Grand Techno-Economic Strategy

3 01 2010

“Tidak ada cara yang terbaik, tetapi selalu ada cara yang lebih baik”. Begitulah kurang lebih salah satu slogan yang bisa dijadikan falsafah dalam pengertian produktivitas. Atau bagi mahasiswa teknik industri, kata-kata seperti itu acapkali tak asing karena telah sering mewarnai sepanjang pembelajaran di bangku kuliah. Begitu pula yang tertuang di buku Grand Techno-Economic Strategy. Buku yang mengupas mengenai produktivitas, produktivitas dalam industri. Lebih tepatnya mengupas tentang siasat memicu produktivitas Indonesia untuk memenangkan persaingan global.

Penulis adalah pendiri jurusan Teknik Industri ITB, yakni Prof. Dr. H. Matthias Aroef, MSIE, IPM. Tetapi beliau tidak menulis sendirian. Melainkan menulis bersama sang menantu yang tak lain menteri perhubungan di kabinet Indonesia Bersatu jilid I, Ir. Jusman Syafii Djamal. Buku setebal 200-an halaman itu diterbitkan oleh Mizan Bandung, cetak pertama April 2009. Yang mana pada kata pengantarnya disampaikan oleh mantan presiden BJ. Habibie dan menteri perindustrian di kabinet Indonesia bersatu jilid I yang rela memnberikan uang Rp. 100.000.000 untuk koin keadilan Ibu Prita, Bapak Fahmi Idris.

Menurut penulis, ada tiga hal kunci kesuksesan kebijakan ekonomi nasional. Yakni kemampuan teknologi bangsa, produktivitas dan daya saing. Sehingga untuk memenangkan itu semua, perlu sebuah grand-strategy (atau dalam istilah lain adalah blue print) yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek ekonomi. Tetapi teknologi dan ekonomi. Tetapi grand techno-economic strategy bagi negara Indonesia juga mempunyai ancaman. Yakni pasar global yang berubah selepas insiden 911 di WTC AS, pengaruh subprime mortgage, dan “Cina Price” (kebijakan Cina yang memanfaatkan krisis ekonomi pada waktu itu dengan memproduksi barang secara massal dan murah).

Memang secara umum buku ini lebih mengupas dengan tinjauan makro. Tetapi penulis tidaklah lupa memberikan contoh-contoh sederhana yang bisa digolongkan dalam tinjauan mikro. Seperti halnya ketika memberikan pemahaman apa itu produktivitas. Contoh yang diberikan untuk menyatakan bahwa potensi produktivitas di tanah air masih tinggi adalah mayoritas penduduk Indonesia yang muslim dan seyogianya selalu bangun pagi untuk sholat subuh serta dapat segera beraktivitas. Selain itu banyak juga masyarakat Indonesia yang bermata pencaharian sebagai petani dan tukang. Mereka mau bekerja keras membanting tulang dan berpanas-panasan di tengah teriknya matahari. Pemahaman mengenai produktivitas dalam industri secara global sebetulnya bermula dari tingkat yang paling rendah. Yakni dalam rumah tangga. Berapa banyak yang mampu dibeli oleh keluarga, merupakan input bagi pasar. Dan jika nilai pasar menggeliat maka produktivitas industri akan semakin meningkat. Kata penulis, Indonesia mengenal istilah produktivitas kurang lebih pada tahun 1958. Ketika itu mulai bergabung dengan Asian Produkctivity Organization (APO). Produktivitas bukan melulu dipahami sebagai nilai dari pengeluaran atau output dibagi pemasukan atau input. Tapi produktivitas juga berarti pemberian nilai tambah atau added value. Produktivitas merupakan kolaborasi dari efisiensi dan efektivitas.

Pengertian teknologi juga disinggung oleh penulis. Agar tidak salah kaprah untuk memahami knten buku secara keseluruhan. Sejatinya. Teknologi terdiri dari beberapa jenis. Yakni humanware (kemampuan manusia untuk membuat dan menggunakan mesin), technoware (kemampuan mesin secara teknis), organware (kemampuan organisasi), dan infoware (kemampuan informasi). Dan nilai tolok ukur economic value added (EVA) harus sejalan atau berbanding lurus dengan technology value added (TVA).

Lalu bagaimana nilai produktivitas di Indonesia? Kata data yang dihimpun oleh penulis, sebetulnya dari berbagai tinjauan atau organisasi yang memberikan penilaian mengenai produktivitas di beberapa negara, nilai produktivitas Indonesia masih rendah di tingkatan Asia. Seperti kata data APO, Institue of Management Development (IMD) dan World Economic Forum (WEF), nilai produktivitas Indonesia perlu peningkatan. Bahkan sesuai variabel PDB di Asia, Indonesia masih rendah nilainya.

Tahun ini, awal bulan januari 2010, kebijakan AFTA akan segera diterapkan. Pertarungan produktivitas semakin sengit karena jika barang domestik terlalu banyak tetapi tak kualitas, maka barang produksi dari luar semkain tinggi dengan tingkat kualitas yang baik. Oleh karena itu, penulis tak lupa memberikan beberapa solusi untuk peningkatan produktivitas di negara ini. Salah satunya dengan transformasi sosial budaya dan integrasi regional. Peningkatan produktivitas secara global di tanah air tidak hanya sebatas peningkatan efesiensi stasiun kerja di sebuah industri seperti dengan pengurangan gerakan-gerakan yang tidak diperlukan. Tetapi harus ada nilai sosial budaya yang dibangun. Di samping itu harus ada kebijakan sinergi antar wilayah. Karena menurut salah seorang dosen Trisakti, Bapak Vincent Gasperz, produktivitas di Indonesia masih bersifat sentralisasi di kota-kota tertentu.

Dan, buku ini mencoba untuk mengungkapkan istilah tekno-ekonomi sebagai sebuah paradigma atau pandangan baru dimana integrasi antara keduanya diharapkan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Iklan

Aksi

Information

17 responses

3 01 2010
aguswibisonodotcom

produktivitas sudah dianggap sebagai nilai tambah bagi perusahaan..
dengan diberlakukannya AFTA ini indonesia akan digempur abis2an oleh produk2 murah dari China..

3 01 2010
wibisono

produktivitas sudah dianggap sebagai nilai tambah bagi perusahaan..
dengan diberlakukannya AFTA ini indonesia akan digempur abis2an oleh produk2 murah dari China..

3 01 2010
wibisono

wew,, dapat pertamaxx..

kadang kita kuliah di TI diajarkan 1+1 belum tentu hasilnya 2..

3 01 2010
Ruang Hati

nice posting, betapapun produktifitas kita dipacu bila tidak dibarengi dengan policy pemerintah yang medukung susah bersaing, high cost economy harus dipangkas .

3 01 2010
alfarolamablawa

Indonesia punya ga yah ketiga faktor utama di atas.
hal bagus yang perlu kita galakan sekarang itu cinta produk dalam negeri…

4 01 2010
asepsaiba

Produktivitas yang diselingi dengan kreativitas tentu akan memberi nilai tambah untuk dapat bersaing

4 01 2010
asepsaiba

Produktivitas dibarengi kreativitas akan semakin dahsyat..!

4 01 2010
Dodinur

faktor keutamaan yang bagus 🙂

4 01 2010
kawanlama95

untuk memenangkan persaingan global perlu seorang pemasar yang tangguh peranan iptek dan kemampuan negosiasi yang ulung ke berbagai negara . dan menjadikan produk unggulan indonesia kepada masyarakat dunia perlu di buktikan . sering sering berkunjung ke negara 2 luar dan saling membuat perjanjian yang menguntungkan

5 01 2010
zezeza

sdm dan produktivitas di negara kita sudah bagus belom yah? terutama daya saing dengan negara2 maju lainnya

5 01 2010
yos

apa kabar mas….
lama ngga main sini ku…

6 01 2010
nurrahman18

@yosbeda: kabar harus selalu mengucap alhamdulillahhirrabbil’alamin 🙂

6 01 2010
bayu200687

pagi mas
maaf baru sempat berkunjung
makasih ya mas dah sering mampir ke http://rumahdanmimpi.blogspot.com
saya ga kuliah c mas, jadi ga ngerti masalah economic strategy. jadi ga bisa komeng yang berhub ma posting. hehehe
maaf ya komeng di blog saya ga saya balez
lagi sibuk ngurus blog baru di http://bayuratri.com

6 01 2010
kawanlama95

produktivitas perlu direspon di kemampuan untuk mengelola sdm salah satunya kepastian hidup yang sejahtera. maka produktivitas akan bisa dijalankan. dan juga tekhnologi sangat penting dalam memacu produktivitas

6 01 2010
Ruang Hati

AFTA datang atu tidak di negeri kita, kita harus mempersiapkan diri agar kita tidak hanya menjadi penonton / hanya jadi konsumtif. Kita harus berupaya lebih produktif dan menjadi pelaku terutama di negeri kita sendiri.
Semoga Pemerintah juga lebih bersifat bijak menyikapi perkembangan ekonomi dunia dengan membekali dan melindungi warganya.

6 01 2010
Rossa

nice!

7 01 2010
mas doyok

saya purworejo jgua mas 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: