Bubble Economic

19 11 2009

Pernahkah terbayangkan jika peradaban bumi berkembang sangat pesat. Yang dimaksud peradaban itu mencakup perkembangan teknologi yang begitu pesatnya,  penduduk dunia yang semakin bertambah, dan tentu saja membuat bumi semakin sumpek. Tapi rasanya itu mungkin belum pernah terjadi. Karena ketika teknologi, perekonomian dan pada akhirnya peradaban beranjak meningkat pesat maka satu sama lain manusia berlomba untuk menguasai semuanya. Mungkin takut tak kebagian sehingga muncul rasa tamaknya. Sehingga terjadi peperangan antar sesama. Atau langsung ada peringatan berupa bencana besar yang melanda. Dan setelah era gelap itu menghampiri, maka seolah muncul kembali generasi atau peradaban baru. Cobalah tengok dan ingat ketika jaman mesir kuno beribu tahun lalu atau peradaban atlantik yang konon begitu pesat tetapi kini hilang entah kemana. Lalu bergantilah peradaban di tahun masehi. Tanah timur tengah, yunani kuno mulai menemukan berbagai penemuan baru. Tapi rupanya ketamakan membuat genderang perang mulai ditabuh. Hingga perang dunia yang kesekian kali. Dan kini peradaban yang seperti inilah yang ada. Mungkin akan ada yang mengatakan kalau sebenarnya peradaban itu seperti siklus. Berulang kembali.

Begitu pula dengan kondisi perekonomian sebuah negara dan perekonomian dunia pada umumnya. Masih membekas resesi ekonomi beberapa tahun lalu. Resesi ekonomi perekonomian dunia yang secara umum berbau kapital itu. Bahkan beberapa pakar ekonomi dunia mengatakan kalau ekonomi seperti itu memang akan terjangkit resesi atau keterpurukan secara periodik. Mungkin sudah membentuk siklus. Jadi resesi yang terakhir itu tidak luput dari peramalan para pakar.

Ada tiga indikasi sederhana yang mungkin bisa dijadikan sebab munculnya resesi yang berkala itu. Pertama unsur spekulatif. Seperti diketahui bersama kalau unsur ekonomi kapitalis adalah pasar modal atau pasar bursa. Yang notabene lebih bersifat spekulatif dan nilai saham lebih banyak ditentukan oleh opini pemilik modal.

Kedua adalah unsur derivatif (turunan). Pasar bursa tidak memberikan kontribusi yang nyata terhadap perkembangan sektor riil, karena bursa yang dipasarkan lebih banyak merupakan turunannya (derevatif) dan tidak dapat dikontrol serta lebih bersifat spekulatif seperti judi.

Unsur ketiga yakni uang dijadikan komoditi. Jika uang dijadikan komoditi maka nilai uang tidak pernah stabil sehingga berdampak pada ekonomi yang tidak stabil pula. Resiko menjadikan uang sebagai komoditas adalah jika banyak uang yang diperdagangkan, maka tinggal sedikit uang yang benar-benar berfungsi sebagai uang. Fungsi uang dari sebagai alat tukar dan satuan nilai berubah mejadi komoditi yang dapat diperdagangkan.

Ketiga unsur di atas adalah saling terkait. Yang mana telah menghasilkan sistem perekonomian yang lebih banyak dikuasai pasar bursa atau modal. Kurang memberikan kontribusi yang cukup nyata terhadap sektor riil. Bahkan cenderung bersifat semu sehingga pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh pasar bursa menjadikan pertumbuhan ekonomi seperti balon yang setiap saat mudah pecah/kempes. Yanglebih banyak diperdagangkan pada sistem perekonomian seperti itu bukan sesuatu yang riil. Tetapi lebih banyak unsur derivatif dari uang sebagai komoditi, yang lebih banyak bersifat spekulatif. Fenomena yang kurang lebih seperti itulah yang dinamakan dengan bubble economic.

Bubble Economic mendeskripsikan perekonomian yang secara lahir tampak besar, tetapi ternyata tidak berisi apa-apa. Suatu ekonomi yang besar dalam perhitungan kuantitas moneternya, namun tak diimbangi oleh sektor riil, yakni kemampuan menghasilkan barang dan jasa. Bahkan sektor riel tersebut amat jauh ketinggalan perkembangannya. Fenomena ketidakseimbangan itu dipicu oleh maraknya bisnis spekulasi, terutama di dunia pasar modal dan pasar valuta asing.

Sekedar ilustrasi sebelum krisis moneter di Asia belum lama ini, dalam satu hari, dana yang gentayangan dalam transaksi maya di pasar modal dan pasar uang dunia, diperkirakan rata-rata beredar sekitar 2-3 triliun dolar AS atau dalam satu tahun sekitar 700 triliun dolar AS. Padahal arus perdagangan barang secara international dalam satu tahunnya hanya berkisar 7 triliun dolar AS. Jadi, arus uang 100 kali lebih cepat dibandingkan dengan arus barang.

Uang yang dijadikan komoditi itu sangat besar jumlahnya bukan. Padahal sistem seperti itu akan memicu inflasi. Selain itu akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan orang terhadap stabilitas nilai mata uang. Yang mana akan mengurungkan niat orang untuk melakukan kontrak jangka panjang, dan menzalimi golongan masyarakat yang berpenghasilan tetap seperti pegawai/ karyawan. Dan sudah lumrah jika berakibat perdagangan dalam negeri akan menurun karena kekhawatiran stabilitas nilai uang dan perdagangan internasional akan menurun. Logam berharga (emas & perak) yang sebelumnya menjadi nilai intrinstik mata uang akan mengalir keluar negeri.

Kondisi bubble economic mengakibatkan sebuah perusahaan yang nampaknya berkembang pesat tetapi sebetulnya berada pada sistem yang rapuh. Atau dalam ilustrasi lain yakni manusia seolah dipaksa untuk membeli barang-barang yang sekiranya kurang diperlukan. Seperti halnya produk makanan ringan atau snack, produk permen atau lainnya yang kini ada dalam berbagai varian rasa buah-buahan. Padahal belum tentu semua varian rasa itu betul-betul dibutuhkan dan akan diserap semua oleh pasar. Jadi, kalau ada yang bilang fenomena bubble economic adalah serentetan dengan krisi ekonomi beberapa tahun belakangan ini, tidaklah salah. Dan sangatlah mungkin fenomena itu akan muncul lagi di masa mendatang.

Dan ini ada beberapa solusi yang ditawarkan oleh beberapa pakar ekonomi makro. Seperti menggunakan sistem perbankan yang mengharamkan bunga (menggunakan sistim perbankan syariah). Yang kedua, mengurangi transaksi ekonomi yang bersifat spekulatif seperti secondary market, meniadakan penjualan produk turunan (derevatif product) dari pasar bursa seperti perdagangan Indeks. Kemudian menjadikan uang hanya sebagai alat tukar dan pengukur nilai, serta kembali menggunakan uang yang dijamin oleh mas dan membuat uang mas seperti dinar dan dirham, selain itu tidak menjadikan uang sebagai komoditi. Perekonomian yang mengaitkan sektor moneter langsung dengan sektor riil akan membuat kurs mata uang stabil. Hasilnya adalah pertumbuhan sekaligus stabilitas.


Aksi

Information

9 responses

19 11 2009
Alwi

Seandainya saya jadi Presiden (menghayal mode on), Mas Arif yang saya pilih jadi Menko Perekonomian, manstabbb analisanya …..

19 11 2009
Alwi

Permisi dulu mo keliling … ke tetangga sebelah …

19 11 2009
vany

sebelumnya aku ucapin makasih ya mas karena udah mampir di blogkuw…..
analisisnya mantap euyy…
aku br dgr istilah ‘bubble economic’ nih….
dan disini kayaknya aku ikut berperan atas tjdinya bubble economic ini cz kadang2 aku suka beli brg2 yg krg diperlukan siyh….hehehe

20 11 2009
Zhoya

kunjungan balikkk…🙂

20 11 2009
abecho

pengamatan ekonomi nya canggih mas

24 11 2009
krishna

…..kunjungan balasan……apa kabar Mas…

25 11 2009
dewapelangi

pusingg… dah… emndingan pasrah aja dech ama yang Kuasa

1 12 2009
Manajemen Keuangan « nurrahman

[…] tersebut. Walaupun begitu perekonomian yang cenderung kapital itu sudah banyak terbukti memiliki beberapa celah. Karena sesungguhnya bukan solusi […]

20 05 2010
Calon Mentri Keuangan « nurrahman

[…] duit milik orang-orang pasar tradisional seperti mbok iyem dan mas paijo. Pasar yang lebih bersifat derivatif, spekulasi dan menjadikan uang sebagai komoditi. Bukan transaksi ekonomi riil seperti mbok iyem dan mas paijo. Yang kemanfaatannya lebih nyata […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: