Masalah

4 08 2009

Hanya cerita fiksi sebagai ilustrasi;

Ada dua orang sahabat dekat. Guruh dan Gumelar. Guruh adalah seorang anak dari keluarga mampu atau berada. Sejak bersekolah di sekolah dasar hingga kuliah selalu mendapat posisi yang menyenangkan. Dan kehidupan yang menyenangkan, rumah mewah dan mobil tersedia. Seolah merasa masalah tidak pernah menyinggahinya.

Gumelar adalah sahabat Guruh, bertemu sejak kuliah di tempat yang sama. Berbeda dengan Guruh, Gumelar mempunyai latar belakang keluarga yang pas-pasan. Orangtuanya sering sakit-sakitan dan adiknya banyak. Sehingga semenjak sekolah sudah terbiasa berdagang. Selepas masalah satu, masalah kedua dan seterusnya hampir sering menyapa. Bahkan dia pernah hampir dipenjara karena dijebak temannya saat berdagang. Kecelakaan hingga tangannya nyaris patah juga pernah dialami.

Tak dinyana dan tak disangka, kedua orang sahabat tersebut mati muda ketika semasa kuliah. Kecelakaan lalu lintas ketika perjalanan sebuah acara studi banding ke kampus lain.

Lalu, tibalah keduanya di pengadilan paling akhir. Pengadilan selepas kehidupan duniawi. Kebetulan mereka berdua berada pada antrian yang berurutan untuk dimintai jawaban atas beberapa pertanyaan. Sehingga ditanyai sekaligus.

Petugas pengadilan : ”Masalah apa yang sudah kau selesaikan wahai anak muda? ”

Guruh : ”Saya merasa selama ini hidup tidak pernah ada masalah. Hidup saya aman-aman saja. Merasa tenang” (sambil menampakkan wajah merasa percaya diri)

Petugas pengadilan : ”Lalu kamu, apa masalahmu wahai anak muda? Dan apa yang sudah kamu lakukan untuk menyelesaikannya?”

Gumelar : ”Wah, masalah saya banyak. Semenjak kecil saya selalu dididik untuk mengahadapi masalah. Dan sejak kecil saya diajari mandiri oleh orang tua saya. Ketika orang tua saya sakit, sayalah yang harus bertanggungjawab atas biaya kesehatan mereka. Dan biaya sekolah saya serta adik-adik saya. Belum lagi masalah rintisan usaha saya yang hampir kena kasus penjara, kecelakaan lalu lintas dan masih banyak lagi. Pokoknya saya mengikuti kemana arus masalah itu sajalah. Dan berusaha semampu saya, kadang juga merasa jenuh dan terjebak ke masalah berikutnya. Tapi ya mau bagaimana lagi.” (sambil berekspresi datar)

Petugas pengadilan : ”Hem, sudah saya putuskan. Kamu Gumelar, nilai kamu lebih tinggi daripada Guruh. Kamu sudah mendapat poin yang cukup banyak karena kamu tahan uji. Nilaimu akan memungkinkan kamu masuk ke kehidupan yang menyenangkan di alam ini. Sedangkan kamu Guruh, nilaimu hampir tak ada. Dan di pengadilan ini tidak diperbolehkan protes. Keputusan petugas pengadilan adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Tidak diperkenankan adanya pembelaan. Cukup.”

******

Tidak ada manusia yang melewati rentetan waktu dengan merasa tidak khawatir sedikit pun. Kata salah seorang profesor; tidak ada orang yang tidak punya masalah, hanya orang gila yang tidak punya masalah. Cobalah untuk sehari, sejam, semenit, sedetik bahkan sejenak merasa senang masih punya banyak masalah. Mungkin masalah itu yang akan mengantarkan seseorang pada sebuah kesimpulan. Walaupun tidak semua masalah berakhir dengan baik. Tetapi setiap masalah itu pasti ada nilainya.

Semoga bermanfaat!

************para sahabat************

masalah





Sego Megono

4 08 2009

megono

Entah siapa yang memberi nama makanan tradisional ini. Sego artinya nasi. Kalau megono, entah? Makanan tradisional ini bisa ditemukan di pasar pagi suronegaran (arah ke tuk songo) purworejo. Setiap minggu pagi, biasanya akan ditemukan ibu-ibu penjual makanan ini. Murah sekali,sebungkus kecil hanya 750 rupiah.

mogono2Kombinasi dari nasi, urap atau kluban dan sayur gori (buah nangka). Heumm, rasanya sederhana tapi cukup mengenyangkan dan lezat dinikmati selagi hangat. Sudah komplit, terdiri dari nasi dan sayuran. Makanan tradisional memang tetap akan dicari orang walaupun roda jaman mulai menggerusnya.





Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pembangunan Bangsa

4 08 2009

Sebenarnya ini buku lama. Terbitan tahun 1995 oleh CIDES (Center for Information and Development Studies) dengan pengarang B. J. Habibie. Sudah bisa ditebak bahwa dari judul dan pengarangnya, buku ini akan membahas mengenai teknologi dan seputarnya. Tetapi bukan pada takaran teknis, melainkan lebih banyak membahasa strategi. Terlepas dari semua permasalahan politik dan kenegaraan yang membelit beliau, serta umur terbitan buku ini yang sudah lebih dari 10 tahun lalu, sebenarnya masih banyak pemikiran-pemikiran beliau yang layak disimak. Dan sampai sekarang masih layak disimak dan dijadikan kajian bersama untuk pembangunan bangsa (sesuai judul bukunya). Buku ini ditulis beliau pada waktu menjabat menristek dan beberapa jabatan penting kenegaraan lain. Dan secara tersirat bisa terlihat bahwa masih banyak ide-ide pemikiran beliau yang mungkin belum terlaksana sesuai keinginan beliau pada waktu itu hingga sekarang. Ide mengenai masalah teknologi, ekonomi dan pendidikan bangsa.

iptek habiebieYang disoroti pada bagian pertama adalah mengenai pembangunan bangsa. Menurut beliau, pembangunan harus dilakukan dengan orientasi nilai tambah dan menggunakan basis teknologi serta sumber daya manusia. Ini ditekankan di awal buku mungkin karena beliau mempunyai pemikiran bahwa perlu ditekankan terhadap penghargaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Bahwa peningkatan kekayaan dan kemakmuran berakar pada peningkatan produktivitas, dan bahwa kunci bagi produktivitas adalah ilmu pengetahuan dan rekayasa. Berikut adalah beberapa kutipan :

Bila kita bericara tentang teknologi canggih, bukan teknologi canggih yang kita kejar. Salah kalau dikira bahwa saya seorang insinyur kebetulan ahli konstruksi pesawat terbang hanya cinta teknologi canggih. Karena itu, apakah lantas hanya teknologi canggih yang ingin dikembangkan, dan hanya itu yang didasari untuk pembangunan bangsa? Itu tidak benar, yang saya sasari adalah proses nilai tambah, proses nilai tambah dari materi yang harganya rendah, dengan segala ketrampilan dengan usaha dari manusia, bisa dijadikan produk yang nilainya lebih tinggi, itu proses nilai tambah.

Atau dengan perkataan lain memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang tepat dan berguna tanpa memilih apakah itu canggih atau tidak canggih yang lebih penting bahwa teknologi yang tepat dan berguna itu dapat dimanfaatkan untuk proses nilai tambah, dapat mengubah materi itu dengan cepat untuk mendapatkan nilai yang setinggi-tingginya dengan mengontrol kualitas, biaya, dan jadwal secara terus-menerus agar produksi lancar jalannya.

Itulah pentingnya nilai tambah. Begini diilustrasikan sederhana oleh beliau mengenai bagaimana memahami arti sebuah nilai tambah (added value). Jika sebuah produksi celana jeans dilakukan, maka teknologi dan nilai yang dihasilkan cukup rendah jika dinilai dalam kerangka sebuah bangsa. Dan persaingan di pasar pun sudah banyak. Sehingga mudah tergusur. Berbeda dengan produksi pesawat terbagng atau satelit. Tidak banyak yang membuat dan teknologinya canggih. Nilai tambah yang dihasilkan tentu lebih baik. Mengenai contoh teknologi, beliau mencontohkan IPTN pada waktu itu.

Sebenarnya bukan hanya iptek saja, tetapi ada unsur lain yakni sumber daya manusia (SDM) yang perlu dibangun. Beliau sempat mengutarakan dalam buku bahwa membangun teknologi canggih dan SDM yang baik bukanlah upaa yang tidak mungkin di Indonesia, terbukti dengan IPTN waktu itu. Masyarakat membutuhkan dua hal, yakni sekolah sebagai proses penciptaan nilai tambah untuk SDM, dan industri atau perusahaan sebagai tempat melaksanakan proses tambah dan biaya tambah. Penekakan beliau bahwa jika seseorang telah sekolah tinggi dan bekerja di sebuah instansi, maka dia tidak boleh hanya mengendalkan gelarnya lantas tidak berbuat banyak untuk kepentingan bangsa. Tetapi harus memberikan andil terhadap nilai tambah kemakmuran bangsa.

Ada sebuah cerita yang dipaparkan. Berpijak pada kebijakan negara maju seperti Jepang. Pada awalnya mereka benar-benar mandiri dan sampai sekarag. Segala kebutuhan domestik di-supply semua oleh industri domestik. Tidak diperkenankan produk-produk domestik digusur oleh produk dari luar. Ketika produk-produk domestik telah mencapai kapasitas produksi yang bisa diekspor, maka dilakukan ekspansi ke luar. Sebagai contoh ketika produk Jepang baik Toyota atau Honda atau Nissan dibuat untuk pasaran dalam negri sendiri, pasar Jepang ditutup, semua tidak boleh masuk. Lalau kenapa kenapa pasar kita masih mau direbut orang lain? Dengan dalih lapangan kerja untuk anak cucku kelak, mengepa pasar itu masih diserahkan dengan mudahnya oleh asing?

Falsafah kerja ilmuwan. Di negara ini sudah menjadi rahasia umum bahwa profesi peneliti masih bisa dikatakan jarang. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa apresiasi terhadap hasil penelitian kurang, terbukti dengan banyak yang mengatakan sebagian peneliti Indonesia memliih kerja di luar karena masalah gaji. Penulis juga menyinggung masalah ilmuwan ini. Beliau mengetakan sesungguhnya peneliti atau ilmuwan memepunyai posisi penting dalam sosial budaya kemasyarakatan, walaupun kadang tidak secara langsung. Perannya adalah sebagai agent of social change. Lihat saja ketika ada penemuan teknologi baru misalnya, maka budaya konsumsi masyarakat terhadap teknologi tersebut akan mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat secara lambat laun.

Peranan pendidikan dipandang penulis sangat besar. Universitas adalah tempat yang paling cocok untuk mendidik sarjana baru agar mudah diserap pasar. Sampai saat ini pun, masalah penyerapan tenaga kerja di lapangan masih sering dipertanyakan. Mungkin seringnya negara ini mungkin terlalu berpijak pada negara barat. Dengan dalih mengikuti standar internasional atau apapun itu, kepentingan internal pendidikan yang termarjinalkan kadang terabaikan. Semntara banyak anak putus sekolah da menjadi gelandangan, sekolah yang katanya ingin bertarafi internaisonal atau semacamnya mulai dirintis. Ini pembangunan tidak merata atau sekadar gengsi?

Terakhir, yang ingin dikutip dari buku ini adalah pernyataan beliau mengenai pembangunan teknologi tepat guna dan pembangunan teknologi pedesaan.

Dalam keadaan mendesaknya masalah-masalah kehidupan konkrit yang dihadapi bagian dunia yang masih terbelakang, tidak banyak gunanya menggolong-golongkan teknologi ke dalam ”teknologi sederhana” dan ”teknologi tinggi”. Jauh lebih berguna mempertanyakan teknologi manakah yang dapat memecahkan suatu masalah yang konkrit, tanpa memperdulikan apakah teknologi yang tepat itu adalah teknologi primitif, menengah atau canggih, dan tanpa mempersoalkan dimana teknologi tersebut pertama kali dikembangkan.