Rintisan Sekolah untuk Rakyat

9 11 2009

rintisanBuku-buku pelajaran itu tak mampu terbeli oleh Ujang. Anak kelas lima sekolah dasar, yang setiap usai sekolah harus mengais rejeki untuk membiayai uang spp sekolah sendiri. Bekerja di industri sepatu kulit, di sebuah wilayah di jawa bagian barat. Karena orang tua hanya mampu membiaya makan setiap hari. Maka untuk urusan sekolah dia harus bisa memperoleh biaya sendiri.

Kisah serupa dialami Budi, anak kolong di ibukota. Yang sehari-hari seusai bersekolah di bangku smp kelas satu, harus memainkan gitar kecilnya di perempatan jalan. Mengamen untuk mendapat biaya membeli buku dan uang spp di sekolahnya.

Lain lagi dengan Paijo. Yang harus rela putus sekolah di bangku sekolah dasar kelas tiga. Walaupun anaknya cukup pintar, tetapi memilih untuk membantu bapaknya, yang tinggal kampung pedalaman tanah jawa untuk bertani. Mencari nafkah untuk sesuap nasi setiap harinya.

***

Mau berlindung di balik iklan yang mengatakan katanya sekolah bisa tanpa biaya? Sepertinya ketiga anak di atas tidak bisa mendapat fasilitas itu. Untuk biaya peralatan buku dan sejenisnya serta biaya pelajaran ekstra, tetap saja membutuhkan dana.

Dan di tengah-tengah rakyat jelata yang kesusahan untuk sekolah seperti cerita-cerita di atas, belum lama anggaran pendidikan naik menjadi dua puluh persen (dan itupun juga belum terlihat optimal dan signifikan pelaksanaanya, juga tersiar kabar dari sebuah sumber kalau di tahun depan tidak ada anggaran untuk sertifikasi lagi untuk para pendidik sehingga timpang dan dua tahun ke depan anggaran untuk menyekolahkan putra bangsa ke luar negri juga dipangkas), pembangunan yang tersentralisasi di kota-kota besar, semakin sedikit kesempatan bagi pelajar cerdas yang punya kekurangan dalam finansial untuk melanjutkan kuliah, dan beberapa masalah klise dunia pendidikan seperti gaji para pendidik yang rendah; ada sebuah rintisan sekolah yang cukup mahal berbandrol kualitas dunia. Yang katanya kualitas internasional. Berbasis kurikulum dari luar negeri. Ada yang mengatakan kurikulum Cambridge dari Inggris. Lulusan akan mendapat tiga ijazah yakni ijazah nasional, cambridge dari Inggris dan ijazah Icas dari Australia. Rintisan sekolah atau konversi dari sekolah umum itu berlandaskan berlapis-lapis dasar hukum seperti UU No. 20 tahun 2003, UU No. 17 tahun 2007, PP No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional, dan Rencana Strategis Depdiknas tahun 2005-2009. Terobosan baru dalam peningkatan kualitas memang patut diapresiasi. Tetapi tidak ada salahnya mendapat sorotan hangat.

Seperti tadi telah disinggung bahwa landasan dan visi ke depan mengenai terobosan program baru itu sungguh sangat kuat. Dan di rencana strategis departemen yang bersangkutan juga tertuang bahwa urutan pertama yakni pemerataan pendidikan. Tetapi apakah sedemikian urgensinya mengenai keharusan segala kualitas adalah internasional. Ya, mungkin mau mengikuti jejak berbagai aspek yang di-internasionalkan layaknya tes bahasa inggris, kurs mata uang hingga penanganan virus h5n1 yang sempat dikontroversialkan.

Dibalik istilah ”internasional” yang dipakai, memang pastilah ada badan ”internasional” yang dipakai menjadi rujukan. Entah siapa anggota dan yang membentuk, tetapi jika itu hanya sekumpulan negara yang berpaham kapitalis dan berbudaya berbeda dengan negeri ini sungguh sepertinya perlu agak disayangkan. Padahal isi dalam kurikulum pendidikan khususnya sekolah mencakup banyak hal. Ada norma dan budaya di dalamnya. Seandainya ”migrasi” atau ”konversi” kurikulum itu dilakukan sedemikian sempurnya dapat diadaptasikan, toh juga ada biaya di dalamnya.

sekolah-utk-rkyMemang, terbososan program tersebut adalah bagian dari manajemen strategi. Yang tentunya visi utama strategi adalah untuk kemajuan pendidikan. Tapi di tengah batasan anggaran pendidikan, sumber daya manusia, sarana dan prasarana dan jumlah masih banyaknya anak putus sekolah (yang mencapai jutaan, berdasar data komnas perlindungan anak) seperti cerita ketiga anak di atas, juga perlu yang namanya prioritas. Karena bisa saja dengan batasan-batasan seperti anggaran; biaya untuk bermigrasi ke sekolah rintisan dunia itu secara keseluruhan lebih mahal dibandingkan biaya untuk pemerataan pendidikan melalui wajib belajar serta pemberantasan buta huruf dan mendirikan rintisan sekolah untuk rakyat. Dan bisa saja lebih baik saat ini, untuk menyelesaikan pemerataan dengan banyak membangun rintisan sekolah untuk rakyat yang tidak mampu daripada hanya mengedepankan gengsi berstandar dunia. Padahal yang disebut-sebut berstandar dunia itu juga belum tentu mendesak sekali sudah sangat dibutuhkan saat ini.

Kalau diibaratkan sedang membangun tangga dengan dana terbatas. Lebih baik menyempurnakan seluruh anak tangga agar bisa dinaiki, daripada membuat beberapa anak tangga dari besi sedangkan yang lainnya dari kayu yang sudah reot.


Aksi

Information

29 responses

9 11 2009
wahyu am

Kalau diibaratkan sedang membangun tangga dengan dana terbatas. Lebih baik menyempurnakan seluruh anak tangga agar bisa dinaiki, daripada membuat beberapa anak tangga dari besi sedangkan yang lainnya dari kayu yang sudah reot.

setuju gan 😆

nice post

18 11 2009
adri12bc

YA SAYA PUN SETUJU LEBIH BAIK MEMPERBAIKI KEKURANGAN YANG ADA DARI PADA MEMBUAT KEMBALI YANG BARU. DI MANA TITIK PERMASALAHAN YANG TERJADI PERBAIKILAH DI SANA. HAL TERSEBUT BISA SAJA DIAMBIL BILAMANA YANG SUDAH ADA TAK BISA DIPERBAIKI LAGI, DALAM HAL INI TERKAIT SEMUA ASPEKNYA

9 11 2009
Wandi thok

Kalau memang ada ide swasta untuk membangun sekolah khusus rakyat kecil, saya sangat mendukungnya mas Arif. Tak dukung wis to. Dadi gurune yo gelem 😆

11 11 2009
yos

mas wandi, bukanya di kab sukoharjo sekolah dah gratis??? iya kan..

9 11 2009
ruanghatiberbagi

Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Dapat Menghargai Jasa Para Pahlawannya (Bung Karno) Selamat Hari Pahlawan | Foto-Foto Pertempuran 10 November Soerabadja

10 11 2009
sendy

sangat terharu sekali mas.. semoga pemerintah kita lebih memperhatikan mereka..
amien.. artikelnya keren. ijin bookmark mas 🙂

10 11 2009
kawanlama95

dukung sekolah untuk rakyat, kepudilian kita semua membantu suksesnya rintisan sekolah untuk rakyat

10 11 2009
feeds.bloggerpurworejo.com » Rintisan Sekolah untuk Rakyat

[…] Buku-buku pelajaran itu tak mampu terbeli oleh Ujang. Anak kelas lima sekolah dasar, yang setiap usai sekolah harus mengais rejeki untuk membiayai uang spp sekolah sendiri. Bekerja di industri sepatu kulit, di sebuah wilayah di jawa bagian barat. Karena orang tua hanya mampu membiaya makan setiap hari. Maka untuk urusan sekolah dia harus bisa memperoleh […] Baca dari Sumbernya […]

10 11 2009
neneng

kepedulian .. mudah-mudahan menjadi titik awal yang baik untuk pendidikan dan kesejahteraan rakyat indonesia..

11 11 2009
ruanghatiberbagi

mari kita dukung pendidikan murah untuk masyarakat kurang mampu, SDM kita adalah investasi berharga

11 11 2009
yuna

yah, dilematis bli..
kalo saia sendiri, senang rasanya melihat putra bangsa ada yang jadi pemenang olimpiade something di luar negeri sana, tapi rasa2nya lagi, lebih bangga lagi kalo bisa melihat semua anak bangsa terjamin kualitas pendidikannya meski tidak ada yang jadi pemenang olimpiade sekalipun..
😀

11 11 2009
omiyan

jika bukan kita siapa lagi, karena mengharapkan sesuatu yang mustahil rasanya mimpi disiang bolong

semoga keinginan untuk ada sekolah murah bisa terwujud dan caranya selalu ada

salam hangat

11 11 2009
M Shodiq Mustika

That’s a very good idea.
Aku mencintaimu karena Allah.

11 11 2009
yos

semoga terwujud ya.. pendidikan yang baik akan melahirkan bangsa yang baik…

12 11 2009
Dodi

Bagus sekali mas mudahan itu bisa menjadi pelajaran bagi kita semua

12 11 2009
abecho

ya begitulah mas orang indonesia lebih mementingkan gengsi
akhirnya bangsa juga yang rugi….

12 11 2009
asepsaiba

Lama tidak berkunjung mas…

Kita memang patur miris jika melihat ketimpangan yang terjadi antara kualitas pendidikan di daerah dan di perkotaan. Termasuk kesejahtaeraan para pendidik.
Ayo maju pendidikan Indonesia!

12 11 2009
asepsaiba

Lama tidak berkunjung..

Ayo maju pendidikan Indonesia!

12 11 2009
putra

SETUJA banget tuh Om ,,

13 11 2009
Alwi

AYOOOOOOOOO CEKOLAH ……………. heeeee…eeeee

13 11 2009
Alwi

Sekolah murah tapi gak murahan demi kemajuan dunia pendidikan
yang sekarang high cost

14 11 2009
heru

SEPAKAT

14 11 2009
haciiiii

Akhirnya bsa brkunjung jg :Dnegeri qt nih negeri trbalik;yg prlu ditolong diabaikan,yg mampu dipikirkan..ah udah ah cintaku pda indonesia ga trbls 😦

14 11 2009
haciiiii

Strike

15 11 2009
ksemar

ass. pendidikan gratis ternyata hanya menjadi ajang untuk menarik simpati publik. ironisnya dlam APBN dan APBD di daerah2 alokasi anggaran diperbesar. namun kebanyakan hilang di telan para “tikus-tikus” di negeri ini dan “orang miskin tetap dilarang sekolah”. salam.

16 11 2009
willyafurqan

hidup indonesia….
gw cinta indonesia…

19 11 2009
olvy

seperti apa ya rasanya bersekolah di international school??? *norak.mode on)

4 09 2010
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah « nurrahman's blog

[…] informasi ini tidak begitu basi. Tetapi bisa membuka sedikit wawasan tentang kondisi yang ada. Sekolah untuk rakyat kecil, yang hidup dengan pas-pasan bahkan termarjinalkan itu memang masih minim. Sekolah untuk rakyat […]

17 04 2011
Negara Berkembang « nurrahman's blog

[…] Sejak dahulu julukannya adalah negara berkembang. Puluhan tahun, atau kira-kira sampai berapa puluh atau ratus tahun lagi label itu akan tetap menempel? Akankah para guru di sekolah segera mengajarkan kepada para murid bahwa telah meningkat menjadi sebuah negara maju? Setiap hari, berbagai iklan perumahan mewah di kota besar laris manis, tapi di sisi lain memang perumahan rakyat yang kumuh masih ada. Sekolah bertaraf internasional telah mulai dirintis, namun kisah seperti di novel laskar pelangi masih bisa ditemukan. Bahkan membutuhkan bantuan semacam Indonesia Mengajar dan Komunitas Menara untuk pemerataan pendidikan supaya lebih baik bagi seluruh rakyat. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: