Sepenggal Cerita yang Terlupakan dari Balikpapan

14 08 2009

Dia baru saja sampai di sebuah kota di Kalimantan Timur. Kekaguman pertama di bandara dan sampai di rumah salah seorang saudara temannya. Bumi Borneo ini baru pertama kalinya diinjakknya. Cita-citanya untuk mengelilingi bumi Indonesia dan dunia memang sudah menjadi impiannya. Apalagi dia adalah anak laki-laki yang bagi keluarganya dipersilakan untuk berkelana mencari pengalaman ke mana saja.

Baru saja sampai langsung dipersilakan mandi. Walaupun dengan kondisi air yang berbeda jauh dengan di tanah jawa, dimana dia dibesarkan dan melanjutkan sekolah, sangat berbeda. Air itu coklat. Walaupun begitu tak apalah gumamnya. Sedikit mengurangi rasa pusing setelah perjalanan terbang dari Surabaya.

Perjalanan dia kali ini adalah untuk menimba ilmu. Bukan semata karena tugas belajar, tetapi perjalanan untuk mencari pengalaman baru. Temannya, juga begitu. Sungguh ingin mengeksplorasi jiwa muda. Hari pertama, minggu pertama diisi dengan adaptasi. Daerah pemukiman dimana ia tianggali sekarang tidak seperti di tanah jawa. Tanah gambut di tengah pemukiman yang mana tanah mengandung batubara banyak berserakan. Dengan kondisi cuaca hujan yang takkan menentu, kata Om Slamet. ”Ayo kita jalan-jalan”, kata temannya. Pagi yang cerah untuk melihat kondisi. Tetapi di sore hari ia dikenalkan pada rekan-rekan kerja Om Slamet. Kerja dimana sungguh ia tidak membayangkan sama sekali. Akan berada di tengah lautan dimana pertaruhan terbesarnya adalah nyawa. Ya, tempat kerja selanjutnya bukan di daratan atau kantoran seperti yang ia bayangkan. Tetapi adalah sebuah platform tambang minyak bumi. Milik asing. Wow!

Ada Adil, Mas Rahmad, dan Anto. Rekan-rekan kerja inilah yang kelak akan menemaninya selama satu bulan kerja di tengah lautan. Sepatu baru, baju kerja baru, helm, kacamata hitam dan ear plug. Adalah seperangkat peralatan yang akan menjadi cerita tersendiri kelak.

”Besok kalian sudah berani berangkat? kita akan naik kapal selama satu jam dari pelabuhan Semayang”. ”Berani Om”, dia dan temannya menjawab dengan kompak. Walupun sebetulnya ada setitik kewaspadaan. Akan seperti apa disana.

Pagi itu ketika adzan shubuh belum berkumandang, antrian mandi sudah terjadi. Mpok, Rama, Mas Rahmad dan Anto adalah sederetan antri. Dan akan seperti ini nantinya. Selama sebulan lebih. ”Ayo pakaiannya dipakai sekalian”, begitu kata Om Slamet. Berangkat jam 5 pagi adalah sebuah keharusan. Agar sampai di pelabuhan tidak terlambat. Setengah tujuh kapal akan segera berangkat. ”Baru pertama kali aku naik kapal seperti ini”, katanya. Dan rekan-rekan kerja yang lain sudah menanti. Ada komandan Warno dan yang lainnya.

Hari berganti. Teman semakin bertambah di tempat kerja. Naik kapal pulang pergi ke platform sudah menjadi kebiasaan. Scafolding, makan siang di tengah laut sampai coffe break. Salah satu teman yang cukup kocak adalah bernama Mas Bambang. Dia adalah asisten teknisi yang pernah bekerja menjadi TKI di Malaysia. Pernah bercerita panjang lebar ketika dia dan temannya bertandang ke rumah Mas Bambang. ”Aku pernah naik kapal tanpa lampu menuju ke Malaysia. Jadi ya kucing-kucingan dengan lampu mercusuar. Sampai di daratan pun tak keliatan”. Tawa riang siang panas itu adalah cerminan kebersamaan. Mas Bambang mempunyai satu anak. Lucu sekali. Namanya juga unik dan lucu. Baru pertama kali ia menemukan nama seorang anak seperti ini. Jingga. Seperti sebuah cahaya yang menyinari.

Waktu terus bergulir. Dan ia harus segera menemukan materi untuk dilaporkan ke sekolahnya di tanah jawa. Insiden adalah hal yang lumrah terjadi di lokasi kerja. ”Prannnnkkk”, suara pipa besar jatuh dari atas. Seorang asisten scafolding lengah dan mengakibatkan pipa itu mengenai sebuah saluran pemadam kebakaran. Yang harganya bisa mencapai harga satu buah mobil kijang yang baru. Asisten itu bernama Syarief. ”Kalian diliburkan selama dua hari”, begitu kata seorang komandan platform yang sangat kecewa dengan kinerja tim dia. Mengecewakan. Lalai ketika bekerja. Untung saja belum terjadi kebakaran.

Hari berikutnya, akan diisi dengan jalan-jalan. Membantu urusan kantor. Sudah menjadi kebiasaan tak lupa pagi itu dia mengirim pesan singkat melalui handphone jadulnya ke kekasih di tanah jawa. Seorang yang sangat dicintainya. Sekadar menyapa. Bahkan terkadang hanya sekadar miscalled saja.

Waktu terus berjalan sehingga ritem kerja di platform kadang sudah menjadi hal lumrah. Pulang ketika matahari sudah tenggelam dan berangkat kerja ketika matahari belum menyapa. Dan sampai suatu titik dimana ia harus meninggalkan tanah Borneo itu karena urusan sekolah di jawa harus segera diikuti. Terlalu naif jika ditinggal untuk terlalu lama. Walaupun sebenarnya dia bekerja. Bukan sekadar bermain di tanah Borneo ini. Data untuk dilaporkan segera dilengkapi. Semua informasi sudah ditelusuri. Walaupun sebenarnya belum puas bereksplorasi, tapi sore itu harus menyampaikan salam perpisahan. Selamat tinggal platform. Surabaya menanti, petoran menunggu. Setengah empat pagi sudah berada di tanah jawa. Pengalaman itu tak terlupakan.

balikpapan

****

Hanya ingin menampilkan kembali agar sepenggal cerita tidak terlupakan. Untuk teman-temanku. Dan cerita ini tertuang lebih utuh dan penuh dalam sebuah buku kecil berwarna coklat. Dulu, seseorang sempat pernah meminta untuk bisa membacanya suatu hari kelak. Tapi mungkin itu sudah tidak akan terjadi.

Iklan

Aksi

Information

3 responses

14 08 2009
feeds.bloggerpurworejo.com » Sepenggal Cerita yang Terlupakan dari Balikpapan

[…] Sepenggal Cerita yang Terlupakan dari Balikpapan Filed under: Uncategorized — @ 3:08 pm […]

23 08 2009
fashion uni

apa kabar balikpapan

14 10 2009
YUGO

Aku ingin sekali bisa kerja di Balikpapan, kira-kira ada yah gak yang testnya di malang, trus disana tinggal kerja…………………klo ada info minta tolong konfirmasi yahhhh…………(pengagum balikpapan) (S1 Ekonomi/ tapi mau kerja apa aja)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: