Ibu

29 11 2009

Suatu ketika ada seorang gadis yang sedang berjalan di tengah hujan. Hujan yang cukup lebat di pinggiran kota. Celakanya dia tak membawa payung atau apapun untuk berteduh. Dan hatinya juga sedang diliputi mendung. Kemudian terlihatlah sebuah warung sederhana dari penjual mie ayam. Akhirnya si gadis memberanikan untuk sekedar berteduh.

Tidak ada pembeli. Hanya bapak penjual mie ayam dan gadis tersebut. Mungkin karena cuaca sedang tidak bersahabat malam hari itu. Melihat guratan wajah si gadis yang terlihat murung dan beberapa kali terlihat mengisakkan tangisan air matanya, si penjual mie ayam berinisiatif untuk tidak menegurnya langsung. Tetapi disajikanlah satu mangkok mie ayam hangat dan secangkir teh hangat. Kemudian barulah dia bertegur sapa. ”Mengapa kau menangis nak! Makanlah ini dulu, selagi hangat”. Si gadis pun mencoba bertutur dengan terbata-bata karena mungkin terlalu letih karena sedih dan berjalan kaki sendirian, ”Terimakasih sebelumnya pak! Tapi aku tidak membawa cukup uang untuk membayar ini semua”. Dijawab oleh si panjual mie ayam, ”Kau tidak perlu membayar ini semua. Semuanya gratis untukmu. Dan satu lagi, aku juga masih punya satu cadangan payung yang bisa kau pakai untuk pulang ke rumahmu. Karena kulihat hujan masih akan lama berhenti”.

Akhirnya si gadis makan sajian mie ayam dan teh hangat tersebut. Karena sudah terlalu letih berjalan. Hujan masih turun dengan cukup lebat. Kali ini awan begitu kelam, mungkin halilintar dan petir akan segera menyapa. Dan belum selesai makan, kembali terlihat air mata gadis tersebut pelan-pelan mulai membanjiri pelupuk mata. ”Engkau baik sekali pak. Padahal aku belum pernah mengenalmu. Dan aku juga belum pernah memberimu apapun. Tetapi kau bersedia memberikan makanan ini semua, dan meminjamiku payung. Tidak seperti yang baru saja aku alami. Ibuku tidak mengerti keinginanku”. Akhirnya si penjual mie ayam memberanikan bertanya pada gadis itu. Dan diketahuilah, bahwa ternyata dia baru saja bertengkar dengan ibunya. Mengenai jodoh. Kurang menerima pendapat Ibunya mengenai calon yang dipilih si gadis. Ibunya mempunyai pandangan tertentu mengenai jodoh dan keluarga.

Dengan tersenyum, si penjual mie ayam bertutur, ”Nak, aku memang baru melihatmu dan mengenalmu. Dan yang kuberikan hanyalah makanan ini. Sadarkah engkau, sudah berapa lama orangtuamu, Ibumu mengenalmu dan merawatmu. Apakah engkau lupa bahwa sesungguhnya Ibumu selama ini telah memberikan lebih dari yang aku dapat berikan, semangkok mie ayam. Mungkin jika kau mau jujur dan mau berhitung, engkau tidak akan bisa membalas kebaikan Ibumu, dibandingkan hanya membalas kebaikanku atas semangkok mie ayam ini. Terkadang memang nasehat Ibumu akan tidak selalu logis dengan jalan pikiran akalmu. Tetapi yakinlah bahwa itu semua ada hikmahnya. Bahkan jika tidak ketemu hikmahnya saat ini, di hari kelak akan terbukti”. Lalu, isakan tangis si gadis justru semakin menjadi-jadi. Ia jadi teringat orangtuanya yang selalu mengajarkan berbagi dengan sesama. Berkirim makanan di hari raya tanpa memandang golongan dan kepercayaan. Teringat bagaimana Ibunya telah merawatnya dengan penuh kasih sayang ketika sakit berkepanjangan karena patah tulang seusai kecelakaan. Dan cita-cita serta harapannya yang belum sepenuhnya tercapai untuk membanggakan orangtuanya dengan prestasinya.

Tiba-tiba si gadis berhenti makan. ”Pergilah nak kepada Ibumu, mumpung kesempatan itu masih ada”, kata penjual mie ayam dengan tersenyum lebar seraya mengulurkan payung.

Iklan

Aksi

Information

14 responses

30 11 2009
lu2walmarjan

Tiada yang lebih patut aku sayangi dan hormati selain kepada Ibuku…

“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”

30 11 2009
indra1082

Amin…

30 11 2009
inspirasimenulis

salam kenal aja deh 😀

30 11 2009
muhamaze

hmm… aku jadi kangen ibuku..

30 11 2009
omiyan

Tahu ga mas hari ini saya seharian ingat terus ma ibu saya karena ada perasaan dosa atas kejadian kemaren malam, saya jadi malu pas baca ini, sungguh buat seorang ibu begitu maha luas kata sabar dan maaf

30 11 2009
Farizy4n

he…he…he…
aku comot lagi ya om… buat mading ROHIS aku 🙂

1 12 2009
nurrahman18

terimakasih atas atensinya…tp jangan lupa kasih sumber tulisannya, hehehe

30 11 2009
Pencarian Puisi

Hanya ibu yang memiliki cinta tak terbatas salam.
Saya hanya berharap anak-anak saya akan mengerti

30 11 2009
Andi

apik kang…

30 11 2009
wibisono

mantap kang.. jadi rindu sama ibuku di rumah.. huhuhu

1 12 2009
maryam

inspiring sekali. makasih tulisannya T_T

1 12 2009
ruanghatiberbagi

Menyapa sahabat di pagi hari,

Salam Damai di Bumi, and Have a Nice Day

1 12 2009
mas tyas

wah blog nya banyak membahas strategi perusahaan nih.. mantap mas, tapi saya tak komen di sini sajalah yang lebih nyambung :mrgreen:
Orang tua mestinya lebih mengenal kita daripada kita mengenal orang tua..
Salam

21 12 2009
Hana

Inspiratif, bermoral, bermakna. Tulisan yang menggugah hati. Thanks for sharing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: