  Jogja Fashion Week merupakan ajang tahunan yang menampilkan pagelaran busana di jogja. Serangkaian acara banyak dilakukan. Mulai dari karnaval atau kirab busana sampai fashion show karya 55 desainer. Dalam rangkaian acara tersebut juga diadakan XL Jogja Fashion Week 2009 PhotoBlog Competition. Sebuah lomba mengabadikan momen dalam bentuk gambar dan diposting di blog. Menarik bukan !

Sore itu, Rabu 5 Agustus 2009 ada beberapa gambar yang terekam di Maliboro. Karnaval fashion yang digelar sampai menuju ke Keraton.

xl 3

Andong, delman, dokar atau apapun itu namanya. Tetap akan bersahaja menemani setiap kirab dan karnaval di Jogja. Ya, karena moda transportasi ini telah menjadi ciri khas”

duaSeorang gadis cantik dan rangkaian bunga di sisi kanannya, di atas andong. Berdandan layaknya seorang putri”

Pada tanggal 6 hingga 9 Agustus 2009, digelar acara fashion week di Pagelaran Keraton Jogjakarta. Pada pagi harinya, diisi dengan kegiatan merias dan pameran produk fashion. Kemudian selepas maghrib, dimulailah fashion show yang sebenarnya.

tiga

Batik akan tetap terpakai oleh gadis cantik asli pribumi. Bagaimanapun ketatnya dan serunya persaingan yang mengatasnamakan globalisasi, budaya lokal harus tetap ada di setiap perubahan jaman. Jika tidak, maka budaya asli akan menghilang”





Masalah

4 08 2009

Hanya cerita fiksi sebagai ilustrasi;

Ada dua orang sahabat dekat. Guruh dan Gumelar. Guruh adalah seorang anak dari keluarga mampu atau berada. Sejak bersekolah di sekolah dasar hingga kuliah selalu mendapat posisi yang menyenangkan. Dan kehidupan yang menyenangkan, rumah mewah dan mobil tersedia. Seolah merasa masalah tidak pernah menyinggahinya.

Gumelar adalah sahabat Guruh, bertemu sejak kuliah di tempat yang sama. Berbeda dengan Guruh, Gumelar mempunyai latar belakang keluarga yang pas-pasan. Orangtuanya sering sakit-sakitan dan adiknya banyak. Sehingga semenjak sekolah sudah terbiasa berdagang. Selepas masalah satu, masalah kedua dan seterusnya hampir sering menyapa. Bahkan dia pernah hampir dipenjara karena dijebak temannya saat berdagang. Kecelakaan hingga tangannya nyaris patah juga pernah dialami.

Tak dinyana dan tak disangka, kedua orang sahabat tersebut mati muda ketika semasa kuliah. Kecelakaan lalu lintas ketika perjalanan sebuah acara studi banding ke kampus lain.

Lalu, tibalah keduanya di pengadilan paling akhir. Pengadilan selepas kehidupan duniawi. Kebetulan mereka berdua berada pada antrian yang berurutan untuk dimintai jawaban atas beberapa pertanyaan. Sehingga ditanyai sekaligus.

Petugas pengadilan : ”Masalah apa yang sudah kau selesaikan wahai anak muda? ”

Guruh : ”Saya merasa selama ini hidup tidak pernah ada masalah. Hidup saya aman-aman saja. Merasa tenang” (sambil menampakkan wajah merasa percaya diri)

Petugas pengadilan : ”Lalu kamu, apa masalahmu wahai anak muda? Dan apa yang sudah kamu lakukan untuk menyelesaikannya?”

Gumelar : ”Wah, masalah saya banyak. Semenjak kecil saya selalu dididik untuk mengahadapi masalah. Dan sejak kecil saya diajari mandiri oleh orang tua saya. Ketika orang tua saya sakit, sayalah yang harus bertanggungjawab atas biaya kesehatan mereka. Dan biaya sekolah saya serta adik-adik saya. Belum lagi masalah rintisan usaha saya yang hampir kena kasus penjara, kecelakaan lalu lintas dan masih banyak lagi. Pokoknya saya mengikuti kemana arus masalah itu sajalah. Dan berusaha semampu saya, kadang juga merasa jenuh dan terjebak ke masalah berikutnya. Tapi ya mau bagaimana lagi.” (sambil berekspresi datar)

Petugas pengadilan : ”Hem, sudah saya putuskan. Kamu Gumelar, nilai kamu lebih tinggi daripada Guruh. Kamu sudah mendapat poin yang cukup banyak karena kamu tahan uji. Nilaimu akan memungkinkan kamu masuk ke kehidupan yang menyenangkan di alam ini. Sedangkan kamu Guruh, nilaimu hampir tak ada. Dan di pengadilan ini tidak diperbolehkan protes. Keputusan petugas pengadilan adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Tidak diperkenankan adanya pembelaan. Cukup.”

******

Tidak ada manusia yang melewati rentetan waktu dengan merasa tidak khawatir sedikit pun. Kata salah seorang profesor; tidak ada orang yang tidak punya masalah, hanya orang gila yang tidak punya masalah. Cobalah untuk sehari, sejam, semenit, sedetik bahkan sejenak merasa senang masih punya banyak masalah. Mungkin masalah itu yang akan mengantarkan seseorang pada sebuah kesimpulan. Walaupun tidak semua masalah berakhir dengan baik. Tetapi setiap masalah itu pasti ada nilainya.

Semoga bermanfaat!

************para sahabat************

masalah