Membela Kemandirian Negara

1 10 2009

belanegara

Di sebuah pos ronda RT 02 RW III Kelurahan Pangenrejo Kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo, mengalirlah sebuah percakapan ringan nan sederhana. Malam hari ketika sedang ronda. Antara tiga orang warga. Sutrisno, seorang buruh pabrik mebel; Bowo, pemilik toko kelontong kecil; dan Diyono, seorang petani.

Diyono : “sudah pada liat berita di tv tho sampeyan semua? Wah bencana gempa datang lagi. Kita harus waspada”

Sutrisno : “iya, saya turut berduka cita. Kasian sekali, beratus-ratus orang meninggal. Seandainya saya bisa membantu mereka untuk turun langsung! Doh!”

Bowo : “negara ini memang membutuhkan uluran tangan semua warganya. Di tengah kondisi negara yang menurut saya belum makmur-makmur amat, bencana alam ada terus. Selepas krisi ekonomi tahun 90-an itu, ada saja teroris ngawur mampir di negara kita. Wah, ada saja yah. Mungkin ini saatnya kita pada membela bangsa, apalagi momennya pas. Nanti tanggal 5 ulang taun tentara. Yo tho?”

Diyono : “sampeyan iki ono-ono wae tho kang Bowo. Kok njuk terus dikaitke karo bela negara, bela bangsa. Terus topik pembicaraane jadi berat tho. Apa mentang-mentang sampeyan iki lulusan insinyur yang mantunya tentara? Hehehe”

Bowo : “ya enggak gitu tho kang Diyono. Seperti tadi dah disinggung kang Tris. Setiap warga itu sudah sepatutnya punya kepedulian terhadap sesama dan peduli terhadap nasib bangsa. Sudah lumayan bagus itu kang Tris, punya niat dan doa yang baik untuk para korban bencana gempa. Itu juga namanya bela negara. Apa sampeyan mau, ada kasus klaim kebudayaan negara kita oleh negara tetangga lagi?”

Sutrisno : “nha itu juga bagian bela kebudayaan negara, saya enggak suka itu kejadian lagi, budaya kita diklaim. Eh kang Diyono, memangnya sampeyan tidak pernah diajarin di sekolah dulu apa? Gini-gini walopun saya Cuma buruh pabrik, tapi saya masih ingat kok. Pasal 30 UUD 45 itu meminta seluruh warga untuk membela negara dengan kekuatan masing-masing”

Diyono : “owalah kang Tris. koyo sampeyan tidak mengerti saja. Lha wong saya ini lulusan SD yang sekarang jadi petani. Walopun punya beberapa lahan luas untuk bertani, saya sudah lupa pelajaran apa itu dulu di sekolah. Tapi ngomong-ngomong, sebagai petani pantesnya saya membela negara lewat apa yah? Dan lagipula saya merasa kok kemakmuran kaum petani itu lebih baik jaman-jaman pemimpin negara yang dulu. Bibit dan pupuk murah, lancar lagi. Gimana menurut sampayen-sampeyan ini?”

Bowo : “negara kita ini sebenernya kaya lho kang Diyono. Warganya banyak, dan sebenernya pinter-pinter. Lha yang lulusan luar negri dan kerja jadi peneliti di luar negri juga banyak. Tanahnya subur, banyak kekayaan alam, pabrik tambangnya banyak. Kalau menurut saya, kita sebagai rakyat kecil itu kalau cara mudahnya untuk membela negara ya dengan memakai produk lokal. Apalagi bagi kita-kita yang rakyat kecil, enggak mampu beli produk-produk luar negri kayak baju, sepatu. Lha wong duitnya pas-pasan buat makan saja. Ya tho? Hahaha”

Sutrisno : “ya iya tho. Tapi gini kang Bowo, negara kita memang belum makmur-makmur amat seperti yang dibilang kang Diyono tadi. Dan mungkin apa sebenarnya masih sedikit orang-orang cerdas di negara ini? Pabrik-pabrik dan perusahaan besar itu isinya orang luar negri semua. Pada berkulit putih-putih, berbadan tinggi tegap dan berhidung mancung. Apa sebenernya kita juga enggak mampu berdikari sendiri tho?”

Bowo : “nha ini agak serius ni. Tadi kan saya sudah bilang tho pada sampeyan-sampeyan ini. Sebenernya kita ini mampu kok dengan potensi kita untuk mengurusi segala kekayaan alam negri. Kita bisa mandiri mengurusi semuanya. Kadang-kadang saya merasa sedih saja sama keputusan-keputusan para petinggi kita yang suka meminjam uang, terus terkadang juga agak meremehkan kemampuan bangsa sendiri. Saya kok yakin sebenernya kita bisa lho punya teknologi canggih sendiri, lha wong bisa buat motor dan mobil sendiri. Bisa buat alat dan teknologi canggih lainnya. Tapi dengan dalih sudah terbiasa memakai teknologi dari luar dan takut nanti banyak PHK, ya jadilah kita mengekor terus ke teknologi bangsa lain. Ada lagi ni, kebun kelapa sawit kita itu buanyak sekali, tapi atas nama peraturan dan undang-undang yang dibuat sendiri, e lha kok malah dibebaskan kepemilikannya ke bangsa lain. Lha kita bangsa sendiri dapat apa? Masa Cuma jadi pekerja di rumah sendiri. Kadang lucu tho? Itu, sampeyan tau pabrik kacang bungkusan itu tho. Kalau sampeyan kira itu bahan baku kacang semuanya dari negara sendiri yang punya banyak kebun kacang, itu salah. Masa negara yang subur makmur ini mesti impor hasil perkebunan. Kan jadi terbalik kayak jaman penjajahan Belanda dulu. Kalau jaman Belanda dulu malah negara kita jadi produsen unggul bahan alam. Saya merasa kok mungkin para petinggi bangsa ada yang merasa tidak yakin sama kemampuan dan kemandirian bangsa, untuk mengelola segala potensi yang ada. Tapi lha wong memberi kesempatan untuk mengelola secara mandiri saja belum pernah kok, ya jadinya sampai sekarang seperti ini. Kita mampu kok, bener. Mampu mandiri berdikari.  . . . . .”

Diyono : “owalah, uwis-uwis. Sampeyan iki nggawe mumet tenan. Saya enggak mudeng yang sampeyan omongkan. Saya ini mung lulusan SD, ora mudeng. Ha ha ha ”

Sutrisno : “ha ha ha. Dasar kang Diyono ini, susah diajak omong yang serius. Ya sudah, ayo muter ronda saja. Ini juga termasuk membela kemanan wilayah, membela negara. Ya tho? He he he.

*****

Ditulis untuk sebuah event, dari blognya pakdhe Cholik.

Iklan

Aksi

Information

15 responses

1 10 2009
diazhandsome

kebetulan gw baru diajarin bela negara baru-baru ini. sebenarnya bela negara itu kan hal positif untuk membantu negara ke arah yang lebih baik. misalnya mengharumkan nama Indonesia ke tingkat internasional. kalau gak bisa, ya kita membantu bangsa Indonesia sebisa kita agar lebih maju.

bener, tho? ha ha ha

1 10 2009
Sugeng

kalau bisa kita berbuat bela negara dengan tangan kita, kalau tidak bisa dengan mulut kita. Seandainya masih tidak bisa selemah-lemah nya kita bia berbuat bela negara dengan do’a dari hati yang tulus. 😆

1 10 2009
vyanrh

Setuju mas Sugeng.. hal positif yang kita kerjakan merupakan kekuatan per pribadi anak bangsa yang tentunya bila semua melakukan menjadi benteng yang kuat.. 😆

1 10 2009
alamendah

selamat memeriahkan “Bukan Kontes Bela Negara”nya pakde sembari membangkitkan semangat Bela negara

1 10 2009
Dangstars

Obrolan yang penuh arti..

1 10 2009
antokoe

bela negara….. sebuah kata yang sudah lama gak aku denger, kini adalah saatnya untuk menunjukkan rasa memiliki sebagai bangsa….

1 10 2009
sawali tuhusetya

meski hanya berupa langkah dan tindakan kecil, bela negara perlu dilakukan. yuk, kita mulai dari lingkungan terdekat kita!

2 10 2009
ruanghatiberbagi

HOTLINE
GEMPA SUMATERA BARAT:0751 9824971 sd 9824980. FREE CALL

Donasi Gempa Sumatera
BCA KCU Thamrin No. Rek: 206.300668.8, atas nama Kantor Pusat PMI.
Dan Lewat Bank Mandiri KCU Jakarta Krakatau Steel No. Rek: 070-00-0011601-7,
atas nama Palang Merah Indonesia.


Salam : Ruanghati.com

2 10 2009
m subchan

dua jempol

2 10 2009
wibisono

Sip deh mas…

Sebenarnya nilai patriotisme bangsa kita tuh tinggi banget,, tapi kenapa ya kemakmuran dan perekonomian tidak kunjung membaik,,,

2 10 2009
nurrahman18

mungkin memahami arti patriotismenya yang kurang pas ^_^

2 10 2009
andif

majulah indonesia ku….

2 10 2009
Alwi

حب الوطن من الايما ن

Ingin Memantau Pusat Gempa Melalui Internet? Klik aja Link ini : Add On Pemantau Gempa

3 10 2009
Pakde Cholik

Terima kasih atas partisipasinya.
Kita memang harus berjaya dan mandiri
Salam hangat dari Surabaya

3 10 2009
Pakde Cholik

Bangsa yang mandiri memang menjadi dambaan bagi setiap warganya karena sangat membanggakan. Mandiri bukan berarti tak mau bersahabat dan bekerjasama dengan bangsa-2 lain lho sebagai warga dunia.
terima kasih atas partisipasinya.
Salam hangat dari Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: