Negara Kesepakatan

22 08 2009

“Besok ngumpul di rumah Tari ya”, begitulah bunyi sms yang dikirim oleh Santoso. Komandan urusan stand pameran pada acara registrasi dan penerimaan mahasiswa baru tahun ini. Di kampus terkemuka di wilayah Jogja. Sms tersebut untuk teman-temanya. Teman baik satu kampus maupun bukan. Yang bersedia diajak usaha dan jualan bareng dengan pangsa pasar tentunya adalah mahasiswa baru. Mahasiswa yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Acara jualan kali ini akan diisi beraneka ragam. Mulai dari yang biasa, yakni peralatan dan perkakas untuk ospek, sampai makanan dan minuman. Jadi lain dari kebiasaan Santoso pada tahun-tahun sebelumnya yang hanya berjualan peralatan dan perkakas ospek seperti co-card, buku, dan lain sebagainya. Lebih berpikiran ke depan, benar-benar ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan jualan makanan dan minuman. Rencana yang akan dijual mulai dari makanan ringan atau snack sampai makanan berat, dan aneka minuman sampai softdrink.

Jumat itu, acara kumpul dimulai lagi. Setelah acara kumpul rapat terbatas di rumah Tari, jalan Kantil 9. Kini, rapat mencoba mengumpulkan semua teman. Bertempat di ruangan rapat laboratorium kampus. Mumpung Santoso masih jadi asisten. Sehingga akses ruangan mudah. Semua teman dikumpulkan. Sudah lumrah jika para mahasiswa yang terkumpul di jogja berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Ya, itulah juga yang terjadi di ruangan laboratorium pada jumat siang itu. Santoso yang asli anak Tangerang berperan sebagai komandan atau koordinator. Tari membuka pertanyaan, “Besok mau jualan apa aja sih?”. Tari yang punya rumah di jalan Kantil 9 sebenarnya adalah gadis cantik asal Bontang, Kalimantan. “Kita nyari supplier roti aja, aku bisa usahain itu”, anak Lampung bernama Azwan menimpalinya.  “Terus target kita berapa mahasiswa yang akan membeli perkakas ospek? Kaitannya sama modal nih”, Rahma kembali memberedel pertanyaan, agas diskusi kembali semarak. Rupanya gadis tomboy penyuka basket asal Pekalongan ini memang sangat berminat dengan usaha bisnis kecil-kecilan ini. “Kita nyari supplier nya jangan hanya makanan dong, minuman juga. Kan pasar masih terbuka lebar”, Zahra ikut memberikan saran. Gadis manis bernama Zahra itu sudah berpengalaman dalam hal jualan. Karena orang tuanya di Semarang punya sebuah warung makan yang lumayan laris. “Kira-kira urunannya per orang ga sampe jutaan kan?he he he”, si Fadli warga pribumi Jogja langsung to the point bertanya ke hal yang inti. Diskusi terus berlanjut. Tak luput semua yang datang memberikan urun rembug. Teman Santoso satu kos yang beda kampus juga tak luput. Yakni Adam yang asli Palopo, Titus warga Klaten, Fredy yang asli Manado dan Hens Leo yang berasal dari Surabaya.

Akhirnya semua sepakat membahas rencana membuat stand pameran untuk registrasi mahasiswa baru. Urusan administrasi dan biaya pendaftaran ke panitia universitas akan diurus sendiri oleh Santoso. Kesepakatan mulai dari kapan mulai jualan, apa saja, nama stand, jumlah nominal urunan dan semuanya. Karena hari esok akan segera tiba hari H. dan kesepuluh mahasiswa tersebut adalah bukan mahasiswa baru tingkat satu, tetapi telah menginjakkan kakinya di Jogja selama beberapa tahun untuk menuntut ilmu.

Akhirnya hari H pun tiba. Semuanya berkumpul di boulevard kampus. Sudah dengan perlatannya masing-masing. Dan sudah dengan barang dagangan. Siap jual. Mirip toko kelontong kecil. Banyak. Bagi-bagi tugas sudah dilakukan. Yang bertugas mengurusi supplier, mencari pasar, operasional, semuanya berpencar. Setiap anggota dari kesepuluh orang tersebut mempunyai potensi yang berbeda-beda. Ada yang punya peralatan lengkap dan moda transportasi mobil, cakap dalam berbicara, smart dalam bertindak dan masih banyak lagi. Semua potensi tersebut disatukan untuk satu tujuan kesepakatan bersama yakni mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Secara mandiri.

Dan akhirnya hasilnya pun tak mengecewakan. Setelah hari H usai, pesanan untuk peralatan ospek terus berdatangan. Dan masih akan berlanjut selama kurang lebih satu minggu. Terkadang ada beberapa anggota tim yang tidak bisa ikut gotong royong pada waktu-waktu tertentu. Misalnya ketika minggu pagi sedang ramai-ramainya pesananan, Titus dan Fredy harus pergi ke gereja untuk menempuh ibadah mereka masing-masing. Walaupun berbeda lokasi peribadatan. Atau ketika suatu hari Hens Loe harus ijin sejenak untuk mengikuti ritual peribadatan di sebuah Pura. Tetapi itu semua tidak menjadikan permasalahan bagi yang lain, yang punya keyakinan muslim. Dan punya idealisme bekerja atau falsafah masing-masing. Beragam. Hingga akhirnya semua bisa tersenyum senang. Keuntungan membludak. Makan-makan bebakaran ayam segera dilaksanakan pada malam hari. “Wah, tak sia-sia kita capek-capek minggu kemaren. Untung bukan pas waktunya aktif perkuliahan. Tahun depan lagi yuk. Syukur-syukur bisa bikin usaha sendiri bersama kelak”, begitu seloroh Santoso ketika acara makan-makan bersama. Suasana meriah.

Dan seiring waktu berganti. Hari berganti dan seterusnya. Rupanya mereka ketagihan untuk selalu membuka usaha kecil-kecilan seperti itu. Bukan menunggu event tahunan, tetapi jika setiap ada kesempatan apalagi di kampus-kampus lain selalu diikuti. Tidak melulu sepuluh orang yang selalu tergabung dalam tim. Bisa kurang, tapi lebih sering lebih.

Berawal dari rintisan wirausaha kecil-kecilan semasa di kampus itu, Santoso dan rekan-rekan sudah memutuskan untuk terjun ke dunia pencipta lapangan kerja. Ketika semasa kuliah, mereka sudah bisa membeli kebutuhan sehari-hari sendiri. Dan kini, sesudah semua selesai menempuh perkuliahan, bersepakat meneruskan rintisan usaha yang dahulu. Membuat sebuah usaha bersama dalam bidang ritel. Supermarket.

Tidak mudah memang memulai sebuah usaha besar. Butuh perjuangan ekstra. Tetapi dengan semangat kerja keras dan doa, hal itu tetap akan tercapai. Dan setelah beberapa tahun akhirnya usaha Supermarket tersebut tidak sia-sia. Tahun demi tahun telah berganti, ratusan bahkan ribuan karyawan telah dimiliki.

***

Baca Selengkapnya